51 research outputs found

    PENALARAN TENTANG KONSEP-KONSEP GRAFIK PADA MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNIVERSITAS TANJUNGPURA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran dan kejelasan penalaran mahasiswa Pendidikan Matematika tentang konsep-konsep grafik, yaitu pemahaman menginterpretasi data pada grafik, pemahaman mentransfer data ke dalam bentuk diagram dan grafik, dan mentransfer fungsi ke dalam bentuk grafik. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya mahasiswa semester I memahami konsep grafik dengan baik, memiliki pemahaman membaca data pada diagram atau grafik, dan memiliki pemahaman menginterpretasi data pada grafik. Sebagian mahasiswa kesulitan memprediksi simpulan berdasarkan data yang tersedia. Pemahaman mahasiswa semester V tentang grafik lebih beragam dan belum tepat, belum memiliki pemahaman membaca data pada grafik, dan sebagian besar kesulitan memprediksi simpulan berdasarkan data yang tersedia, atau kesulitan memberikan pendapat yang bersifat argumentatif. Umumnya mahasiswa sudah memiliki pemahaman mentransfer data ke bentuk diagram atau grafik. Namun ketidakmampuan melengkapi grafik berdasarkan data yang diberikan masih dialami sebagian mahasiswa, khususnya pada semester V. Mahasiswa semester I sudah memiliki pemahaman fungsi pada grafik dan pemahaman dalam mentransfer suatu fungsi ke dalam bentuk grafik. Tetapi pemahaman ini cenderung kurang dimiliki mahasiswa semester

    ANALISIS STRENGTH, WEAKNESS, OPPORTUNITY DAN THREAT (SWOT) PEMBINAAN ATLETIK DI PERSATUAN ATLETIK SELURUH INDONESIA (PASI) KABUPATEN LUMAJANG

    Get PDF
    Abstrak Kabupaten Lumajang sering dijuluki sebagai ladang atlet lari jarak menengah-jauh. Hal ini terbukti dengan adanya atlet atletik Kabupaten Lumajang yang mampu menembus hingga tingkat internasional. Namun berbeda dengan nomer atletik selain nomer lari jarak menengah-jauh yang bahkan sangat jarang juara walau hanya ditingkat provinsi Jawa Timur saja. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apa kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Lumajang dalam upaya pembinaan olahraga atletik di Kabupaten Lumajang yang kaitannya dengan faktor-faktor penentu prestasi olahraga. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deksriptif dan menggunakan metode Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh pelatih menyebabkan program latihan disusun berdasarkan pengalaman pelatih, sehingga variasi program latihan kurang dan atlet merasa bosan saat berlatih, (2) kurangnya minat SDM untuk menjadi pelatih atletik di Kabupaten Lumajang sedangkan penataran pelatih pernah diadakan dan diikuti oleh guru olahraga se-Kabupaten Lumajang, (3) Kurangnya minat atlet untuk menjadi atlet di nomer selain lari dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki pelatih yang seluruhnya merupakan mantan atlet lari jarak menengah-jauh, (4) Dijulukinya Kabupaten Lumajang sebagai ladang atlet lari jarak menengah-jauh dikarenakan seluruh pelatih atletik PASI Kabupaten Lumajang merupakan mantan atlet jarak menengah-jauh pula dan didukung oleh letak geografis Kabupaten Lumajang yang merupakan daerah pegunungan yang memiliki kadar oksigen yang rendah. Dengan kadar oksigen yang rendah dapat meningkatkan volume paru yang besar, sehingga kapasitas VO2Max dan kapasitas vital paru atlet di daerah pegunungan sangat tinggi dikarenakan aklimatisasi faktor lingkungan secara alami. Kata Kunci: Analisis SWOT, Atletik, PASI Lumajan

    Struktur dan Kemampuan Tumbuh Kembali Hutan Mangrove Cikiperan Cilacap

    Get PDF
    Study was conducted to know forest structure and regeneration of mangrove Cikiperan Cilacap. Transect method was used for this study, the data of seedling were collected by quadrat method, sapling and tree were collected by quarter method. The result of this research showed there were 7 species seedling, 11 species sapling and 18 species trees. Dominant species was Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorhiza, Avicenia alba, Aegiceros corniculatum, Nypa fruticans, and Ficus retusa. The forest of mangrove regeneration was generally very good. Seven species, however, were recorded in critical condition, i.e. Ceriops tagal, Sonneratia alba, Intsia bijuga, Cynometra ramniflora, Cerbera adolam, Leucaena leucodendrom, and Lumnitzera littorea

