JOS - UNSOED (Jurnal Online Soedirman - Universitas Jenderal Soedirman)
Not a member yet
    3803 research outputs found

    RESOLUSI SENGKETA KONFLIK LINGKUNGAN MELALUI SOSIALISASI DAN PRAKTIK APLIKASI PUPUK KASGOT DI DESA TIPARKIDUL

    Get PDF
    Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan pupuk kasgot sebagai solusi inovatif dalam mengatasi konflik lingkungan akibat genangan air lindih TPA Tiparkidul yang telah menurunkan kualitas hasil panen pertanian dan merugikan masyarakat desa setempat. Pupuk kasgot, yang merupakan hasil daur ulang limbah organik, digunakan sebagai alternatif yang ramah lingkungan untuk menyehatkan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman secara organik. Kegiatan ini melibatkan peran petani lokal, perangkat desa, Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup (DLHK), dan pengelola TPST Desa Tiparkidul. Kegiatan ini berlangsung pada bulan Agustus-September 2023. Setelah dilakukan aplikasi pupuk kasgot, diketahui bahwa penggunaan pupuk kasgot memiliki dampak positif terhadap lingkungan karena mengurangi limbah organik dan meminimalkan penggunaan pupuk kimia sintetis. Selain itu, pupuk kasgot terbukti dapat mendukung pertumbuhan tanaman dengan baik meskipun belum dilakukan analisis lebih lanjut mengenai kandungan organik dari pupuk kasgot tersebut dan besaran kemampuan maggot BSF dalam mengurai sampah organik di lokasi tersebut. &nbsp

    INTEGRASI SISTEM PERTANIAN TERPADU PADA AGROWISATA TOBONG BATA DESA PAMIJEN MENUJU MASYARAKAT SEHAT DAN SEJAHTERA

    Get PDF
    Tujuan pengabdian kepada masyarakat KKNT-T ini adalah (1) intensifikasi budidaya tanaman jambu kristal, pepaya, alpukat dan pemanfaatan lahan wisata untuk mendukung agrowisata, (2) mengoptimalkan pemanfaatan kandang komunal sapi, agar produktivitasnya meningkat, sekaligus memperbaiki kebersihan lingkungan, dan (3) meningkatkan peran Kelompok dalam pengelolaan Agrowisata Tobong Bata.  Progam pengabdian kepada masyarakat diimplementasikan melalui program KKN Tematik MBKM yang dilaksanakan pada bulan Juli – Nopember 2023 yang diikuti oleh 15 mahasiswa dari fakultas pertanian, peternakan dan ilmu kesehatan.  Metode implementasi kegiatan yang dilakukan meliputi: penyuluhan, demplot, pendampingan, dan penyelenggaraan pelatihan sekolah usaha wisata desa.  Hasil kegiatan menunjukkan bahwa: (1) intensifikasi budidaya tanaman jambu kristal, pepaya, alpokat dan lemon telah dilaksanakan melalui penerapan teknologi yang efektif dan efisien.  Teknologi yang diintroduksikan meliputi: pemanfaatan mulsa hitam perak, penggunaan mikoriza, pemberian hormon tumbuh, dan irigasi tetes serta fertigasi.  Kelompok tani juga telah diperkenalkan dengan budidaya komoditas tanaman cash crop, seperti: melon, semangka, cabai, terong, tomat, caisim, dan kacang panjang, yang sebelumnya tidak diusahakan di lahan agrowisata.  Teknologi tersebut diimplementasikan pada seluruh komoditas yang dibudidayakan untuk menjamin ketersediaan air, sekaligus mengefektifkan proses budidaya;  (2) KKN MBKM juga telah mensosialisasikan pemanfaatan kandang komunal ternak untuk meningkatkan kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Peternak didorong untuk membudidayakan ternaknya di kandang komunal yang telah disediakan pemerintah desa.  Untuk menyediakan hijauan bagi ternak, KKN T juga telah menanam 500 stek rumput pakchong di sekitar kandang komunal; (3) Tim KKN T juga telah melakukan kegiatan penguatan kapasitas kelompok tani, melalui: fasilitasi penyelenggaraan FGD melibatkan stakeholder di desa dalam rangka penyamaan visi pengembangan agrowisata yang berkelanjutan, penyelenggaraan Sekolah Usaha Wisata Desa dan pelatihan persiapan masakan kuliner.  Kehadiran KKN T MBKM telah menunjukkan kepada Pemerintah Desa bahwa lahan kering wisata desa jika dikelola dengan benar, tetap dapat produktif meskipun di musim kemarau.  Kegiatan KKN T ini telah berhasil menginspirasi Pemerintah Desa untuk memfasilitasi Kelompok Tani mengelola lahan wisata melalui pembuatan sumur artesis dan pengadaan cultivator untuk pengolahan lahan

