8 research outputs found

    Determinant of Parents Role in Adolescent Premarital Sex Behavior: An Applicative Model

    Get PDF
    Premarital sex behavior had become a serious issue. Preliminary studies show 12 of 30 teenagers who religious, well-educated, and has good family background, were already experienced sexual intercourse. The objective of this study is explaining parents’ role through their knowledge, attitude, perception, facilities given to children, and behavior. This research was conducted at 2017, and using a cross-sectional design. Quantitative data were obtained by 526 population study and interviewing 150 students’ parent from six high schools in Palembang which are selected using multistage random sampling. Multivariate data analysis is processed by Structural Equation Modelling (SEM) Test in statistical application program named Partial Least Square (PLS). This research found that fifty percent of respondent have good knowledge and supportive attitude towards preventive action of premarital sex behavior. There are 62.7% having good perception about the importance of parents’ role. However, 41.3% just perform negatively on preventive sexual behavior in early ages. They usually provide some facilities such as money, motorbike or car, handphone, laptop, and internet at home that can be used to access pornography content. Model analysis proved that knowledge, attitude, perception, and facilities influence 29 percent of adolescent premarital sex behavior caused by improper parenting rol

    Positive body image affect body mass index among high school

    Get PDF
    ABSTRAKLatar Belakang: Remaja putri berisiko untuk mengalami kekurangan energi kronik yang dikaitkan dengan pemahaman konsep diri. Perubahan fisik pada remaja, khususnya berat dan tinggi badan, cenderung diartikan negatif sehingga dikhawatirkan dapat mempengaruhi status gizi remaja putri pada fase kehidupan selanjutnya.Tujuan: Penelitian bertujuan menggambarkan persepsi citra tubuh dan indeks massa tubuh (IMT) serta menganalisis hubungan antara dua variabel tersebut.Metode: Penelitian menggunakan desain potong lintang. Responden merupakan pelajar kelas X dan XI dari 4 sekolah di kota Palembang dan dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran IMT. Data dianalisis dengan uji chi-square dari aplikasi SPSS.Hasil: Responden berjumlah 138 orang dan berumur 13 – 17 tahun. Lebih dari 50 persen responden memiliki IMT tidak normal (IMT kurang dan berlebih). Tetapi, Sebagian besar mempersepsikan citra tubuhnya secara positif (54,35%). Persepsi citra tubuh yang negatif lebih banyak dimiliki oleh responden yang memiliki IMT pada kategori normal. Analisis bivariat membuktikan ada hubungan yang signifikan antara persepsi citra tubuh dan IMT (p=0,046). Semakin negatif persepsi remaja putri tentang citra tubuh yang dimilikinya, maka semakin besar kemungkinan IMT-nya tergolong tidak normal.Kesimpulan: Citra tubuh yang positif dapat mempengaruhi status gizi remaja putri, khususnya IMT. Sebuah intervensi psikologi dan promosi kesehatan diperlukan untuk memfasilitasi remaja putri mengenali diri sendiri serta diberikan kemampuan untuk memilih asupan gizi yang baik bagi kesehatannya. KATAKUNCI: citra tubuh; indeks massa tubuh; persepsi; remaja putri; sekolah menengah atas ABSTRACTBackground: Female adolescents have a risk on experiencing chronic deficiency of energy linked with understanding of self-concept. Adolescent’ physical changes, especially weight and height, tend to be perceived negatively, so it is worried that they could affect the nutritional status of them in the next phase of life.Objectives: This study aims to describe the perception of body image and Body Mass index (BMI) and to analyze the relationship between the two variables.Methods: This study used a cross-sectional design. Respondents were students of first and second grade of four senior high schools in Palembang and were selected by purposive sampling techniques. Data were collected using questionnaires and BMI measurements. Data were analyzed using the chi-square test of SPPS application.Results: Number of respondents was 138 high school girls aged 13 – 17 years. More than 50 percent of respondents have abnormal BMI (underweight and overweight). However, most of them perceived their body image positively (54.35%). The perception of negative body image is mostly owned by respondents with normal BMI. Bivariate analysis proved that there was a significant relationship between perceived body image and BMI (p=0.046) The more negative girl’s perception of her body image, the more likely her BMI is classified as abnormal.Conclusions: A positive body image can affect the nutritional status of female adolescents, especially BMI. A psychological intervention and health promotion is needed to facilitate them to identify themselves and be given the ability to choose nutrition intake that is good for their health.KEYWORDS: body image; body mass index; girl; high school; perceptio