    Hubungan Umur dengan Stok Karbon Pohon Duku (Lansium parasiticum) di Desa Kalikajar Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga

    Get PDF
    This research entitled "Age Relationship with Carbon Dioxide Stock of Duku Tree (Lansium parasiticum) in Kalikajar Village, Kaligondang District, Purbalingga Regency". The puspoe of this research are: 1) Knowing the effect of stand age on the amount of carbon dioxide stock stored in duku stands (Lansium parasiticum) in Kalikajar Village, Kaligondang District, Purbalingga Regency. 2) Knowing the age of duku plants (Lansium parasiticum) in Kalikajar Village, Kaligondang District, Purbalingga Regency which has the most potential carbon dioxide stock. The research used survey method by determining tree biomass using stratified random sampling. The strata used is the age of duku plants. Each age strata is taken 3 trees to measure its diameter. The land area is divided by the planting distance to get the results of plant density in that location. Measurement of stand stem diameter is carried out on stand stems at the researchers' chest height (at breast height or dbh). The measuring tape is wrapped around the stand stems in a parallel position for all directions so that the data obtained is the circumference or convolution of the stem (circumference of the stem = 2πr). Age, biomass, and carbon stock data were analyzed using variance analysis (Anova), while the relationship between biomass and carbon stock was analyzed using Pearson correlation and regression analysis. The regression analysis between age and carbon dioxide stock shows an exponential pattern. The lowest corbon dioxide stock of the duku plant is found in the age group <5 years, which is 9.54 tons/ha, while the largest carbon dioxide stock of the duku tree is in the age group > 30 years (40 years) which is 74.89 tons/ha.  Thus, this study has not yet gotten the most optimal tree age in storing carbon dioxide. Therefore it is necessary to do research on duku trees that are older than 40 years.Penelitian ini yang berjudul ”Hubungan Umur dengan Stok Karbon Dioksida Pohon Duku (Lansium parasiticum) di Desa Kalikajar Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga”. Penelitian dengan tujuan: 1) Mengetahui pengaruh umur tegakan terhadap jumlah stok karbon dioksida yang tersimpan pada tegakan duku (Lansium parasiticum) di Desa Kalikajar, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga. 2) Mengetahui umur tanaman duku (Lansium parasiticum) di Desa Kalikajar, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga yang memiliki potensi stok karbon dioksida paling banyak. Penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan penentuan biomassa pohon dilakukan dengan metode metode stratified random sampling Strata yang digunakan adalah umur tanaman duku. Setiap strata umur diambil 3 pohon untuk diukur diameternya. Luas lahan dibagi dengan jarak tanam untuk mendapatkan hasil kerapatan tanaman di lokasi tersebut. Pengukuran diameter batang tegakan dilakukan pada batang tegakan setinggi dada peneliti (diameter at breast height atau dbh). Pita ukur dililitkan pada batang tegakan dengan posisi yang sejajar untuk semua arah sehingga data yang diperoleh adalah lingkar atau lilit batang (keliling batang = 2πr). Data umur, biomasa, dan stok karbon dianalisis dengan menggunakan analisis varian (Anova), sedangkan hubungan antara biomasa dengan stok karbon dianalaisis menggunakan analisis regresi dan korelasi Pearson. Hasil analisis regresi antara umur dengan stok karbon dioksida menunjukkan pola eksponensial. Stok korbon dioksida terendah tanaman duku terdapat pada kelompok umur <5 tahun, yaitu 9,54 ton/ha, sedangkan stok karbon dioksida terbesar pohon duku terdapat pada kelompok umur >30 tahun (40 tahun) yaitu 74,89 ton/ha. Dengan demikian maka penelitian ini belum mendapatkan umur pohon yang paling optimal dalam menyimpan karbon dioksida. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pada pohon duku yang lebih tua dari 40 tahun

