46,580 research outputs found

    Analisis Komparatif Penggunaan Sistem Informasi Perbankan Antara Bank Syariah dengan Bank Konvensional

    Get PDF
      Tujuan dari penelitian ini yakni mendeskripsikan perbandingan dari sistematis dan informasi transaksi serta pelayanan bank yang terhadap bank islam dengan bank tradisional, menganalisis perbandingan dari sistematis dan layanan transaksi yang digunakan pada bank syariah dan bank konvensional, serta agar dapat mengetahui perkembangan bank islam pada bank Internasional satu dalam menggunakan sistem informasi tersebut. Teknikologi System Informasi Bank (TSI) dipakai oleh pihak di perbankan agar dapat memproses datakeuangan dengan layanan perbankan bank dengan menggunakan elektrik, telepon, serta elektroniklainnya. Penggunaan telekomunikasi dapat menjadipemrosesan data elektronik dan perbankanelektronik. Fokus pengujian ini merupakan pada analisis internet pada banking dan saluran elektronik terhadap perbankan Islam dengan tradisional Metodologi pengujian ini dapat dipergunakan melalui pendekatan yang mengandung unsur kualitatif. Metode pengujian deskritif dipakai dalam penelitian komparatif. Perbandingannya adalah studi banding. Bank Muamalat adalah contoh bank Islam dengan Bank BNI adalah contoh tradisional. Dalam pengambilan perolehan data lewat pertanyaan serta pengajuan observikasi dengan pihak perbankan,  pihak yang bersangkutan, dll di online. Menurut hasil studi perbedaan dengan bank islam dan bank tradisional dengan aspek aspek evaluasi. Aspeknya mulai dari persiapan didalam perbankan dengan mengungkapkan kekurangan perbankan bank islam yakni ekspansinya. Kelemahan selanjutnya bank syariah yang diketahui nasabah adalah infrastruktur dengan masih banyak kurangnya. Selanjutnya, aspek berikutnya, yakni perbedaan pengakuan berdasarkan indeks perbandingan sistem, terhadap letaknya bank syariah yang masih tidak terikuti

    Struktur pembiayaan dan risiko kecairan: analisis perbankan Islam domestik dan asing di Malaysia

    Get PDF
    Risiko kecairan berpunca daripada kegagalan bank untuk memenuhi tuntutan liabiliti kepada pelanggan pada kos yang berpatutan dan pada masa yang diperlukan. Ia boleh menyebabkan masalah ketaksolvenan bank dan sekaligus boleh menjejaskan kestabilan sistem kewangan negara. Struktur pembiayaan merupakan salah satu daripada punca berlakunya risiko kecairan. Kegagalan bank menguruskan struktur pembiayaan dengan berkesan boleh meningkatkan risiko kemungkiran dan akhirnya meningkatkan risiko kecairan. Kajian ini melihat hubungan antara struktur pembiayaan dan risiko kecairan di samping membuat perbandingan di antara perbankan Islam domestik dan perbankan Islam asing di Malaysia. Kajian ini menggunakan dua pengukuran bagi risiko kecairan, iaitu; nisbah liputan kecairan (liquidity coverage ratio-LCR) dan nisbah pembiayaan stabil bersih (net stable funding ratio-NSFR). LCR dan NSFR masing-masing menggambarkan risiko kecairan jangka pendek (30 hari) dan jangka yang lebih panjang (setahun). Bagi struktur pembiayaan pula, kajian ini menggunakan empat pengukuran, iaitu; pembiayaan hartanah, indeks pengkhususan (SPEC), serta kestabilan struktur pembiayaan jangka pendek (LCC) dan jangka panjang (VART). Dengan menggunakan regresi panel statik bagi 10 buah perbankan Islam domestik dan 7 buah perbankan Islam asing bagi tempoh 1994-2014, hasil kajian menunjukkan bahawa struktur pembiayaan bagi perbankan Islam domestik mempengaruhi LCR secara positif. Khususnya, hasil kajian menunjukkan semakin tinggi pembiayaan yang diberikan oleh bank kepada sektor hartanah dan semakin stabil struktur pembiayaan jangka pendek (LCC) yang ditawarkan oleh perbankan Islam domestik, maka bank terdedah kepada risiko kecairan jangka pendek (LCR) yang tinggi. Namun sebaliknya, wujud hubungan yang negatif bagi pembiayaan hartanah perbankan Islam asing dengan NSFR. Semakin tinggi pembiayaan hartanah yang diberikan oleh bank kepada pelanggan, maka semakin rendah risiko kecairan jangka panjang (NSFR) yang dihadapi oleh perbankan Islam asing. Keadaan ini berlaku disebabkan perbankan Islam asing memberikan pembiayaan kepada pelanggan yang kurang berisiko untuk mungkir berbanding perbankan Islam domestik. Kesimpulannya, penggubal dasar di peringkat makro dan mikro perlu mengambil kira gelagat struktur pembiayaan dalam merangka strategi pengurusan risiko kecairan yang berkesan. Di samping itu, berdasarkan tren struktur pembiayaan sesebuah bank, pelabur dan pelanggan juga mempunyai gambaran tentang risiko kecairan bank tersebut, seterusnya membantu mereka untuk membuat keputusan pelaburan mahupun simpanan

