20 research outputs found
Analisis Nilai Tambah Dan Kelayakan Finansial Industri Minyak Serai Wangi
Kelompok Tani Minyak Serai Wangi Berkat Yakin merupakan kelompok tani penggerak diDesa Balai Batu Sandaran yang mengelola industri penyulingan minyak serai wangi. Pengolahan serai wangi harus memperhatikan aspek efisiensi dan efektifitas agar mampu memberikan keuntungan yang maksimal dan meningkatkan nilai tambah pada serai wangi. Tujuan penelitian adalah menentukan nilai tambah dan kelayakan finansial USAha minyak serai wangi pada Industri Minyak Serai Wangi Berkat Yakin Desa Balai Batu Sandaran. Analisis data dilakukan dengan Metode Hayami dan parameter kuantitatif dalam analisis kelayakan finansial ditunjukkan oleh indikator seperti: Benefit Cost Ratio (B/C),Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV) dan Payback Periods (PBP). Hasil analisis nilai tambah yang diperoleh dari hasil pengolahan serai wangi dengan bahan baku 25.000kg menjadi minyak serai wangi sebanyak 400 kg adalah Rp.3.080/kg. Sedangkan rasio nilai tambah produk minyak serai wangi adalah sebesar 84%, artinya 84% dari nilai output (produk minyak serai wangi) merupakan nilai tambah yang diperoleh dari proses pengolahan serai wangi menjadi minyak serai wangi. Hasil perhitungan analisis kelayakan finansial industri minyak serai wangi didapatkan NPV Rp. 1.635.698.925,- IRR 37,60%,B/C Ratio 1,45, dan PBP adalah 3 tahun 6,5 bulan. Ditinjau dari aspek ekonomi, USAha produksi minyak serai wangi dapat dikatakan layak dan menguntungkan
MODEL PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO DAN BIOETANOL LIMBAH KULIT KAKAO DI SUMATERA BARAT
Abstrak
Model pengembangan industri kakao dan bioetanol limbah kulit kakao dibangun berdasarkan pada : (1) faktor yang mempengaruhi dan tujuan pengembangan; (2) manajemen risiko rantai pasok; (3) lokasi pengembangan; (4) kelayakan investasi; dan (5) nilai tambah pengolahan kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi pengembangan industri kakao di Sumatera Barat adalah biaya investasi tetap, pemasaran hasil olahan, ketersediaan sarana dan prasarana, dukungan pemerintah, ketersediaan dan kontinuitas bahan baku. Faktor utama yang mempengaruhi pengembangan industri bioetanol adalah biaya investasi tetap, dukungan pemerintah, ketersediaan sarana dan prasarana, pemasaran bioetanol, dan teknologi proses pengolahan. Tujuan pengembangan industri kakao adalah pengembangan industri hilir, meningkatkan nilai tambah, dan meningkatkan ekonomi pedesaan. Tujuan pengembangan industri bioetanol adalah pengolahan dan pemanfaatan limbah kulit kakao, peningkatan daya guna berbagai sumber potensial untuk bahan baku bioetanol, dan pengembangan industri hilir. Manajemen risiko rantai pasok pengembangan industri kakao menunjukkan bahwa sumber risiko rantai pasok yang potensial adalah risiko produksi. Jenis risiko tertinggi adalah risiko ketersediaan modal investasi industri, kebijakan pemerintah, keterampilan dan pengetahuan personal, biaya proses produksi, dan ketidakpastian harga. Manajemen risiko rantai pasok industri bioetanol menunjukkan bahwa risiko produksi berada pada risiko utama yang potensial terjadi. Jenis risiko tertinggi adalah kebijakan pemerintah, keterampilan dan pengetahuan personal, dan ketersediaan modal investasi. Usaha pengendalian risiko pada industri kakao dan bioetanol sesuai dengan nilai prioritas pada Risk Operational Process (ROP) adalah melemahkan risiko, pemisahan risiko, dan menghindari risiko. Pengendalian dilakukan dengan Operational Key Process (OKP), Operational Process Cycle (OPC), dan Organization Performance Factor (OPF). Daerah yang paling berpotensi untuk pengembangan industri kakao dan bioetanol limbah kulit kakao adalah Kabupaten Lima Puluh kota, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Tanah Datar. Berdasarkan kriteria (NPV, IRR, Net B/C Ratio, PBP, dan analisis sensitivitas) pengembangan industri kakao kapasitas 250 kg/hari layak untuk dilaksanakan. Berdasarkan kriteria (NPV, IRR, Net B/C Ratio, PBP, dan analisis sensitivitas) pengembangan industri bioetanol kapasitas 300 liter/hari layak untuk dilaksanakan. Nilai tambah pengolahan biji kakao menjadi lemak kakao adalah sebesar Rp 83.000,-/kg atau 73% dari nilai outputnya. Nilai tambah pengolahan biji kakao menjadi bubuk kakao adalah sebesar Rp 59.000,-/kg atau 66% dari nilai outputnya. Nilai tambah pengolahan limbah kulit kakao menjadi bioetanol adalah sebesar Rp 1.390,-/kg atau 70% dari nilai outputnya.
