38 research outputs found

    DIGITALISASI EMAS DALAM PERSPEKTIF SYARIAH: STUDI PADA EKOSISTEM BULLION BANK INDONESIA

    Get PDF
    This study aims to analyze the implementation of gold digitalization within the Bullion Bank ecosystem from a sharia perspective. The research is motivated by the rapid advancement of financial technology and the rising public interest in digital gold investment as a secure and sharia-compliant asset. Using a qualitative descriptive approach with a case study method, data were collected through interviews, document analysis, and literature review. The findings reveal that Bullion Bank integrates blockchain technology, sharia-compliant contracts (akad), and physical gold custodianship to ensure transparency and asset-backing (tangible underlying). The system complies with key sharia principles, such as avoiding riba (interest) and gharar (uncertainty), and ensuring qabdh hukmi (legal possession). Moreover, the application of smart contracts within blockchain technology strengthens transaction validity and ownership records in accordance with Islamic law. However, challenges remain in harmonizing regulations, conducting periodic sharia audits, and improving consumer literacy regarding digital gold ownership. The study contributes to the academic discourse on Islamic fintech by demonstrating how modern financial innovation can align with fiqh muamalah. It also offers strategic insights for regulators and industry stakeholders to develop sustainable, transparent, and sharia-compliant digital gold ecosystems in Indonesia. Keywords: digital gold, sharia, Bullion Bank, blockchain, Islamic fintechPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi digitalisasi emas dalam ekosistem Bullion Bank dari perspektif syariah. Latar belakang penelitian ini adalah pesatnya perkembangan teknologi keuangan digital (fintech) serta meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas digital sebagai instrumen lindung nilai yang aman dan sesuai prinsip syariah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui pengumpulan data berupa wawancara, analisis dokumen, dan telaah literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bullion Bank telah mengintegrasikan teknologi blockchain, akad-akad yang sesuai syariah, serta sistem kustodian emas fisik untuk menjamin transparansi dan keberadaan underlying asset yang nyata. Penerapan sistem ini sejalan dengan prinsip syariah utama seperti penghindaran riba, gharar, dan memastikan kepemilikan yang sah melalui konsep qabd hukmi. Selain itu, pemanfaatan smart contract pada teknologi blockchain memperkuat validitas akad serta pencatatan kepemilikan emas digital secara transparan. Namun demikian, masih terdapat tantangan seperti harmonisasi regulasi, audit kepatuhan syariah yang berkelanjutan, dan literasi pengguna yang rendah terhadap perbedaan emas digital berbasis fisik dan non-fisik. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan literatur fintech syariah serta memberikan rekomendasi bagi regulator dan pelaku industri untuk memperkuat ekosistem emas digital yang berkelanjutan dan sesuai syariah di Indonesia. Kata Kunci: emas digital, syariah, Bullion Bank, blockchain, fintech syaria

    Pengaruh Manajemen Kesiswaan, Manajemen Sarana Prasarana dan Kinerja Guru terhadap Prestasi Belajar Siswa di SMP Qur'an Al-Hamidy