    Trade Off Bank Islam Indonesia: Morality Atau Business Entity Dalam Pengelolaan Likuiditas

    Full text link
    Tujuan dari penulisan ini adalah mengkaji terkait dengan operasional perbankan Islam di Indonesia yang difokuskan dalam permasalahan pengelolaan likuiditas yang dilakukan oleh bank Islam yang ada di Indonesia. Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan unit analisis wawancara dan observasi yang didukung oleh studi pustaka untuk memberikan gambaran secara sistematis, faktual dan akurat terkait dengan fenomena yang sedang dituliskan dengan hasil kajian berupa konseptual kajian. Berdasarkan pada hasil kajian bahwa perilaku perbankan Islam dalam pengelolaan likuiditas dengan pendekatan kelembagaan menghadapi permasalahan trade off antara keberadaan perbankan Islam sebagai business entity dan keberadaan bank Islam yang berprinsip syarat akan value. Sehingga perkembangan bank Islam saat ini cenderung “permisif” dengan beberapa hal yang bersifat prinsip dalam mendukung perbankan Islam agar berkembang lebih massive. Permasalahan ini muncul lebih banyak dilantarbelakangi oleh keberadaan perbankan Islam di Indonesia yang berkembang dalam mekanisme dual banking system, dimana perbankan Islam berjalan linear dengan perbankan konvensional termasuk dalam menghadapi persaingan bisnis. Hal ini sedikit banyak menimbulkan “ketidakadilan” bagi perbankan Islam itu sendiri, mengingat keberadaa perbankan konvensional sudah jauh berkembang terlebih dahulu daripada perbankan Islam

    Analisis Risiko Likuiditas Pada Perbankan Islam

    Get PDF
    Permasalahan penelitian ini melihat pengaruh antara faktor sistematis, unsistematis dan risiko kredit terhadap risiko likuiditas pada perbankan Islam. Dimana, risiko likuiditas pada perbankan konvensional dinilai sebagai faktor utama yang menyebabkan risiko berdampak sistemik pada saat krisis global. Penelitian ini khusus dilakukan pada perbankan Islam, sebab perbankan Islam dinilai sebagai bank yang tidak terkena dampak saat krisis global. Penelitian ini dilakukan untuk menguji dan menjelaskan tentang kinerja perbankan Islam yang dinilai lebih tangguh dibanding perbankan konvensional dalam menghadapi krisis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan purposive sampling dengan kriteria. Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, dari 395 bank Islam di 33 negara, terpilih sampel sebanyak 105 bank Islam di 24 negara sejak tahun 2007 hingga tahun 2016. Dengan demikian, sebanyak 1050 unit analisis data digunakan yang merupakan perkalian dari 105 bank dengan 10 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor sistematis dan unsistematis berpengaruh terhadap risiko kredit dan faktor sistematis, unsistematis berpengaruh terhadap risiko likuiditas namun risiko kredit tidak berpengaruh terhadap risiko likuiditas pada perbankan Islam. Berdasarkan hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa, perbankan Islam mampu bertahan dari krisis global dikarenakan risiko kredit tidak mempengaruhi risiko likuiditas. Apabila risiko likuiditas pada perbankan Islam aman, maka perbankan Islam dapat terhindar dari risiko berdampak sistemik yang dapat menimbulkan terjadinya efek domino pada bank lain. Hasil temuan tersebut sama halnya dengan temuan yang secara khusus dilakukan di Indonesia

    Penentu deposit dalam sistem perbankan Islam di Malaysia (The deposit determinants of Malaysian Islamic banking)