    The Effectiveness of Dental Health Cadre Training on Increasing the Knowledge of Village Community Dental Health Cadres (UKGMD) in Karangtengah Village, Baturraden District

    Get PDF
    Village Community Dental Health Efforts (UKGMD) is one of the breakthrough efforts or strategies to assist the community in reaching dental health services that have not been implemented yet and encourage the community to provide dental health services at the nearest health service. Dental and oral health survey data for the people of Karangtengah Village, Baturraden District in 2019 show an average caries with a DMF-T index of 13.12 which is classified as a very high category according to WHO. The cadre training activities were attended by 28 representative cadres from 7 posyandu in Karangtengah Village. Training activities include providing material through audio-visual forms and practice accompanied by the team. The assessment of this activity is carried out through the results of the pretest at the beginning of the activity session and the postest assessment at the end. The results of the pretest and postest showed an increase in the average knowledge score of cadres from 7.92 ± 1.56 to 8.85 ± 0.57. The paired t-test statistical test showed that there was a significant difference between the level of knowledge of cadres before and after receiving the training materials (p<0.05). The results showed that cadre training effectively increased UKGMD cadres' knowledge about oral health and simple dental examination methods

    PENERAPAN ZONA SELAMAT SEKOLAH (ZOSS) DI SDN 2 GRECOL, KALIMANAH, PURBALINGGA

    Get PDF
    Traffic accidents are increasing along with the increasing number of motorcycles and riders who drive vehicles exceeding the maximum allowable speed limit (speeding). Data from the National Police Traffic Corps, traffic accidents in 2022 reached 137,000 cases with 27,531 deaths, 12,230 serious injuries, and 163,686 minor injuries. Road transport accident victims in Indonesia will reach 204,447 people throughout 2022. This number has increased by 33% (year-on-year), compared to victims in 2021 which reached 153,732 people. To reduce the high number and number of victims of traffic accidents, one of the efforts that can be taken is by socializing or campaigning for traffic safety from an early age and also implementing the school safety zone. The school safety zone is part of traffic management and engineering activities in the form of traffic control and use of a road section in the school environment. The community service of the science and technology application scheme was carried out at SDN 2 Grecol, Kalimanah. This service activity includes 4 activities, namely delivering road safety material, designing the school safety zone design, constructing the school safety zone, and practical trials of crossing the road safely in the school safety zone. The type of school safety zone built in front of SDN 2 Grecol is a single type.Kecelakaan lalu lintas semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah sepeda motor dan pengendara yang memacu kendaraan melebihi batas kecepatan maksimum. Data Korlantas Polri, kecelakaan lalu lintas tahun 2022 mencapai 137.000 kasus dengan jumlah korban meninggal dunia 27.531 orang, luka berat 12.230 orang, dan luka ringan 163.686 orang. Korban kecelakaan angkutan jalan di Indonesia mencapai 204.447 orang sepanjang 2022. Jumlahnya naik hingga 33% (yoy), dibandingkan korban pada 2021 sebesar 153.732 orang. Untuk mengurangi tingginya jumlah dan korban kecelakaan lalu lintas upaya yang dapat dilakukan salah satunya yaitu dengan sosialisasi atau kampanye keselamatan lalu lintas sejak usia dini dan juga penerapan kawasan Zona Selamat Sekolah (ZoSS). ZoSS merupakan bagian dari kegiatan manajemen dan rekayasa lalu lintas berupa pengendalian lalu lintas dan penggunaan suatu ruas jalan di lingkungan sekolah. Pengabdian masyarakat skim penerapan ipteks dilakukan di SDN 2 Grecol, Kalimanah. Kegiatan pengabdian meliputi 4 aktivitas yaitu penyampaian materi keselamatan jalan, perancangan desain ZoSS, pembangunan kawasan ZoSS, dan uji coba praktik menyeberang jalan secara selamat di kawasan ZoSS. Tipe ZoSS yang dibangun di depan SDN 2 Grecol, Kalimanah, Purbalingga adalah ZoSS tipe tunggal

