21 research outputs found

    PERKEMBANGAN DAN TAHAPAN PENTING DALAM PERKEMBANGAN

    Get PDF
    Perkembangan menunjukkan suatu proses tertentu, yaitu suatu proses yang menuju ke depan dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Dalam perkembangan person, terjadi perubahan-perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan-perubahan dalam suatu arah yang bersifat tetap. Setiap tahap perkembangan mempunyai krisis, atau pembentukan poin yang mengharuskan beberapa perubahan pada perilaku dan kepribadiannya. Kita dihadapkan pada pilihan antara dua cara dalam merespon krisis, yaitu penyesuaian diri yang salah atau cara yang negatif, dan penyesuaian diri atau cara yang positif. Hanya saat kita dapat memecahkan setiap konflik, kita dapat meneruskan perkembangan kepribadian secara normal dan memperoleh kekuatan untuk menghadapi krisis pada tahap berikutnya. Apabila suatu konflik pada suatu tahap tidak dapat diatasi, kurang memungkinkan untuk bisa menyesuaikan diri pada tahap berikutnya, sehingga banyak ditemui kesulitan untuk mencapai kesuksesan

    KESIAPAN SEKOLAH INKLUSI MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)

    Get PDF
    Pendidikan adalah untuk semua, menghargai potensi anak, menghargai pengembangan diri anak dengan tidak mengenal kata normal maupun ABK—dengan output sekolah – mempunyai kemampuan dalam akademik dalam bidang mata pelajaran, non akademik dalam  bidang ekstrakurikuler dan bidang psikologis berhubungan dengan penempatan afektif, minat dan bakat siswa—dengan mempertimbangkan life skill. Life skill dalam konteks kepemilikan specific  occuvational skill sesungguhnya diperlukan oleh setiap orang. Artinya pengembangan program life skill dalam dimensi tersebut sejatinya menyatu dengan program pendidikan yang melembaga. Pada konteks ini, maka konsep pendidikan di sekolah bahwa semua peserta didik yang dinyatakan telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu seharusnya telah memiliki life skill, lebih jauh lagi--- berarti sekolah dengan siswa regular maupun inklusi  telah siap dengan life skill dan siap menyambut MEA. Kesiapan ini didukung oleh kurikulum, fasilitas  sarana-prasarana sekolah yang memadai—untuk ABk didukung oleh aksesibilitas yang memadai sesuai kebutuhan tiap sekolah. Tenaga guru professional dengan lingkungan yang kondusif, ramah, kreatif, inovatif dan produktif, positif thinking dan mempunyai body image sehingga setiap siswa mempunyai kepercayaan diri mempunyai konsep diri positif  akhirnya membukakan diri terhadap pasar bebas Asia Tenggara

    PENGEMBANGAN PROGRAM PELATIHAN MOTEF BERPRESTASI BAGI SISWA SMU : Uji Coba pada Siswa SMU BPII di Bandung

    Get PDF
    Pengembangan Program Pelatihan Motif Berprestasi bagi Siswa SMU ( Uji Coba pada Siswa SMU BPI I Bandung) Penelitian ini dilatarbelakangi adanya gejala kemalasan dan rendahnya semangat belajar siswa. Fenomena ini diduga akibat rendahnya motif berprestasi siswa SMU. Sampai saat ini belum ada upaya sistematik untuk meningkatkan motif berprestasi siswa sebagai bagian dari bimbingan dan konseling di sekolah. Penelitian ini terfokus pada pengembangan program yang dimaksud untuk meningkatkan motif berprestasi siswa. Berdasar analisis kebutuhan siswa, aspirasi guru serta guru pembimbing, program pelatihan motif berprestasi bagi siswa SMU sangatlah diperlukan. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk penyesuaian dan pengembangan program pelatihan motif berprestasi yang diujicobakan kepada siswa SMU BPI I Bandung. Temuan penelitian yang pertama menunjukan bahwa pelatihan motif berprestasi dapat meningkatkan motif berprestasi siswa SMU. Peningkatan itu dilihat dari adanya perubahan signifikan antara skor tes awal dan skor di akhir perlakuan program pelatihan. Temuan penelitian kedua, bahwa dari 12 aspek motif berprestasi, ada 11 aspek motif berprestasi yang meningkat yakni (1) bertanggung jawab atas tindakannya sendiri, (2) belajar dari kegagalan dan memanfaatkan pengalaman hidupnya, (3) berani mengambil risiko sedang dengan perhitungan (bukan untung-untungan), (4) berusaha mencari pemecahan masalah secara kreatif dan inovatif, (5) bersemangat dan gemar bekerja keras, (6) tidak lekas puas karena selalu ingin lebih baik dari sebelumnya, (7) berorientasi masa depan, (8) dapat memanfaatkan kesempatan untuk tujuan positif (9) senang mencari pengalaman baru (10) disiplin pribadi yang tinggi, (11) tahan kritik dan isu-isu yang tidak objektif. Aspek yang tidak meningkat adalah selalu memiliki tujuan dan harapan jangka. Temuan ketiga tentang manfaat program pelatihan bahwa sangat bermanfaat dengan pertimbangan waktu, bentuk, cara dan tim penyelenggara program pelatihan. Manfaat program pelatihan bagi peningkatan motif berprestasi siswa sangat bermanfaat dilihat dari peningkatan tiap aspek motif berprestasi pada diri subjek. Hasil uji validasi menyatakan bahwa program pelatihan motif berprestasi dapat digunakan untuk tingkatan Sekolah Menengah Umum (SMU). Artinya program pelatihan motif berprestasi dapat diterapkan/direkomendasikan di Sekolah Menengah Umum (SMU) yang mempunyai beberapa karakteristik sama dengan lokasi penelitian

