371 research outputs found

    TVRI Sebagai Medium Pencitraan Politisi Dalam Pemilu Legislatif 2009 (Studi Kasus Terhadap Caleg Dalam Acara Dialog Warta Pemilu Periode Februari s.d Maret 2009)

    Get PDF
    Televisi sebagai alat komunikasi massa yang berbentuk media massa memegang peranan penting dalam penyebaran informasi baik itu politik, bisnis maupun sosial budaya. Selain itu, televisi sebagai media massa juga berfungsi sebagai memberikan informasi, pendidikan dan hiburan. Pada momen pemilu legeslatif 2009 lalu, media massa, khususnya televisi, menjadi salah satu pilihan para politisi sebagai medium atau alat/sarana membentuk pencitraan diri. Bagaimana para kandidat Anggota Dewan itu berupaya untuk lebih dikenal dan mencari simpati audience atau masyarakat luas dengan tampil dilayar kaca,  merupakan keseluruhan proses komunikasi massa. Proses Komunikasi Massa ini melalui rangkaian teori Komunikasi Massa dan model Media massa yang berlangsung satu arah, seperti teori S-O-R, Stimulus-Organism (Komunikator)-Respon, serta teori media massa linier yang merupakan model audio visual (televisi), yakni Komunikator Pesan (melalui media massa sebagai medium) Komunikan (khalayak luas). Permasalahan yang diteliti adalah media massa (TVRI) digunakan sebagai medium atau alat/sarana pencitraan politisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketertarikan dan banyaknya animo para politisi terhadap TVRI yang seakan saling berlomba untuk tampil di layar kaca. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan melakukan field research terhadap studi kasus caleg dalam acara "Dialog Warta Pemilu" periode Maret hingga April 2009. Selain itu, penelitian juga menggunakan paradigma "post- positivis" tidak melihat dari konstruksi Dialog Warta Pemilu, akan tetapi lebih kepada proses Dialog Warta Pemilu. Momen pemilu legislatif menimbulkan suatu fenomena perilaku para politisi untuk dapat terkenal dengan tampil dillayar kaca pada kemasan Dialog Warta Pemilu. Hasil penelitian pada Dialog Warta Pemilu dapat disimpulkan bahwa media TVRI diminati para politisi sebagai medium pencitraan diri, di mana dengan pencitraan dimaksud agar individuil politisi dapat dikenal dan terkenal di masyarakat luas dengan membahas beragam topik aktual terkait dengan "Pemilu Legeslatif". Penetapan hasil penelitian ini berdasarkan atas kekuatan dan keunggulan Media Massa yang bersifat tersebar luas dengan serempak serta mempuyai daya pesona dan daya tarik tersendir

    TVRI sebagai Medium Pencitraan Politisi dalam Pemilu Legislatif 2009 (Studi Kasus terhadap Caleg dalam Acara Dialog Warta Pemilu Periode Februari S.d Maret 2009)

