447,702 research outputs found

    Local Access to Huge Random Objects Through Partial Sampling

    Get PDF
    © Amartya Shankha Biswas, Ronitt Rubinfeld, and Anak Yodpinyanee. Consider an algorithm performing a computation on a huge random object (for example a random graph or a “long” random walk). Is it necessary to generate the entire object prior to the computation, or is it possible to provide query access to the object and sample it incrementally “on-the-fly” (as requested by the algorithm)? Such an implementation should emulate the random object by answering queries in a manner consistent with an instance of the random object sampled from the true distribution (or close to it). This paradigm is useful when the algorithm is sub-linear and thus, sampling the entire object up front would ruin its efficiency. Our first set of results focus on undirected graphs with independent edge probabilities, i.e. each edge is chosen as an independent Bernoulli random variable. We provide a general implementation for this model under certain assumptions. Then, we use this to obtain the first efficient local implementations for the Erdös-Rényi G(n, p) model for all values of p, and the Stochastic Block model. As in previous local-access implementations for random graphs, we support Vertex-Pair and Next-Neighbor queries. In addition, we introduce a new Random-Neighbor query. Next, we give the first local-access implementation for All-Neighbors queries in the (sparse and directed) Kleinberg’s Small-World model. Our implementations require no pre-processing time, and answer each query using O(poly(log n)) time, random bits, and additional space. Next, we show how to implement random Catalan objects, specifically focusing on Dyck paths (balanced random walks on the integer line that are always non-negative). Here, we support Height queries to find the location of the walk, and First-Return queries to find the time when the walk returns to a specified location. This in turn can be used to implement Next-Neighbor queries on random rooted ordered trees, and Matching-Bracket queries on random well bracketed expressions (the Dyck language). Finally, we introduce two features to define a new model that: (1) allows multiple independent (and even simultaneous) instantiations of the same implementation, to be consistent with each other without the need for communication, (2) allows us to generate a richer class of random objects that do not have a succinct description. Specifically, we study uniformly random valid q-colorings of an input graph G with maximum degree ∆. This is in contrast to prior work in the area, where the relevant random objects are defined as a distribution with O(1) parameters (for example, n and p in the G(n, p) model). The distribution over valid colorings is instead specified via a “huge” input (the underlying graph G), that is far too large to be read by a sub-linear time algorithm. Instead, our implementation accesses G through local neighborhood probes, and is able to answer queries to the color of any given vertex in sub-linear time for q ≥ 9∆, in a manner that is consistent with a specific random valid coloring of G. Furthermore, the implementation is memory-less, and can maintain consistency with non-communicating copies of itself

    PENGALAMAN MENJADI IBU DI ERA DIGITAL: INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS

    Get PDF
    Penggunaan teknologi bagi anak pada saat ini sudah menjadi suatu hal yang lazim. Orangtua sudah memfasilitasi anak-anaknya yang masih berusia dini dengan gadget pribadi. Penggunaan teknologi menghasilkan dampak positif dan negatif bagi penggunanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan teknologi anak pada diri ibu. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan studi fenomenologi. Partisipan penelitian yaitu ibu dengan anak yang telah dikenalkan gadget pada usia dini dan memiliki gadget pribadi.Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu telah mengenalkan teknologi pada anak sejak usia dini. Pengenalan gadget pada anak usia dini dilatarbelakangi dengan alasan pemberian gadget dari kakek dan nenek, alasan pekerjaan, dan kepercayaan pada anak. Penggunaan gadget berpengaruh positif dan negatif baik bagi diri anak maupun ibu. Dampak positif penggunaan gadget pada anak yaitu membantu anak dalam belajar, media hiburan, dan penenang bagi anak. Dampak negatif penggunaan gadget bagi anak yaitu anak memunculkan perilaku agresif, konsentrasi dan perhatian anak menurun, serta kesulitan berbicara. Pada diri ibu, dampak positif penggunaan gadget anak yaitu membantu dalam mengasuh anak, kemudahan berkomunikasi dengan anak, dan rasa senang karena anak di rumah. Dampak negatif yang muncul yaitu menjadi objek agresivitas anak, kesulitan menarik perhatian anak, serta kekhawatiran pada anak. Kata Kunci: Pengenalan teknologi, Penggunaan teknologi, Dampak teknolog

    LAGU DOLANAN ANAK ALTERNATIVE SONGS IN TEACHING JAVANESE LANGUAGE FOR CHILDREN

    Get PDF
    Perkembangan musik di Indonesia saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesatdibandingkan dengan era tahun 1960 dan 1970an. Anak Indonesia, saat ini berada dalamkepungan lagu – lagu dewasa. Kosongnya keberadaan lagu anak membawa efek bagiperkembangan anak, baik dari segi psikologis maupun dari aspek berbahasa. Anak tak lagi mendapatkan apa yang sesuai dengan dunia mereka. Bahasa yang notabene belumsemestinya diserap oleh anak, acapkali didendangkan. Tidak ada lagi lagu – lagu bersegmen khusus anak, dengan bahasa anak, dan memuat pendidikan bagi anak. Sudah beberapa saat, anak – anak diberi suguhan lagu dewasa, baik lagu berbahasa asing, laguberbahasa Indonesia, atau bahkan yang menjadi fenomena saat ini adalah: lagu berbahasaJawa dengan memuat kata – kata yang cenderung vulgar. Anak – anak di hampir setiapaktifitasnya mendendangkan lagu yang sebenarnya mengandung bahasa yang tidakselayaknya dikonsumsi. Sungguh sesuatu yang ironis memang, di usia yang seharusnyamenyerap kosakata yang akan mengakar di sepanjang hidup anak, mereka merekam memorikata – kata yang sebenarnya kurang mereka pahami. Dahulu, kita mengenal lagu berbahasaJawa yang didendangkan anak – anak, seperti: Padhang Bulan, Jaranan, Dondong OpoSalak, dan masih banyak lagu anak Jawa lainnya, yang mudah ditangkap dan memuat pesanbudi pekerti. Lagu Dondong Opo Salak, berbeda dengan Lagu Dolanan lain, karena mengetengahkan ragam bahasa Jawa yang berbeda, antara ketika dituturkan kepada orangtua dan kepada yang muda. Pilihan kata di lagu ini mengajarkan kepada anak, berbahasa dan etika