    Intervensi pada perilaku bidan tentang pelaksanaan inisiasi menyusu dini dengan menggunakan layanan pesan singkat

    Get PDF
    Latar belakang: Angka kematian bayi dan angka kematian ibu dapat ditekan dengan memfasilitasi bayi baru lahir untuk menyusu sendiri 1 jam setelah persalinan, yang dikenal dengan istilah inisiasi menyusu dini. Namun, persentase menyusu dalam 1 jam di Provinsi Sumatera Selatan hanya mencapai 29,2% pada tahun 2010. Beberapa penelitian menemukan faktor penghambat meliputi kurangnya pemahaman dan persepsi tenaga penolong persalinan. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh pemberian pesan singkat terhadap perilaku inisiasi menyusu dini pada bidan.Metode: Jenis penelitian ini adalah quasi-experimental melalui before and after design dengan kelompok kontrol. Subjek penelitian berjumlah 64 bidan di Kota Palembang. Perlakuan yang diberikan berupa 18 topik pesan edukasi dalam bentuk pesan singkat melalui handphone. Data dianalisis melalui uji univariat, bivariat, dan regresi linear.Hasil: Pemberian perlakuan meningkatkan persepsi sebesar 7.3% (p value = 0.0308). Pengetahuan kelompok intervensi meningkat setelah perlakuan, walaupun perubahan rerata tidak bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol. Sebagian besar subjek kurang tepat dalam menjalankan tahapan inisiasi menyusu dini, antara lain tentang pemberian informasi saat layanan antenatal, durasi yang singkat, dan bayi masih diarahkan saat inisiasi menyusu dini.Kesimpulan: Pelaksanaan inisiasi menyusu dinibelum dijalankan secara maksimal oleh bidan. Tidak semua persalinan difasilitasi inisiasi menyusu dini karena keadaan ibu dan bayi yang tidak mendukung. Bidan sebaiknya dapat memberikan motivasi ibu bersalin, dimulai saat pemeriksaan kehamilan. Komitmen dan kepercayaan diri merupakan kunci dari keyakinan bidan untuk senantiasa memfasilitasi inisiasi menyusu dini pada setiap persalinan. Selain itu, hasil penelitian ini perlu dianalisis jangka panjang untuk dampak yang lebih signifikan.Intervention on midwife behavior about early initiation of breastfeeding practice using short message servicePurposeThis research examined the effects of an intervention by delivering short message service towards midwife behavior.MethodsThis research was a quasi-experimental study with pre and post test design using control group. A total of 64 midwives in Palembang participated until data extraction. About 18 themes of short messages were delivered through participants’ mobile phone. Data were analyzed by univariate, bivariate, and linear regression tests.ResultsResults showed that the intervention improved early breastfeeding perceptions by about 7.3% (p= 0.0308). Participants’ knowledge was increased after intervention although there was no significant mean difference between groups. Almost all participants (over 80%) practiced imperfect early breastfeeding, especially in giving information since antenatal care, short-duration, and directing baby for sucking mother’s nipple.ConclusionNot all of participants facilitated early breastfeeding in every birth because of other factors such as unsupported mother and infant’s condition. Early initiation of breastfeeding is not easily implemented by health staff. It is better that midwives could motivate mothers to breastfeed within 1 hour since antenatal care. The important keys are having high commitment and confidence which contribute to midwives’ belief for practicing every step in every birth. We concluded that this research should be continued for long-term-analysis to give more significant results

