23 research outputs found

    The Production of Breadfruit Flour: Effect of Heater Temperature to the Drying Rate and TIME of the Breadfruit

    Full text link
    The composition of mineral and vitamin from breadfruit is particularly known of having benefits compared to rice which is a main source of carbohydrate consumed by societies. The process of drying is one of the factors that affects foodstuffs quality. The aim of this research was to provide an understanding of drying phenomena from data experiment and discover the influence of drying air temperature to breadfruit drying time and rates. This research was conducted in several stages which are material preparation (breadfruit) by through downsizing process, then weigh the material (breadfruit) once every 5 minutes on each drying air temperature variations (50 ºC, 60 oC, 70 oC, and 80 oC). The research were conducted using breadfruit with the best drying time which is obtained at 60 0C for 100 minutes. The lowest water content obtained was 0.4%, while the highest drying rate was 0.00144 Kg2/m2.s at 80 ºC of temperature

    Pengaruh Penambahan Surfaktan Terhadap Karakteristik Mikrokapsul Melamin Urea Formaldehid

    Full text link
    Mikroenkapsulasi merupakan salah satu cara untuk mengatur pelepasan bahan aktif dan melindungi bahan aktif yang dapat melarut secara konvensional dengan pelapisan dari bahan semi permeable, tidak larut dalam air, atau bahan berpori yang permeable. Dengan mengatur ketebalan dari dinding mikrokapsul, difusi dari senyawa aktif yang dienkapsulasi dapat terkontrol. Penelitian ini terfiri dari 2 tahap, yaitu pembuatan resin melamin urea formaldehid dan pembuatan mikrokapsul. Yang dipelajari dari penelitian ini adalah mendapatkan karakter dari mikrokapsul Melamin Urea Formaldehid (MUF) yang dibuat dengan kondisi proses yang berbeda. Pembuatan mikrokapsul MUF dilakukan dengan metode in-situ polimerisasi pada suhu 50 °C, pH 3, waktu homogenisasi 30 menit, dan waktu mikroenkapsulasi 2 jam dengan bahan yang digunakan terdiri dari larutan resin prepolimer melamin urea formaldehid, diazinon, minyak kelapa sawit, serta surfaktan sodium dodecyl sulfat (SDS) dan polivinil alkohol (PVA). Karakterisasi terhadap produk mikrokapsul yang dihasilkan dilakukan dengan menggunakan mikroskop optik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikrokapsul MUF memiliki kisaran diameter 50 sampai 160 µm. Tanpa penambahan surfaktan, hasil mikrokapsul memiliki ketebalan 13,8 µm dan dengan penambahan SDS dan PVA tebal mikrokapsul yang dihasilkan sebesar 7,55 µ

    Pemodelan Matematis dan Simulasi Perpindahan Panas pada Fin Heat Exchanger

    Full text link
    Fin pada alat penukar panas merupakan tambahan luasan yang dapat memperbesar laju perpindahan panas. Pemodelan perpindahan panas pada Fin dilakukan untuk memprediksi pengaruh dari panjang fin (L), lebar fin (w), sudut fin (θ) dan jenis logam terhadap suhu pada ujung fin T (x=0) dan panas yang hilang (Q loss). Pada penelitian ini akan disusun persamaan matematis yang diselesaikan dengan Persamaan Bessel untuk menghitung distribusi suhu di sepanjang Fin dan menghitung panas yang hilang ke lingkungan. hasil perhitungan temperatur kemudian akan diuji statistik ANOVA untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing parameter dan interaksi parameter terhadap suhu pada ujung fin dan panas hilang. Dari hasil perhitungan didapat panas yang hilang berbanding secara linier dengan lebar, panjang dan sudut fin, sementara konduktifitas panas logam memiliki efek yang kecil terhadap peningkatan panas yang hilang. Interaksi panjang dengan lebar fin serta interaksi panjang dengan sudut fin memberikan efek yang positif terhadap peningkatan panas yang hilang. Interaksi panjang dan sudut fin dengan konduktifitas panas logam berpengaruh positif terhadap peningkatan suhu pada ujung fin

    Biosintesis Nano/mikro Partikel Perak dari Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Berbantu Gelombang Ultrasonik

    Get PDF
    Nano/mikro partikel perak menjadi perhatian bagi peneliti dikarenakan karakteristiknya yang unik dan dapat diaplikasikan pada berbagai bidang seperti obat, katalisis, industri tekstil maupun pada bidang pengolahan limbah. Tujuan dari penelitian ini adalah biosintesis hijau dari nano/mikro partikel perak menggunakan rumput laut Kappahycus alvarezi/Eucheuma Cottonii. Penggunaan rumput laut kappahycus Alvarezi dikarenakan ketersediaan rumput laut jenis ini di Indonesia melimpah serta memiliki banyak keuntungan diantaranya biosintesis nano/mikro partikel dari bahan alam yang lebih stabil. Penggunaan gelombang ultrasonik diharapkan dapat meningkatkan yield dan mempersingkat waktu ekstraksi. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan tahap pertama adalah memvariasikan waktu ekstraksi rumput laut berbantu gelombang ultrasonic selama 2,4,6, dan 8 menit dan rasio ekstrak rumput laut dan AgNO3 1:10,1:15 dan 1:15. Hasil uji spektrofotometer menunjukan panjang gelombang maksimum pada 320 nm dengan ukuran partikel berdasarkan pengujian SEM yang telah dilapisi sebesar 20 mikron

    Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan terhadap Mutu Rumput Laut Kering

    Full text link
    Indonesia sebagai salah satu penghasil rumput laut Eucheuma cottoni terbesar di Dunia maka di perlukan pengembanagn dalam penaganan hasil dari rumput laut yang dihasilkansalah satunya adalah tahap pengeringan rumput laut. Kandungan rumput laut merupakan salah satu bagian yang harus diperhatikan dalam pemrosesesan rumput laut. Mengingat manfaat rumput laut yang luas dalam industri kosmetik, pangan dan obat-obatan. Hasil penelitian ini bertujuan untuk menngetahui waktu dan suhu operasi dalam proses pengeringan serta memahami proses pengeringan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan massa kering rumput laut dalam 150 gram sebesar 12,75 gram serta kondisi optimum dalam proses pengeringan rumput laut, yaitu lama waktu pengeringan 4 jam dengan suhu 65oC yang dinyatakan dengan nilai moisture content sebesar 0,16 kg H2O/kg RL dengan laju pengeringan sebesar 3,63 kg H2O/m.jam dan sisa kadar air dalam rumput laut sebesar 1,36

    Perbandingan Metode Uji Kandungan Total Fenolik Dari Ekstrak Rumput Laut Eucheuma Cottonii Lontar Banten

    Full text link
    Rumput laut adalah suatu komoditas utama perikanan budidaya di Indonesia yang menopang hampir 58% dari total produksi perikanan budidaya tahun 2016 yang mencapai 19,46 juta ton. Salah satu rumput laut yaitu rumput laut E. Cottoni diketahui memiliki kandungan senyawa fenolik yang merupakan salah satu kandungan rumput laut yang berperan sebagai antioksidan. Rumput laut Eucheuma Cottonii terdapat senyawa flavonoid seperti catechin (gallocathecin, epicathecin, catechin gallate), flavonols, flavonol glycosides, caffeic acid, hesperidin, myricetin yang berfungsi sebagai antioksidan. Tujuan mengetahui metode ekstraksi terbaik dalam uji kandungan fenolik dalam rumput laut (Euchema cotonii) dan menentukan konsentrasi optimal pada pelarut (metanol) dalam proses ekstraksi rumput laut (Euchema cotonii). Penelitin ini dilakukan dengan cara mengekstraksi kandungan rumput laut dengan berbagai metode ekstraksi yaitu maserasi, ultrasonic dan microwave dengan konsentrasi pelarut etanol (25% ;50% ;75%) lalu dilakukan pengukuran kadar total fenolik dengan metode folin ciocalteau dan dianalisa absorbansinya dengan spectrophotometer UV-Vis. Hasil Total Phenolic Compound (TPC) terbaik dalam penelitian ini yakni pada metode ekstraksi ultrasonik dan dengan pelarut etanol pada konsentrasi 50% yakni sebesar 961.081 mg GAE / g ekstra

    KARAKTERISASI EMISI PAHs HASIL PEMBAKARAN DUPA DALAM RUANG EKSPERIMEN

    No full text
    Pembakaran dupa yang merupakan bagian dari ritual agama dan budaya mayoritas komunitas Oriental, diketahui berpotensi menyebabkan efek berbahaya akibat emisi yang menghasilkan berbagai jenis polutan. Telah dilakukan identifikasi senyawa Polycylic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) yang berasal dari emisi hasil pembakaran beberapa tipe dupa dalam sebuah ruang eksperimen. Studi ini dilakukan di Chulabhorn Research Institute, Thailand dengan tujuan untuk mengetahui tingkat emisi PAHs yang terikat dalam partikulat pada sampel-sampel dupa dari tiga negara (Indonesia, Thailand, dan Vietnam) yang dipilih secara acak. Dari hasil analisis PAHs menggunakan High Performance Liquid Chromatography dengan Fluorescence Detector (HPLC-FLD) diketahui bahwa komponen dominan dalam sampel dupa Indonesia dan Thailand adalah fluorenthane (Flu) dengan konsentrasi masing-masing 8.2±1.0 dan 3.5±0.5 mg/m3, sementara sampel Vietnam didominasi oleh komponen chrysene (CHR) (34.5±10.6 μg/m3). Sampel dupa Vietnam mengemisikan total PAHs ~5 kali lebih tinggi dari dupa Indonesia dan ~8 kali lebih tinggi dari dupa Thailand. Seluruh sampel mengemisikan Benzo[a]pyrene (BaP) dalam level serupa, meskipun konsentrasi dalam dupa Vietnam masih ~1.3 kali lebih tinggi dari dupa Indonesia dan ~1.8 kali dari dupa Thailand. Sementara untuk nilai BaP ekivalen, dupa Vietnam ~3.7 kali dan ~7kali lebih tinggi dari sampel Indonesia dan Thailand
    corecore