    Get PDF
    Pendidikan adalah salah satu bidang yang sangat krusial dalam menentukan SDM yang memiliki kualitas baik Menurut studi literatur memaparkan pada jenjang pendidikan SMP, perolehan terkait dengan prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh kinerja guru, manajemen sarana dan prasarana, serta manajemen kesiswaan. Adapun penelitian ini bertujuan dalam menganalisis pengaruh manajemen kesiswaan, manajemen sarana prasarana dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa di SMP Qur'an Al-Hamidy. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini mengadopsi metode penelitian kualitatif. Hasil temuan memaparkan prestasi belajar di SMP Qur’an Al Hamidy peserta didik dipengaruhi kinerja guru, manajemen sarana dan prasarana, serta keterlibatan dari manajemen siswa. Pada manajamen kesiswaan, dibutuhkan keterlibatan langsung dari kepala sekolah, misalnya dalam proses kelulusan, pengembangan diri, pembinaan siswa, serta penerimaan siswa baru. Keberadaan dari sarana prasarana disekolah harus disediakan dengan baik dan lengkap guna menunjang bakat ataupun minat dari peserta didik. Saat bakat atau minat yang dimiliki oleh siswa didukung oleh ketersediaan sarana prasarana disekolah, maka hal tersebut akan memberikan dampak terhadap perolehan prestasi belajar yang baik. Menurut analisis yang dilakukan memaparkan terkait peningkatan prestasi belajar peserta didik dapat diperoleh melalui kontribusi serta adanya kinerja yang baik oleh guru. Keberadaan dari sekolah untuk memperbaiki kinerja dari guru ialah dengan memberikan program pelatihan, workshop, seminar, dan beberapa kegiatan pengembangan lainnya.                                                                                                &nbsp

    Strategi Kepala Sekolah dalam Meningkatkan dan Mengembangkan Profesi Guru di SMK Muhammadiyah Pagelaran Kabupaten Pringsewu

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi tentang peningkatan kompetensi dan pengembangan guru yang berada di SMK Muhammadiyah Pagelaran, Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kompetensi guru yang ada di SMK Muhammadiyah Pagelaran dan mengetahui bagaimana startegi yang di laksanakan. Penelitian ini menggunakan metode penlitian deskriptif kualitatif, untuk metode dalam pengambilan data penulis menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah Dalam hal kompetensi guru, Pada aspek kompetensi pedagogik dan professional terdapat indikator yang belum terpenuhi secara maksimal. Strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah dengan mengirimkan guru untuk mengikuti diklat, mewajibkan mengikuti seminar yang diselenggarakan secara offline, mengikutkan guru dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), kepala sekolah selalu memberikan motivasi kepada guru dan melakukan supervisi atau evaluasi. Upaya peningkatan dan mengembangkan profesi guru telah dilakukan tetapi strategi tersebut belum dilaksanakan dengan volume yang tinggi sehingga belum maksimal

    KONSEP PENGORGANISASIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

    Get PDF
    The activity of organizing is a very important element to create qualified and Islamic system of Islamic educational institutions. Practically, there are obstacles in actualizing due to the lack of references from Islam it self. The purpose of this study is to explore the concept of organizing in an Islamic perspective and its implications for education. This study uses the library research which is part of qualitative research. The data source is taken from the al-Qur’an, al-Hadith, classic books, research journals, and other sources relating to objects. The analysis used is descriptive analysis and content analysis. The result of the study shows that Islam has different concept of organizing than the organizational concept developed by western scientists. The characteristic of organizing in Islamic perspective is to get free from the shackle of backwardness by returning humanity to the nature of monotheism (tauhid), human value, strengthen the character of people, build the social value, egalitarian value and universality. Mean while, organizing the Islamic education can be actualized by leadership based on Islamic principles, the balance between power, authority and responsibility, task division and delegation of authority and discussion.Keyword: Islam, Islamic Perspective, Organizing, Organization.

    Menguji relevansi ijtihad politik Cak Nur : "Islam Yes, Partai Islam No !"