    PELATIHAN PEMBENIHAN PELATIHAN PEMBENIHAN SEMI INTENSIF IKAN GOLDEN KAVIAT DI UK 'BELVA FISH' UNTUK DIVERSIFIKASI KOMODITAS BUDIDAYA

    No full text
    Usaha Kecil ‘Belva Fish’ merupakan usaha kelompok penghobi ikan hias yang aktivitas usahanya sudah dikenal dengan memproduksi ikan koi, discus, dan manfish. Pemasarannya sudah mencapai kawasan Pulau Jawa. Selama ini, dalam memelihara ikan koi, dicampur dengan ikan Golden Kaviat yang memiliki kemampuan sebagai pembersih wadah dan memakan parasit yang menempel pada tubuh ikan koi. Oleh karena belum mampu memproduksi ikan Golden Kaviat, maka harus membeli dari luar kota. Adanya permasalahan tersebut, maka telah dilakukan pelatihan pembenihan ikan Golden Kaviat secara semi-intensif melalui pemijahan induksi. Tujuan pelatihan dan pendampingan  ini  adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada  mitra dalam pembenihan ikan Golden Kaviat. Metode yang digunakan partisipatif yang dikombinasi dengan leraning by doing, melalui  tahap:  1) persiapan, 2) implementasi; 3) monitoring dan evaluasi; serta 4) pendampingan (keberlanjutan). Teknologi yang diterapkembangkan berupa pembenihan skala rumah tangga dengan pijah induksi. Kegiatan pelatihan dapat berjalan baik, dan diperoleh data serta informasi bahwa ukuran induk ikan Golden Kaviat betina yang dipijahkan belum matang gonad secara optimal. Induksi hormon yang telah diberikan dua kali dengan interval 6 bulan, sebanyak 0,5ml/kg BB pada induk betina, hanya mampu meningkatkan tahap kematangan gonadnya. Sedangkan pada induk jantan dengan bobot tubuh 200gr telah siap untuk dipijahkan.The small business 'Belva Fish' is a group of ornamental fish hobbyists whose business activities are well known for producing koi, discus, and manfish. Marketing has reached the Java Island area. So far, when keeping koi fish, they have been mixed with Golden Kaviat fish which can clean containers and eat parasites that stick to the koi fish's body. Because we are not able to produce Golden Kaviat fish, we have to buy them from outside the city. Due to this problem, semi-intensive Golden Kaviat fish hatchery training has been carried out through induction spawning. This training and mentoring aim to provide knowledge and skills to partners in the Golden Kaviat fish hatchery. The method used is participatory combined with planning by doing, through the stages: 1) preparation, 2) implementation; 3) monitoring and evaluation; and 4) assistance (sustainability). The technology being developed is in the form of household scale seeding using induction spawning. The training activities went well, and data and information were obtained that the size of the female Golden Kaviat fish that were spawned had not yet matured the gonads optimally. Hormone induction that has been given twice with an interval of 6 months, at 0.5ml/kg BW to the female parent, is only able to increase the stage of gonad maturity. Meanwhile, the male parent with a body weight of 200g is ready to be spawned

