12 research outputs found

    AL-UMMAH DAN AL-QAWM DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN

    Get PDF
    Tulisan ini membahas tentang konsep al-ummah dan al-qawm serta konsep umat terbaik dan kaum yang baik dalam perspektif Alquran. Konsep al-ummah dalam perspektif Alquran adalah mengacu kepada hal-hal yang bersifat deskriptif tentang penyatuan dari berbagai aspek yang dianggap berbeda yang muncul atau paling tidak terkesan dalam satu masyarakat. Sedangkan al-qawm dalam perspektif Alquran adalah gambaran-gambaran fenomena kekhasan satu kelompok tertentu yang menjadi ‘ibrah bagi komunitas yang datang setelahnya. Umat atau kaum yang terbaik dalam perspektif Alquran adalah masyarakat yang menerima keragaman, dan berupaya mencari “titik” yang mempersamakan satu dengan yang lain

    AL-UMMAH DAN AL-QAWM DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN

    Get PDF
    Tulisan ini membahas tentang konsep al-ummah dan al-qawm serta konsep umat terbaik dan kaum yang baik dalam perspektif Alquran. Konsep al-ummah dalam perspektif Alquran adalah mengacu kepada hal-hal yang bersifat deskriptif tentang penyatuan dari berbagai aspek yang dianggap berbeda yang muncul atau paling tidak terkesan dalam satu masyarakat. Sedangkan al-qawm dalam perspektif Alquran adalah gambaran-gambaran fenomena kekhasan satu kelompok tertentu yang menjadi ‘ibrah bagi komunitas yang datang setelahnya. Umat atau kaum yang terbaik dalam perspektif Alquran adalah masyarakat yang menerima keragaman, dan berupaya mencari “titik” yang mempersamakan satu dengan yang lain

    Wawasan Hadis Nabi Tentang Wara'

    Get PDF
    Antara hadis dan tasawuf sebagai cabang keilmuan dalam Islam, kerap memberikan sisi perbedaan secara konseptual maupun praktkal. Tasawuf sebagai amalan simbolik dar perenungan mistisme Islam tidak jarang berujung pada pertentangan dengan praktik nabawi dalam sunnahnya. Tuduhan bid’ah bahkan sesat terhadap praktik riyadhah sufistik sering dihadapkan pada teks hadis nabi. Artikel ini mencoba mengurai salah satu amal maqam sufistik, yakni Wara dalam perspektif hadis. Secara dialogis Maqam Wara akan ditelusuri sejauh mana keberadaan dan pemaknaannya dalam riwayat hadis. Dialog ini akan mengantarkan pada kesimpulan bahwa tidak ada pertentangan antara tasawuf dan hads. Karena pada personafikasi amal ‘mursyid agung’ yakni Rasulullah SAW. Disinilah konsep tasawuf nabawi bisa menjadi wawasan penting khususnya dalam tema wara.

    Pandangan Sunni Terhadap RijaL Syi‘Ah (Telaah atas Kitab Lisan al-Mizan Karya Ibn Hajar Al-‘Asqalani)

