10 research outputs found
Keragaan Dan Potensi Hasil Karet Dari Beberapa Genotipe Hasil Persilangan Antar Tetua Tanaman Berkerabat Jauh
Kemajuan pemuliaan dan seleksi tanaman karet sangat bergantung kepada potensi dan ketersediaan sumber keragaman genetik. Keragaman genetik dapat dihasilkan melalui kegiatan persilangan antar tetua yang memiliki hubungan kekerabatan jauh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keragaan tanaman dan potensi hasil karet kering dari genotipe hasil persilangan berkerabat jauh di pengujian evaluasi semaian. Sebanyak 62 genotipe hasil persilangan digunakan dalam penelitian ini. Sebagai tetua betina digunakan klon yang berasal dari populasi Wickham yaitu RRIM 600, IAN 873, IRR 111, PB 260, RRII 105, PM 10, IRR 104, dan IRR 220, sedangkan sebagai tetua jantan digunakan genotipe yang berasal dari ekspedisi IRRDB 1981 di antaranya PN 4267, PN 3508, PN 4143, PN 3760, PN 3763, PN 5009, PN 1682 dan PN 1527. Populasi genotipe F1 tersebut ditanam di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet pada tahun 2003 dengan menggunakan jarak tanam 2 x 2 m. Evaluasi dilakukan terhadap karakter pertumbuhan tanaman, anatomi kulit, dan potensi hasil karet. Hasil analisis menunjukkan keragaman yang cukup signifikan pada lima sifat yang diamati dengan koefisien keragaman hasil karet kering 77,10%, lilit batang 29,32%, ukuran tebal kulit 26,47%, jumlah cincin pembuluh lateks 27,44%, dan diameter sel pembuluh lateks 17,16%. Genotipe G-17 dan G-80/2 merupakan tanaman yang memiliki potensi hasil karet paling tinggi dibandingkan genotipe lainnya, masing-masing sebesar 37,00 g/p/s dan 22,50 g/p/s. Kedua genotipe tersebut juga memiliki pertumbuhan tanaman paling jagur, dengan ukuran lilit batang tanaman yaitu 67 cm dan 71,5 cm pada umur sepuluh tahun. Diterima : 25 November 2015; Direvisi : 18 Januari 2015; Disetujui : 15 Maret 2015 How to Cite : Sayurandi., & Woelan, S. (2015). Keragaan dan potensi hasil karet dari beberapa genotipe hasil persilangan antar tetua tanaman berkerabat jauh. Jurnal Penelitian Karet, 33(1), 1-10. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/16
Heterosis Dan Heritabilitas Pada Progeni F1 Hasil Persilangan Kekerabatan Jauh Tanaman Karet
Perbaikan potensi genetik merupakan faktor yang penting dalam upaya meningkatkan produktivitas karet. Kemajuan pemuliaan karet sangat tergantung kepada potensi dan ketersediaan sumber keragaman genetik, yang diperoleh melalui kegiatan persilangan antara tetua yang memiliki hubungan kekerabatan jauh. Seleksi progeni pada populasi F1 diharapkan dapat menghasilkan keturunan yang lebih baik dari kedua tetuanya, yang besarnya dapat diukur dari nilai heterosis, heterobeltiosis, derajat dominansi gen yang diukur dari rasio nilai potensi, dan heritabilitas. Untuk mempelajari pengaruh parameter tersebut dilakukan suatu analisis dengan menggunakan 40 progeni F1 umur enam tahun hasil persilangan PB 260 dan PN 7111 yang memiliki hubungan kekerabatan genetik jauh. Hasil analisis menunjukkan keragaman yang cukup signifikan pada tujuh peubah yang diamati, dengan koefisien keragaman produksi g/p/s (62,39%), lilit batang (22,02%), jumlah ring pembuluh lateks (28,17%), diameter pembuluh lateks (17,72%), indeks penyumbatan (41,01%), kadar sukrosa (30,13%), dan kadar fosfat anorganik (69,78%). Berdasarkan nilai heterosis pada karakter lilit batang, progeni nomor 1087, 1184, dan 1086 memiliki nilai heterosis bernilai positif, sedangkan progeni yang lain bernilai negatif. Nilai heterobeltiosis untuk karakter lilit batang dari 40 progeni F1 bernilai negatif. Demikian juga untuk karakter hasil lateks, 40 progeni F1 tersebut memiliki nilai heterosis dan heterobeltiosis bernilai negatif. Berdasarkan derajat dominansi gen yang diukur dengan rasio nilai potensi pada karakter ukuran lilit batang, progeni nomor 1089, 1184, dan 1086 menunjukkan aksi gen dominan positif tidak sempurna, sedangkan untuk karakter hasil lateks, keempat puluh progeni F1 menunjukkan aksi gen dominan negatif tidak sempurna. Nilai heritabilitas karakter hasil lateks, jumlah ring pembuluh lateks, diameter ring pembuluh lateks, kadar sukrosa, dan kadar fospat anorganik tergolong tinggi dengan nilai h2 antara 0,52–0,85, sedangkan nilai heritabilitas karakter lilit batang dan indeks penyumbatan tergolong sedang, dengan nilai h2 masing- masing yaitu 0,39 dan 0,47. How to Cite : Sayurandi, & Daslin, A. (2011). Heterosis dan heritabilitas pada progeni F1 hasil persilangan kekerabatan jauh tanaman karet. Jurnal Penelitian Karet, 29(1), 1-15. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/10
