28 research outputs found

    PENENTUAN NILAI RUJUKAN HEMOGLOBIN PADA MASYARAKAT KALBAR

    Get PDF
    Nilai rujukan hasil pemeriksaan laboratorium biasanya berupa nilai rentang yang digunakan dokter untuk menginterprestasikan hasil dan mengambil keuntungan klinik yang menentukan tindak lanjut terhadap pasien. Nilai normal hemoglobin untuk seseorang sukar ditentukan dikarenakan setiap suku bangsa memiliki kadar hemoglobin yang bervariasi. Namun kadar hemoglobin telah ditetapkan oleh WHO berdasarkan umur dan jenis kelamin.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar hemoglobin masyarakat di wilayah Kalimantan Barat berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin. Tujuan khusus yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah menetapkan nilai rentang normal hasil pemeriksaan hemoglobin di Kalimantan Barat.Desain yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode observasional analitik yang bersifat potong lintang (Cross Sectional). Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan menggunakan Hematology Analyzer sebanyak 1456 sampel dari 6 kabupaten / kota di Kalimantan Barat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil penelitian dengan rujukan WHO  dengan nilai p < 0,005. Ditetapkan kadar hemoglobin pada masyarakat Kalimantan Barat untuk kategori umur 6 bulan – 6 tahun yaitu 9,4 g/dl – 13,64 g/dl, 6 tahun – 14 tahun yaitu 9,92 g/dl – 14,79 g/dl, dewasa laki-laki yaitu 12,15 g/dl – 17,20 g/dl dan dewasa perempuan yaitu 9,97 g/dl – 15,00 g/d

    Analisis Antibakteri Sediaan Sabun Cair Ekstrak Etanol Batang Bajakah (Spatholobus littoralis Hassk) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Secara In Vitro

    Get PDF
    Bajakah adalah salah satu keragaman hayati yang tumbuh liar di tengah hutan, batang bajakah diketahui memiliki lebih dari satu kandungan senyawa kimia yang memiliki aktivitas farmakologi yang baik. Berdasarkan hasil pengujian fitokimia yang dilakukan pada ekstrak batang bajakah menunjukkan bahwa tumbuhan ini memiliki kandungan metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan terpenoid yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjadi alternative bahan pembuatan sabun cair. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menetapkan potensi aktivitas sediaan sabun cair ekstrak batang bajakah formula 1 (konsenstrasi 30%), formula 2 (konsentrasi 40%) dan formula 3 (konsentrasi 50%) terhadap diameter zona hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro. Penelitian ini menggunakah metode difusi secara in vitro. Desain penelitian ini adalah (Quasi experiment). Populasi pada penelitian ini adalah sabun cair ekstrak etanol batang bajakah. Sampel pada penelitian ini adalah sabun cair ekstrak etanol batang bajakah formula 1 (konsenstrasi 30%), formula 2 (konsentrasi 40%) dan formula 3 (konsentrasi 50%) dengan 9 kali replikasi sehingga jumlah sampel yang digunakan adalah 27 sampel yang diuji kekuatannya terhadap Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan pada formula 1 (konsentrasi 30%) didapatkan diameter zona hambat sebesar 14,44 mm, pada formula 2 (konsentrasi 40%) didapatkan diameter zona hambat sebesar 15,22 mm, pada formula 3 (konsentrasi 50%) didapatkan diameter zona hambat sebesar 16,22 mm. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pada formula 1 (konsentrasi 30%), formula 2 (konsentrasi 40%), dan formula 3 (konsentrasi 50%) adalah berpotensi kuat maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis (H1) diterima

    Validasi Spektrofotometer UV-VIS pada Analisis Formalin Di Poltekkes Kemenkes Pontianak