    Keanekaragaman Kultivar Mangga (Mangifera indica L.) Di Kabupaten Tangerang

    Get PDF
    Mango (Mangifera indica L.) is a tropical fruit that is in demand by many people so that it can be found throughout Indonesia. Mangoes have a wide variety of morphology. This diversity occurs because of crossbreeding, natural selection, human influence, evolution and even environmental influences of each location. The research aims to determine the morphological variation of mango cultivars in Tangerang Regency and to know the relationship of similarities based on morphological characteristics. The research was conducted in Tangerang Regency by survey method, with purposive sampling techniques. The bound variables in this study were types of mango cultivars, while free variables covered the height of the place, temperature, humidity, light and pH of the soil. The observed parameters include the morphological characteristics of stems, leaves, fruits and seeds. Mango sample data is analyzed by descriptive method. Medium to know the relationship of similarities analyzed with MEGA X using UPGMA method. The results of research from four sub-districts in Tangerang district found 14 types of cultivars. The similarity relationship based on 22 morphological characteristics results in phenograms divided into 2 main groups. M. indica 'Madu' with M. indica  'Manalagi' and M. indica 'Khiosaway' with M. indica 'Namdokmai' has the closest relationship with the disimilarity index of 0.182. M. indica L. 'Chokanan' and M. indica L. 'Gedong' have the furthest relationship with the disimilarity index of 0.682. Mangga (Mangifera indica L.) merupakan buah tropika yang diminati banyak orang sehingga dapat ditemukan di seluruh Indonesia. Mangga memiliki berbagai macam variasi morfologi. Keragaman ini terjadi karena adanya perkawinan silang, seleksi alam, pengaruh manusia, evolusi bahkan pengaruh lingkungan tiap lokasi Pengaruh lingkungan menyebabkan pertumbuhan daun, batang, akar, serta buahnya mengalami perbedaan pada setiap pohon. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman kultivar mangga di Kabupaten Tangerang dan mengetahui hubungan kemiripan berdasarkan karakterteristik morfologi.  Penelitian dilakukan di Kabupaten Tangerang dengan metode survey, dengan tehnik pengambilan sampel secara Purposive Sampling. Parameter yang diamati meliputi karakteristik morfologi batang, daun, buah dan biji. Data sampel mangga dianalisis dengan metode deskriptif. Sedang untuk mengetahui hubungan kemiripan dianalisis dengan MEGA X menggunakan metode UPGMA. Hasil penelitian dari empat kecamatan di Kabupaten Tangerang ditemukan 14 kultivar. Hubungan kemiripan berdasarkan 22 karakteristik morfologi menghasilkan fenogram yang terbagi kedalam 4 kelompok utama. M. indica L. ‘Madu’ dengan M. indica L. ‘Manalagi’ dan M. indica L. ‘Khiosaway’ dengan M. indica L. ‘Namdokmai’ mempunyai hubungan terdekat dengan indeks disimilaritas sebesar 0,182. M. indica L. ‘Chokanan’ dan M. indica L. ‘Gedong’ mempunyai hubungan terjauh dengan indeks disimilaritas sebesar 0,682

    Keanekaragaman Tumbuhan Bawah Pada Berbagai Umur Tegakan Pinus (Pinus merkusii) Di KPH Banyumas Timur

    Get PDF
    Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur merupakan salah satu unit pengelolaanPerum Perhutani yang mengembangkan hutan Pinus. Hutan pinus KPH Banyumas Timur terdiri dari berbagai umur. Keanekaragaman tumbuhan bawah dapat dipengaruhi oleh tutupan tajuk yang berkaitan dengan umur dari pohon di sekitar tumbuhan bawah tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui keanekaragaman dan kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan pinus (Pinus merkusii) di KPH Banyumas Timur. Penelitian ini dilakukan di hutan pinus dengan tiga kelompok umur yang berbeda di BKPH Kebasen, KPH Banyumas Timur. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada berbagai umur tegakan pinus di KPH Banyumas Timur terdapat 36 jenis tumbuhan bawah dari 19 famili. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa  keanekeragaman tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan pinus di KPH Banyumas Timur semakin tua umur tegakan pinus maka semakin sedikit jumlah jenis tumbuhan bawah. Jumlah jenis tumbuhan bawah dengan umur 12 tahun didapatkan sejumlah 20 spesies selanjutnya disusul umur 24 tahun sejumlah 18 spesies dan umur 29 sejumlah 15 spesies. Kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan pinus di KPH Banyumas Timur merata.Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur merupakan salah satu unit pengelolaan Perum Perhutani yang mengembangkan hutan Pinus. Hutan pinus KPH Banyumas Timur terdiri dari berbagai umur. Keanekaragaman tumbuhan bawah dapat dipengaruhi oleh tutupan tajuk yang berkaitan dengan umur dari pohon di sekitar tumbuhan bawah tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui keanekaragaman dan kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan pinus (Pinus merkusii) di KPH Banyumas Timur. Penelitian ini dilakukan di hutan pinus dengan tiga kelompok umur yang berbeda di BKPH Kebasen, KPH Banyumas Timur. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada berbagai umur tegakan pinus di KPH Banyumas Timur terdapat 36 jenis tumbuhan bawah dari 19 familia. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa  keanekeragaman tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan pinus (Pinus merkusii) di KPH Banyumas Timur semakin tua umur tegakan pinus maka semakin sedikit jumlah jenis tumbuhan bawah. Jumlah jenis tumbuhan bawah dengan umur 12 tahun didapatkan sejumlah 20 spesies selanjutnya disusul umur 24 tahun sejumlah 18 spesies dan umur 29 sejumlah 15 spesies. Kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan pinus (Pinus merkusii) di KPH Banyumas Timur merata

    KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS PESERTA DIDIK BERDASARKAN DIMENSI BERNALAR KRITIS

    Get PDF
    Mathematical reasoning ability is one of the five standard processes in mathematics learning. There is a need for ability when learning mathematics, thus is considered important for the government to design education with a curriculum that can facilitate students to develop abilities either in mathematics learning or other learning. One of the government's efforts in designing education in Indonesia is to design a curriculum, namely the Kurikulum Merdeka, in which there is a project to strengthen the Profil Pelajar Pancasila. There are 6 (six) dimensions in the Profil Pelajar Pancasila, one of those is Dimensi Bernalar Kritis which is assumed to be closely related to the mathematical reasoning ability needed in learning mathematics. In this article, we will discuss the meaning of mathematical reasoning ability and the dimension of critical reasoning. In addition, it will be explored whether there is a relation between mathematical reasoning ability and Dimensi Bernalar Kritis and whether Dimensi Bernalar Kritis can be used to measure mathematical reasoning ability

    Keanekaragaman Tumbuhan Bawah pada Berbagai Umur Tegakan Jati (Tectona grandis L.) di KPH Banyumas Timur

    Get PDF
    Salah satu unit pengelolaan Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani) yang mengembangkan hutan jati adalah Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyumas Timur. Hutan jati yang dikelola KPH Banyumas Timur terdiri dari berbagai kelompok umur. Umur tegakan berkaitan dengan tutupan tajuk dari pohon di sekitar tumbuhan bawah yang berpengaruh terhadap keanekaragaman tumbuhan bawahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis vegetasi keanekaragaman dan kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan Jati (Tectona grandis L.) di KPH Banyumas Timur. Penelitian dilakukan di Hutan jati BKPH Kebasen, KPH Banyumas Timur, dengan tiga kelompok umur tegakan yaitu 16, 20 dan 22 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada berbagai umur tegakan jati di KPH Banyumas Timur terdapat 34 jenis tumbuhan bawah dari 17 familia. Tegakan jati umur 16 tahun memiliki keragaman tumbuhan tertinggi dengan indek nilai penting tertinggi sebesar 42,77% pada Echinochloa colona (L.) dari familia Poaceae. Keanekaragaman tumbuhan bawah pada tegakan jati dengan umur 16 tahun sebesar 2,12 dengan kemerataan jenis sebesar 0,73. Nilai kesamaan jenis tertinggi sebesar 30,77% dari tegakan jati berumur 20 tahun sedangkan tegakan jati berumur 16 tahun dengan 20 tahun sebesar 25% dan 26,67%. Komposisi dan distribusi serta tinggi rendahnya keanekaragaman tumbuhan bawah pada ketiga tegakan jati umur berbeda, dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang terbentuk disekitar tegakan.Salah satu unit pengelolaan Perhutani yang mengembangkan hutan jati adalah Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyumas Timur. Hutan jati yang dikelola KPH Banyumas Timur terdiri dari berbagai kelompok umur. Umur tegakan berkaitan dengan tutupan tajuk dari pohon di sekitar tumbuhan bawah dan berpengaruh terhadap keanekaragaman tumbuhan bawahnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui keanekaragaman dan kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan Jati (Tectona grandis L.) di KPH Banyumas Timur. Penelitian dilakukan di Hutan Jati BKPH Kebasen, KPH Banyumas Timur, dengan tiga kelompok umur tegakan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada berbagai umur tegakan jati di KPH Banyumas Timur terdapat 34 jenis tumbuhan bawah dari 17 famili. Mimosa pudica (L.) dan Curcuma longa (Linn.) merupakan jenis tumbuhan bawah yang tumbuh pada ketiga lokasi penelitian. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa keanekeragaman tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan jati di KPH Banyumas Timur yaitu semakin tua umur tegakan jati maka semakin menurun keanekaragaman jenis tumbuhan bawahnya. Kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan jati di KPH Banyumas Timur merata
    corecore