18 research outputs found

    PENGARUH PROBIOTIK TANGGUH NASA TERHADAP KELIMPAHAN ZOOPLANKTON PADA MEDIA AIR GAMBUT

    Get PDF
    Pakan hidup berperan penting dalam mendukung pembenihan ikan sebagai pakan larva yang sangat kecil. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh probiotik TANGGUH NASA dalam meningkatkan kelimpahan zooplankton di air gambut, dan mengidentifikasi genus zooplankton yang tumbuh dalam penggunaan probiotik dan pupuk Nasa TON di air gambut. Penelitian dilaksanakan dalam waktu 1 (satu) bulan sejak Agustus 2020 sampai dengan September 2020 di Laboratorium Perikanan, Peternakan, dan Teknologi Industri Pertanian Jalan H. Timang, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan yaitu Perlakuan A tanpa pemberian probiotik (kontrol), Perlakuan B pemberian probiotik 3 ppm, Perlakuan C pemberian probiotik 6 ppm, dan Perlakuan D pemberian probiotik probiotik 9ppm. Probiotik ditambahkan setiap 15 hari. Selanjutnya setiap hari dilakukan pemupukan dengan dosis 2 ppm dan pada hari ke-15 dosis pupuk dinaikkan menjadi 4 ppm. Parameter kualitas air yang diukur adalah pH, ​​suhu, total padatan terlarut (TDS), oksigen terlarut (DO) dan amonium (NH4+). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelimpahan zooplankton meningkat pada awal penelitian dan mencapai puncaknya pada pengambilan sampel ke-3 (hari ke-11) kemudian menurun, namun kemudian meningkat hingga akhir pengamatan (hari ke-30). Parameter kualitas air seperti pH, suhu, TDS, DO dan NH4+ relatif stabil dan masing-masing masih memenuhi kriteria optimal untuk kehidupan zooplankton – berkisar antara 4,70 – 6,50, 20 – 29,50°C, 13 – 102 ppm , 2 - 5,4 mg/L dan 1,1 – 5,8 ppm. Oleh karena itu, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan probiotik Nasa TANGGUH berpengaruh terhadap peningkatan kelimpahan zooplankton dengan kelimpahan tertinggi sebesar 28.500 ind/

    PENGGUNAAN ENZIM PAPAIN PADA PAKAN BENIH IKAN GABUS (Channa striata)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis enzim papain yang optimal yang ditambahkan dalam pakan, terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan gabus (Channa striata). Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Bukit Raya XVB No. 7 Palangka Raya pada tanggal 1 September sampai 5 Oktober 2020. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang diuji perbedaan dosis enzim papain; 0,0%/kg, 1,5%/kg, 3,0%/kg dan 4,5%/kg. Pakan diberikan 5% dari bobot tubuh 3 kali sehari (07.00, 11.30 dan 16.30 WIB) selama 28 hari. Hasil analisis uji one way (ANOVA) menunjukan bahwa enzim papain berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot dan panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik hari ke 21 hingga hari ke 28, konversi pakan (P<0,05), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik hari ke 7 hingga hari ke 14   dan   tingkat   kelangsungan   hidup   ikan   gabus   (P>0,05).   Hasil   penelitian menunjukan perlakuan D dosis tertinggi memperoleh hasil terbaik pada semua parameter. Nilai tingkat kelangsungan hidup 100% pada semua perlakuan, pertambahan bobot berkisar pada 1,3 g â€“ 2,3 g, pertambahan panjang berkisar pada 2,2 cm â€“ 2,7 cm, laju pertumbuhan spesifik berkisar pada 0,26%/hari â€“ 0,51%/hari, rasio  konversi  pakan  berkisar     1,1 â€“ 1,8.  Selanjutnya, parameter kualitas air selama penelitian seperti suhu, pH dan DO masing-masing berkisar 27ÂşC - 29ÂşC, 7,2 â€“ 7,8, dan 3,8 mg/L – 4,7 mg/L. Oleh karena itu dapat disumpulkan dosis enzim papain yang terbaik untuk benih ikan gabus adalah 4,5%/kg pakan