    Determinant of Parents Role in Adolescent Premarital Sex Behavior: An Applicative Model

    Get PDF
    Premarital sex behavior had become a serious issue. Preliminary studies show 12 of 30 teenagers who religious, well-educated, and has good family background, were already experienced sexual intercourse. The objective of this study is explaining parents’ role through their knowledge, attitude, perception, facilities given to children, and behavior. This research was conducted at 2017, and using a cross-sectional design. Quantitative data were obtained by 526 population study and interviewing 150 students’ parent from six high schools in Palembang which are selected using multistage random sampling. Multivariate data analysis is processed by Structural Equation Modelling (SEM) Test in statistical application program named Partial Least Square (PLS). This research found that fifty percent of respondent have good knowledge and supportive attitude towards preventive action of premarital sex behavior. There are 62.7% having good perception about the importance of parents’ role. However, 41.3% just perform negatively on preventive sexual behavior in early ages. They usually provide some facilities such as money, motorbike or car, handphone, laptop, and internet at home that can be used to access pornography content. Model analysis proved that knowledge, attitude, perception, and facilities influence 29 percent of adolescent premarital sex behavior caused by improper parenting rol

    IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO STUNTING DAN UPAYA PENCEGAHAN DENGAN INTERVENSI SECARA KOLABORATIF DI KABUPATEN EMPAT LAWANG

    Get PDF
    Stunting merupakan proses terlambatnya tumbuh kembang anak karena kekurangan gizi kronik, inveksi penyakit berulang dan stimulasi psikosial pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Permasalahan Stunting merupakan masalah nasional sesuai dengan Perpres 42/2013 Tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi untuk mencapai generasi emas pada 2045. Berdasasrkan data dari SSGI 2021 angka stunting Indonesia masih cukup tinggi yaitu 24,4 % dan di targetkan 14% pada tahun 2024 dan pada kabupaten Empat Lawang masih sebesar 26% di tahun 2021 dengan jumlah lokasi utama penangan stunting 58 desa sekabupaten Empat lawang pada tahun2022 serta di targetkan sebesar 15% pada tahun 2024. Permasalahan yang muncul ialah kurangnya kesadaran masyrakat dan upaya kerjasama antar elemen di kabupaten Empat Lawang yang menyebabkan keadaan Stunting di Kabpupaten Empat lawang ini masih tinggi.. Metode yang dipakai dalam Pengabdian ini ialah metode penyuluhan dan di lanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) antar Elemen penggerak penanganan Stunting Empat Lawang. Hasil yang didapatkan melalui kegiatan ini ialah meningkatnya pemahaman tentang pentingnya penangnan stunting bagi elemen penggerak penanganan Stunting di tingkat Kabupaten Empat Lawang, meningkatnya fungsi kordinasi antar elemen

    Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Pajanan Karbon Monoksida (CO) Pada Pedagang Sate di Palembang