Kata kunci : model pengembangan industri, industri kakao, industri bioetanol limbah kulit kaka
KOMPARASI RASIO KESEHATAN BANK DAN STATUS KEPEMILIKAN TERHADAP PROFITABILITAS PERBANKAN
Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh variabel CAR, NIM, LDR, NPL dan BOPO, terhadap ROA dan perbandingan antara bank asing dengan bank domestic pada industri perbankan di Indonesia periode Tahun 2013-2017. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan di Indonesia Periode Tahun 2013-2017. Sampel penelitian menggunakan purposive sampling. Sampel diambil dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2013-2017. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi berganda dengan persamaan kuadrat terkecil dan uji hipotesis menggunakan t-statistik untuk menguji koefisien regresi parsial serta f-statistik untuk menguji keberartian pengaruh secara bersama-sama dengan level of significance 5%. Selain itu juga dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas.
Selama periode pengamatan menunjukkan bahwa data penelitian berdistribusi normal. Berdasarkan hasil penelitian tidak ditemukan ditemukan adanya penyimpangan asumsi klasik, hal ini menunjukkan bahwa data yang tersedia telah memenuhi syarat untuk menggunakan model persamaan regresi linier berganda. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa NIM, BOPO dan NPL berpengaruh secara parsial signifikan terhadap ROA pada level of significance kurang dari 5%, dan terdapat perbedaan kinerja bank antara bank asing dengan bank domesti
PENGEMBANGAN ALAT PRODUKSI BIOETANOL LIMBAH KULIT UBI KAYU
The use of fossil fuels in Indonesia reached a high figure. On the other hand, the use of fossil fuels is not wise will result in global warming and climate change. Bioethanol is a source of renewable energy that can be (re-newable) with exhaust emissions of environmental friendly (eco-friendly). The raw material for bioethanol production is material sugary, starchy and fibrous. The purpose of research is to develop bioethanol production tools are appropriate and focus on the development of distillation equipment and conduct a performance test tool with leather waste materials which contain fiber cassava. Development of distillation equipment starting from the structural design is a design that reveals how the bioethanol distillation apparatus is composed of components that are built, the next is the functional design is a design that provides information about the function of components - tool components. The next stage is the process of making the main components and supporting components, followed by the assembly, finishing and testing equipment. The results of this research have been developed bioethanol distillation apparatus with the following specifications: Tank diameter 40 cm, height 60 cm tank, made of stainless steel with a thickness of 2 mm. Tank capacity of 40 liter.Dari trial results on skin distillation process results showed that the yield of cassava peel cassava ethanol produced was 10.3% at the distillation temperature and time 71ᵒC distillation for 5 hours, the ethanol distilled purity level is 63.4%, and 2.36 tool work capacity liters / hour
Analisis Sifat Fisikokimia Keju Mozarella dengan Penambahan Antosianin dari Bubuk Bunga Telang (Clitoria ternatea)
Kelopak Bunga telang (Clitoria ternatea) mempunyai pigmen antosianin yang dapat digunakan sebagai alternatif pewarna alami untuk memberikan warna ungu-biru. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian bunga telang terhadap sifat fisikokimia keju Mozzarella. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari A=0%, B=0,25%, C=0,50%, D=0,75% dan E=1,00%. Variabel yang dilihat meliputi sifat kimia (antosianin dan pH), sifat fisik (nilai b*), kualitas mutu hedonik dan kualitas hedonik. Pemberian bubuk bunga telang memiliki pengaruh pada kandungan antosianin, nilai b*, nilai pH, warna, tekstur dan rasa. Namun, pemberian bubuk bunga telang tidak memiliki pengaruh pada mutu hedonik aroma. Persentase bubuk bunga telang yang memiliki pengaruh terbesar pada pengujian warna terdapat pada perlakuan E (1,00%) dengan rata-rata kadar antosianin (27,18) mg/g, nilai b* (-18,66), nilai pH (5,58) dan uji skor tinggi subjek pada tingkat tekstur hedonis (4,93) dan rasa hedonis (4,63). Pemberian bubuk bunga telang sebanyak 1,00% pada keju Mozzarella menjadikan kandungan antosianin tertinggi, warna terbiru, serta tekstur yang sangat disenangi panelis
Analisis Kelayakan Finansial Industri Yogurt Skala UMKM
