6 research outputs found

    Allometric Equations for Estimating Aboveground Biomass in Papua Tropical Forest

    Full text link
    Allometric equations can be used to estimate biomass and carbon stock of the forest. However, so far the allometric equations for commercial species in Papua tropical forests have not been appropriately developed. In this research, allometric equations are presented based on the genera of commercial species. Few equations have been developed for the commercial species of Intsia, Pometia, Palaquium and Vatica genera and an equation of a mix of these genera. The number of trees sampled in this research was 49, with diameters (1.30 m above-ground or above buttresses) ranging from 5 to 40 cm. Destructive sampling was used to collect the samples where Diameter at Breast Height (DBH) and Wood Density (WD) were used as predictors for dry weight of Total Above-Ground Biomass (TAGB). Model comparison and selection were based on the values of F-statistics, R-sq, R-sq (adj), and average deviation. Based on these statistical indicators, the most suitable model for Intsia, Pometia, Palaquium and Vatica genera respectively are Log(TAGB) = -0.76 + 2.51Log(DBH), Log(TAGB) = -0.84 + 2.57Log(DBH), Log(TAGB) = -1.52 + 2.96Log(DBH), and Log(TAGB) = -0.09 + 2.08Log(DBH). Additional explanatory variables such as Commercial Bole Height (CBH) do not really increase the indicators\u27 goodness of fit for the equation. An alternative model to incorporate wood density should be considered for estimating the above-ground biomass for mixed genera. Comparing the presented mixed-genera equation; Log(TAGB) = 0.205 + 2.08Log(DBH) + 1.75Log(WD), R-sq: 97.0%, R-sq (adj): 96.9%, F statistics 750.67, average deviation: 3.5%; to previously published datashows that this local species specific equation differs substantially from previously published equations and this site-specific equation is considered to give a better estimation of biomass

    Prospek Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat di Kabupaten Biak Nunfor, Papua

    Full text link
    Pembangunan hutan tanaman oleh rakyat diharapkan secara bertahap akan mengubah lahan kritis menjadi produktif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu faktor yang menyebabkan lambannya pembangunan hutan tanaman rakyat adalah kurangnya minat masyarakat. Untuk mendukung minat masyarakat dan pengusaha lokal dalam mengembangkan hutan tanaman rakyat dibutuhkan beberapa hal yaitu : sosialisasi program ditingkat masyarakat sehingga tepat sasaran, kepastian hukum atas status lahan, informasi kelayakan USAha baik secara teknis maupun finansialnya, dan pendampingan kelembagaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan memberikan informasi prospek hutan tanaman rakyat yang dapat dikembangkan di Kabupaten Biak Nunfor termasuk manfaat ekonomis yang diterima dengan keberadaan hutan tanaman rakyat tersebut. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Desktiptif Kwantitatif dengan teknik survey. Prospek pengembangan hutan rakyat dihitung dengan melihat aspek finansial dan kontribusi kegiatan HTR pada pendapatan petani. Perhitungan aspek finansial dilakukan dengan mengambil contoh pada hutan rakyat KTH Insumarires Distrik Biak Timur yaitu pendapatan bersih pengusahaan hutan dengan menggunakan rumus Faustman, kelayakan finansial dihitung kriteria Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR) dan Internal Rate of Return (IRR) yang dinyatakan dalam satuan persen. Hasil penelitian menunjukkan 1) jika 10% dari hutan produksi di Kabupaten Biak Nunfor merupakan hutan produksi yang tidak produktif maka diperkirakan terdapat 7.477,8 ha yang dapat dimanfaatkan sebagai areal hutan tanaman rakyat dengan jenis unggulan Calophyllum inophyllum dengan menggunakan sistem silvikultur THPB. 2) Pengusahaan HTR layak dilaksanakan dalam daur 50 tahun dengan discount rate 5%. 3) Tingginya curahan hari kerja (5.724 HOK) memberikan dampak pada perluasan lapangan kerja dan tingkat pendapatan petani dari kegiatan tersebut. 4) Kontribusi pendapatan petani terbesar berasal dari nilai biodiesel dari biji Calophyllum inophyllum yang mencapai yang mencapai 68% dari total pendapatan. Perkiraan pendapatan bersih pengusahaan HTR yang dapat diterima pada akhir daur pengelolaan (50 tahun) oleh masing-masing anggota kelompok (1 kelompok 159 orang), dengan luas ideal pengusahaan ideal 1717.2 ha mencapai Rp. 724.008.070;90. Kondisi ini diharapkan mampu meningkatkan surplus di sektor kehutanan yang pada akhirnya meningkatkan pertumbuhan PDRB dan peningkatan sarana prasarana pendukung bagi pembangunan wilayah

    Persamaan-persamaan Allometrik Untuk Pendugaan Total Biomassa Atas Tanah Pada Genera Pometia Di Kawasan Hutan Tropis Papua

    Full text link
    Persamaan-persamaan allometrik dapat digunakan untuk menduga kandungan biomassa dan stok karbon yang ada di hutan. Namun, hingga saat ini persamaan-persamaan allometrik untuk kelompok jenis komersial di kawasan hutan tropis Papua belum dibangun dengan tingkat akurasi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan persamaan-persamaan allometrik untuk menduga total biomassa di atas tanah secara spesifik terhadap situs dan genera Pometia di kawasan hutan tropis Papua. Pada penelitian ini, persamaan-persamaan allometrik dibangun berdasarkan hubungan antara diameter setinggi dada (DBH), tinggi bebas cabang (CBH), dan berat jenis kayu (WD) terhadap total biomassa di atas tanah (TAGB). Persamaan-persamaan allometrik tersebut dibangun mengikuti pola pertumbuhan eksponensial. Hasil akhir menunjukkan bahwa persamaan yang paling sesuai untuk menduga total biomassa di atas tanah pada genera Pometia adalah Log TAGB (Kg/tree) = -0.8406 + 2.572 Log DBH (cm). Berdasarkan hasil penerapan persamaan tersebut dengan persamaan-persamaan yang telah dipublikasikan sebelumnya terhadap data aktual, dapat disimpulkan bahwa penerapan persamaan yang spesifik terhadap situs dan genera harus diutamakan

    Development of Local Allometric Equation to Estimate Total Aboveground Biomass in Papua Tropical Forest

    Full text link
    Recently, pantropical allometric equations have been commonly used across the globe to estimate the aboveground biomass of the forests, including in Indonesia. However, in relation to regional differences in diameter, height and wood density, the lack of data measured, particularly from eastern part of Indonesia, may raise the question on accuracy of pantropical allometric in such area. Hence, this paper examines the differences of local allometric equations of Papua Island with equations developed by Chave and his research groups. Measurements of biomass in this study were conducted directly based on weighing and destructive samplings. Results show that the most appropriate local equation to estimate total aboveground biomass in Papua tropical forest is Log(TAGB) = -0.267 + 2.23 Log(DBH) +0.649 Log(WD) (CF=1.013; VIF=1.6; R2= 95%; R2-adj= 95.1%; RMSE= 0.149; P<0.001). This equation is also a better option in comparison to those of previously published pantropical equations with only 6.47% average deviation and 5.37 points of relative bias. This finding implies that the locally developed equation should be a better option to produce more accurate site specific total aboveground biomass estimation
    corecore