    Get PDF
    Tak ada gagasan yang berdiri sendiri di atas angin. Setiap gagasan baru yang muncul, selalu merupakan respon atas situasi sosial historis tertentu. Maka, takkala Cak Nur dan kawan-kawannya melontarkan ijtihad politiknya dalam slogan : "Islam Yes Partai Islam No" di tahun 1970-an itu, harus tetap dipahami pula sebagai bentuk respon intelektual terhadap kondisi sosial politik umat Islam kala itu yang berada pada posisi periferial. Dengan mempertimbangkan dari berbagai analisis sosio-historis dari gagasan pembaharuan Cak Nur di bidang politik, bisa disimpulkan bahwa dalam merespon kehidupan politik di tanah air, nampaknya Nurcholish Madjid lebih memikirkan nilai-nilai perpolitikannya, bukan pada tingkat kelembagaanya seperti partai atau negara. Maka dari itu, ia banyak bicara tentang nilai-nilai yang dipandangnya universal, seperti demokrasi, pluralisme, egalita-rianisme, keadilan dan sebagainya. Semua itu dielaborasi oleh Cak Nur dengan berbijak pada doktrin dan sejarah politik umat. Dalam konteks di tanah air, Nurcholish lalu menerjemahkannya dengan ungkapan yang sangat terkenal itu: “Islam yes, partai Islam, no!” Dengan begitu, sesungguhnya wajar saja bila Cak Nur menolak konsep “negara Islam” seperti yang pernah diperjuangkan oleh partai Masyumi pada masa Orde Lama dengan sosok M. Natsir sebagai pemimpinnya yang sangat perpengaruh. Karena perjuangan seperti itu telah menimbulkan pemahaman agama yang lebih bersifat ideologis-politis ketimbang substansialis, bahkan pada tingkat tertentu telah menjadikan negara atau partai “identik” dengan Islam itu sendiri. Setelah 40 tahun semenjak dilontarkannya oleh Cak Nur, tepatnya pada 3 Januari 1970, slogan ijtihad politik "Islam Yes, Partai Islam No" tersebut terasa masih sangat relevan, lebih lebih di era multi partai seperti sekarang ini. Lihat saja, sekarang orang-orang Islam tidak hanya ada dalam partai Islam saja. Tetapi telah menyebar ke semua partai politik yang ada. Di Golkar, di PDIP, di partai-partai lainnya, semacam Partai Demokrat, Hanura, maupun Partai Gerindra, banyak tokoh dan intelektual Islam yang merasa nyaman di dalamnya

    Melacak pemikiran tarekat Kyai Muslih Mranggen (1912-1981 M) melalui kitabnya : Yawaqit al-Asani fi Manaqib al-Syeikh Abdul Qadir al-Jilani

    Get PDF
    Sebelum wafat (2007), Kyai Luthfi Hakim bin Muslih bin Abdirrahman yang menyerahkan sebuah manuskripYawaqit al-Asani Fi Manaqib al-Syeikh Abdul Qadir al-Jilani kepada Kyai Chumaidi Kendal, salah seorang murid dekat Kyai Muslih untuk menerjemahkannya. Setelah divalidasi oleh Kyai Chumaidi dan Kyai Rofi’i Kebonbatur Mranggen serta sejumlah murid dekat Kyai Muslih lainnya, diyakini bahwa kitab tersebut adalah karya Kyai Muslih. Lalu pada tahun 2009, setelah diterbitkan oleh Karya Toha Putra Semarang, kitab tersebut di-launching disertai dengan ijazah ’ammah. Persoalannya, bagaimana menggunakan kitab tersebut, sementara selama ini manaqib yang biasa dibaca adalah al-Lujain al-Dani karya al-Barzanji. Kyai Muslih sendiri juga sangat menaruh perhatian terhadap kitab ini, dengan menulis terjemahnya dalam dua jilid yang diberinya judul al-Nur al-Burhani. Untuk menjawab persoalan penting ini, perlu dilacak pemikiran tarekat Kyai Muslih dengan menjadikan kitab Yawaqit sebagai core-nya. Hasil penelitian ini menyimpulkan : Pertama, penyusunan kitab ini terkait dengan upaya beliau untuk menyuguhkan manaqib yang lebih simple pembacaannya, tetapi secara ruhiyah tidak kurang dari manaqib yang telah ada. Kedua, pendekatan interteks, ditemukan, bahwa Yawaqit merupakan media puncak dari pemikiran beliau di bidang tarekat. Hal ini ditunjukkan oleh karya-karya beliau di bidang tarekat, mulai dari penulisan al-Nur al-Burhni fi Tarjamah al-Lujain al-Dani dalam dua jilid, Risalah Tuntunan ariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah dalam dua jilid, Munajat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah wa Ad’iyatuha dan al-Futuhat al-Rabbaniyyah. Ketiga, pendekatan sejarah sosial.Dengan pendekatan ini ditemukan bahwa Yawaqit juga merupakan media puncak dari gerakan tarekat beliau.Kesimpulan ini didasarkan pada sejumlah aktifitas beliau, dimulai dari keaktifan beliau bertarekat, keaktifan beliau menjadi mursyid tarekat dan keaktifan beliau dalam organisasi tarekat