    Get PDF
    Kajian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi deposit permintaan dalam sistem perbankan Islam (SPI) di Malaysia. Kajian ini dijalankan menggunakan ujian kointegrasi dan Model Vektor Pembetulan Ralat (VECM) untuk melihat kesignifikan pembolehubah dengan permintaan deposit. Hasil kajian menunjukkan wujudnya hubungan antara permintaan deposit dengan kadar pulangan deposit perbankan Islam, kadar faedah deposit tabungan bank perdagangan, kadar inflasi serta output negara.Dalam kepesatan pembangunan dunia kewangan, perbankan Islam dimestikan berinovasi dalam satu set teknik untuk memobilisasi deposit, memberi keutamaan dan pilihan utama risiko pelbagai kategori pendeposit. Semua keuntungan deposit dalam perbankan Islam termasuk deposit tabungan di mana bank memberi kemudahan keselamatan percuma, harus diterima pada dasar perkongsian laba dan rugi. Nisbah pembahagian keuntungan antara bank dan pendeposit harus dipersetujui pada saat pembukaan akaun dan sesuai dengan hukum Syariah di mana kedua-dua pihak bersetuju pada nisbah keuntungan yang berbeza daripada nisbah modal tetapi kerugian perlu dikongsi mengikut nisbah modal. Perbankan Islam dikatakan unik dari segi produk perkhidmatannya. Misalnya, dalam konsep Wadiah, bank dianggap sebagai penjana dan pemegang amanah dana. Pendeposit akan mendepositkan dana ke dalam bank akan menjamin pembayaran balik kesemua atau sebahagian daripada amaun apabila diminta oleh pendeposit. Pendeposit mungkin akan diberikan ‘hibah’ atas budi bicara bank sebagai satu bentuk penghargaan. Selain Wadiah,terdapat juga produk seperti Murabahah, Mudarabah dan sebagainya. Perbankan Islam di Malaysia mempunyai potensi yang cerah untuk berkembang memandangkan Malaysia merupakan sebuah negara Islam dan mempunyai populasi penduduk Muslim yang ramai

    Analisis Perkembangan Sistem Perbankan Syariah di Indonesia

    Get PDF
    Sebuah lembaga keuangan yang dikenal sebagai Bank Syari'ah mengatur tanggung jawabnya sesuai dengan hukum syariah. Dari awal hingga aktivitasnya, bank syariah harus selalu berpegang pada standar syariah ini, mengingat dari segi permodalan bank syariah. Dalam hal permodalan, bank syariah harus menghindari mendapatkannya dari sumber yang bertentangan dengan hukum syariah karena hal itu akan menghasilkan campuran antara halal dan haram. Salah satu bidang yang menjanjikan untuk masa depan Indonesia adalah perbankan syariah, dan sektor perbankan juga diperkirakan berkembang pesat saat ini. Kesulitan dari peningkatan yang sangat cepat ini juga penuh dengan pertaruhan yang harus dihadapi, dan kemajuan perkembangan perbankan syariah saat ini bukan tanpa kendala. Perbankan Islam harus berbeda dari perbankan konvensional karena didasarkan pada filosofi alternatif. Perbedaan dalam kerangka tersebut bukan hanya penggunaan istilah, tetapi juga perlakuan sertifikasi rasa aman bagi klien. Akibatnya, pencantuman label syariah dengan sendirinya memiliki dampak yang sangat serius, sehingga membutuhkan pengawasan yang lebih ketat untuk menjaga kepercayaan nasabah. Ekonomi modern akhir-akhir ini telah melihat perkembangan perbankan syariah, yang juga dikenal sebagai perbankan syariah. Ekonomi Islam yang diyakini mampu menggantikan dan menyempurnakan sistem ekonomi berbasis bunga konvensional, muncul sebagai hasil dari upaya gigih para pakar Islam untuk mendukungnya. Sebuah bank yang menganut hukum syariah dan mengutip Al-Quran dan Al-Sunnah sebagai landasan hukum dan operasionalnya adalah definisi yang paling umum dari perbankan Islam. Akibatnya, sistem perbankan Islam beroperasi pada sistem bebas bunga

    Perkembangan Regulasi Perbankan Syariah di Indonesia : Peluang dan Tantangan

    Full text link
    Perbankan Islam adalah lembaga keuangan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia sejak 16 tahun yang lalu dimulai dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia. Sistem perbankan ini diatur oleh UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Makalah ini akan memeriksa pengembangan regulasi perbankan syariah di Indonesia sebelum dan setelah penerapan UU No. 21 Tahun 2008 dan bagaimana Peluang dan Tantangan setelah UU No. 21 Tahun 2008 mulai berlaku ? Peraturan perbankan syariah di Indonesia mulai dari UU No. 7 Tahun 199 yang memperkenalkan prinsip bagi hasil bank. UU No. 10 Tahun 1998 memberikan peluang lebih besar bagi pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah di Indonesia. Namun, perbankan syariah memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan perbankan konvensional ; akibatnya , hukum khusus untuk mengatur perbankan syariah diperlukan. Hukum Perbankan Islam mengatur bank syariah yang lebih komprehensif daripada di UU No. 10 Tahun 1998 . UU perbankan syariah memberikan kesempatan besar untuk pertumbuhan bank syariah. Selain memberikan kesempatan , Hukum Perbankan Syariah juga memberikan tantangan bagi pelaku bank syariah nasional untuk bersaing dengan bankir asing yang tertarik dalam mengoperasikan sistem perbankan syariah di Indonesia

