35 research outputs found

    Optimization in Eugenol Production from Clove Oil with Saponification – Neutralization Process by using Response Surface Methods

    Get PDF
    The objective of this research was to obtain optimum condition in eugenol production from clove oil with response surface methods. Clove oil was founded from essential oil cluster in Batang district Central Java. The eugenol was produced with saponification and neutralization process. Eugenol was obtained with vacuum distillation. Eugenol concentration was analyzed with gas chromatography. In this research, the variable was studied are temperature and ratio of sodium hydroxide to clove oil and yield of eugenol as response variable. So the results was obtain in minimum condition with yield of eugenol 39.17% at X 1 = -0,0109 and X 2 = 0.3095 with determinant coefficient 0.764

    Identifikasi Senyawa Penyusun Minyak Kulit Batang Kayu Manis (Cinnamomum Cassia) Menggunakan GC-MS

    Get PDF
    The steam-distilled volatile oil of the cinnamon bark (Cinnamomum cassia) has been analysed by gas chromatography – mass spectrophotometer (GC-MS). It was resulted three chromatogram peaks, there were identified as cinnamaldehyde (91.18 %), eugenol (7.64 %) and cinnamyl acetate (1.18 %) respectively

    Sintesis 3-(3,4-Dimetoksi Fenil)-1-Propanol melalui Hidroborasi Metileugenol Menggunakan H3B:Dietileter

    Get PDF
    Kandungan utamanya yaitu eugenol. Eugenol dapat diubah menjadi metileugenol lalu dikonversimenjadi 3-(3,4-dimetoksi fenil)-1-propanol melalui reaksi hidroborasi dengan menggunakan reagenH3B:dietileter. Kemudian, dioksidasi menggunakan hidrogen peroksida yang diikuti dengan hidrolisis dalamsuasana basa untuk memperoleh alkohol. Produk sintesis dianalisis menggunakan spektrometer FTIR dan GC-MS.Data spektra FTIR memperlihatkan serapan kuat oleh gugus hidroksil pada bilangan gelombang 3448,5 cm-1. Halini menunjukkan bahwa senyawa 3-(3,4-dimetoksifenil)-1-propanol telah terbentuk. Hasil ini diperkuat oleh polafragmentasi senyawa pada data MS yang menunjukkan adanya puncak dasar dengan m/z = 151 dan ion molekuldengan m/z = 196 yang merupakan berat molekul dari senyawa 3-(3,4-dimetoksi fenil)-1-propanol. Produksintesis yang diperoleh memiliki rendemen mencapai 81,29%. Selanjutnya, senyawa ini digunakan sebagaisenyawa antara dalam sintesis turunan antibiotik C-9154

    Uji karakterisasi I-V Sel Surya Tersensitisasi Pewarna Alami

    Get PDF
    Sel surya tersensitisasi zat warna (dye sensitised solar sel = DSSC) telah berhasil dibuat dengan memanfaatkan ekstraksi zat warna dari bagian tumbuh-tumbuhan (buah pohon Joho, kulit batang pohon Tingi dan Tegeran, buah Trembilu, buah Duwet dan kulit buah manggis). Sel surya berbasis konsep fotoelektrokimia ini tersusun atas 3 bagian yaitu elektroda kerja ( working elektrode = WE ), elektroda lawan (counter electrode = CE) dan larutan elektrolit. Elektroda kerja merupakan lapis tipis TiO2 pada substrat kaca transparan berkonduksi yang mengadsorp zat warna sebagai sensitiser..Elektroda lawan merupakan substrat kaca yang dilapisi emas. Larutan elektrolit yang digunakan adalah pasangan redoks I-/I3- dalam pelarut organik.. Konfirmasi fotoaktivitas sensitiser alam ditentukan melalui pengujian sel surya menggunakan solar simulator (white-light testing). Dalam penelitian ini dilakukan karakterisasi I-V pada keadaan gelap dan terang pada masing-masing sel dengan sensitiser yang berbeda-beda secara tunggal maupun dalam modul yang tersusun dari 3 sel secara seri. Diperoleh hasil bahwa ekstrak zat warna tersebut mampu mensensitisasi semikonduktor TiO2 dengan rapat arus terbangkitkan antara 0,12 - 3,52 .10-3 mA/cm2; tegangan rangkaian terbuka antara 0,05-0,15 V dengan efisiensi antara 5,625 x 10-6 – 7,73 x 10-4 %. Modul sel surya rangkaian seri 3 sel tunggal dengan sistem counter electrode tertata zig-zag memberikan fotoaktivitas lebih tinggi dibanding sistem sel surya tunggalnya. Modul sel surya mampu menghasilkan rapat arus antara 1,24 – 4,40.10-3 mA/cm2; tegangan rangkaian terbuka antara 0,26 - 0,40 V dengan efisiensi antara 6,38 x 10-4 – 2,20 x 10-3 %