    Get PDF
    Abstract: Validation is the process of determine a method, an instrument and a technician to fulfl the requirements for testing. Validation of the instrument needs to be done separately. The UV-VIS spectrophotometer in Poltekkes Kemenkes Pontianak has many advantages such as wave length 190 - 1100 nm, using double beam optical system, has 2 nm spectrum bandwidth, but the using of the instrument has not been maximized. It is necessary to validate the UV-VIS spectrophotometer. The aim of this research is to determine the precision, accuracy, linearity, Limit of Detection (LOD) and Limit of Quantifcation (LOQ) on UV-VIS spectrofotometer on formalin analysis at Poltekkes Kemenkes Pontianak. The research uses pre-experimental design and purposive sampling method with formalin standard as population. The sample used is formalin standard with various concentration 0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm and 5 ppm with nine replication. Samples reacted with chromatophore acid, the purple color showed the sample containing formalin, then absorbance value measured to obtain formalin content in the sample. The result of precision value 94.43%, accuracy value 97.77%, linearity test in the concentration range 0-10 ppm gives correlation coeffcient value r = 0.918 with the limit of detection (LOD) of the formalin is 4.98 ppm and the limit of quantifcation (LOQ) of the formalin is 16.60 ppm. Based on the result of the research that it can be concluded that UV-VIS spectrophotometer on formalin analysis in Poltekkes Kemenkes Pontianak well validated because of the fulfllment of fve validation parameter criteria.Abstrak: Validasi adalah proses untuk memastikan apakah suatu metode, alat dan teknisi memenuhi persyaratan untuk pengujian. Validasi alat perlu dilakukan tersendiri. Spektrofotometer UV-VIS yang ada di Poltekkes Kemenkes Pontianak memiliki banyak kelebihan diantaranya rentang gelombang yang lebih lebar 190 – 1100 nm, menggunakan sistem optik double beam, memiliki bandwidth spektrum 2 nm, namun penggunaannya belum maksimal. Maka perlu dilakukan validasi terhadap spektrofotometer UV-VIS tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui presisi, akurasi, linearitas, batas deteksi (LOD) dan batas kuantitasi (LOQ) pada Spektrofotometer uv-vis pada analisis formalin di Poltekkes Kemenkes Pontianak. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental metode purposive sampling dengan populasi standar formalin. Sampel yang digunakan yaitu standar formalin dengan berbagai konsentrasi 0 ppm , 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm dan 5 ppm dengan pengulangan sebanyak sembilan kali. Sampel direaksikan dengan asam kromatofat, perubahan warna menjadi ungu menunjukkan sampel mengandung formalin, kemudian diukur nilai absorbansinya untuk mendapatkan kadar formalin dalam sampel. Hasil penelitian nilai presisi 94.43%, nilai akurasi 97.77%, uji linearitas pada rentang konsentrasi 0 – 10 ppm memberikan nilai koefsien korelasi r = 0.918 dengan batas deteksi (LOD) formalin 4.98 ppm dan batas kuantitasi (LOQ) 16.60 ppm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa spektrofotometer UV-VIS pada analisis formalin di Poltekkes Kemenkes Pontianak tervalidasi dengan baik karena terpenuhinya kriteria lima parameter validasi

    Perbedaan Kadar Protein Daging Sapi Dengan Perendaman Sari Buah Nanas (Ananas Comocus I.) Dan Sari Jahe (Zingiber Officinale Rose.) Metode Kjeldahl

