6 research outputs found
PENGARUH PEMBERIAN SUPLEMENTASI SUPEROXIDE DISMUTASE (SOD) TERHADAP KADAR ALBUMIN SERUM PADA LANSIA
Background: Levels of serum albumin can be used as a predictor of morbidity and mortality in the elderly. Reduced serum albumin concentration can be caused by oxidative modification due to aging or insufficient protein intake. SOD as an enzymatic antioxidant might prevent oxidative stress so that albumin modification process can be inhibited. SOD supplementation was expected to increase serum albumin levels.
Aim: Analyze the effect of SOD supplementation on elderly serum albumin level.
Methods: This was a true experimental study with pre and post test control group design.. The study began with 31 elderly, resides in the “Pucang Gading Social Rehabilitation Unit”. They were divided into 2 groups. The control group (15 subjects), received placebo and exercise. The treatment group (16 subjects), received 250 IU SOD/day and exercise. Both treatments were done within 8 weeks, with twice a week exercise. Before and after treatment, levels of serum albumin were measured. Data normality was tested using Saphiro-wilk test. Data was analyzed by Paired-T-test if the distribution is normal, and using Wilcoxon test if the distribution is abnormal.
Results: There were increases of serum albumin levels in both groups. Statistical test results showed a significant increase of serum albumin levels in the treatment group of 0.26 ± 0.33 mg/dL with p=0,007 (p0,05).
Conclusion: 250 IU SOD/day supplementation for 8 weeks increase serum albumin levels in the elderly.
Keywords: Albumin, elderly, aging, SO
Pengaruh Penyuluhan Tentang Penyakit Epilepsi Anak Terhadap Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Umum
Latar Belakang: Penyakit epilepsi anak merupakan salah satu kelainan neurologis yang paling sering terjadi pada anak di Indonesia. Namun pada Kenyataannya pengetahuan orang tua tentang penyakit epilepsi anak masih rendah sehingga perlu suatu metode untuk dapat meningkatkan pengetahuan orang tua tentang penyakit epilepsi anak. Penelitian ini menggunakan metode penyuluhan.Tujuan: Menganalisis pengaruh penyuluhan tentang penyakit anak terhadap peningkatan pengetahuan orang tua.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimental one group pretest posttest design. Sampel diambil secara consecutive sampling dan didapatkan 32 orang tua yang berkunjung di Posyandu Ngudi Lestari Kelurahan Sendangmulyo Semarang pada bulan April sampai Mei 2014. Peneliti memberikan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas sebagai pretest, kemudian diberikan penyuluhan tentang penyakit epilepsi anak kepada responden. Posttest dilakukan 35 hari setelah intervensi atau penyuluhan. Penelitian ini menggunakan uji Paired T-Test untuk analisis statistik.Hasil: Sebelum dilakukan penyuluhan, rata-rata tingkat pengetahuan responden berada dalam kategori sedang yaitu 20,06±5,967. Setelah dilakukan penyuluhan, tingkat pengetahuan meningkat menjadi 26,78±2,756 (p<0,001). Pengetahuan yang diteliti meliputi definisi, etiologi, gejala, faktor risiko, komplikasi, terapi, dan perlakuan khusus.Kesimpulan: Penyuluhan bantuan media leaflet dan audiovisual (slide presentasi dan video) dapat dipakai sebagai suatu metode yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan orang tua tentang penyakit epilepsi anak
ANALISIS EKSTRAK BUAH KIWI (Actinidia deliciosa) PADA KADAR UREUM DAN KREATININ SERUM TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI PARASETAMOL
Latar Belakang: Buah kiwi merupakan buah yang kaya akan antioksidan dan memiliki banyak khasiat untuk tubuh. Antioksidan dapat menetralisir radikal bebas yang dapat merusak sel. Parasetamol dapat menyebabkan kerusakan pada
ginjal jika digunakan dengan dosis berlebih. Aktivitas antioksidan dari buah kiwi dapat mengurangi kerusakan ginjal akibat toksisitas parasetamol.
Tujuan: Membuktikan pengaruh pemberian ekstrak buah kiwi (Actinidia deliciosa) terhadap kadar ureum dan kreatinin serum tikus wistar jantan yang diinduksi parasetamol.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan pendekatan the post test-only control group design. Penelitian ini menggunakan lima kelompok, 1 kelompok kontrol negatif, 1 kelompok kontrol positif dan 3
kelompok perlakuan. Tiap kelompok terdiri dari 7 ekor tikus. Kelompok kontrol negatif mendapat pakan standar, kelompok kontrol positif mendapat pakan standar serta diinduksi parasetamol dan kelompok perlakuan mendapat pakan standar,
ekstrak buah kiwi dosis berbeda untuk setiap kelompok perlakuan serta diinduksi parasetamol.