    PENGGUNAAN HORMON TIROKSIN PADA PAKAN UNTUK MEMPERCEPAT PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dan dosis terbaik pemberian hormon tiroksin pada pakan pelet terhadap pertumbuhan benih ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Basah Jurusan Perikanan Universitas Palangka Raya pada bulan Juli sampai dengan bulan September 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yaitu 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu perlakuan A (kontrol), perlakuan B (penambahan hormon tiroksin 0,9 mg/kg pakan), perlakuan C (penambahan hormon tiroksin 1,8 mg/kg pakan) dan perlakuan D (penambahan hormon tiroksin 2,7 mg/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon tiroksin berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan panjang mutlak, laju pertumbuhan berat mutlak, dan laju pertumbuhan spesifik masing-masing sebesar  4,0 cm, 6,02 g, dan 4,06 %/hari.  Perlakuan terbaik adalah perlakuan pemberian hormon tiroksin tertinggi dengan dosis 2,7 mg/kg pakan sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan dosis optimal

    BUDIDAYA ROTIFERA AIR TAWAR DI KOLAM TANAH GAMBUT

    Get PDF
    Pakan alami berperan penting untuk keberhasilan pembenihan ikan dengan larva yang berukuran sangat kecil. Salah satu pakanalami ini adalah rotifera air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk menilai penggunaan kapur untuk mempertahankan pH air kolamgambut sebagai media kultur budidaya rotifera, dan menilai penggunaan pupuk POC Nasa dan probiotik Tangguh terhadappertumbuhan populasi rotifera pada kolam tanah gambut. Kolam yang digunakan berukuran 10 X 15 m2. Kapur yang digunakandengan dosis 0,75 mg/L. Sementara larutan pupuk POC Nasa dan Tangguh masing-masing dengan dosis 2 mL/m3 dan 3 mL/m3.Selanjutnya setiap hari dipupuk dengan POC Nasa dengan dosis 1 mL/kolam. Parameter kualitas air yang diukur adalah pH,suhu dan oksigen terlarut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepadatan rotifera meningkat pada awal kultur dan mencapaipuncak pada hari ke-7 kemudian menurun, tetapi kemudian meningkat perlahan hingga akhir pengamatan (hari ke-14). Kualitasair berupa pH, suhu dan oksigen terlarut relatif stabil dan masih memenuhi kriteria optimal untuk budidaya rotifera masing-masing berkisar 7,00 – 7,20, 28,32 – 28,50oC, dan 5,15 – 6,20 mg/L. Oleh karena itu, penggunaan kapur, pupuk POC Nasa dan probiotik Tangguh dapat meningkatkan populasi rotifera pada kolam tanah gambut

    DEVELOPMENTS OF DIGESTIVE TRACT IN LARVAE OF CLIMBING PERCH, Anabas testudineus (Bloch)

    Get PDF
    Climbing perch, Anabas testudineus (Bloch) is a potential species for aquaculture in Kalimantan, Indonesia and belongs to Anabantidae family. The development of its digestive tract was evaluated on larvae reared under culture conditions of 28oC-30oC, from hatching to 30 days after hatching using histological and morphological methods. The larvae were kept in six 100-L tanks. They were fed with rotifers and microalgae from day 2nd after hatching to day 10th; Artemia nauplii from day 7th to day 15th; Artemia meta-nauplii from day 15th to day 20th; and Tubifex worm from day 20th onwards. The development of digestive tract in climbing perch followed the general pattern described for other species. Shortly after hatching, its digestive system was found to be consisted of an undifferentiated straight tube laying dorsally to the yolk sac. At first feeding (day 2nd), both mouth and anus had opened and the yolk sac was partially absorbed. On day 3, the digestive tract was fully differentiated into buccopharynx, esophagus, intestine and rectum. The two pyloric caeca appeared on day 25th after hatching, indicating the transition from larval to juvenile stage and acquisition of an adult type of digestion

    PENGGUNAAN BATANG PISANG FERMENTASI SEBAGAI MEDIA BUDIDAYA MAGGOT BSF

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi biomassa maggot BSF (Hermetia illucens) yang dihasilkan dari pemanfaatan batang pisang (Musa paradisiaca L.). Penelitian ini dilakukan selama 21 hari bertempat di Laboratorium Program Studi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan UPR. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Adapun perlakuan yang diamati adalah : Perlakuan A= 160 g ampas tahu, perlakuan B = 120 g ampas tahu + 40 g batang pisang fermentasi, perlakuan C = 80 g ampas tahu + 80 g batang pisang permentasi, dan perlakuan D = 40 g ampas tahu + 120 g batang pisang fermentasi. Dalam waktu kurang lebih 4 - 5 hari telur BSF akan menetas menjadi maggot. Berdasarkan hasil penelitian bahwa kombinasi pemberian pakan ampas tahu dan batang pisang fermentasi berpengaruh nyata pada biomassa maggot BSF dengan biomassa rata-rata dan populasi rata-rata tertinggi pada pemberian ampas tahu 100% (perlakuan A) masing-masing yaitu 4,2 kg/m2 dan 3,3 juta ind/m2.  Penggunaan batang pisang fermentasi direkomendasikan hanya 25% dari total media

