8 research outputs found

    KARYAWAN GENERASI MILENIAL: GRIT DAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR

    Get PDF
    Abstract Organizational citizenship behavior is part of the behavioral aspects that millennial generation employees need to have, because it can provide opportunities for millennial generation employees to develop, show their best abilities and give good appreciation to the organization. This is why grit is so important for millennial generation employees, because grit helps overcome obstacles and challenges to achieve the results it wants. This study aims to determine the relationship between grit and organizational citizenship behavior in millennial generation employees. The subjects of the study were 120 employees between the ages of 22 and 42 who had at least one year of work experience. The sampling technique in the study was to use the purposive sampling method. When collecting data this study used the Grit Scale on the Organizational Citizenship Behavior Scale. The data analysis technique used in this study is product-moment correlation. The results showed that there is a significant positive relationship between grit and organizational citizenship behavior in millennial generation employees. Keywords: Grit, organizational citizenship behavior, millennial generation employeesAbstrak Organizational citizenship behavior adalah bagian dari aspek perilaku yang perlu dimiliki karyawan generasi milenial, karena dapat memberikan kesempatan kepada karyawan genersai milenial untuk berkembang, menunjukkan kemampuan terbaiknya dan memberikan apresiasi yang baik bagi organisasi. Inilah sebabnya mengapa grit sangat penting bagi karyawan generasi milenial, karena grit membantu mengatasi rintangan dan tantangan untuk mencapai hasil yang di inginkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara grit dengan organizational citizenship behavior pada karyawan generasi milenial. Subjek penelitian adalah 120 orang karyawan dengan berusia antara 22 dan 42 tahun yang memiliki setidaknya satu tahun pengalaman kerja. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian adalah dengan menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan Skala Grit dan Skala Organizational Citizenship Behavior. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi product-moment. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara grit dengan organizational citizenship behavior pada karyawan generasi milenial Kata kunci: Grit, organizational citizenship behavior, karyawan generasi milenia

    PERILAKU PROSOSIAL DAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA IBU YANG BEKERJA

    Get PDF
    Abstract                 Subjective well-being is one part that must be considered in a mother, where when carrying out the role of a mother who works with various tasks and responsibilities requires a mother to be able to control and regulate herself so that she is able to carry out various tasks and responsibilities. exist as well as possible, so as not to cause problems for their welfare. Because that's why prosocial behavior is very important to do because by doing prosocial behavior, working mothers will experience greater positive emotions. This study aims to determine the relationship between prosocial behavior and subjective well-being in working mothers. The subjects in this study amounted to 65 people who have the characteristics of a working woman, where the woman is married and has children, a minimum of 1 year of service, and a minimum age of 22 years and a maximum of 60 years. The technique for taking the sample is using the purposive sampling method. In collecting data using the Prosocial Behavior Scale with Subjective Well-Being Scale. The data analysis technique used is the product-moment correlation of Karl Pearson. The results showed that there was a significant positive relationship between prosocial behavior and subjective well-being.Abstrak                 Subjective well-being menjadi salah satu bagian yang harus diperhatikan dalam diri seorang ibu, di mana ketika menjalani peran sebagai seorang ibu yang bekerja dengan beragam tugas dan tanggung jawab mengharuskan seorang ibu untuk dapat mengendalikan dan mengatur diri agar mampu melakukan berbagai tugas dan tanggung jawab yang ada dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak menimbulkan masalah pada kesejahteraannya. Sebab karena itulah perilaku prososial menjadi sangat penting untuk dilakukan karena dengan melakukan perilaku prososial maka ibu yang bekerja akan mengalami emosi positif yang lebih besar. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku prososial dengan subjective well-being pada ibu yang bekerja. Subjek yang ada pada penelitian ini berjumlah 65 orang yang memiliki karakteristik sebagai seorang wanita yang bekerja, di mana wanita tersebut sudah menikah dan memiliki anak, masa kerja minimal 1 tahun, dan minimal usia 22 tahun dan maksimal 60 tahun. Teknik untuk pengambilan sampel yaitu menggunakan metode purposive sampling. Pada pengambilan data menggunakan Skala Perilaku Prososial dengan Skala Subjective Well-Being. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi product-moment dari Karl Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara perilaku prososial dengan subjective well-being. &nbsp