    Full text link
    Televisi sebagai alat komunikasi massa yang berbentuk media massa memegang peranan penting dalam penyebaran informasi baik itu politik, bisnis maupun sosial budaya. Selain itu, televisi sebagai media massa juga berfungsi sebagai memberikan informasi, pendidikan dan hiburan. Pada momen pemilu legeslatif 2009 lalu, media massa, khususnya televisi, menjadi salah satu pilihan para politisi sebagai medium atau alat/sarana membentuk pencitraan diri. Bagaimana para kandidat Anggota Dewan itu berupaya untuk lebih dikenal dan mencari simpati audience atau masyarakat luas dengan tampil dilayar kaca, merupakan keseluruhan proses komunikasi massa. Proses Komunikasi Massa ini melalui rangkaian teori Komunikasi Massa dan model Media massa yang berlangsung satu arah, seperti teori S-O-R, Stimulus-Organism (Komunikator)-Respon, serta teori media massa linier yang merupakan model audio visual (televisi), yakni Komunikator Pesan (melalui media massa sebagai medium) Komunikan (khalayak luas). Permasalahan yang diteliti adalah media massa (TVRI) digunakan sebagai medium atau alat/sarana pencitraan politisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketertarikan dan banyaknya animo para politisi terhadap TVRI yang seakan saling berlomba untuk tampil di layar kaca. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan melakukan field research terhadap studi kasus caleg dalam acara "Dialog Warta Pemilu" periode Maret hingga April 2009. Selain itu, penelitian juga menggunakan paradigma "post- positivis" tidak melihat dari konstruksi Dialog Warta Pemilu, akan tetapi lebih kepada proses Dialog Warta Pemilu. Momen pemilu legislatif menimbulkan suatu fenomena perilaku para politisi untuk dapat terkenal dengan tampil dillayar kaca pada kemasan Dialog Warta Pemilu. Hasil penelitian pada Dialog Warta Pemilu dapat disimpulkan bahwa media TVRI diminati para politisi sebagai medium pencitraan diri, di mana dengan pencitraan dimaksud agar individuil politisi dapat dikenal dan terkenal di masyarakat luas dengan membahas beragam topik aktual terkait dengan "Pemilu Legeslatif". Penetapan hasil penelitian ini berdasarkan atas kekuatan dan keunggulan Media Massa yang bersifat tersebar luas dengan serempak serta mempuyai daya pesona dan daya tarik tersendir

    Metode Penanganan Stabilitas D-wall pada Pembangunan Basement Gedung Rita Supermall dan Swiss-bell Hotel Purwokerto

    Get PDF
    Pembangunan Gedung Rita Supermall dan Swiss-Bell Hotel yang terletak Purwokerto JawaTengah terdiri dari area mall mulai basement 2 sampai lantai 5, sedangkan area hotel mulai lantai 6hingga lantai 22. Batas Lahan dibuat D-wall dengan kedalaman sekitar 13 m. Tanah dasar di lahanyang akan dibangun berupa tanah pasir yang cukup padat. Metoda pelaksanaan penggalian lahanadalah menggali dengan menyisakan bagian tepi sehingga D-wall tetap stabil. Masalah terjadi saathujan deras yang menyebabkan penggerusan tebing galian pasir yang disisakan pada bagian sisidalam. Penggerusan sisi dalam menyebabkan tekanan tanah lateral dari sisi luar bekerja mendorong Dwalkearah dalam dan D-wall bergerak pelan menuju roboh. Metoda lama yang di lakukan pihakpelaksana untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan memberikan perkuatan penyokongbaja IWF-500, yang di tumpukan pada elemen bangunan gedung yang telah dibangun. Penyokongmengalami deformasi yang cukup besar sehinga metoda lama tersebut dihentikan dan perlu metodabaru untuk menangani masalah tersebut. Metoda baru yang diusulkan adalah dengan melihat kondisi yang ada dan melakukan kajian teknis. Kajian teknis menggunakan program Plaxis2D. Berdasarkankajian teknis maka penopang sementara yang melengkung diganti dengan penopang baru dan diberikan pengaku samping dengan IWF-250, yang menghubungkan penopang yang satu dengan yanglain. Diusulkan juga penopang D-wall dengan menggunakan balok gedung yang direncanakan dibuat lebih dulu dan sekaligus sebagai penopang permanen. Hasil pelaksanaan dari metoda baru yangdiusulkan memberikan kestabilan D-wall dan kemudahan dalam pelaksanaaan berikutnya

    Funding Allocation to Extracurricular Elementary School Management (A Site Study at Elementary School State Jurang Ombo Magelang)

