127 research outputs found

    Penambahan Lactobacillus sp. dan Inulin Umbi Dahlia pada Ransum Berbeda Kualitas terhadap Ketersediaan Energi Metabolis

    Get PDF
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Lactobacillus sp. dan inulin umbi dahlia pada ransum berbeda kualitas terhadap kecernaan serat kasar, ketersediaan energi metabolis dan produksi telur ayam Kedu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Februari 2016 di kandang Digesti, Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Penelitian menggunakan 80 ekor ayam Kedu betina fase awal bertelur umur 7 bulan. Penelitian menggunakan kandang battery. Bahan pakan yang digunakan dalam penelitian yaitu jagung, bekatul, tepung ikan, CaCO3, tepung tulang, cangkang kerang, premix dan konsentrat. Selain bahan pakan utama seperti bahan tersebut diatas digunakan Lactobacillus sp. dan inulin dari umbi dahlia sebagai perlakuan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 unit percobaan dengan masing-masing unit berisi 4 ekor ayam. Perlakuan yang diberikan yaitu T1 = ransum peternak, T2 = ransum perbaikan, T3 = T1 + 1,2 ml Lactobacillus sp. dan 1,2% inulin umbi dahlia, T4 = T2 + 1,2 ml Lactobacillus sp. dan 1,2% inulin umbi dahlia. Parameter yang diukur adalah kecernaan serat kasar, ketersediaan energi metabolis dan produksi telur. Data diolah dengan analisis ragam, apabila terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji wilayah Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Lactobacillus sp. dan inulin tepung umbi dahlia berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap semua parameter yang diukur. Kecernaan serat kasar T2 (22,81%), T3 (22,49%) dan T4 (23,91%) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan T1 (18,28%), ketersediaan energi metabolis T4 (2750,81 kkal/kg) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan T3 dan T2 sedangkan T3 dan T2 nyata lebih tinggi (P<0,05) dari T1 (2536,62 kkal/kg). Demikian pula, produksi telur T2 (41,55%), T3 (41,19%), dan T4 (40,46%) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan T1 (25,99%). Simpulan penelitian adalah ayam Kedu yang diberi ransum peternak dengan penambahan Lactobacillus sp. dan inulin umbi dahlia menghasilkan kecernaan serat kasar, ketersediaan energi metabolis dan produksi telur yang meningkat

    Pemanfaatan Protein dan Kalsium Ransum yang Diberi Aditif Inulin dari Umbi Dahlia dan Lactobacillus sp. pada Ayam Kedu Periode Grower

    Get PDF
    Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pengaruh penambahan feed additive kombinasi inulin umbi Dahlia dan Lactobacillus sp. yang diharapkan dapat bersifat sinbiotik dilihat dari massa protein daging pada ayam Kedu. Penelitian dilaksanakan mulai bulan September sampai November 2015 di kandang digesti Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang. Materi yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 120 ekor ayam Kedu betina umur 4 bulan dengan bobot badan rata-rata 1.001,35 ± 56,20 g. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu T1: ransum peternak, T2: ransum perbaikan, T3: Ransum peternak + inulin umbi Dahlia + Lactobacillus sp., T4: Ransum perbaikan + inulin umbi Dahlia + Lactobacillus sp., setiap perlakuan diulang 5 kali. Data dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji beda Duncan apabila terdapat pengaruh nyata. Parameter yang diamati adalah kecernaan protein kasar, retensi kalsium, massa kalsium daging, massa protein daging dan pertambahan bobot badan harian (PBBH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan protein kasar, massa protein daging dan pertambahan bobot badan harian (PBBH), tetapi tidak berpengaruh terhadap retensi kalsium dan massa kalsium daging. Simpulan dari penelitian adalah pemberian feed additive inulin dari umbi Dahlia dan Lacotbacillus sp. dalam ransum peternak lebih efisien dalam peningkatan kecernaan protein, massa protein daging dan pertambahan bobot badan harian, tetapi belum dapat meningkatkan retensi kalsium serta massa kalsium daging pada ayam Kedu periode grower

    Kombinasi Pemberian Vitamin A dan E dalam Ransum terhadap Kecernaan Lemak dan Indikator Ketahanan Tubuh pada Ayam Kedu Petelur

    Full text link
    The study aims to examine the effect of vitamin A and E combination in ration to increase productivity seen from body resistannce indicators ( heterophile / lymphocyte ratio (H/L ratio) and blood cholesterol) of kedu layer chickens. The research was conducted in November 2011 until February 2012. The research using 20 males and 100 females one year old Kedu chicken, Experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. Treatment applied were T0 = ration without supplementation, T1 = ration + vitamin E, T2 = ration + vitamin A and T3 = ration + vitamin A and E. Ration composed from yellow corn, rice bran, soybean meal, fish meal, shellfish meal and CaCO3. Parameters observed are H/L ratio, fat digestibility, blood cholesterol and the hen day production (HDP). Data were analyzed with Analysis of Variance and continue analyzed by Duncan's multiple range test. The results showed a significant effect (P &lt;0.05) on fat digestibility but had no significant effect (P &lt;0.05) against H/L ratio, blood cholesterol and HDP. Based on the results of this study concluded that combination of vitamin A (2000 IU) and E (20 IU) in ration did not interfere body resistance stability and even improve the response of chicken to the environment based on the value of H/L ratio and blood cholesterol