    Get PDF
    Kontroversi antara mazhab Sunni dan Syi‘ah secara politis maupun teologis berdampak terhadap status rijal hadis. Berbagai literatur klasik Sunni menjadi saksi sejarah bagaimana sebuah hadis bisa tertolak karena unsur kesyi‘ahan rawinya. Lisan al-Mizan adalah kitab rijal hadis dari kalangan Sunni yang banyak membicarakan rawi hadis dari kalangan Syi‘ah. Disertasi ini mengkaji tentang pandangan Sunni terhadap rijal Syi‘ah dengan menelaah kitab Lisan al-Mizan karya Ibn Hajar al-‘Asqalani. Pembahasan dalam disertasi ini berkaitan dengan identifikasi status periwayatan rijal Syi‘ah, dan penerapan tajrih dan ta‘dil terhadap rijal Syi‘ah dalam Lisan al-Mizan. Library research (kajian pustaka) ini menggunakan pendekatan kalami (teologis), falsafi (filosofis), tarikhi (historis), siyasi (politis) dan al-jarh wa al-ta‘dil (ilmu kritik rawi hadis) dalam mengkaji segala aspek yang terkait dengan kitab Lisan al-Mizan dan penulisnya, serta pandangan Sunni terhadap rijal Syi‘ah dalam kitab tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa kritikus hadis Sunni mengidentifikasi periwayatan rijal Syi‘ah dengan terlebih dahulu menunjukkan identitas kesyi‘ahan melalui penggunaan berbagai term. Term tersebut adakalanya menunjukkan sikap sektarian, di antaranya: Tasyayya‘a, dan al-rafd, terkadang juga menyebutkan nama komunitas tertentu, di antaranya: Al-Imamiyah, al-Kaisaniyah, al-Zaidiyah, al-Isma‘iliyah, dan al-Nusairiyah. Berdasarkan penggunaan term-term ini, dapat teridentifikasi ada 703 rijal Syi‘ah dalam Lisan al-Mizan, yang terdiri dari 30 rijal Syi‘ah Gulah, 51 rijal Syi‘ah Rafidah, dan 622 rijal dari kelompok Syi‘ah yang lain. Kritikus hadis Sunni juga mengidentifikasi rijal Syi‘ah melalui penisbahan sanad kepada imam-imam Syi‘ah, seperti: Rijal ‘Ali bin Abi Talib, rijal Hasan al-Zaki, rijal Husain Sayyid al-Syuhada’, rijal ‘Ali Zain al-‘Abidin, rijal Muhammad al-Baqir, rijal Ja‘far al-Sadiq, rijal Musa al-Kazim, rijal ‘Ali al-Rida, rijal Muhammad al-Jawad, rijal ‘Ali al-Hadi, rijal Hasan al-‘Askari, dan rijal Zaid bin ‘Ali. Identifikasi status periwayatan rijal Syi‘ah dilakukan dengan menganalisis berbagai pandangan para kritikus hadis Sunni yang termuat dari literatur beragam bidang keilmuan. Tidak seluruh rijal Syi‘ah dalam Lisan al-Mizan mendapat kritikan dari sarjana Sunni terkait dengan identitas, penilaian ataupun periwayatan hadis. Hanya 41 rijal Syi‘ah Rafidah, 20 rijal Syi‘ah Gulah, dan 101 rijal Syi‘ah kelompok lainnya saja yang mendapat kritikan dalam Lisan al-Mizan. Berdasarkan penerapan kaidah al-jarh wa al-ta‘dil, ditemukan 23 rijal Syi‘ah Rafidah yang diterima periwayatannya dan 18 rijal tertolak, dengan intensitas keterkaitan kesyi‘ahan mencapai 56 %. Ada 3 rijal Syi‘ah Gulah yang diterima dan 17 rijal tertolak, dengan intensitas keterkaitan kesyi‘ahan 70 %. Ada 56 rijal Syi‘ah kelompok lainnya yang diterima, dan 45 rijal tertolak, dengan intensitas keterkaitan kesyi‘ahan hanya 25 %. Jadi, secara umum kritikus hadis Sunni masih menganggap kesyi‘ahan sebagai faktor penting dalam penentuan status periwayatan rijal Syi‘ah dalam Lisan al-Mizan. Penelitian ini juga menunjukkan pandangan Sunni terhadap rijal Syi‘ah dalam Lisan al-Mizan lebih didominasi oleh kelompok hadisolog Sunni-liberal/sekuler, yaitu kelompok yang menerima riwayat dari rijal Syi‘ah secara mutlak. Disertasi ini merekomendasikan perlunya mengeliminasi aspek kebid‘ahan dalam pembuktian keadilan rawi karena mengandung bias mazhab. Perlunya penyusunan kitab rijal dengan menggunakan metode tematis hadis untuk mempermudah deteksi aspek promosi mazhab rawi serta menambah keyakinan bagi peneliti rijal hadis. Disertasi ini juga mendorong munculnya kajian-kajian baru lintas mazhab di kalangan akademisi, dan taqrib yaitu upaya-upaya pendekatan dan pencarian “titik mesra” di tengah-tengah masyarakat muslim yang plural