    Self-Efficacy dan Burnout Akademik pada Mahasiswa yang Bekerja

    Get PDF
    SELF-EFFICACY AND ACADEMIC BURNOUT FOR WORKING STUDENTS. Academic burnout refers to stress, burden or other psychological factors because the learning process is followed by students so that it shows the state of emotional fatigue, tendency to depersonalization, and feeling of low personal achievement. There are individual factors that can affect burnout; one of the individual factors that can influence academic burnout is academic self-efficacy. This study aims to determine the relationship between academic self-efficacy and academic burnout in working students. Based on the results of research and discussion, it can be concluded that there is a negative relationship between academic self-efficacy and academic burnout on students who work. This means that the higher academic self-efficacy, the lower academic burnout in working students, conversely the lower of Academic self-efficacy, the higher academic burnout in working students

    YAKINKAH DENGAN ADANYA PERUBAHAN IKLIM?

    Get PDF
    Abstrak: Studi awal ini mengarahkan pada keyakinan individu terkait dengan permasalahan perubahan iklim yang serta perilaku pro lingkungan sebagai bentuk respon terhadap keyakinan tersebut. Responden dalam penelitian ini melibatkan para mahasiswa dengan total 292 responden.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif analisis isi dengan memberikan pertanyaan terbuka terhadap para responden berkaitan dengan pertama “apakah meyakini bahwa perubahan iklim sedang terjadi saat ini?; kedua “kondisi seperti apa yang anda rasakan atau lihat sebagai indikator bahwa perubahan iklim sedang terjadi?; ketiga “seperti apa sajakah seharusnya bentuk perilaku pro lingkungan itu?”; keempat “bentuk pro lingkungan seperti apa yang sudah anda lakukan saat ini?”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 94% responden menyakini bahwa perubahan iklim sedang terjadi dan 6% meyakini tidak ada namanya perubahan iklim. Keyakinan akan terjadinya perubahan iklim didasarkan pada beberapa indikator yang dirasakan yaitu 44,18% respondenmengarahkan pada kondisi cuaca yang tidak menentu, 26,03% responden mengarahkan pada suhu yang meningkat, 5,28% responden mengarahkan pada kualitas udara yang buruk, 4,45% mengarahkan pada frekuensi hujan yang meningkat, 2,39% mengarahkan pada kondisi fisikyang mudah sakit, 1,37% mengarahkan pada informasi mengenai mencairnya es di kutub, 1,37% mengarahkan pada meningkatnya intensitas bencana saat ini. Berdasarkan pada keyakinan tersebut, sebagai bentuk respon dalam bentuk pengetahuan dan perilaku pro lingkungan yang menjadi fokus responden (mayoritas) masih berada dalam tahap perilaku keseharian individu yang berpusat pada dirinya (membuang sampah pada tempatnya, pengelolaan sampah melalui3R, hemat penggunaan air dan listrik, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, konsumsi yang pro lingkungan) dibandingkan terlibat secara aktif dalam gerakan atau komunitas maupun berperan lebih jauh secara kebijakan maupun politis.

    Husband's social support and subjective well-being among Javanese mothers of children with special needs

    No full text
    A husband’s social support is one of the factors shaping subjective well-being in mothers who have children with special needs. It is undoubtedly influenced by the cultural values that form the basis of relationships in families of Javanese ethnicity. Therefore, this study looks at the relationship between the husband’s social support and subjective well-being in mothers with children with special needs with a Javanese ethnic background. The sampling technique used was probability sampling with 36 participants of mothers of Javanese ethnicity who had children with special needs in the age range of 1-18 years—data collection using the Mother’s Subjective Well-Being Scale and the Husband’s Social Support Scale. The data analysis technique used is Pearson product-moment correlation. The data analysis shows no relationship between subjective well-being and husband’s social support in mothers of Javanese ethnicity who have children with special needs. The results of this study imply that subjective well-being in mothers with Javanese ethnicity is not related to external factors
    corecore