    PENGUATAN PRODUK HILIR ROASTED BEAN COFFE DI DESA GUNUNGJAYA - KECAMATAN SALEM KABUPATEN BREBES

    Get PDF
    ABSTRAK Kelompok Usaha Bersama (KUB) “Lulumpang” yang terdapat di Desa Gunung Jaya, Kecamatan Salem, mempunyai usaha mengolah kopi. Sebelumnya, KUB Lulumpang melakukan proses pengupasan kopi cherry secara manual menggunakan lumpang dan alu. Proses ini memakan waktu dan tenaga, sehingga menghasilkan banyak biji kopi (greenbean) yang pecah. Selanjutnya biji kopi yang dihasilkan disangrai (roasting) dengan gerabah tanah secara manual. Hal ini selain memakan waktu dan tenaga, juga hasil kopi yang disangrai (roasted bean coffe) tidak merata. Berdasarkan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh KUB Lulumpang sebagai mitra, maka pengabdi akan menangani melalui 2 tahapan pengabdian yang akan dilaksanakan dalam waktu 2 tahun. Tahun 1 (2022) yang fokus pada teknologi budidaya dan pasca panen. Pada tahun pertama ini telah dilakukan program pengabdian berupa penanganan teknologi pascapanen melalui pelatihan dan hibah alat pengupas kulit basah yaitu pulper. Pada tahun ke-2 (2023), pengabdian fokus pada peningkatan produksi dan kualitas roastbean coffee, yaitu dengan hibah alat roasting dan workshop. Setelah tim pengabdian Universitas Jenderal Soedirman melakukan penyuluhan dan workshop pada tahun 2023, kapasitas produksi roasted bean coffee meningkat 5X lipat dan anggota kelompok semakin memahami pentingnya pengendalian kualitas dan prosedur penyelamatan produk gagal.ABSTRACT The Joint Business Group (KUB) "Lulumpang" in Gunung Jaya Village, Salem District, has a coffee processing business. Previously, KUB Lulumpang carried out the process of peeling cherry coffee manually using a mortar and pestle. This process takes time and energy, resulting in a lot of broken coffee beans (greenbeans). Next, the resulting coffee beans are roasted with earthenware and manually. Apart from taking time and energy, this also results in uneven roasted bean coffee. Based on several problems faced by KUB Lulumpang as a partner, the service will handle it through 2 stages of service which will be carried out within 2 years. Year 1 (2022) which focuses on cultivation and post-harvest technology. In this first year, a service program was carried out in the form of handling post-harvest technology through training and grants for wet peeling tools, namely pulpers. In the 2nd year (2023), this service focuses on increasing the production and quality of roastbean coffee, namely by granting roasting equipment and workshops. After the Jenderal Soedirman University service team conducted outreach and workshops in 2023, roasted bean coffee production capacity increased 5X and group members increasingly understood the importance of quality control and procedures for rescuing failed products. &nbsp

    PENYULUHAN METODE DAN ALAT PENGOLAHAN LIMBAH BATIK SERTA PENGENALAN PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI BATIK UNTUK UMKM ERISA BATIK, BANTUL, YOGYAKARTA

    Get PDF
    Industri batik saat ini berkembang sangat pesat. Perekembangan industry batik tersebut membawa dampak positif dalam membantu menggerakkan perekonomian indisnesia melalui sektor UMKM pengrajin batik arena hamper setiap daerah memiliki batik khas masing-masing. Selain itu, perkembangan industry batik juga berdampak negative terutama bagi lingkungan karena salah satu bahan pendukung proses pembuatan batik adalah zat warna. Zat warna yang banyak digunakan saat ini adalah pewarna sintetis sehingga berbahaya bagi lingkungan. Pengetahuan pengolahan limbah batik bagi UMKM pengrajin batik juga masih rendah sehingga berpotensi untuk mencemari lingkungan. Kondisi ini melatarbelakangi rangkaian kegiatan pengabdian untuk komunitas UMKM Erisa Batik. Metode kegiatan berupa pemberian modul pelatihan, pemaparan materi, sesi tanya jawab. Materi yang dibahas dalam program pengabdian ini antara lain tentang metode dan alat pengolahan limbah batik serta pewarna alami yang dapat menjadi alternatif pewarna batik yang lebih ramah lingkungan. Hasil yang dapat dilihat dari kegiatan ini adalah peningkatan kemampuan atau pengetahuan peserta mengenai metode dan alat pengolahan limbah batik serta proses pembuatan batik dengan pewarna alami.   Kata kunci : Batik ; Erisa Batik ; Fenton Heterogen ; Pengolahan Limbah ; Pewarna Alami &nbsp

    THE USE OF ENGLISH IN VIDEO PROMOTION OF ELSOTEL PURWOKERTO FOR INSTAGRAM

    No full text
    Elsotel Purwokerto has uploaded lots of interesting promotional content on Instagram and Facebook. It was found that Elsotel Purwokerto does not yet have a promotional video to properly introduce their hotel, such as explaining what types of rooms are available, facilities, restaurants, parking areas and the ambience. Therefore the writer makes a promotional video that explains the contents of Elsotel Purwokerto in more detail and more properly. This can help Elsotel Purwokerto to provide information to tourists who want to stay at Elsotel Purwokerto with more detailed information through the videos that have been made. Even though it has several obstacles such as unfriendly weather or too crowded people, the writer can overcome all of thes

    Pembuatan Biokomposit Menggunakan Jamur Pelapuk Putih Auricularia auricula dan Lentinus squarrosulus serta Bahan Lignoselulosik Serbuk Gergaji Kayu dan Tatal Kayu

