7 research outputs found

    IPTEKS DIVERSIFIKASI PENGOLAHAN SEMPOL IKAN AIR TAWAR DAN PEMANFAATAN BAWANG DAYAK SEBAGAI TOGA DI KELURAHAN PAHANDUT SEBERANG KECAMATAN PAHANDUT KOTA PALANGKARAYA

    Get PDF
    Kelurahan Pahandut adalah salah satu kelurahan di wilayah Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya dengan topografi dataran rendah, berawa-rawa dan selalu terlimpasi oleh luapan air sungai Kahayan dalam waktu beberapa bulan bila musim banjir tiba. Lokasi kegiatan Pahandut Seberang merupakan salah satu wilayah pemukiman yang cukup padat di kelurahan Pahandut adalah dimana masyarakatnya bertempat tinggal di bantaran sungai Kahayan, dengan model rumah panggung yang terbuat dari kayu dan akses jalan sempit didominasi oleh jembatan kayu (titian), sehingga tidak mempunyai lahan pekarangan yang memadai sebagai tempat budidaya tanaman. Dilain pihak, peningkatan gizi masyarakat masih perlu ditingkatkan melalui penyuluhan nilai gizi ikan dan menumbuhkan kreativitas dalam mengolah produk ikan untuk keperluan konsumsi dan usaha kuliner sebagai sumber pendapata

    Analisis penelusuran dan penanggulangan banjir sungai Seruyan di Kabupaten Seruyan

    Get PDF
    Pada tahun 2020 dan 2021, Sungai Seruyan meluap hingga menyebabkan sebagian masyarakat mengungsi. Penelitian bertujuan menemukan cara yang efektif untuk mengendalikan banjir di Sungai Seruyan. Data primer diperoleh dari pengukuran lapangan, sedangkan data sekunder berupa data curah hujan, data topografi, peta tutupan lahan, dan data geometri sungai diperoleh dari instansi pemerintah. Penelitian dibagi menjadi dua tahap, yaitu analisis hidrologi menggunakan HEC-HMS 4.10 dan analisis hidrolik menggunakan HEC-RAS 6.2. Volume banjir puncak dihitung dengan mensintesis hidrograf satuan menggunakan metode SCS dan Snyder. Unit analisisnya adalah Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Tanggul Harapan di desa Pematang Limau di kabupaten Seruyan Hilir dan desa Mekar Indah di kabupaten Seruyan Hilir Timur. Simulasi dengan periode ulang curah hujan 50 tahun sebelum penanganan banjir menunjukkan bahwa wilayah UPT Tanggul Harapan tergenang 94,96% dan wilayah desa Mekar Indah tergenang 40,72%. Simulasi pengendalian banjir dengan membangun bendungan sepanjang 20.111 m, elevasi 5 m dpl, lebar 7 m dan 4 pintu air menunjukkan perubahan luasan banjir yang signifikan di dua wilayah tersebut, yaitu 1,23% di UPT Tanggul Harapan dan 0,80% di Mekar Indah. Desa. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penanganan banjir dengan membangun bendungan dapat mengurangi luasan banjir sebesar 93,19% di UPT Tanggul Harapan dan 39,92% di Desa Mekar Indah. &nbsp

    Potensi Steroid Alami Tumbuhan Pasak Bumi (Eurycoma Longifolia Jack) Untuk Maskulinisasi Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)

