90 research outputs found

    PEMAKNAAN BELENGGU DENGAN TEORI DAN METODE SEMIOTIK

    Get PDF
    Tulisan ini bertujuan melakukan pemaknaan Belenggu dengan teori dan metode semiotik yang beranjak dari asumsi dasar bahwa bahasa sastra memiliki konvensi tambahan sehingga sastra memiliki meaning of meaning . Kajian dan pemaknan tersebut dibatasi pada pembacaan heuristik, penafsiran terhadap jenis-jenis tanda yang meliputi ikon, indeks, dan simbol-simbol dominan yang memiliki satuan makna, serta eksplisitasi matriks, model, dan varian-varian.Pemaknaan roman Belenggu dengan teori dan metode semiotik ini membuka peluang bagi pembaca untuk menafsirkan roman tersebut pada tataran bahasa dan sastra, serta melakukan konkretisasi terhadap ruang kosong (the empty spaces) yang tidak diungkapkan secara eksplisit dalam teks. Tema masa lampau yang menjauh dan masa depan yang belum pasti yang menjadi inti roman Belenggu merupakan hasil konkretiasi terhadap ruang kosong dalam teks.KATA KUNCI semiotik, heuristik, matriks, mode

    BAHASA, WACANA, DAN KEKUASAAN DALAM KONSTRUKSI G30S

    Get PDF
    Bahasa, menurut Foucault, bukanlah medium yang transparan, bukan pula pencerminan dari kenyataan. Bahasa adalah alat yang dipergunakan episteme, guna mengatur dan menyusun kenyataan, sesuai dengan tabiat episteme itu sendiri. Foucault melihat bahwa bahasa dan episteme tidak pasif melainkan aktif. Keduanya berusaha untuk mengubah atau menguasai kenyataan. Istilah yang digunakan untuk menyebut Peristiwa G30S mengandung hasrat-hasrat kekuasaan dan menjadi wacana akademis yang menarik. Makalah ini akan mengkaji dan mengungkap hubungan antara bahasa, wacana, dan kekuasaan dalam konstruksi Gerakan 30 September (G30S). Peristiwa G30S yang menjadi awal sebuah tragedi berdarah terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan dengan tujuan yang berbeda-beda. Hasrat kekuasaan itu dapat diungkap dari permainan bahasa di dalam konstruksi wacana G30S

    THE PROBLEM OF EQUILIBRIUM IN THE PANJI STORY: A TZVETAN TODOROVS NARRATOLOGY PERSPECTIVE

    Get PDF
    Narrative is understood as the record of human activities which relate strongly to a cultural matrix. Narrative, in terms of story or story telling, is representative of factual and fictional achievement placed in a chronological or causal order. Therefore, narrative and narratology have an important function in understanding cultural activities. Some structuralist scholars, especialy those living during 1960-1980, created a special theory on narratology. There are four specialists of narratology; they are: Vladimir Propp, Claude Levi-Strauss, Tvsetan Todorov, and A. J. Greimas. They claimed the same perspective, that all narrative (such as folktale, myth, and legend) in fact share the same fundamental structure (i.e grammar, syntactical structure, semantics axes, actantial structure, or logical structure). Panji Story is one of Indonesian heritage stories popular during the rule of Madjapahit Kingdom. The narratives were transmitted into folktales, oral literature, written literature, hikayat, or engraved as the reliefs at ancient temples. The narrative which was originated from Singasari Kingdom was so pervasive in East Javanese culture, as it created a Panji Culture (Nurcahyo, 2016). The spread of the narratives was so extensive, reaching Bali, Nusa Tenggara, Sumatra, Borneo, Papua, and to neighbouring countries such as Malaysia, Thailand, Cambodia, Laos, and Myanmar. This paper aims at revealing narrative sequences of Panji Narratives in line with Todorovs narrative theory, especially in relation to his narratology theory of equilibrium. Todorovs equilibrium gets a new perspective and meaning.DOI: https://doi.org/10.24071/ijhs.2018.02011

    PEMBELAJARAN SASTRA BERBASIS TEKS: PELUANG DAN TANTANGAN KURIKULUM 2013

    Get PDF
    Pembelajaran sastra dalam kurikulum 2013 merupakan bagian dari pembelajaran bahasa. Pembelajaran Bahasa, sebagaimana pembelajaran mata pelajaran lainnya dicanangkan sebagai pembelajaran berbasis teks. Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi, tujuan, dan konteks. Melalui pembelajaran berbasis teks yang diterapkan dalam Kurikulum 2013, siswa dibiasakan membaca dan memahami teks serta meringkas dan menyajikan ulang dengan bahasa sendiri. Siswa dibiasakan pula menyusun teks yang sistematis, logis, dan efektif melalui latihan-latihan penyusunan teks. Untuk itu, siswa dikenalkan dengan aturanaturan teks yang sesuai sehingga tidak rancu dalam proses penyusunan teks (sesuai dengan konteks). Metode pembelajaran semua mata pelajaran menurut Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan pembelajaran saintifik merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingnya penggunaan proses berfikir ilmiah (menalar) sesuai dengan tingkat perkembangan anak.3 Selain memiliki keunggulan, pendekatan ini memiliki keterbatasan, terutama jika diaplikasikan secara mekanistik dalam pembelajaran sastra. Makalah ini membahas peluang dan tantangan pembelajaran sastra berbasis teks, sebagaimana dimaksud oleh Kurikulum 2013.Kata kunci: kurikulum 2013, pendekatan saintifik, pendekatan humanistik