    Get PDF
    Protein merupakan asam amino rantai panjang yang diperlukan untuk memelihara jaringan, pertumbuhan dan sebagai sumber energi. Protein terdiri dari protein hewani dan nabati. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menaikkan pola konsumsi protein hewani, dapat menggunakan suatu enzim yaitu protease. Protease adalah salah satu enzim yang dapat digunakan untuk meningkatkan kadar protein pada bahan makanan. Nanas merupakan tanaman yang mengandung enzim protease yaitu enzim bromelin. Selain pada tanaman, enzim protease juga dimiliki oleh rempah-rempah, yaitu jahe yang dinamakan dengan enzim zingibain. Nanas dan jahe tersebut diolah menjadi sari, yang kemudian sari buah nanas dan sari jahe yang telah dibuat, direndam ke dalam bahan makanan selama waktu tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan kadar protein pada daging sapi dengan perendaman sari buah nanas (Ananas comocus 1.) dan sari jahe (Zingiber officinale Rosc. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah daging sapi, dengan sampel daging sapi sebelum perendaman dan direndam sari buah nanas dan sari jahe sebanyak 20 ml, 30 ml, 40 ml dan lama perendaman 30 menit. Jumlah sampel yang digunakan adalah 28 sampel, dengan 7 perlakuan dan replikasi sebanyak 4 kali. Kriteria sampel yang digunakan adalah daging sapi yang di peroleh dari 4 tempat berbeda, buah nanas golongan queen yang segar dan masak, rimpang jahe putih kecil yang segar. Pengukuran sampel dilakukan dengan menggunakan metode kjeldahl. Hasil pengukuran diperoleh nilai rata-rata kadar protein sebelum perendaman dan sesudah perendaman sari buah nanas sebanyak 20 ml, 30 ml, 40 ml secara berturut-turut adalah 22,35%, 22,76%, 21,38 %, 20,86%. Hasil pengukuran nilai rata-rata kadar protein sebelum perendaman dan sesudah perendaman sari jahe sebanyak 20 ml, 30 ml, 40 ml secara berturut-turut adalah 22,35%, 20,80%, 21,82%, 20,16%. Berdasarkan uji T independent menggunakan program SPSS 26 diperoleh hasil signifikansi 0,438 > 0,05, yang menyatakan bahwa Ha ditolak, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar protein daging sapi dengan perendaman sari buah nanas (Ananas comocus 1.) dan sari jahe (Zingiber officinale Rosc).

    Evaluasi Robustness Metode Deteksi Cepat Berbasis MPN untuk Legionella pneumophila terhadap Gangguan Mikroflora Non-Target pada Sampel Air dari Menara Pendingin

    Get PDF
    Legionellosis is an infection caused by Legionella pneumophila, commonly transmitted through artificial water systems such as cooling towers. Early detection of this pathogen is crucial, particularly in high-risk facilities. This study aimed to assess the robustness of a rapid detection method based on the Most Probable Number (MPN) principle, focusing on the effectiveness of pretreatment in reducing interference from non-target microorganisms. A total of 30 positive trays from Legiolert™ tests were subcultured on Tryptic Soy Agar (TSA) to identify any surviving non-target microbes. Robustness was defined by the proportion of trays without non-target microbial growth. Results showed a robustness rate of 93.33%, with full robustness (100%) observed in low and moderate microbial load groups, and 75% in the high-load group. A non-parametric binomial test using SPSS was performed to evaluate the statistical significance of the deviation from the robustness cut-off. The resulting p-value was 0.446 (p > 0.05), indicating no statistically significant difference. These findings demonstrate that the Legiolert™ method maintains reliable performance even in complex sample matrices, supporting its use in routine water quality monitoring in accordance with Indonesian Ministry of Health Regulation No. 2 of 2023

    Precision and Accuracy Analysis of Forward Method Pipetting and Reverse Method Pipetting by Technology of Medical Laboratory Students Pontianak

    Get PDF
    Abstract:   Pipetting process of using standard pipetting and procedures greatly affect the precision and accuracy of the pipetting which have doneto get the right result and can be trusted then the result being must have lie within the control area and good in precision and accuracy. The purpose of this study is to know the difference of forward method pipetting and reverse method pipetting by Technology of Medical Laboratory Pontianak. The both of methods are have done and then have seen the difference. While the research design which have used in this research is observational analytics with comparative study. Based on the result of the research got result average precision of forward method is 99,25344% and average accuracy value of forwrd method is 96,5983% and average precision of reverse method is 99,65003% and average accuracy value of reverse method is 95,9493%. Of the results values then analyzed with statistic is Wilcoxon test and got result p = 0,000 (p<0,05) then Ha accepted, so there is a difference of forward method pipetting and reverse method pipetting by Technology of Medical Laboratory Pontianak

    Perbedaan Kadar Asam Lemak Bebas Pada Minyak Goreng Yang Mengalami Pemanasan Ulang Dengan Penambahan Bawang Merah (Allium Cepa) Dan Bawang Putih (Allium Sativum)