    Get PDF
    Laporan hasil disertasi dengan judul “Potensi Steroid Alami Tumbuhan Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack) Untuk Maskulinisasi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)“ bertujuan menganalisis kandungan senyawa bioaktif steroid dari bagian tumbuhan Pasak Bumi untuk mendapatkan pelarut, metode ekstraksi yang menghasilkan steroid tertinggi, mengisolasi stigmasterol dari bagian tumbuhan pasak bumi yang memiliki kandungan steroid tertinggi dan menganalisis performa ekstrak steroid dan ekstrak kolom stigmasterol tumbuhan Pasak Bumi pada maskulinisasi ikan Nila. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahapan dengan perincian sebagai berikut: Tahapan Pertama. Melakukan analisis dan karakterisasi senyawa aktif tumbuhan Pasak Bumi yang diawali dengan penyiapan bahan baku bagian tumbuhan Pasak Bumi berupa akar, batang, kulit, daun dan ranting berbentuk serbuk halus atau tepung (Powder). Pengujian proximat untuk mengetahui persentase kandungan protein, lemak, air , karbohidrat dan kadar abu. Pengujian fitokimia bagian tumbuhan Pasak Bumi secara kualitatif dengan menganalisis golongan senyawa alkaloid, flavanoid, saponin, terpenoid, polifenol dan steroid pada bagian akar, batang, kulit, daun dan ranting. Analisis kandungan senyawa bioaktif steroid dari bagian tumbuhan Pasak Bumi memperlihatkan efektivitas metode pengekstraksi pada bagian tumbuhan Pasak Bumi adalah akar yang direflux dengan pelarut metanol (rendemen 9,22%), ranting yang disoklet dengan pelarut metanol (rendemen 6,09%), batang yang direflux dengan pelarut metanol (rendemen 4,30%), daun yang direflux dengan pelarut metanol (rendemen 3,87%) dan kulit yang disoklet dengan pelarut metanol (rendemen 3,37%). Berdasarkan analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ekstrak metanol, kloroform, aseton dari daun, ranting, kulit, batang dan akar tumbuhan Pasak Bumi yang dibandingkan terhadap kedua senyawa standar (stigmasterol dan testosteron) dan analisis data ekstrak yang dihasilkan dengan variasi metode ekstraksi (maserasi, sokletasi dan reflux) dengan variasi pelarut (metanol, aseton, kloroform, kloroformmetanol (1:1)) dapat dijelaskan bahwa dari kedua senyawa target stigmasterol dan testosteron, hanya stigmasterol yang teridentifikasi pada bagian daun, ranting, kulit, batang dan akar sedangkan testosteron tidak teridentifikasi pada kelima bagian tumbuhan Pasak Bumi tersebut. Tahapan Kedua. Mengisolasi stigmasterol dari bagian tumbuhan Pasak Bumi yang memiliki rendemen ekstrak tertinggi dan kandungan steroid tertinggi yaitu bagian akar. Pemisahan ekstrak metanol akar tumbuhan Pasak Bumi dilakukan dengan metode kromatografi kolom untuk mendapatkan kristal stigmasterol, dari 1.095 gram total sampel tepung akar pasak bumi dihasilkan ekstrak metanol sebanyak 54,98 gram dengan persentase massa ekstrak rata-rata sebesar 4,93 % tepung akar pasak bumi. Stigmasterol sebanyak 590,1 mg dengan persentase stigmasterol total dalam ekstrak metanol sebesar 5,40 % dan rata-rata persentase stigmasterol dalam akar tumbuhan pasak bumi adalah 1,35 %. Penentuan struktur kimia menggunakan spektrometer FTIR menunjukkan bahwa isolat merupakan senyawa steroid dengan gugus fungsi OH, C=C nonkonjugasi, C-O, dan C-H serta memiliki massa molekul m/z 396. Data interpretasi menunjukkan kemiripan dengan senyawa sterol. xii GC-MS Ekstrak metanol akar tumbuhan Pasak Bumi ditemukan 31 jenis senyawa. Persentase kandungan senyawa berkisar antara 0,93% sampai dengan 10,39% dan terdapat 5 jenis senyawa yang tidak diketahui namanya. Kandungan senyawa stigmasterol dalam ekstrak metanol yang di uji sebanyak 5,97%. Jenis steroid lainnya berupa sitosterol sebanyak 3,22%; senyawa spinasteron sebanyak 4,62% dan sebanyak 1,12% senyawa estratriennol sedangkan pengujian melalui GC-MS ekstrak kolom stigmasterol akar tumbuhan Pasak Bumi memperlihatkan ekstrak kolom yang dihasilkan masih belum sepenuhnya senyawa stigmasterol. Sebanyak 15 jenis senyawa yang teridentifikasi. Persentase senyawa Stigmasterol hanya sebesar 32,82%. Senyawa lainya yang tergolong tinggi dari jenis steroid adalah Beta sitosterol 23,41% dan Kampesterol sebanyak 13,21%. Jenis steroid lainnya yang teridentifikasi adalah Spinastenon sebesar 2,1%; Sitostenon sebesar 1,27%;Stimastenon sebanyak 0,96% dan terdapat satu senyawa yang tidak teridentifikasi sebesar 0,9%. Pengujian LC-MS/MS dari 22 jenis