    BIMBINGAN PENGEMBANGAN KARIR MEMANDIRIKAN PESERTA DIDIK SLTA DI KOTA DAN KABUPATEN BANDUNG

    Get PDF
    Berdasarkan studi pendahuluan pada SMA Negeri dan swasta kota dankabupaten Bandung, bahwa program pengembangan diri dan bimbingan karirsudah dilaksanakan, dan mulai diimplementasikan sejak kurikulum 2006sampai kurikulum 2013, dan kurikulum 2013 mengacu pada pengembangandiri peserta didik berbasis karakter yang dalam implementasinya sangatlahberagam dan belum optimal dikhususkan pada layanan bimbingan karirnya.Oleh karena itu target dari penelitian ini adalah membuat buku ajar berISBNyang di-HKI-kan. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran danmenganalisis instrumen pengumpulan data untuk pengembangan diri akademik,non akademik dan psikologis; faktor- faktor penghambat pengembangan diripeserta didik jenjang SMA yang kurang optimal pelaksanaannya; desainbimbingan karir pengembangan diri yang tepat diimplementasikan di SMAkota Bandung, di Jawa Barat dan di luar Jawa Barat Pendekatan yangdigunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptifanalitik. Desain ini akan dijadikan dasar untuk membuat rumusan desainkonseptual bimbingan konseling, mudah-mudahan rumusan program ini dapatdijadikan model di SLTA di sekolah negeri atau swasta lainnya di kota atau kabupaten Bandung sebagai implementasi kurikulum BK 2013. Desainkegiatan pengembangan diri dan bimbingan karir yang tepat diimplementasikandi SMA disesuaikan dengan kurikulum SMA yang dinyatakan dalam angket.Kelompok mata pelajaran wajib yang terdiri dari kelompok A dan B danpilihan adalah kelompok C terdiri atas kelompok peminatan Matematikadan IPA, IPS dan mata pelajaran pilihan lintas kelompok peminatan denganmempertimbangkan kondisi yang ada di sekolah mengacu pada PermendikbudNo. 69 Tahun 2013 pada kelas XII berkaitan dengan minat jurusan diPerguruan Tinggi. Sedangkan di SMK-pun sama mengacu pada programpeminatan peserta didik yang tidak hanya mengandalkan layanan pembelajaranmata pelajaran/ bidang studi dan manajemen saja, tetapi juga layanan khususyang bersifat psikho-edukatif melalui layanan bimbingan dan konseling

    MANAGEMENT PROFILE OF GUIDANCE AND COUNSELING IN JUNIOR HIGH SCHOOL

    Get PDF
    Need analysis is required in school management, so is in guidance and counseling management. Planning is as well needed in conducting guidance and counseling (G&C) program for all cities and regencies of Bandung. The applied research method was Research & Development. The data were obtained by using documents, questionnaires, and interviews. The results show that there are still G&C personnel with irrelevant educational background, and have not fulfilled the quota. In supporting services, it is required G&C facilities and infrastructures (accessible room). G&C instruments already exist including data storage tool, but for the city of Bandung has not yet fulfilled its data completion tool

    MANAJEMEN BIMBINGAN KONSELING DI SMP KOTA DAN KABUPATEN BANDUNG

    Get PDF
    In the management of teachers Counseling Counseling and Guidance Counseling coordinator already made plans to be implemented, evaluated, analyzed and acted upon the planned start of basic care guidance consists of understanding ourselves and the environment; develop the skills to identify the responsibilities; capable addresses the needs and problems, able to develop themselves in achieving the goal of life, responsive services consist of: individual counseling; crisis counseling; consulting parents, teachers and hand over individual planning cases consist of: orientation activities; information activities; individual counseling; advocacy and support system / development of networking as consultation with the teacher; program of cooperation with parents and teachers; participate in planning school activities; do penilitian about the problems associated with Counseling cooperation and collaboration with other experts associated with servicing Counseling. Teachers Counseling in collaboration with subject teachers and homeroom implement its program through a schedule or timetable Counseling general subjects, or calling all students to be interviewed, or come to their own children Counseling space. In the implementation of guidance and counseling can not be separated from the Education Unit Level Curriculum (KTSP), which optimizes the development of self-learners