    MASSA KALSIUM DAN DEPOSSISI PROTEIN DAGING PADA ITIK PEKING YANG DIBERI RANSUM DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TEMU HITAM

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung temu hitam terhadap massa kalsium dan deposisi protein daging pada itik Peking.Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Februari 2016 dikandang TiktokLaboratoriumIlmuNutrisidanPakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah 120 ekor itik Peking (unsexing) berumur 4 haridengan bobot badan awal rata-rata 100 ± 27,70 g. Ransum perlakuan diberikan mulai minggu ke 4 sampai minggu ke 8 penelitian. Ransum yang digunakan tersusun dari jagung kuning, tepung ikan, bekatul, bungkil kedelai,premix dan tepung temu hitam.Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan masing masing ulanganterdiridari6 ekor. Perlakuan yang diberikan yaitu: T0: ransum tanpa tepung temu hitam, T1: T0 + 0,75% tepung temu hitam, T2:T0 + 1% tepung temu hitam, T3: T0 + 1,25% tepung temu hitam, dan T4: T0 + 1,5% tepung temu hitam. Parameter yang diamati adalahretensi kalsium, massa kalsium dan protein daging, serta pertambahan bobot badan. Data dianalisis ragam dengan uji F dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahantepungtemuhitam dalam ransum nyata (P<0,05) meningkatkanretensi kalsium, massa kalsium daging, massa protein daging dan pertambahan bobot badan harian. Retensi kalsium dengan nilai terendah T0: 0,159 g dan tertinggi T4: 0,380 g dan massa kalsium daging dengan nilai terendah T2: 7,193 mg dan tertinggi T4: 12,688 mg. Demikian pula, massa protein daging dengan nilai terendah T0: 55,864 g dan tertinggi T4: 78,013 g, serta pertambahan bobot badan dengan nilai terendah T0: 25,186 g/ekor/hari dan tertinggi T4: 31,850 g/ekor/hari. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberiantepung temu hitam pada level1,5% dapatmeningkatkan pertambahanbobotbadanharianpadaitik Peking yang ditunjangolehmaningkatnyaretensi kalsium, massa kalsium daging dan massa protein daging

    Total Bakteri Asam Laktat Dan Escherichia Coli Pada Ayam Broiler Yang Diberi Campuran Herbal Dalam Ransum

    Full text link
    Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan campuran herbal dalam ransum terhadap total bakteri asam laktat (BAL) dan Escherichia coli (E. coli) pada saluran pencernaan, serta pertambahan bobot badan ayam broiler. Penelitian menggunakan ayam broiler day old chick (DOC) sebanyak 200 ekor dengan bobot badan 37 g ± 3,08 g dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Ransum yang digunakan terdiri dari jagung, bungkil kedelai, tepung ikan, dedak, dan mineral dengan campuran herbal, yaitu bawang putih, kunyit, jahe dan kencur. Perlakuan yang diterapkan adalah T0 = ransum tanpa penambahan herbal (kontrol), T1 = ransum + 0,5% campuran herbal, T2 = ransum + 1,0% campuran herbal, T3 = ransum + 1,5% campuran herbal. Parameter yang diamati adalah total BAL, total E. coli dan pertambahan bobot badan. Sampel diambil pada saat ayam umur 42 hari secara acak pada setiap unit percobaan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa penambahan campuran herbal dalam ransum ayam broiler tidak berpengaruh nyata (p&gt;0,05) terhadap total BAL, total E.coli dan pertambahan bobot badan. Penambahan campuran herbal dalam ransum ayam broiler menghasilkan total BAL berkisar dari yang terendah 4,69 x 109 cfu/g (T1) sampai yang yang tertinggi 2,41 x 1010 cfu/g (T3) dan total E.coli terendah 6,47 x 104 cfu/g (T2) tertinggi 3,57 x 105 cfu/g (T3), sedangkan pertambahan bobot badan berkisar dari 57 g/ekor/hari (T1) sampai 60 g/ekor/hari (T0). Simpulan dari penelitian adalah peningkatan level penambahan campuran herbal dalam ransum belum dapat meningkatkan total BAL atau menurunkan E.coli sehingga menghasilkan pertambahan bobot badan yang sama

    Penggunaan Protein Dan Pertumbuhan Pada Ayam Broiler Yang Diberi Ransum Dengan Penambahan Tepung Temu Kunci (Boesenbergia Pandurata Roxb.) (Protein Utilization and Growth of Broiler Chicken Fed Dietary Finggeroot (Boesenbergia Pandurata Roxb.))