    LUBANG BUAYA: MITOS DAN KONTRA-MITOS

    Get PDF
    Wacana tentang Lubang Buaya merupakan salah satu wacana dominan dalam masa pemerintahan Orde Baru. Narasi-narasi resmi yang diproduksi negara (state) dan direproduksi masyarakat (society) cenderung menyebarkan kesan menakutkan bahkan menyeramkan. Tulisan bertujuan mengungkapkan narasi-narasi tentang Lubang Buaya sebagai sebuah mitos politik. Dalam penelusuran, ditemukan kenyataan bahwa mitos Lubang Buaya yang telah diawetkan melalui narasi sejarah, monumen, museum, film, hari peringatan sesungguhnya telah mengalami proses demitologisasi. Secara khusus, sastrawan Indonesia mengawali proses demitologisasi Lubang Buaya dengan menciptakan kontra mitos dalam karya-karya mereka.Tulisan ini menyimpulkan tiga hal. Pertama, mitos tentang peristiwa yang terjadi di Lubang Buaya mengandung muatan nilai-nilai emosional yang jelas-jelas dimaksudkan untuk kepentingan propaganda politik. Kedua, mencuatnya pandangan-pandangan yang berbau kontroversial dalam mitos itu menunjukkan bahwa saat ini telah terjadi proses demitologisasi, yaitu proses menghilangkan mitos sebelumnya. Ketiga, sebagai sebuah tragedi nasional, peristiwa Lubang Buaya dan G30S tetap akan dikenang. Sebagai bagian dari usaha untuk tetap mempelajari pengalaman masa lampau itulah, kita akan tetap terbuka menerima segala penafsiran baru mengenai peristiwa itu.KATA KUNCI G30S, Orde Baru, mitos, kontra-mitos, demitologisas

    SINERGI BUDAYA DAN TEKNOLOGI DALAM SASTRA INDONESIA SERTA IMPLIKASINYA DI DALAM PENGAJARAN

    Get PDF
    Karya sastra tidak dapat mengelak dari kondisi masyarakat dan situasi kebudayaan yang melingkupinya. Sepanjang sejarah peradaban manusia, karya sastra selalu hadir dan memperlihatkan interaksi yang intens dengan situasi kebudayaan dan teknologi yang melingkupinya. Makalah ini mengungkap sejarah peradaban manusia dan interaksinya dengan karya sastra di dalamnya, sejak zaman prasejarah sampai zaman modern ini. Karya sastra terungkap dalam berbagai media, termasuk media lisan, media manuskrip, media cetak, dan kini media virtual. Tesis yang hendak dikemukakan dalam makalah ini adalah bahwa sastra memiliki ciri dan fungsi yang tetap sama, seperti diungkapkan Horatius, yaitu indah dan berguna (dulce et utile). Keindahan karya sastra terletak pada makna simbolik yang dikandungnya, yang memiliki ciri menyatakan sesuatu sekaligus menyembunyikannya. Dengan demikian, hubungan sastra dan masyarakat harus dipahami sebagai hubungan simbolik, bukan hubungan kausalitas ataupun fungsional. Dalam kaitannya dengan pengajaran sastra, guru dapat memanfaatkan sastra siber sebagai sarana pelatihan creative writing, di mana siswa dapat mempublikasikan karyanya dan mendapat respons pembaca tanpa hambatan dan sensor yang ketat

    Masalah-masalah sosial dalam masyarakat multietnik

    Get PDF
    Menurut estimasi Juli 2003, Penduduk Indonesia berjumlah 234.893.453 orang dan tersebar di 17.000 pulau (Taum, 2006). Indonesia merupakan salah satu di antara sedikit negara di dunia yang memiliki karakteristik sebagai negara multietnik. Di Indonesia diperkirakan terdapat 931 etnik dengan 731 bahasa. Ada etnis yang besar dan ada yang kecil (lihat Lampiran 1). Etnis besar di Indonesia antara lain: Jawa, Sunda, Madura, Melayu, Bali, Minangkabau, Batak, Dayak, Bugis, dan Cina. Sebagai negara yang multietnis, tidak hanya bentuk fisik melainkan juga sistem religi, hukum, arsitektur, obat-obatan, makanan, dan kesenian orang Indonesia pun berbeda-beda menurut etnisnya. Indonesia juga merupakan sebuah negara yang mempunyai tradisi religi atau agama yang cukup kuat. Ada lima agama besar di Indonesia, yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha. Dalam beberapa tahun ini, setelah tahun 1998, Kong Hu Cu juga mulai kembali berpengaruh di Indonesia. Indonesia ibarat sebuah taman yang ditumbuhi aneka bunga berwarna-warni. Akan tetapi, jika keragaman itu tidak dikelola dengan baik, konflik akan mudah pecah. Futurolog terkemuka seperti John Naisbitt dan Alfin Toffler juga memprediksikan tentang menguatnya kesadaran etnik (ethnic consciousnes) di banyak negara pada abad ke-21. Berbagai peristiwa pada dua dasawarsa terkahir abad ke-20 memang perlawanan terhadap dominasi negara ataupun kelompok-kelompok etnik lain. Berjuta-juta nyawa telah melayang dan banyak orang menderita akibat pertarungan-pertarungan itu. Samuel Huntington (1997) merupakan futurolog yang pertama kali mensinyalir bakal munculnya perbenturan antar masyarakat "di masa depan" yang akan banyak terjadi dalam bentuk perbenturan peradaban “clash of civilisation.” Sentimen ideologis yang selama ini dominan dalam perang dingin, berubah dengan sentimen agama dan budaya. Blok-blok dunia juga akan banyak ditentukan oleh kepemihakan terhadap agama dan kebudayaan
    • …
    corecore