    Arab-Pegon dan tafsir Al-Qur’an Indonesia : studi sosio-historis aksara tulis tafsir Al-Qur’an Indonesia akhir abad 20

    Get PDF
    Pada saat berlangsung gelombang romanisasi dan kesadaran nasionalisme dalam konteks komunikasi bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, aksara Arab-Pegon dengan bahasa lokal daerah (Jawa) tidaklah lenyap begitu saja dalam tradisi penulisan tafsir Al-Qur’an. Sebagian mufasir di Indonesia, ada yang masih menggunakannya dalam penulisan tafsir, meskipun tidak dominan. Pada 1960 terbit tafsir berbahasa Jawa dengan aksara Arab-Pegon, berjudul al-Ibrîzli Ma‘rifati Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azîz yang ditulis oleh Kiai Bisri Mustofa, Rembang. Selain al-Ibrîz ada tafsir Iklîl li Ma‘ânî at-Tanzîl yang ditulis K.H. Misbah Zainul Mustofa, saudara Kiai Bisri Mustofa, yang juga ditulis dengan aksara Arab dan bahasa Jawa (Arab Pegon). Penelitian ini hadir dalam rangka menjawab dua pertanyaan besar; bagaimana proses adaptasi dan adopsi terkait dengan pemakaian aksara Arab-Pegon dengan bahasa daerah di dalam proses penulisan literatur tafsir Al-Qur’an karya Ulama’ Nusantara akhir abad 20? dan faktor apa saja yang berperan bagi dipertahankannya penggunaan Arab-Pegon dengan bahasa daerah sebagai aksara tulis dalam literatur keislaman bidang tafsir Al- Qur’an produk ulama’ Nusantara akhir abad 20?. Dengan menggunakan teori Peirre Bourdieu tentang reproduksi kebudayaan (habitus dan arena) dan pendekatan sosiohistoris, penelitian ini menemukan bahwa pilihan penggunaan aksara Arab Pegon dalam kedua tafsir Al- Ibriz dan Al-Iklil adalah pilihan yang disadari penuh oleh kedua penulis kitab tafsir tersebut (KH. Bisri Mustofa dan KH. Misbah Mustofa). Hal ini dengan mempertimbangkan aspek audien karya mereka yang berlatar belakang Islam tradisional berbasis pondok pesantren yang juga sekaligus orang Jawa, selanjutnya sebagau konsekuensi logis dari keberadaan mereka sebagai ulama’ (kyai) di Jawa, dimana menulis dan menyampaikan pesan agama secara tertulis dengan aksara Arab Pegon adalah identitas ke-ulama’an di Jawa saat itu, dan metode pengajaran dan pembelajaran di pondok pesantren saat itu yang didominasi oleh metode bandongan dan sorogan yang menuntut aksara tulis dengan aksara Arab Pegon meskipun KH. Bisri Mustofa dan KH. Misbah Mustofa keduanya bisa menulis dengan aksara latin yang saat itu sedang banyak digalakkan oleh pemerintah Indonesia