    Get PDF
    Abstract Biocomposite is a composite material that uses natural materials that contain lignocellulose. The manufacture of composite boards by utilizing agricultural waste will get added value, namely reducing the impact on the environment. Biocomposites that utilize the mycelium of white rot fungi, namely Auricularia auricula and Lentinus squarrosulus as binders and lignocellulosic materials such as sawdust and wood chips which contain the main components of cellulose, hemicellulose, and lignin which are good for fungal growth. The purpose of this study was to determine the effect of the type of white rot fungus with lignocellulosic material composition and to determine the optimal type of fungus and lignocellulosic material on the manufacture of biocomposites. This study used an experimental method with a completely randomized design with 10 treatments with 3 replications, the treatment was carried out on lignocellulosic materials in the form of sawdust and wood chips with a composition (25%, 50%, 75%, and 100%). The research variables consisted of independent variables in the form of white rot fungi and wood species, while the variable was the quality of the resulting biocomposite material. The parameters measured in this study were the main parameters, namely fungal mycelium growth, composite density, composite air content, composite thickness expansion, modulus of elasticity and modulus of fracture of the composite. The supporting parameters are composite biodegradability. The results showed that the types of fungi and lignocelluloic materials had an effect on the manufacture of composite boards. The best fungus used in the manufacture of biocomposites is L. squarrosulus and the best lignocellulosic material used is a mixture of the two lignocelluloic materials that is 25% sawdust + 75% wood chips. Keywords: biocomposite,  lignocellulosic material, white rot fungus    Abstrak Komposit dengan memanfaatkan limbah pertanian akan mendapatkan nilai tambah yaitu mengurangi dampak buruk bagi lingkungan. Biokomposit yang memanfaatkan miselium jamur pelapuk putih, yaitu Jamur Auricularia auricula dan Lentinus squarrosulus sebagai pengikat serta bahan lignoselulosa seperti serbuk gergaji kayu dan tatal kayu yang mengandung  komponen utama selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang baik untuk pertumbuhan jamur. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh jenis jamur pelapuk putih dengan komposisi bahan lignoselulosa dan mengetahui jenis jamur dan bahan lignoselulosik yang optimal terhadap pembuatan biokomposit. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, dengan rancangan acak lengkap 10 perlakuan dengan 3 kali ulangan, perlakuan dilakukan pada bahan lignoselulosa berupa serbuk kayu dan tatal kayu dengan komposisi (25%, 50%, 75%, dan 100%). Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas berupa jenis jamur pelapuk putih dan jenis kayu, sedangkan variabel terikat yaitu kualitas material biokomposit yang dihasilkan. Parameter yang diukur dalam penelitian ini ialah parameter utama yaitu pertumbuhan miselium jamur, kerapatan komposit, kadar air komposit, pengembangan tebal komposit, modulus elastisitas dan modulus patah komposit. Parameter pendukungnya berupa biodegradabilitas komposit. Hasil penelitian didapatkan jenis jamur dan bahan lignoselulosik berpengaruh terhadap kualitas biokomposit yang dihasilkan. Jamur yang paling baik digunakan dalam pembuatan biokomposit yaitu jamur L. squarrosulus dan bahan lignoselulosik yang paling baik digunakan yaitu 25% Serbuk kayu + 75% Tatal kayu. Kata kunci : bahan lignoselulosa, biokomposit, jamur pelapuk puti

    KOLABORASI KESEHATAN DALAM PENGENDALIAN MASALAH GANGGUAN PERSENDIAN PADA MASYARAKAT DESA SUSUKAN, KECAMATAN SUMBANG, KABUPATEN BANYUMAS