    Full text link
    This study aimed to determine the effect of dietary inclusion of finggerroot (Boesenbergia pandurata ROXB.) powder on rate of passage, protein digestibility, nitrogen retention and body weight gain in broiler chickens. A total of 120 birds of 7 days old broiker chicken were used as experimental animal. The experimental design used in this study was completely randomized design with 5 treatments and 4 replications (6 birds each). Dietary inclusion levels of finggeroot namely, 0, 1.2, 1.6, and 2 % were the treatment applied in the present study. Data were stastically analyzed using analysis of variance (ANOVA) at 5 % probability, and it was continued to Duncan test if treatment indicated significant efect. The results showed that feding of finggerroot had no significant effect ( P &gt; 0.05 ) on the rate of passage, protein digestibility and body weight gain, but significant ( P &lt; 0.05 ) on nitrogen retention. The conclusion of this study is that the inclusion of finggerroot powder at the level of 2 % decrease nitrogen retention, but the other parameters (rate of passage, protein digestibility, nitrogen retention and body weight gain) are the same

    Kecernaan Lemak Dan Massa Lemak Daging Pada Ayam Kampung Persilangan Yang Mendapat Ransum Dengan Penambahan Umbi Bunga Dahlia (Dahlia Variabilis) Sebagai Sumber Inulin (Fat Digestibility and Meat Fat Mass in Crossbred Native Chicken Fed Dietary Dahlia T

    Full text link
    The purpose of the study was to determine the effect of dahlia tuber as inulin source in crossbred native chicken on fat digestibility, meat fat mass and growth. The experimental animals used were 280 birds of crossbred native chickens (10 weeks old) with initial body weight was 180.46±1.21 g. The present study was arranged in a completely randomized design (CRD) with 7 treatments and 4 replications (10 birds each). The treatments applied were level of dahlia tuber in the form of powder ( 0.4%, 0.8%, 1.2%)and extract (0.39%, 0.78%, 1.17%). Parameters measured were fat digestibility, meat fat mass and growth. Data were statically analyzed by anova and continued to Duncan test when the treatment effect was significant. The result showed that fat digestibility, meat fat mass and growth was significantly affected by treatments (P&lt;0.05). The highest fat digestibility and growth was found in T6 and the lowest in T0. In contrast, the highest meat fat mass was found in T0 and the lowest in T6. The conclusion is that feeding dahlia tuber at highest level (0.78% and 1.17%) increase fat digestibility, but in the form of both powder and extract decrease meat fat mass

    KONSUMSI NUTRIEN, BOBOT TELUR DAN FERTILITAS TELUR ITIK MAGELANG AKIBAT PEMBERIAN VITAMIN E

    Get PDF
    Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian vitamin E dalam ransum terhadap konsumsi energi dan protein, bobot telur dan fertilitas telurpada itik Magelang. Penelitian menggunakan 84 ekor itik Magelang betina dan itik jantan sebanyak 12 ekor umur 1 tahun. Rata-rata bobot badan itik betina adalah 1.753,55 ± 102,65 g, dan itik jantan umur rata-rata 1691,63 ± 89,65 g).Perlakuan yang diberikan adalah T0 = ransum basal, T1 = ransum basal + vitamin E 15 IU. Ransum basal tersusun dari konsentrat, dedak halus, dan jagung kuning dengan perbandingan 25, 25 dan 50%. Parameter yang diukur adalah konsumsi ransum, konsumsi nutrien (energi dan protein), bobot telur, dan fertilitas telur. Data diuji beda menggunakan uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi energi, konsumsi protein dan bobot telur tidak dipengaruhi oleh pemberian vitamin E, sedangkan fertilitas telur pada T1 nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan T0. Kesimpulan adalah pemberian vitamin E dalam ransum tidak meningkatkan konsumsi ransum, konsumsi energi dan konsumsi protein serta bobot telur, namun mampu meningkatkan fertilitas telur. Kata kunci: vitamin E, konsumsi nutrien, bobot telur, fertilitas, itik Magelan

    Massa Kalsium Dan Protein Daging Pada Ayam Arab Petelur Yang Diberi Ransum Menggunakan Azolla Microphylla

    Full text link
    The study aims to determine the effect of A. microphylla in Arabic layer rations on meat calcium mass and meat protein mass. The benefits of research can provide information on the utilization of A. microphylla as a Arabic layer. This research used completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. The treatment given is the gift of A. microphylla different levels (0%, 3%, 6% and 9%). Parameters measured were meat calcium mass, meat protein mass, and hen day production. The materials used are 80 Arabic layers (age ± 9 months) with average weight at 1125±124,52g. The making of ration is based on iso protein and iso energy principle. Meat calcium mass and meat protein mass was measured from meat sample which is taken twice at 4 and 8 weeks after the treatment has been implemented. The results showed that combining the A. microphylla into the ration up to level 6% after 8 weeks of treatment could improve protein deposition ability which stated at meat protein mass
    corecore