    Model penulisan tafsir Al-Qur’an di Nusantara

    Get PDF
    Buku yang berjudul : Model Penulisan Tafsir di Nusantara al-Qur’an di Nusantara ini merupakan modul/bahan ajar mata kuliah TAFSIR INDONESIA pada Program Studi Tafsir Hadits/IAT pada Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo. Matakuliah ini merupakan matakuliah yang berorientasi memberikan wawasan sekaligus skill meneliti bagi mahasiswa prodi Tafsir Hadits/Ilmu al-Qur`an dan Tafsir maupun mahasiswa lain yang berminat melakukan penelitian terhadap sejarah model penulisan tafsir al-Qur’an yang pernah muncul dan berkembang di Nusantara dari abad 17–21. Ditinjau dari model penulisan tafsir, sejarah telah mencatat bahwa sejak abad 17-21, telah muncul 4 (empat) model penuisan tafsir al-Qur’an di nusantara ini, yakni : model penulisan tafsir ringkas (ijmaly), model penulisan tafsir catatan kaki (footnote), model penulisan tafsir lengkap (syarkhi), dan model penulisan tafsir tematik (maudlu’i). . Yang akan digunakan sample sebagai model penulisan tafsir ringkas (ijmaly) adalah 3 tafsir karya ulama Nusantara : Tafsir Tarjuman al-Mustafid karya Syaikh Abd. Rouf al-Sinkili, Tafsir al-Munir karya Imam Nawawi al-Bantani dan Tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa Selanjutnya, yang akan digunakan sebagai contoh dalam model penulisan tafsir catatan kaki (footnote) adalah Tafsir al-Furqon karya A. Hasan dan Tafsir Kur’an Karim karya Prof. Dr. Mahmud Yunus. Model yang ke-3 yang akan dimuat dalam penulisan buku ajar ini, yaitu model penulisan tafsir lengkap (syarkhi). Ada 2 tafsir karya ulama nusantara yang akan digunakan sebagai sample disini, Tafsir al-Azhar karya HAMKA, dan Tafsir al-Misbah karya Prof. Dr. Quraish Shihab. Sebagai model terakhir yang akan disuguhkan dalam buku ini adalah model penulisan tafsir tematik (maudlu’i). Beberapa karya tafsir yang bisa dirujuk sebagai model ini antara lain : Wawasan al-Qur’an karya Prof. Dr. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an karya Prof. M. Dawam Rahardjo. Buku-buku referensi yang tersebar yang terkait dengan Model Penulisan Tafsir di Nusantara belum begitu banyak, sehingga hadirnya buku ini diharapkan bisa sebagai sumbangsih terhadap khazanah keilmuan tafsir di Indonesia sekaligus memenuhi kebutuhan buku referensi bagi mahasiswa Prodi TH/IAT pada Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo

    Telaah atas corak tafsir Faid al-Rahman karya Kyai Soleh Darat Semarang (1820-1903)