Hasil: Rerata kadar ureum pada kelompok kontrol negatif adalah 37,65 ± 2,68 mg/dl sedangkan rerata kelompok kontrol positif adalah 35,03 ± 8,86 mg/dl. Rerata kadar kreatinin pada kelompok kontrol negatif adalah 0,40 ± 0,06 mg/dl
sedangkan rerata kelompok kontrol positif adalah 0,45 ± 0,05 mg/dl. Ekstrak buah kiwi dapat menurunkan kadar ureum dan kreatinin tikus. Tidak ada perbedaan yang bermakna pada kadar ureum antar kelompok (p=0,187). Tidak ada perbedaan yang bermakna pada kadar kreatinin antar kelompok (p=0,091).
Kesimpulan: Parasetamol tidak terbukti meningkatkan kadar ureum pada penelitian ini, namun parasetamol terbukti meningkatkan kadar kreatinin. Pemberian ekstrak buah kiwi tidak menurunkan kadar ureum dan kreatinin tikus secara signifikan.
Kata kunci: kiwi, parasetamol, ureum, kreatini
PENGARUH PENYULUHAN TENTANG PENYAKIT EPILEPSI ANAK TERHADAP PENGETAHUAN MASYARAKAT UMUM
Latar Belakang Penyakit epilepsi anak merupakan salah satu kelainan neurologis yang paling sering terjadi pada anak di Indonesia. Namun pada kenyataannya pengetahuan orang tua tentang penyakit epilepsi anak masih rendah sehingga perlu suatu metode untuk dapat meningkatkan pengetahuan orang tua tentang penyakit epilepsi anak, dalam penelitian ini menggunakan metode penyuluhan.
Tujuan Menganalisis pengaruh penyuluhan tentang penyakit anak terhadap peningkatan pengetahuan orang tua.
Metode Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimental one group pretest posttest design. Sampel diambil secara consecutive sampling dan didapatkan 32 orang tua yang berkunjung di Posyandu Ngudi Lestari Kelurahan Sendangmulyo Semarang pada bulan April sampai Mei 2014. Peneliti memberikan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas sebagai pretest. Kemudian diberikan penyuluhan tentang penyakit epilepsi anak kepada responden. Posttest dilakukan 35 hari setelah intervensi atau penyuluhan. Penelitian ini menggunakan uji Paired T-Test untuk analisis statistik.
Hasil Sebelum dilakukan penyuluhan, rata-rata tingkat pengetahuan responden berada dalam kategori sedang yaitu 20,06±5,967. Setelah dilakukan penyuluhan, tingkat pengetahuan meningkat menjadi 26,78±2,756 (p<0,001). Pengetahuan yang diteliti meliputi definisi, etiologi, gejala, faktor risiko, komplikasi, terapi, dan perlakuan khusus.
Kesimpulan Penyuluhan bantuan media leaflet dan audiovisual (dalam bentuk slide presentasi dan video) dapat dipakai sebagai suatu metode yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan orang tua tentang penyakit epilepsi anak.
Kata kunci: penyuluhan, pengetahuan, penyakit epilepsi anak
Antibacterial activity of Saccharum officinarum leaves extract against food-borne disease
Abstract
Food-borne diseases are mainly caused by germs contaminated food which deliver serious illnesses such as intoxication, infection or combination of both. The germs could be Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Previous study revealed Saccharum officinarum baggase competence in depressing these bacteria growth. Leaf should afford a better role for having no carbohydrate deposition. For that reason, its petroleum ether extract was prepared in a dilution series of 100 %, 75 %, 50 % or 25 % and used for antibacteria evaluation by paper disc method. The result indicated diminished growth of both bacteria by 100 % and 75 % extract, though not as effective as the positive control containing ampicillin. Furthermore, the Gram-positive bacteria was deprived more than the negative one. GCMS chromatogram depicted some fatty acid appearances that might contribute to the antimicrobe activity. A future study of antibacterial effect of each isolated compound should be managed. However, this study has already verified that the petroleum ether extract of Saccharum officinarum leaves were found to be an antibacterial agent against Escherichia coli and Staphylococcus aureus.
</jats:p