asam amino yang di analisis hanya teridentifikasi sebanyak 19 jenis asam amino pada ekstrak metanol akar tumbuhan Pasak Bumi. Jumlah Arginin sebesar 2.360 mg/kg, Asam glutamat sebesar 1.230 mg/kg, Prolin sebesar 802 mg/kg, Asam aspartat 633 mg/kg dan lainnya sementara pada ekstrak kolom Stigmasterol hanya teridentifikasi 2 jenis asam amino yaitu Serin sebesar 0,42 mg/kg dan Fenil alanin sebesar 0,27 mg/kg. Tahapan Ketiga. Persentase Jantan. Maskulinisasi ikan Nila menggunakan ekstrak metanol (EPB) dan ekstrak kolom stigmasterol (SPB) akar tumbuhan pasak bumi dengan analisis anova menunjukkan pengaruh pada persentase Jantan (P<0,05). EPB melalui pakan menghasilkan persentase jantan (80,36% - 82,10%) lebih tinggi dari EPB melalui perendaman (72,66% - 76,36%) sedangkan persentase jantan SPB melalui peredaman (65,82% - 67,14%) memperlihatkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan SPB melalui pakan (63,92% - 66,97%). Persentase jantan menggunakan 17α-Metil testosteron (MT) baik melalui perendaman (83,99%) dan melalui pakan (88,53%) masih lebih lebih tinggi dibandingkan pemberian EPB dan SPB. Persentase Interseks. Analisis Anova menunjukkan pengaruh pada interseks Ikan Nila (p<0,05). Ikan nila yang yang tidak diberikan hormon (kontrol negatip) tidak tejadi fenomena interseks (0%) tetapi EPB melalui perendaman interseks yang terjadi (7,83% - 9,99%), EPB melalui pakan (6,71% - 6,96%), SPB melalui perendaman (7,13% - 10,36%) dan SPB melalui pakan (7,38% - 9,76%). Terlihat kecenderungan fenomena interseks lebih tinggi terjadi melalui perendaman dibandingkan melalui pakan. Kelangsungan hidup. Analisis anova menunjukkan tidak ada pengaruh perlakuan (p>0,05), kecuali pemberian EPB melalui pakan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup (p<0,05). Kelangsungan hidup ikan Nila dengan pemberian EPB melalui pakan (86,00% - 88,67%), EPB melalui perendaman (80,67% - 85,33%), SPB melalui pakan (80,67% - 82,67%) dan SPB melaui rendam (82,00% - 84,00%). Kecenderungan data memperlihatkan pemberian EPB baik melalui perendaman maupun lewat pakan menunjukkan kisaran nilai kelansungan hidup ikan nila yang lebih tinggi. Persentase Laju Pertumbuhan Harian (SGP). Analis anova memperlihatkan pemberian EPB berpengaruh pada persentase laju pertumbuhan harian (SGP) (p<0,05) sedang pemberian SPB tidak berpengaruh (p>0,05). SGP pemberian EPB melalui pakan (0,156% - 0,162%), pemberian EPB melalui perendaman (0,134% - 0,150%), pemberian SPB melalui pakan (0,127% - 0,129%) dan pemberian SPB melalui perendaman (0,125% - 0,127%). EPB memperlihatkan kecenderungan SGP lebih tinggi dibandingkankan SPB dan EPB melalui pakan menunjukkan SGP yang lebih tinggi dibandingkan EPB melalui perendaman, SPB melalui pakan dan SPB melalui rendam. SGP melalui pakan cenderung lebih tinggi dibandingkan SGP melalui perendaman. Pertumbuhan Mutlak atau Pertambahan Berat (gram). Analis anova memperlihatkan pemberian EPB berpengaruh pada pertambahan berat (gram) (p<0,05) sedang pemberian SPB tidak berpengaruh (p>0,05). Pertambahan berat pemberian EPB melalui pakan (9,35 gram – 9,65 gram), pemberian EPB melalui perendaman (8,07 gram – 9,02 gram), pemberian SPB melalui pakan (7,67 gram – 7,73 gram) dan pemberian xiii SPB melalui perendaman (7,49 gram – 7,60 gram). EPB memperlihatkan pertambahan berat lebih besar dibandingkankan SPB dan EPB melalui pakan menunjukkan SGP yang lebih tinggi dibandingkan EPB melalui perendaman, SPB melalui pakan dan SPB melalui rendam. Secara umum pertambahan berat melalui pakan lebih tinggi dari pemberian melalui perendaman. Gambaran histologi. Semua perlakuan menunjukkan adanya perkembangan pada diameter tubulus seminiferus gonad ikan Nila. Gambaran histologi perlakuan yang menerima hormon, perkembangan diameter terlihat lebih cepat (besar) dibandingkan dengan tanpa hormon atau perlakuan kontrol negatip. Profil hormon testosteron. Semua ikan nila yang digunakan telah memiliki testosteron alamiah di dalam tubuhnya yang terlihat dari data ikan yang digunakan sebelum perendaman dan sebelum pemberian pakan memperlihatkan keberadaan hormon. Terdapat perbedaan pola antara perendaman dengan yang melalui pakan. Melalui perendaman hormon testosteron melonjak drastis (H-0) kemudian turun secara Fluktuatif hinga (H-60) sedangkan melalui pakan, hormon testosteron dari (H-0) meningkat hingga (H-15) kemudian turun secara fluktuatif hingga (H-60)
    corecore