    SPECIAL NEED EDUCATION TEACHER’S COMPETENCY MASTERY THROUGH TEACHER INTERNSHIP PROGRAM I

    Get PDF
    A teacher and prospective teacher of Special Need Education are required to master, understand, and practice 4 (four) teachers’ basic competences covering pedagogy, personality, social and professional competence with various peculiarities of learners, whether with permanent and temporary barriers. In fact, high score for final test does not reflect the four basic competencies. So it needs crucial study. Through R & D method, it is obtained the result that is; the developed instruments in teacher internship program I need to be adjusted to the specialization of the learners; Obstacles that occur that the school’s paradigm still consider the program is identic with PPLK (field practice), whereas teacher internship program is in semester 2, PPLK is in semester 6, the campus parties have not provided yet the theory of the internship program I before the practicing comprehensively. The internships program needs to be adjusted to the schedule of lectures; Designs are expected to be tailored to the specialty of learners (A, B, C), specialized in UNINUS, specialization A and C. To build teacher’s attitude in pedagogic competence; Students experience and gain information about teachers' competencies, teaching and learning process and teacher’s administration; In personality competencies, they acquire a good and flexible personality; for social competence, they gain experience of good relationships with children, parents, and colleagues, and in professional development, they follow the activities and the addition of teacher’s documents

    KEMAMPUAN DALAM BELAJAR MENABUH GENDANG UNTUK MENGIRINGI GAMELAN DEGUNG PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS X DI SLB NEGERI CILEUNYI KABUPATEN BANDUNG

    Get PDF
    Pelajaran Kesenian perlu diberikan kepada anak tunagrahita ringan sesuai dengan kemampuannya sehingga dapat mengembangkan bakat seni yang ada pada dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang kemampuan anak, kesulitan anak, suasana saat belajar, dan pelaksanaan dalam belajar menabuh gendang untuk mengiringi gamelan degung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak tunagrahita ringan kelas X mampu mengikuti pembelajaran menabuh gendang untuk mengiringi gamelan degung dengan bantuan guru mulai dari mengenal alat, bagian-bagian di dalam gendang, tepakan-tepakan di dalam gendang, dan melakukan tabuhan gendang. Kesulitan yang dihadapi anak dalam menabuh gendang terdapat pada aspek melakukan/mempraktekan seperti memainkan keplak, kentrung, gedug dan mengganjal gedug oleh tumit secara bersamaan. Suasana pembelajaran dapat dikatakan interaktif karena responden bergairah dan senang mengikuti pembelajaran menabuh gendang. Pada pelaksanaan pembelajaran, responden melaksanakan kegiatan awal, inti, dan akhir. Mengacu pada kesimpulan penelitian maka peneliti merekomendasikan pada guru untuk melakukan latihan bermain gendang secara berulang

    PELAKSANAAN PENGEMBANGAN DIRI MAKAN MAKANAN PANAS BAGI ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS IV DI SLB AMALIA BHAKTI, SLB YPBD BUAHDUA DAN SLB MIROOJUTTAQWA

    Get PDF
    Anak tunagrahita belum mampu secara mandiri dalam makan makanan panas sehingga memerlukan program pengembangan diri makan makanan panas. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran bagaimana pelaksanaan program pengembangan diri makan makanan panas untuk  menumbuhkan rasa percaya diri dan menanamkan kemandirian dalam menjalankan tugas sehari-hari sebagai individu. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara di tiga sekolah yaitu SLB Amalia Bhakti, SLB YPBD Buahdua dan SLB Mirrojuttaqwa. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada saat pelaksanaan program pengembangan diri makan makanan panas guru menyusun tujuan, materi, metode, media dan alokasi waktu berdasarkan hasil assesmen. Kegiatan diawali dengan kegiatan awal, inti dan akhir. Kesulitan yang ditemukan berupa ketidakmampuan anak tunagrahita dalam menyebutkan jenis-jenis, ciri-ciri dan cara mendinginkan makanan panas. Upaya yang dilakukan oleh guru yaitu dengan memperbanyak latihan dirumah dengan melibatkan orang tua agar proses pembelajaran dapat tercapai

    POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN PRESTASI OLAHRAGA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS 10 DI SLB HIKMAT KOTA BANDUNG DAN SLB YPLAB WARTAWAN KOTA BANDUNG

    Get PDF
    The parents of child with a disability may encounter a unique set of challenges that are not faced by parents of a child without disability.  This study aims to (a) Obtain a description of the demands of parents of children with  intellectual disabilities,(b) Obtain an overview of the treatment of parents in controlling discipline. (c) Obtaining a description of parents's acceptance opinion. (d) Obtain an overview of the response of parents to child’s achievement. (e) Obtain an overview of the factors that increase achievement. The research used  qualitative approached. Techniques of data collection are observation, study of documentation, interviews and questionnaires. The data analysis uses techniques: (1) data reduction, (2) data presentation (3) summary of data. The research subjects were 2 parents and 2 teachers. Instruments of research are (1) observationform, (2) questionnaire, (3) form of interviewwhich is validated by 3 validators. The result of study are the descriptions of parenting patterns to supporting  child’s achievment  in sports performance. There are  (1) various demands given by parents , (2) the implementation of role and discipline , (3) parents did not provide penalties, (4) parents appreciated the results achievement, (5) Parents understanding and the acceptance of  the child's condition
    corecore