    Get PDF
    Level of pollutants in the air that humans breathe every day will impact health for now or future. The occupational risk of satay traders who are exposed to carbon monoxide from grilling food using charcoal is often not realized. The aims of this study are to measure carbon monoxide levels exposed to satay traders in Palembang and examine the magnitude of the risk in several future time periods. This study is used a quantitative design with environmental health’s risk analysis approach. Assessment of carbon monoxide is used Carbon Monoxide Meter. Respondents were selected through the purposive sampling technique by as many as 58 persons. They were selected by criteria: used charcoal as fuel and were the street vendor. Carbon monoxide exposure was in the range of 12.3 – 163 mg/m3. The intake value is influenced by the concentration of the risk agent, rate of intake, as well as duration, frequency, and time of exposure. The results showed real-time intake value was 20,62 while the lifetime intake was 78,60. Realtime RQ calculated CO exposure will be risky if exposed within a period of 30 years. However, it was found that almost 40 percent of respondents had risk based on real-time RQ values with each duration. Analysis of CO exposure’s risk on satay traders is predicted to occur at the 10th year of exposure, which is influenced by the increasing exposure time. For reducing the level of CO exposure, satay traders are advised to use personal protective equipment such as masks and may consider using smokeless food grills/electric grills.Kadar polutan dalam udara yang manusia hirup setiap hari akan berdampak terhadap kesehatannya saat ini maupun di masa depan. Risiko pekerjaan sebagai pedagang sate yang terpapar karbon monoksida (CO) dari hasil pembakaran makanan menggunakan arang sering kali tidak disadari. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar karbon monoksida terpajan pada pedagang sate yang menggunakan arang di kota Palembang serta menggambarkan besaran risiko tersebut dalam beberapa periode waktu mendatang. Jenis penelitian deskriptif dengan analisis kuantitatif menggunakan pendekatan analisis risiko kesehatan lingkungan. Pengukuran CO menggunakan alat Carbon Monoxide Meter. Sampel dipilih melalui teknik purposive sampling sebanyak 58 orang. Kriteria pengambilan sampel yaitu menggunakan arang sebagai bahan bakar dan merupakan pedagang kaki lima. Pajanan karbon monoksida berada pada rentang 12,3 – 163 mg/m3. Nilai intake dipengaruhi oleh konsentrasi agen risiko, laju asupan, serta durasi, frekuensi, dan waktu pajanan. Hasil penelitian menunjukan nilai intake realtime sebesar 20,62 sedangkan intake lifetime 78,60. Perhitungan RQ realtime menunjukkan bahwa pajanan CO akan berisiko jika terpapar dalam kurun waktu 30 tahun. Namun, ditemukan sebanyak hamper 40 persen responden memiliki risiko berdasarkan nilai RQ realtime dengan durasi pajanan masing-masing responden. Analisis risiko paparan CO pada pedagang sate diprediksi akan terjadi pada waktu pajanan ke-10 tahun yang dipengaruhi oleh waktu pajanan yang bertambah. Untuk mengurangi kadar pajanan CO tersebut, pedagang sate disarankan menggunakan alat pelindung diri seperti masker serta dapat mempertimbangkan untuk menggunakan alat pemanggang makanan tanpa asap/pemanggang listrik

    MAHASISWA “PENTING” MELALUI SURVEI DAN PEMANTAUAN EMPAT POSYANDU DI DESA PENGARAYAN, KECAMATAN TANJUNG LUBUK, OGAN KOMERING ILIR

    Get PDF
    Kegiatan optimalisasi potensi masyarakat dalam pencegahan stunting ini dilakukan di Desa Pengarayan, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatra Selatan pada November-Desember 2022. Kegiatan ini dilakukan oleh mahasiswa peduli stunting atau mahasiswa “Penting”. Tujuan dilakukannya kegiatan ini untuk (1) memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahaya stunting, (2) mengetahui kondisi sarana dan prasarana posyandu, dan (3) mengetahui data balita yang mengalami stunting. Metode yang digunakan adalah survei dan pemantauan posyandu. Hasil kegiatan ini adalah kondisi sarana dan prasarana posyandu masih kurang memadai dan terdapat 1 balita yang mengalami stunting. Balita yang mengalami stunting berusia 4 tahun yang memiliki berat badan 10 kg dan tinggi badan 86 cm. Selain balita tersebut tidak ada yang terdeteksi stunting dari hasil posyandu setiap bulannnya. Dapat disimpulkan bahwa balita dan bayi yang ada di desa Pengarayan dalam kondisi normal. Dikarenakan keadaan desa tersebut cukup bersih, memiliki jamban yang baik dan bahan pangan yang ada di sana cukup memadai sehingga balita dan bayi tumbuh dengan baik
    corecore