    MAKNA ANAK TUNA DAKSA BAGI IBU

    Get PDF
    ABSTRAK Anak adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada sepasang suami istri. Tidak semua anak lahir dan dibesarkan dengan kondisi yang sama, misalnya anak-anak yang terlahir dengan kekurangan atau hambatan fisik. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menggambarkan makna anak bagi Ibu yang memiliki anak tuna daksa. Pendekatan kualitatif yang dipilih adalah fenomenologis deskriptif. Subjek pada penelitian ini adalah tiga orang Ibu yang memiliki anak tuna daksa. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive dan snowball. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi pergeseran makna anak tuna daksa bagi Ibu dari makna yang negatif menjadi positif. Awalnya anak tuna daksa dimaknai sebagai pembawa beban psikologis untuk Ibu. Ibu merasa sedih, kecewa, khawatir, dan memiliki perasaan bersalah saat pertama kali mengetahui kondisi anak tuna daksa. Namun, seiring berjalannya waktu, pemaknaan anak sebagai beban semakin menghilang. Penerimaan diri Ibu, dukungan-dukungan dari orang-orang sekitar dan kasih sayang yang didapat dari kebersamaan antara Ibu dengan anak perlahan merubah persepsi Ibu terkait makna anak. Pada akhirnya anak memberikan makna yang positif bagi Ibu. Terdapat harapan-harapan Ibu pada anak tuna daksa. Harapan utama ketiga subjek adalah anak tuna daksa dapat menjadi normal seperti teman-teman seusianya. Perbedaan usia anak tuna daksa membentuk harapan yang berbeda pula pada tiap-tiap subjek. Harapan dari subjek petama dan ketiga adalah anak tuna daksa dapat terus bersekolah untuk masa depan, sedangkan pada subjek kedua, anak tuna daksa dapat hidup mandiri dan bisa memiliki pasangan hidup. Kata kunci: Tuna daksa, makna anak, fenomenologis deskripti

    Pengaruh Kecerdasan Emosional, Komitmen Organisasi, dan Organizational Citizenship Behavior terhadap Kinerja Pegawai Feb

    Full text link
    Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional, komitmen organisasi, dan organizational citizenship behavior (OCB) terhadap kinerjan pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Penelitian ini menggunakan sampel jenuh, dimana seluruh populasi penelitian akan dipilih menjadi sampel yaitu sebanyak 47 orang karyawan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini teknik analisis linier berganda dengan bantuan Software Package for Social Science (SPSS) for Windows. Hasil dari penelitian menunjukkan kecerdasan emosional, komitmen organisasi, dan organizational citizenship behavior (OCB) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. Penelitian ini menunjukkan pegawai yang memiliki kecerdasan yang tinggi akan lebih optimal dalam menunjukkan kinerja mereka. Pegawai yang memiliki komitmen organisasi yang tinggi terhadap tempat ia berkerja akan menunjukkan kinerja yang mengalami peningkatan. Keadaan ini juga dibarengi dengan sikap pegawai yang memiliki organizational citizenship behavior (OCB) yang tinggi terhadap tempat ia berkerja maupun pada pegawai lainnya akan menunjukkan kinerja yang meningkat serta sikap yang lebih mudah bergaul, ramah, dan lebih dapat menerima pekerjaan yang ia dapatkan tanpa banyak mengeluh dan membantah

    Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak

    Get PDF
    Latar belakang: Kejang demam dapat mengakibatkan gangguan tingkah laku, penurunan nilai akademik dan sangat mengkhawatirkan orang tua anak. Bila faktor risiko diketahui lebih awal dapat dilakukan pencegahan sedini mungkin akan terjadinya bangkitan kejang demam pada anak. Tujuan: Membuktikan dan menganalisis faktor demam, usia, riwayat keluarga, riwayat prenatal (usia ibu saat hamil) dan perinatal (usia kehamilan, asfiksia dan berat lahir rendah) sebagai faktor risiko bangkitan kejang demam pada anak. Metode: Studi kasus kontrol pada 164 anak dipilih secara consecutive sampling dari penderita yang datang di RS. Dr. Kariadi Semarang periode bulan Januari 2008-Maret 2009. Penderita kejang demam sebagai kelompok kasus sebanyak 82 anak dan penderita demam tanpa kejang sebagai kelompok kontrol sebanyak 82 anak. Pengambilan data dari catatan medik dan dilanjutkan wawancara dengan orang tua anak.pada kunjungan rumah Data dianalisis dengan tes chi squre dan uji multivariat regresi logistik. Hasil: Didapatkan hubungan yang bermakna antara faktor risiko dengan terjadinya bangkitan kejang demam yaitu faktor demam lebih dari 390C dengan OR 10 ( 95 % CI; 1,01-99,23, p=0.049) dan faktor usia kurang 2 tahun dengan OR 8,9 (95% CI; 4,66-17,09, p=<0.001). Faktor risiko bangkitan kejang lainnya tidak bermakna. Simpulan: Demam lebih dari 390C dan usia < 2 tahun merupakan faktor risiko bangkitan kejang demam Kata kunci: kejang demam, faktor risik
    corecore