    PENGGUNAAN KOTORAN AYAM DALAM BUDIDAYA CACING SUTRA (Tubifex sp.)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kotoran ayam terhadap populasi dan biomassa cacing sutera (Tubifex sp.) dan mengetahui dosis kotoran ayam yang paling baik untuk budidaya cacing sutera. Penelitian ini dilaksanakan selama 28 hari bertempat di Laboratorium Perikanan, Peternakan dan Teknologi Industri Pertanian di jln Hendrik Timang dalam Kampus UPR. Metode     penelitian     yang     digunakan     adalah     metode     eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dosis pemupukan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut yaitu; perlakuan A =   Tanpa menggunakan pupuk kotoran ayam, perlakuan B =   500 gram   pupuk kotoran ayam/0,098 m², perlakuan C =   1000 gram pupuk kotoran ayam/0,098 m² dan perlakuan D =  1500 gram pupuk kotoran ayam/0,098 m². Satuan unit percobaan dalam  penelitian  ini  adalah  pemeliharaan  cacing  sutera  dalam  baki  plastik berukuran 35 x 28 x 11 cm3. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa   pemberian   kotoran   ayam   untuk   cacing   sutera   berpengaruh   sangat signifikan (P<0,01) terhadap pertumbuhan biomassa dan populasi cacing sutera. Biomassa tertinggi adalah pada perlakuan D dengan 1500g dosis kotoran ayam/0,098 m2 sebesar 257 gram, pertumbuhan panjang tertinggi terdapat pada perlakuan B dengan 500 g dosis kotoran ayam/0,098 m2 sebesar 2,87 cm dan pertumbuhan populasi tertinggi terdapat pada perlakuan D dengan 1500 g dosis kotoran ayam/0,098 m2 sebanyak 19.885 individu

    STUDY OF THE USAGE OF FERMENTED CHICKEN MANURE MEDIA ON MOINA sp. CULTURE

    Get PDF
    The study was conducted to determine the use of EM-4 (Effective Microorganism-4) probiotics on the fermentation of chicken manure as fertilizer on the population growth of Moina sp. This study used the RAL (Completely Randomized Design) method with 4 treatments 3 replicates. This research was conducted for one month from December 01- 31, 2022 at UPT Laboratorium Lahan Gambut Cooperation In Sustainable Managemant Of Tropical Peatland (LLG-CIMTROP), Jalan Hendrik Timang UPR Tanjung Nyaho Campus Palangka Raya, Central Kalimantan. Four treatments were treatment A with 100 g dry chicken manure without the probiotics, treatment B with 100 g dry chicken manure and 6 ml the probiotics solution, treatment C with 100 g dry chicken manure and 12 ml the probiotics solution, and treatment D with 100 g dry chicken manure and 18 ml the probiotics solution. The results obtained that the use of chicken manure fermented by 18 ml EM-4 probiotic solution provided the highest density of Moina sp. about 800 ind/l with 75.0%/day of the population specific growth rate. However, water quality during the study was still in the normal range for the cultivation of Moina sp

    PENETRALAN pH AIR KOLAM TANAH GAMBUT UNTUK BUDIDAYA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan gurami yang dipelihara di kolam dengan penambahan kapur dan tanpa penambahan kapur. Penelitian ini dilaksanakan selama 8 (delapan) minggu dimulai dari bulan Januari sampai Februari 2018 di dua kolam tanah yang terletak di Laboratorium D-III Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. Tiga ratus ekor benih ikan gurami digunakan sebagai ikan uji dengan ukuran 3-5 cm. Kolam 1 digunakan untuk menetralkan derajat keasaman (pH) air dengan menggunakan kapur pertanian dengan dosis 0,53 g/liter, sedangkan kolam 2 tanpa perlakuan penetralan atau sebagai kontrol. Penelitian ini diulangi sebanyak 3 kali. Pemberian pakan ikan sebanyak 2 kali selama 2 (dua) bulan pengaatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan yang dipelihara pada kolam yang diberi penambahan kapur lebih bagus jika di bandingkan dengan ikan yang dipelihara pada kolam tanpa penambahan kapur. Namun, pertumbuhan bobot dan panjang, laju pertumbuhan harian dan rasio konversi pakan lebih baik pada kolam kontrol
    corecore