    DIVERSIFIKASI MINYAK CENGKEH MENJADI FINE CHEMICAL

    Get PDF
    Minyak cengkeh merupakan salah satu produk minyak atsiri yang dihasilkan oleh Kluster Minyak Atsiri di Kabupaten Batang. Komponen utama dalam minyak cengkeh adalah eugenol. Permasalahan yang dihadapi Kluster Minyak Atsiri Kabupaten Batang adalah kadar eugenol yang rendah serta warna yang belum bisa memenuhi standar SII/EOA maupun SNI. Produk turunan eugenol yang beredar di Indonesia, sampai saat ini sebagian besar masih diimpor kecuali vanili. Eugenol digunakan untuk dalam industri parfum, pemberi aroma, minyak esensial dan dalam industri obat – obatan sebagai antiseptik dan anestetik. Beberapa produk turunan minyak cengkeh diantaranya eugenol murni, isoeugenol, zinc oxide eugeno dan metil eugenol. Isoeugenol merupakan enyawa isomer eugenol yang dapat berfungsi sebagai bahan baku dalam pembuatan vanilin. Eugenol yang dicampur dengan zinc oxide akan terbentuk zinc oxide eugenol yang dapat digunakan dalam dunia kedokteran gigi. Metil eugenol dapat meningkatkan fertilitas pada serangga (lalat buah) dan hasilnya cukup menjanjikan selain itu juga dapat menghambat enzim 15-lipogenase. Enzim ini banyak terlibat dalam beberapa penyakit seperti asma, kanker dan paru-paru. Kata kunci: minyak cengkeh, eugenol, fine chemical, kegunaa

    Calcium Phosphate Cement Composed of Hydroxyapatite Modified Silica and Polyeugenol as a Bone Filler Material

    Get PDF
    A composite of hydroxyapatite modified silica (HASiO2) and 10% (w/w) polyeugenol (PE) was synthesized to produce a calcium phosphate cement with antibacterial activity. The compatibility of the composite (HASiO2_PE) with bone filler requirements was determined due to its crystal, surface, antibacterial, and cytocompatibility properties. The results showed that compositing HASiO2 and PE did not affect HA's chemical dan crystal properties. The presence of PE changed HASiO2 morphology to be coarser and denser than before composited. PE tends to agglomerate but does not affect the hydrophilicity of HASiO2. The presence of PE increased the surface area and total pore volume but lowered the average pore size. Different from pure PE, the composite of HASiO2_PE that contains of 10% PE has higher antibacterial activity toward Escherichia coli than Staphylococcus aureus. The composite is biocompatible because the cytotoxicity test toward pre-osteoblast cells resulted in an IC50 of 2092 μg/mL. Thus, due to its chemical, surface, antibacterial, and cytocompatibility properties, the HASiO2_PE composite can be recommended as a bone filler material

    Fabrication of NanoChiSil for Application of Fertilizer

    Get PDF
    It has conducted research of nanoChiSil material consisting of nanochitosan and nanosilica materials for agricultural fertilizer applications. A total of 10 grams of chitosan powder was weighed and dissolved in 500 ml of 1% solution of acetic acid and stirred for 30 minutes, then filtered to separate the chitosan solution with impurities. Nanochitosan synthesized by using 50 ml liquid chitosan diluted further by adding 200 ml of distilled water while stirring continuously using a magnetic stirrer. The chitosan solution was then added to 20 ml of solution 0.02% STTP drop by drop, stirring constantly with a magnetic stirrer until the chitosan solution changes color to white. The nanoChiSil material is performed by adding 30 ml of colloidal nanochitosan into 70 ml of colloidal nanosilica (Nanosil 99) using a magnetic stirrer until homogenous. The nanoChiSil was then analyzed the shape and particle size by using TEM, while its content was measured by EDX. The observed TEM results clearly indicate that the particles of NanoChiSil material have size of 10-20 nm