    Get PDF
    Nama Kyai Haji Soleh Darat memang tidak setenar Para Ulama di Tanah Air sekaliber KH. Nawawi al-Bantani dan KH. Hasyim Asyari, namun dibalik kemasyhuran tersebut KH. Soleh Darat merupakan sosok ulama yang memilki andil besar dalam penyebaran Islam di Pantai Utara Jawa, khususnya di Semarang. Beberapa nama murid yang pernah berguru kepadanya adalah KH. Hasyim Asy’ari Pendiri ponpes Tebuireng dan Pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU), KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyyah serta RA Kartini, tokoh pejuang dan emansipasi wanita Indonesia. Salah satu warisan intelektual karya Soleh Darat yang perlu mendapat apresiasi secara memadahi adalah buah karya Syaikh Muhammad Shalih ibn Umar al-Samarani, terutama dalam bidang tafsir, yakni Faid al~Rahman fi Tarjamah Kalam Malik Dayyan, tafsir ini belum lengkap 30 Juz, baru sampat tafsir surat al~Nisa', terdiri dari dua jilid besar. Jilid pertama setebal 577 halaman, sedangkan jilid kedua setebal 705 halaman. Keduanya dicetak oleh penerbit al-Muhammadiyah, Singapura antara tahun 1309 -1312 H. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa metode tafsir yang digunakan oleh Kyai Soleh Darat di dalam menulis Tafsir Faidh ar-Rahman cenderung menggunakan metode Ijmali. Sebuah metode yang berusaha untuk mengungkap kandungan Al-Qur’an berdasarkan urutan ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Dengan suatu uraian yang ringkas, tapi jelas serta menjelaskan kata-kata dan istilah yang kurang jelas dengan bahasa yang sederhana sehingga dapat dikonsumsi baik dari kalangan masyarakat awam maupun intelektual. Pilihan metode ijmali dalam Tafsir Faidh ar-Rahman menurut penulis didasarkan pada kesadaran Kyai Soleh Darat untuk menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa karena melihat kondisi dan situasi apa yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga masyarakat pada masa itu bisa mempelajari al-Qur’an karena saat itu orang-orang tidak bisa bahasa Arab dan sebagai jawaban bagi kegelisahan R.A. Kartini. Karena pada waktu itu tidak ada ulama yang berani menerjemahkan al-Qur’an dalam bahasa Jawa karena al-Quran dianggap terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun dan melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa. Setelah kita telaah, sebagaimana tertera dalam bab III, bahwa corak yang paling dominan dipakai oleh Kyai Soleh Darat dalam Tafsir Faid al-Rahman ada dua : yaitu corak fiqih dan corak tasawuf. Terinspirasinya RA. Kartini terhadap model pengajian tafsir yang pernah diberikan oleh Kyai Soleh Darat seperti di Pendopo Kabupaten Demak, kala itu, merupakan bukti nyata bahwa model pengajaran tafsir yang diberikan oleh Kyai Soleh Darat sangat inspiratif dan relevan

    Tafsir Nusantara karya tiga ulama Semarang : Faidhurrahman-Sholeh Darat (1820-1903), Hidayaturrahman-Munawar Cholil (1908-1961), & Al-Bayan-Shodiq Hamzah (2020)

    Get PDF
    Kehadiran Tafsir al-Bayan karya Kyai Shodiq Hamzah ini tentu telah menambah literasi khazanah dan kekayaan kajian terhadap tafsir al-qur’an di nusantara sekaligus membuktikan bahwa geliat tradisi penafsiran al-Quran di nusantara tidak pernah berhenti atau mandeg sama sekali. Di wilayah Semarang saja, dalam kurun kurang dari dua abad, telah hadir tiga karya tafsir karya 3 muallif Semarang, Tafsir Faidhurrahman karya Kyai Soleh Darat, disusul Tafsir Hidayaturrahman karya Kyai Moenawwar Cholil dan terakhir Tafsir al-Bayan karya Kyai Shodiq Hamzah ini dengan beragam manhaj dan metode pen- yajian yang dipilihnya. Kita menghargai nawaitu Kyai Shodiq Hamzah yang ingin lebih mendekatkan masyarakat Muslim Semarang dengan kitab sucinya al-Qur’annya yang aslinya berbahasa Arab itu dengan menghadirkan sebuah kitab tafsir al-Qur’an yang enak dibaca dan menyauti tuntutan masyakat milenial Muslim Semarang yang sudah banyak yang tidak mudeng dengan tulisan Arab-pe- gon, sementara dengan memilih aksara Latin ini kyai Shodiq Hamzah masih tetap bisa melestarikan model makna gandul ala pesantren yang uniq dan penuh hikmah tersebut. Tentu, bila ada jamaah atau pembaca yang tidak telaten dengan pilihan model belajar tafsir ala pondokan ini, ya bisa memilih kitab-kitab tafsir Nusanatara lainnya seperti al-Qur’an dan Terjemahannya karya Tim dari Departemen Agama RI, atau tafsir al-Misbah karya Prof. M. Quraish Shihab, dan lain sebagainya
    corecore