    Get PDF
    Latar Belakang: Sejak dua dekade yang lalu, permasalahan seiring bertambahnya usia adalah terjadinya peradangan pada sendi atau dikenal dengan istilah arthritis (Elders 2000). Di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan persentase rata-rata penyakit sendi pada penduduk usia ≥ 15 tahun sebesar 7,3% (Kemenkes 2018). Arthritis merupakan sebuah kondisi yang menyebabkan gangguan aktivitas karena nyeri yang ditimbulkan. Berdasarkan wawancara dengan petugas di Puskesmas Sumbang 2 diperoleh data bahwa artrhritis merupakan urutan ke-8 penyakit terbanyak. Desa Susukan sebagai salah satu wilayah cakupan dari Puskesmas Sumbang 2 termasuk yang memiliki kasus arthritis yang cukup banyak namun kurang terkaji secara mendalam. Data wawancara dari kepala desa bahwa sebelumnya belum pernah ada kegiatan di desa yang berkaitan dengan masalah sendi. Masalah arthritis perlu menjadi kesadaran tidak hanya bagi lansia atau kelompok berisiko, letak demografis desa dengan kontur tanah yang tidak rata di kaki Gunung Slamet juga meningkatkan potensi beban sendi pada penduduknya. Tujuan: Melalui program desa binaan diharapkan para kader kesehatan mampu memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang pencegahan dan penanganan masalah sendi melalui berbagai kegiatan seperti pemeriksaan, melakukan aktivitas fisik yang tepat, dan konsumsi makanan serta suplemen. Peningkatan nilai skor pengetahuan kader diukur dengan membandingkan skor pre dan post test. Metode: Program pengabdian kepada masyarakat desa binaan merupakaan rencana pelaksanaan selama 3 tahun. Pada tahun pertama dilakukan kegiatan pada 2 target sasaran yaitu kader dan lansia. Kegiatan yang dilakukan pada kader yaitu FGD, penyuluhan kesehatan, dan demonstrasi pemeriksaan asam urat. Pada lansia dilakukan kegiatan pemeriksaan kesehatan menggunakan pemeriksaan quantum resonance. Hasil: Kegiatan penyuluhan kepada kader kesehatan di desa Susukan menunjukkan peningkatan pengetahuan berdasar nilai rata-rata pre­-test dan post-test. Skor rata-rata pre-test sebesar 44,62, sedangkan skor post-test sebesar 64,49. Berdasarkan hasil uji analisis paired t-test diketahui nilai p=0,00. Hasil analisis yang diperoleh memberikan makna terdapat perbedaan bermakna antara nilai skor pengetahuan kader kesehatan desa Susukan Kecamatan Sumbang terhadap pemahaman tentang pengenalan dan penanganan pada masalah gangguan sendi antara sebelum dan setelah pemberian edukasi. Kesimpulan: Program PKM desa binaan merupakan kegiatan yang berkesinambungan dalam mengangkat suatu masalah, dalam hal ini masalah persendian. Kegiatan penyuluhan dilanjutkan dengan tindak lanjut untuk mendeteksi kasus masalah persendian dan tulang yang ada di masyarakat khususnya lansia.Background: Over the past two decades, a growing issue associated with aging is the occurrence of joint inflammation, known as arthritis (Elders, 2000). In Indonesia, the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) results indicated an average prevalence of joint diseases among individuals aged ≥ 15 years at 7.3% (Ministry of Health, 2018). Arthritis is a condition causing disruptions in activities due to the pain it generates. Based on interviews with personnel at the Sumbang 2 Community Health Center, data show that arthritis ranks 8th among the most prevalent diseases. Susukan Village, as part of the coverage area of the Sumbang 2 Community Health Center, has a considerable number of arthritis cases but lacks in-depth examination. According to the village head's interview data, there have been no previous activities in the village related to joint issues. The geographical location of the village, with uneven terrain at the foot of Mount Slamet, also increases the potential joint burden on its residents. Objective: Through the community development program, it is expected that health cadres can acquire knowledge and skills in preventing and managing joint problems through various activities such as examinations, appropriate physical activities, and the consumption of foods and supplements. The improvement in the knowledge score of cadres is measured by comparing pre and post-test scores. Method: The community development program is a three-year implementation plan. In the first year, activities target two groups: cadres and the elderly. Cadre activities include Focus Group Discussions (FGD), health education, and demonstrations of uric acid examinations. For the elderly, health examinations are conducted using quantum resonance. Results: Health education activities in Susukan Village show an increase in knowledge based on the average pre-test and post-test scores. The average pre-test score is 44.62, while the post-test score is 64.49. The paired t-test analysis results reveal a p-value of 0.00, indicating a significant difference in the knowledge scores of health cadres in Susukan Village, Sumbang Subdistrict, regarding the understanding of the recognition and management of joint disorders before and after education. Conclusion: The community development program is a continuous activity in addressing a specific issue, in this case, joint problems. Education activities are followed by follow-up actions to detect joint and bone problems in the community, especially among the elderly

    3,292

    full texts

    3,803

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JOS - UNSOED (Jurnal Online Soedirman - Universitas Jenderal Soedirman) is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