    PROSES DESTILASI VAKUM PADA MINYAK CENGKEH PADA TEKANAN VAKUM: SIMULASI DAN EKSPERIMEN

    Get PDF
    Minyak cengkeh merupakan salah satu komoditi ekspor Indonesia di bidang minyak atsiri. Permasalahan yang dihadapi industri penyuling/ UKM saat ini adalah kadar eugenol minyak cengkeh yang rendah sehingga nilai jual dari minyak cengkeh dibeli dengan harga rendah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan simulasi dan uji eksperimen terhadap proses destilasi vakum sehingga didapatkan kondisi optimum dalam meningkatkan kadar eugenol minyak cengkeh. Proses destilasi vakum ini menggunakan packing rasching ring 1/4 inch, persamaan keadaan Peng Robinson. Rasio Refluk yang digunakan adalah 1 dan kapasitas 10,8 kg/jam. Variasi dilakukan pada tekanan vakum 0,8 ; 0,6 ; 0,4 dan 0,2 bar dan tinggi packing pada 4, 8, 12 dan 16 m. Hasil simulasi menunjukkan kadar eugenol 99 % mulai didapatkan pada tinggi packing 4 m dan tekanan 0,2 bar. Kondisi operasi yang telah didapatkan dari hasil simulasi akan di uji coba dalam skala laboratorium. Semakin vakum tekanan yang digunakan maka titik didih dari minyak cengkeh semakin rendah sehingga menghindari terjadinya cracking. Kemurnian eugenol semakin besar sebanding dengan tinggi packing yang digunakan, akan tetapi berakibat pada suhu reboiler yang semakin tinggi dan laju alir produk bawah yang rendah

    Antibacterial and Antioxidant Activity of Endophytic Bacteria Isolated from Hibiscus tilaceus Leaves

    Get PDF
    Antibacterial is a compound that inhibits or kills bacteria, especially infectious pathogenic bacteria. Antioxidants are compounds to inhibit the activity of free radicals in the body. The leaf extract of the waru plant (Hibiscus tiliaceus) is reported to have antibacterial, antioxidant, and anti-inflammatory activity. Bioactive compounds obtained from plants generally require a lot of plant availability and large areas for growth and take a long time. One solution to solve this problem is to isolateendophytic bacteria from plants. Endophytic bacteria are bacteria that live symbiotically in the host tissue so that they can produce the same bioactive compounds as the host. In the study, several stages were carried out, including isolation of endophytic bacteria from hibiscus leaves, gram-staining of bacteria, secondary metabolites production, antibacterial activity analysis by disk method,antioxidant activity analysis by DPPH free radical scavenger method, phytochemical screening, and identification of genotypic endophytic bacteria. Isolates of endophytic bacteria from Hibiscus tiliaceus leaves were obtained in cocci. They formed gram-positive bacteria with the closest relationship with Staphylococcus warneri strainAW 25 and Staphylococcus pasteuri strainATCC 51129. Endophytic bacteria from the Hibiscus tiliaceus leaves produce secondary metabolites containing alkaloids and saponins that can inhibit the growth of Staphylococcus aureus and Salmonella typhi and can be an antioxidant agent

    Synthesis of Mn(II) Complexes-Carboxymethyl Chitosan Schiff Base Salicylaldehyde and Antibacterial Activity

    Get PDF
    The development of compounds with a better antibacterial activity is highly needed. One way to achieve this is by modifying the structure of the compound using chitosan as a starting material, because of its abundant natural source in Indonesia, its biodegradable properties, and its structure where free amines are present. This study aims to obtain  Mn(II) -Carboxymethyl Chitosan Schiff Base-Salicylaldehyde complex to increase its antibacterial activity against Staphylococcus aureus (Gram positive) and Escherichia coli (Gram negative). Schiff Base carboxymethyl chitosan-salicylaldehyde was synthesized from carboxymethyl chitosan with salicylaldehyde. Next, the Schiff Base Carboxymethyl Chitosan-Salicylaldehyde was complexed with MnCl2.4H2O and then characterized by FTIR, UV-Vis Spectrophotometer, and AAS and tested for antibacterial activity with the disc diffusion method against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. The product of Carboxymethyl Chitosan Schiff Base-salicylaldehyde is a brownish yellow solid with a yield of 64% (w/w) and has antibacterial activity against Staphylococcus aureus (clear zone diameter 11 mm) and Escherichia coli (clear zone diameter 13 mm). The product of Mn(II) Complexes-Carboxymethyl Chitosan Schiff Base-salicylaldehyde is a black solid with a yield of 59% (w/w) and has antibacterial activity against Staphylococcus aureus (clear zone diameter 13 mm) and Escherichia coli (clear zone diameter 17 mm)
    corecore