    Peranan Penggunaan Agunan di Bank Islam Hubungannya dengan Sistem Operasional Perbankan Syariah di Medan

    Full text link
    Perbankan syariah atau perbankan Islam (al-Mashrafiyah al-Islamiyah) adalah suatu sistem manajemen perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah). Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengunakan bunga pinjaman (riba), serta larangan untuk berinvestasi pada USAha-USAha berkategori terlarang (haram). Bagi kaum muslimin, kehadiran bank islam dapat memenuhi kebutuhan akan sebuah lembaga keuangan yang bukan hanya sebatas melayani secara ekonomi namun juga spiritual. Penelitian ini berupaya untuk menganalisis peranan penggunaan agunan yang diminta pihak bank islam pada nasabah yang ada di kota Medan dan hubungannya dengan sistem operasional yang dijalankan oleh perbankan Islam tersebut dalam memperoleh laba atau keuntungan. Hasil penelitian menunjukkan, berdasarkan analisis temuan yang ada bahwa pendapat nasabah dan ormas Islam di Medan tentang agunan yang diterapkan dalam sistem operasional perbankan syariah, kurang tepat karena tidak sesuai dengan tujuan bank islam jika harus di minta agunan dibawah pinjaman 20 juta-an. Dan sebagai solusi yang peneliti temukan dalam penelitian ini adalah agar bank meminta surat kuasa penjamin pinjaman, bukan minta jaminan agunan. Kemudian berdasarkan data wawancara yang peneliti lakukan tentang kedudukan hukum agunan menjadi bagian sistem operasional perbankan syariah, itu tidak melanggar, karena untuk menjaga tingkat kehati-hatian

    Pemikiran Joesoef Sou’yb Tentang Bunga Bank Dan Kontribusi Kredit Perbankan Bagi Pemberdayaan Ekonomi Umat Islam

    Get PDF
    Sejak tahun 1960-an, pengharaman bunga bank telah menjadi salah satu isu yang banyak didiskusikan di kalangan umat Muslim. Ini adalah konsekwensi dari adanya dua pandangan dari bunga Bank Konvensional. Para sarjana Muslim mutakhir berbeda pendapat mengenai apakah riba yang diharamkan dalam Alquran dapat diterapkan dalam bunga Bank Konvensional/ bunga bank modern. Perbedaan itu tampaknya berakar dari satu isu pokok yaitu: Apakah penekanan harus diberikan kepada alasan pengharaman riba yaitu kezaliman ataukah kepada bentuk legal dimana riba terkonseptualisasi seperti formal dalam hukum Islam. Kecenderungan Kaum Modernis mengarah kepada pandangan pertama (kezaliman), sementara Kaum Neo-Revivalis cenderung kepada yang kedua (legal). Interpretasi kaum neo-Revivalis sebenarnya adalah interpretasi tradisional dengan penekanan pada pandangan bahwa semua bentuk bunga adalah riba. Berdasarkan kondisi tersebut diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran Joesoef Sou’yb tentang Perbankan Konvensional dan kontribusinya bagi pemberdayaan umat Islam, yaitu bunga Bank Konvensional itu tidak termasuk riba menurut kategori Alquran, kontribusi kredit perbankan terhadap pemberdayaan ekonomi umat Islam, serta relevansi pemikiran Joesoef Sou’yb tentang perbankan dengan perkembangan perbankan saat ini. Penelitian ini dilakukan melalui riset kepustakaan (library reserch), dengan melalui pendekatan kualitatif, karena objek pembahasannya terfokus pada pemikiran Joesoef Sou’yb tentang bunga perbankan dan kontribusi kredit perbankan bagi pemberdayaan ekonomi ummat Islam, serta relevansi pemikiran Joesoef Sou’yb tentang perbankan dengan perkembangan perbankan saat ini, yang sumber datanya diambil dari buku Riba Rente Bank, dan literatur-literatur lainnya yang ada hubungan langsung atau tidak langsung dengan pembahasan. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif analitis, komparatif dan induktif. Deskriptif analitis digunakan untuk mengungkap dan menjelaskan bunga/ bank. Kemudian metode komparatif digunakan untuk membandingkan persamaan dan perbandingan antara pemikiran Joesoef Sou’yb tentang bunga/ bank, kontribusi kredit perbankan, serta relevansi pemikiran Joesoef Sou’yb tentang perbankan dengan perkembangan perbankan saat ini dengan para pemikir lainnya. Dan metode deduktif untuk menarik suatu kesimpulan dari pembahasan ini
    corecore