    Get PDF
    Abstract: Cooking oil generally can be used for 3-4 times frying. If it used repeatedly, oil will be changed in color. When frying process, double bonds in unsaturated fatty acids will break and formed saturated fatty acids. A qualified oil was contained unsaturated fatty acid more than its saturated fatty acids. The use of oil many times will lead the oil double bond oxidized and form the peroxide group and cyclic monomer, such oil reported damage and harm our health. A higher temperature and a longer time of heating, saturated fatty acids level will be increased. Beside repeatedly frying, oil can be damaged by wrong storage for certain period, consequently triglyceride bond broke and form into glycerol and free fatty acids (FFA). Red onion and garlic contain high antioxidant. The benefits that make them become phenomenal in medical research is their potency in against cancer and other dangerous diseases. They also can be used as crucial antioxidant sources in the fight against free radicals in body. Based on study results showed that the average of free fatty acids (FFA) in used cooking oil that added by garlic was 5,29% and red onion was 5,22%. Statistical test gained by computerized data processing with t-test p value>0,05 so it can be concluded that Ha refused by meaning that there was not a difference between number of FFA in used cooking oil which added garlic and red onion. Abstrak: Minyak goreng biasanya bisa digunakan hingga 3 - 4 kali penggorengan. Jika digunakan berulang kali, minyak akan berubah warna. Saat penggorengan dilakukan, ikatan rangkap yang terdapat pada asam lemak tak jenuh akan putus membentuk asam lemak jenuh. Minyak yang baik adalah minyak yang mengandung asam lemak tak jenuh yang lebih banyak dibandingkan dengan kandungan asam lemak jenuhnya.  Penggunaan minyak berkali-kali akan membuat ikatan rangkap minyak teroksidasi membentuk gugus peroksida dan monomer siklik, minyak yang seperti ini dikatakan telah rusak dan berbahaya bagi kesehatan.  Suhu yang semakin tinggi dan semakin lama pemanasan, kadar asam lemak jenuh akan semakin naik. Selain karena penggorengan berkali-kali, minyak dapat menjadi rusak karena penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu sehingga ikatan  trigliserida pecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas. Bawang merah dan bawang putih sangat tinggi akan kandungan antioksidannya. Manfaat bawang merah dan bawang putih yang membuatnya fenomenal di dunia medis adalah kemampuannya dalam memerangi kanker dan berbagai penyakit berbahaya. Ia juga dapat dijadikan sumber antioksidan yang sangat ampuh untuk memerangi radikal bebas di dalam tubuh. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kadar rata-rata kadar asam lemak bebas pada minyak goreng bekas yang ditambahkan bawang putih sebesar 5,29% dan bawang merah sebesar 5,22%. Hasil uji statistic diperoleh pengolahan data secara komputerisasi melalui uji-t  diperoleh nilai p > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha ditolak yang artinya tidak terdapat perbedaan kadar bilangan asam lemak bebas pada minyak goreng bekas yang ditambahkan bawang putih dan bawang merah

    Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Presisi dan Akurasi Pemipetan Menggunakan Mikropipet Metode Forward

    Get PDF
    Abstract : Pipetting is one of the most important activities in health laboratory analysis. Knowledge of pipetting must be owned by every health laboratory. Students of health analyst as a candidate of health laboratory who will become medical support service unit is expected to be able to do the pipetting precision and accurately. To get a thorough and accurate results then the results of the analysis must be located within a specifc control area and both in precision and accuracy. Precision and accuracy are responsible for analytical interpretation of test results and testing procedures. The method use in this research is the forward method by 61 people research samples which determined by simple random sampling. While the research design used was observational analytics. Based on the results of the research obtained the level of knowledge of respondents research is 71,38; precision pipetting 99,69% and accuracy pipetting 99,58%. From the data that has been obtained then analyzed statistically using tau kendau test. The result indicates that the level of knowledge and precision has a p=0,640 and correlation coeffcient of -0,044 so that the Ho is accepted, meaning there is no relationship between the level of knowledge and precision meaningful. Meanwhile, the level of knowledge and accuracy of the p=0,574 and correlation coeffcient value is -0,053 so that Ho is accepted, it means there is no relationship between the level of knowledge with accuracy. Abstrak: Pemipetan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam analisa laboratorium kesehatan. Pengetahuan pemipetan harus dimiliki oleh setiap tenaga laboratorium kesehatan. Mahasiswa analis kesehatan sebagai calon tenaga laboratorium kesehatan yang akan menjadi unit pelayanan penunjang medis diharapkan mampu melakukan pemipetan dengan teliti dan akurat. Untuk mendapatkan hasil yang teliti dan akurat maka hasil analisa harus terletak di dalam daerah kontrol tertentu dan baik dalam presisi maupun akurasi. Presisi dan akurasi bertanggung jawab terhadap interpretasi analitik hasil pengujian serta prosedur pengujian. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode forward oleh sampel penelitian sebanyak 61 orang yang ditentukan secara simple random sampling. Sedangkan desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik. Berdasarkan dari hasil penelitian diperoleh nilai tingkat pengetahuan responden penelitian adalah 71,38; presisi pemipetan 99,69% dan akurasi pemipetannya 99,58%. Dari data yang telah didapatkan kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji kendal tau. Untuk tingkat pengetahuan dengan presisi didapatkan hasil nilai p=0,640 dan koefsien korelasi -0,044 sehingga Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan presisi. Untuk tingkat pengetahuan dengan akurasi nilai p=0,574 dan koefsien korelasi adalah -0,053 sehingga Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan akurasi