    Get PDF
    The objectivesof this research are to (1) to describe the allocation of extracurricular activities funds at SDN Jurang Ombo Magelang. (2) to describe the accounting of extracurricular activities fund at SDN Jurang Ombo Magelang. This is qualitative research and use ethnographic design. This research is conducted at SDN Jurang Ombo Magelang. The main subjects of this research are the principal and teachers at SDN Jurang Ombo Magelang. Data collection methods use in-depth interviews, participatory observation, and documentation. Analysis of data used data analysis model arranged in site. The validity test of data used credibility, transferability, conformabilities and dependability. The results of this research are (1). The allocation of extracurricular activities fund at SDN Jurang Ombo is conducted by the principal that involve budget teams, school committees and teachers. Allocation of funds is established by the allocation of funds that have been through the stages of problem identification and consideration. Source of fund extracurricular activities is taken from the state budget, the BOS, SBS, and also community classes. Lack of extracurricular funds is handled by requesting Rp.10.000.00 for every parent. The allocation of extracurricular funds at SDN Jurang Ombo Magelang is tailored to the needs and thawed in 4 stages that is the first quarter until the third quarter. (2) The accounting of extracurricular activities fund at SDN Jurang Ombo Magelang is done well. The fund accounting made by budget and school finance or LPJ. The Accounting of extracurricular fund is created by the Budget Team at the beginning of a new school year for planning the allocation of extracurricular funds, while to report the use of extracurricular activity funds is made once a month. The accounting format is accordance with the instructions of the mayor of Magelang City. It is noted in the books is an extracurricular activity schedules, student attendance and coach of extracurricular, the need for implementation of extracurricular activities, and also the source of funds. The fund accounting is duplicated twice; accounting of extracurricular funds is covered with pink cover that in the first section written the identity of school

    The Factors Which Influence the Quality of Education in Undeveloped Area (Multi-Cases Study in 10 Districts in Indonesia)

    Get PDF
    This study aims to find out the factors that affect the quality of education in undeveloped areas. The variables of this study were: 1) the quality of teachers, 2) the educational devices and infrastructures, 3) the community participation in education, 4) the educational funding, 5) the public perception of education, 6) the accessibility of education, 7) the educational service, and 8) the educational equity. The design of this study was quantitative with survey and multi-cases approach. The populations of this study were the communities in 10 undeveloped districts and its samples were 500 respondents. The data were collected by using questionnaires and analyzed by cluster analysis. The results show that the variables consisting of the public perception on education, the community participation, the educational funding, and educational service have score below average total score of public perception on educational equity, because Z score is minus (-). Therefore, these variables are important to be concerned in improving the quality of education. While, the quality of teachers, educational devices and infrastructures, and the accessibility of education become the variables which need to be concerned because Z score is positive (+) but it is very small. The educational equity is good because Z score is positive (+) and it is more than 1 or 1.09776. The clusters of this study are Empat Lawang and South Nias districts. The second clusters show that all variables have positive Z score with almost of Z scores are more than 1. Those variables are educational perception, quality of teachers, educational devices and infrastructures, the community participation, educational funding, educational service, accessibility of education, and educational equity. The two districts under the cluster are South Kayong and Seluma

    MODEL REQUIREMENT TRACEABILITY UNTUK METODE PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK FEATURE DRIVEN DEVELOPMENT (FDD)

    Get PDF
    AbstractA recent study conducted by the Standish Group in 2012 shows that in the preparation of requirements becomes one of the critical success factors of a software. Requirements traceability is the method used to explore inter-linkages or inter-relations requirement, so that when an error occurs in one or more functions on a software, or changes in the requirements, then it can easily be identified requirements which are problematic. Feature Driven Development (FDD) is one of the Agile method that does not have a fixed rule in the formation of inter-search requirement models and inter-feature. By using grounded theory in research, such as open coding, axial coding, and selective coding, and sorting. The research began with the determination of the review and identification of the problem, collect relevant data, perform data analysis, and the final document the results. Based on the test results, the modeling traceability requirements in the FDD method can assist in tracing linkages, inter-relations requirements as well as inter-feature during software development. And can be used as documentation of a software development work.Keywords : requirement, traceability, relation, Feature Driven Development, and grounded theory.Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Standish Group pada tahun 2012 menunjukkan bahwa dalam penyusunan requirements menjadi salah faktor penentu keberhasilan sebuah perangkat lunak. Requirement traceability merupakan metode yang digunakan untuk menelusuri keterkaitan atau interkoneksi antar-requirement, sehingga ketika terjadi kesalahan dalam satu atau lebih fungsi pada sebuah perangkat lunak, atau terjadi perubahan requirement, maka dengan mudah dapat diidentifikasi requirement mana yang bermasalah. Metodologi pengembangan perangkat lunak Feature Driven Development (FDD) merupakan salah satu bagian dari metode Agile dimana pendekatan FDD dilakukan secara adaptif dalam pengembangan sistem. FDD merupakan Agile Method yang belum mempunyai aturan baku dalam pembuatan model penelusuran antar-requirement maupun antar-feature. Requirement pada FDD tidak secara eksplisit dapat digali, dicari, dan diatur. Namun dokumentasi requirement dibutuhkan pada proses pembentukan feature list. Oleh sebab itu dibutuhkan suatu dokumentasi model penelusuran antar requirements. Pembuatan model penelusuran requirement dengan menggunakan metode grounded theory yaitu diantaranya adalah open coding, axial coding, selective coding, dan sorting. Penelitian bermula dengan penentuan bidang kaji dan identifikasi masalah, mengumpulkan data-data terkait, melakukan analisis data, dan terakhir mendokumentasikan hasil. Berdasarkan hasil uji, pembuatan model penelusuran requirement pada metode FDD dapat memudahkan penelusuran jika terjadi kesalahan dalam testing hasil akhir program dan dapat dijadikan sebagai acuan pembuatan fungsi dalam pengembangan proyek selanjutnya.Kata kunci : requirement, penelusuran, keterkaitan, Feature Driven Development, dan grounded theory