Pengembangan industri yogurt mempunyai keterkaitan kuat antara beberapa aspek diantaranya adalah aspek kelayakan finansial. Berdasarkan hal tersebut, maka pengembangan industri yogurt perlu kajian struktur biaya dan kelayakan secara finansial. Tujuan penelitian adalah menentukan struktur biaya dan analisis kelayakan finansial industri yogurt dengan kriteria Net-Benefit Cost Ratio (Net-B/C-ratio), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Periods (PBP). Metode penelitian menggunakan pendekatan survey, data yang dikumpulkan adalah data primeradan data sekunder. Hasil kajian struktur biaya untuk pengembangan industri yogurt skala UMKM membutuhkan biaya investasi seluruhnya sebesar Rp. 1.634.270.000,-, biaya investasi tetap adalah Rp. 1.485.700.000,-,. Biaya produksi (total biaya tetap dan biaya variabel) yang dibutuhkan untuk 36.000 liter/tahun yogurt adalah sebesar Rp. 1.134.867.000,-/tahun, dengan penerimaan sebesar Rp.1.440.000.000,-/tahun, sedangkan pendapatan bersih setelah dikurangi pajak pendapatan adalah sebesar Rp. 238.003.740,-/tahun. Hasil analisa kriteria kelayakan investasi Net-B/C-ratio adalah sebesar 2,007, NPV sebesar Rp. 1.790.640.881 , IRR sebesar 19,8% , dan PBP selama 6 tahun 3 bulan
Rancang Bangun Alat Pemeras Santan Portable Dengan Sistem Ulir Horizontal
Santan kelapa adalah komoditas pertanian serbaguna, terutama sebagai bahan makanan dalam hidangan dan minuman, dengan nilai ekonomi yang tinggi. Berbagai desain mesin telah dikembangkan untuk mendukung industri pengolahan santan. Salah satu metode tersebut adalah ekstraksi mekanis menggunakan proses pengepresan. Makalah ini menyajikan desain dan pengembangan alat ekstraktor santan kelapa portabel dengan sistem ulir horizontal. Setelah desain selesai, dilakukan pengujian kinerja dan evaluasi ekonomi, yang menunjukkan kapasitas rata-rata sebesar 11,3 kg/jam dan titik impas (BEP) sebesar 2.925,57 kg/tahun. Mesin ini juga mencapai hasil rendemen hingga 76%. Pengujian kinerja lebih lanjut menunjukkan bahwa suhu air secara signifikan memengaruhi proses ekstraksi sebagai katalis. Secara khusus, penggunaan air mendekati titik didih menghasilkan hasil optimal. Mesin portabel ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan teknologi usaha mikro dan kecil dalam pengolahan santan kelapa
Analysis of Cocoa Industry Development Factor with System Approach in West Sumatera, Indonesia
The opportunity to develop cocoa industry in West Sumatera is higher with the increase of cocoa production. In the development of the cocoa industry needs to consider various factors, while also needs to study the relationship between the government, farmers and cocoa industry that contained in one system. The purpose of this research is to analyze the cocoa industry development factor with the system approach and to determine the right location for the development of cocoa industry in West Sumatera. The collected data is primary and secondary data. Scoring is done using paired comparison techniques that are aggregated from expert opinion. Determination of cocoa industry development location is held by analitical hierarchy process (AHP) technique. The result of analysis shows that the cocoa processing industry development processors consist of 5 groups, there are (1) mean industry (cocoa industry), (2) buyer, (3) supplier farmers, (4) supporting industries, and (5) supporting institutions. The most important factors in the development of the cocoa industry are fixed investment costs (0.153), marketing of processed cocoa (0.147), availability of facilities and infrastructure (0.139), availability and continuity of raw materials (0.108), and government support (0.097). The most potential areas for the development of the cocoa industry are 50 Kota District (0.183), Padang Pariaman District (0.166), and Tanah Datar District (0.163)
Supply Chain Risk Management of The Small-Scale Industry in West Sumatera
The existing cacao industry in West Sumatera is a small scale cacao industry. One of the risks encountered in this industry is that the production does not meet the target and the specification set, resulting in the difficulties for the industry to develop. The objective of the research is to conduct a supply chain risk management in the small scale cacao industry in West Sumatera. . This research used a survey approach method. While the data collected were primary and secondary data. The supply chain management process used descriptive method and Analytic Network Process (ANP). Study on cacao industry chain supply risk source showed indicates that production risks are in the highest priority with a value of 21.78%. The marketing, financial, institutional and human resource risks have the same priority risk i.e. 19.55%. The highest priority of risk types includes the risk of availability of industrial capital, government policy, skills and personal knowledge, and production process cost, with the priority values of 0.102634; 0.101024; 0.099903; and 0.041294 respectively. An alternative risk control priority is to weaken risk (0.39191), and risk segregation (0.25798). Supply chain risk management needs to be held by weakening and segregating risks through improving product management, supply management and information management prioritized on procurement and production processes, thereby enhancing the quality and quantity of processed cocoa products on an ongoing basis. The results of the study can become an input to stakeholders related to the development of small-scale cocoa industry in West Sumatera.</p