    METODE SYARAḤ AL-SUYŪṬĪ DALAM AL-DĪBĀJ: Kritik terhadap Syaraḥ Hadis Penafsiran Surah al-Mā’idah Ayat 3 dan Perbandingannya dengan Syaraḥ al-Nawawī

    Get PDF
    This article studies about syaraḥ hadith method used by al-Suyūṭī in his al-Dībāj where he had developed eight forms of syaraḥ within this kitab, those are Ḍabṭ  al-alfāẓ, tafsīr al-garīb, bayān ikhtilāf riwāyāt alā al-qillah, ziyādah fī khabr lam tarid lahu ṭarīquhu, tasmīyah al-mubham, i‘rāb al-musykil, jam‘u baina al-mukhtalaf, as well īḍāh mubham. This study entails when Al-Suyūṭī applied those eight forms of syaraḥ in tafsir surah al-Mā’idah ayat 3 was paradoxically inconsistent. He modestly used tafsīr al-garīb and bayān  ikhtilāf  riwāyāt alā al-qillah, while at the same time benefited linguistic, normative-theology, historicity as approach as well as respected a syaraḥ writing method called qauluhu. In order to equivocate from plagiarizing al-Minhāj, this paper views that al-Suyūṭī intentionally had furthered his work with ijmālī method. This is how he judiciously amazed his reader

    KRITIK MATAN HADIS CADAR RIWAYAT AL-BUKHĀRĪ

    Get PDF
    “The practice of Islamic teachings would be more argumentative if based on religious texts, such as the hadith of the Prophet. The use of veils among Muslim women is allegedly based on a hadith about the veil of al-Bukhārī. This paper discusses the quality of the mat hadith, without neglecting the results of criticism sanad. Based on research conducted, sanad hadith narrated al-Bukhārī is qualified valid. Although the history of al-Bukhārī is valid, both redactional and substantial, it does not indicate the existence of a veil for Muslim women.”

    Hadis-Hadis Politik : Prof Katimin

    Get PDF
    Buku ini memuat beberapa hadis yang berkaitan dengan politik modern setelah melalui proses takhrij hadi

    Peer Review Hadis-Hadis Politik

    Get PDF

    READING SURAH YASIN AT NIGHT: Study of Takhrij al-Hadits

    No full text
    Based on Hadith which is still debatable, we are suggested to read certain Surah in al- Qur’an, such as reading of Surah Yasin at night, But, it is still needed to re-clarified to see the source or quality. The study of Takhrij hadith is a means to conduct those clarified. Search resources of Hadith code about reading Surah Yasin at night is done by using one of Takhrij methods. Searching the quality of hadith is done by analysis of rijal (criticism of sanad) and analysis of material (criticism of matan). Thus, it can be obtained that hadith of reading surah Yasin is more listed outside al-kutub al-tis’ah, as well as weak, both in the aspect of sanad and mata

    ISLAM MESIR: ASAL-USUL, PERKEMBANGAN DAN CORAK PEMIKIRAN KEISLAMAN

    No full text
    This paper raised about Islamic thought patterns that exist in Egypt.According to the authors, the teachings of supplement Islam derived fromhistorical scenarios in a vulnerable time and place as in Egypt, was part ofthe perspective view of Islam as a historical religion. Therefore, the arrivalof Islam, the development and emergence of the Muslims in the fieldof modern thought in this country has its own uniqueness. The leaders ofthe Muslims during the military expansion of Egypt, from the beginninghas been offering the limits of interfaith tolerance. Some of the powerfulempires that ever existed in Egypt has contributed significantly to the constructionof Islamic civilization at that time. Egyptian Islamic thinkersboth modern and contemporary style has provided the liberal Islamicthought in that country. So that, it could be an example for other countriesin the development of Islamic thought in general
    corecore