    Revitalisasi dan Konservasi Permainan Anak Tradisional Sebagai Strategi Pengembangan Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal Di Kabupaten Banyumas

    Get PDF
    Kabupaten Banyumas sangat kaya akan potensi wisata, namun potensi tersebut baru dinikmati oleh segelintir orang. Oleh karena itu, tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Tujuan khususnya adalah melakukan inventori terhadap berbagai permainan anak tradisional di Kabupaten Banyumas untuk dijadikan pangkalan data dalam pengembangan kepariwisataan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Sasaran penelitiannya adalah seniman, budayawan dan para pamong budaya. Hasil penelitian menemukan bahwa di Kabupaten Banyumas terdapat banyak permainan anak tradisional, baik yang memiliki unsur tembang  dan kesenangan, olah fikir maupun olahraga dan ketangkasan. Ragam permainan anak tradisional tersebut sebagian besar berada di ambang kepunahan karena tergilas oleh terpaan globalisasi berupa menjamurnya mainan dan permainan anak modern. Selain itu, Pemkab Banyumas belum melakukan upaya serius untuk melestarikan permainan anak tradisional. Kesimpulannya, revitalisasi permainan anak tradisional menjadi aset wisata, bisa menjadi salah satu strategi untuk melestarikan permainan anak tradisional sekaligus mengembangkan wisata Banyumas. Revitalisasi dimulai dengan inventori dan dokumentasi ragam permainan anak tradisional, mensosialisasikannya dan  menjadikannya sebagai atraksi wisata

    Simulasi Numerik Penelusuran Aliran di Kanal Menggunakan Persamaan Saint-Venant

    Get PDF
    Penelitian ini membahas perilaku debit di sepanjang kanal secara numerik menggunakan data debit yang tercatat di bagian hulu. Secara matematis perilaku debit di kanal dapat dilukiskan menggunakan persamaan Saint-Venant satu dimensi. Persamaan Saint-Venant merupakan sistem persamaan diferensial parsial non-linier dan secara umum belum ditemukan solusi analitiknya. Dalam penelitian ini model matematika tersebut disederhanakan dengan cara memodifikasi persamaan momentumnya. Persamaan Saint-Venant yang telah disederhanakan diselesaikan secara numerik menggunakan metode beda hingga eksplisit. Untuk memastikan bahwa model numerik yang dihasilkan dapat diimplementasikan, maka dilakukan uji validasi dengan model numerik yang dipilih dari literatur. Hasil simulasi menunjukkan bahwa input hidrograf dengan debit puncak 12 m3/detik mengalami peredaman debit sepanjang kanal. Pada lokasi x = 600 m dari hulu kanal, debit puncak menyusut menjadi 7,38 m3/detik
    • ÔÇŽ
    corecore