    FORMULASI SEDIAAN SPRAY HAND SANITIZER PERASAN KULIT NANAS (Ananas comosus L. Merr) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Pineapple peel has flavonoid compounds that are disinfectant and very effective in inhibiting the growth of gram-positive and gram-negative bacteria. This is because flavonoids are polar so it is easier to penetrate the peptidoglycan layer. Pineapple peel has a high inhibitory power against Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacteria. This study aims to determine the effect of pineapple peel (Ananas comosus L. Merr) hand sanitizer spray preparation in inhibiting the growth of Escherichia coli bacteria in vitro. The design of this research is experimental research. The method used was disc diffusion. The population in this study is pineapple peel juice. The sampling technique used was purposive sampling. Based on the results of the study of 6 concentrations of pineapple peel juice hand sanitizer, the lowest inhibition zone was 6 mm at a concentration of 50% and the highest at a concentration of 100%, namely a 10 mm inhibition zone. From the results of the organoleptical test examination of the pineapple peel juice hand sanitizer spray preparation, which is liquid, light yellow in color, slightly cloudy and has a distinctive smell of perfume. pH is 6 at 50% 60% 70% 80% concentration and 5 at 90% 100%. The irritation test obtained negative results so that the product is safe for use on the skin. Homogeneity test is not homogeneous. Based on the results of the examination, the results of the organoleptical test, pH test, and irritation test meet the requirements but the homogeneity test does not meet the requirements in the aesthetics of spray hand sanitizer products

    POTENSI JUS BAYAM MERAH (AMARANTHUS TRICOLOR L) SEBAGAI ALTERNATIF PEWARNAAN TELUR CACING SOIL TRANSMITTED HELMINTH

    Get PDF
    Cacing yang ditularkan dari tanah adalah cacing yang menginfeksi manusia melalui tanah. Identifikasi telur cacing dilakukan secara mikroskopis menggunakan teknik pewarnaan. Pewarna yang digunakan dalam memeriksa telur cacing menggunakan 2% eosin. Namun, eosin memiliki kekurangan karena tidak mudah terurai, sehingga diperlukan pewarna alternatif yang lebih ramah lingkungan. Tanaman bayam merah berpotensi untuk digunakan sebagai pewarna alami karena mengandung senyawa antosianin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sari bayam merah (amaranthus tricolor L) sebagai alternatif pewarna telur cacing yang ditularkan melalui tanah. Desain penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan teknik purposive sampling. Sampel yang digunakan adalah sari batang amaranthus tricolor L (amaranthus tricolor L) dengan perbandingan 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, dan 1:5 menggunakan metode langsung dan diulang sebanyak 5 kali. Berdasarkan hasil penelitian, rasio 1:1 jus batang bayam merah menunjukkan hasil 60%, rasio 1:2 menunjukkan hasil 53%, rasio 1:3 menunjukkan hasil 53%, rasio 1:4 menunjukkan hasil 40% dan rasio 1:5 menunjukkan hasil 40%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsentrasi 1:1 memiliki kualitas tertinggi yang dianggap berpotensi sebagai alternatif pewarnaan
    corecore