Pendugaan Aksi Gen Pada Karakter Komponen Hasil Dan Daya Hasil Lateks Beberapa Genotipe Karet Hasil Persilangan Tetua Klon Ian 873 X Pn 3760
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pendugaan aksi gen karakter komponen hasil dan daya hasil lateks pada genotipe hasil persilangan klon IAN 873 X PN 3760. Penelitian dilakukan di Pengujian Evaluasi Semaian F1 dan Laboratorium Agronomi Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet yang berada di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Sebanyak 35 genotipe dan 2 tetua digunakan dalam penelitian ini. Karakter komponen hasil yang diamati yaitu lilit batang, tinggi tanaman, jumlah cabang pertama, tinggi cabang pertama, tebal kulit, jumlah ring pembuluh lateks, diameter sel pembuluh lateks, volume kayu, dan daya hasil lateks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keragaman genetik dari sembilan karakter yang diamati dengan nilai keragaman fenotipik antara 11,4 – 66,3%. Berdasarkan aksi gen, epistasis komplementer ditemukan pada karakter lilit batang, tinggi tanaman, jumlah cabang utama, tebal kulit, jumlah ring pembuluh lateks, volume kayu, dan hasil lateks yang artinya ketujuh karakter tersebut sangat dikendalikan oleh banyak gen, sedangkan epistasis dominan ditemukan pada karakter tinggi cabang utama dan diameter sel pembuluh lateks yang artinya kedua karakter tersebut dikendalikan oleh sedikit gen
Analisis Daya Hasil Lateks Dan Heritabilitas Karakter Kuantitatif Dari Beberapa Genotipe Karet Pp/07/04
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari karakter pertumbuhan, daya hasil lateks dan heritabilitas karakter kuantitatif beberapa genotipe karet PP/07/04. Sebanyak lima belas genotipe karet dan dua klon pembanding PB 260 dan RRIC 100 diuji pada penelitian ini. Pengujian genotipe tersebut dibangun di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet pada tahun 2004, yang terletak di Kabupaten Deli Serdang - Provinsi Sumatera Utara. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh nyata terhadap dua belas karakter yang diamati yaitu lilit batang, tebal kulit, jumlah cincin pembuluh lateks, diameter sel pembuluh lateks, panjang alur sadap, kecepatan aliran lateks, indeks penyumbatan, kadar fosfat anorganik, kadar sukrosa, kadar thiol, kadar karet kering, dan daya hasil lateks. Berdasarkan karakter pertumbuhan dan daya hasil lateks menunjukkan bahwa genotipe HP 92/309 memiliki potensi hasil lateks tinggi, sedangkan genotipe HP 92/542 memiliki hasil lateks tinggi dan pertumbuhan jagur. Dua belas karakter yang diamati memiliki nilai heritabilitas tinggi dengan nilai h2bs antara 0,52 – 0,95. Hal ini menunjukkan bahwa karakter-karakter tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor genetik. Diterima : 5 April 2016 / Direvisi : 30 Juni 2016 / Disetujui : 3 Agustus 2016 How to Cite : Sayurandi, S., Wirnas, D., & Woelan, S. (2016). Analisis daya hasil lateks dan heritabilitas karakter kuantitatif dari beberapa genotipe karet PP/07/04. Jurnal Penelitian Karet, 34(1), 1-12. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/22
Genotipe Terpilih Berdasarkan Karakter Pertumbuhan Dan Hasil Lateks Dari Up/03/96
Penggunaan klon-klon unggul yang berhasil tinggi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil karet. Klon unggul diperoleh melalui beberapa tahap pengujian salah satu diantaranya adalah pengujian pendahuluan. Materi pengujian berupa genotipe dari hasil seleksi dengan intensitas 10% pada populasi hasil persemaian F1. Evalusi pengujian pendahuluan telah dilakukan pada UP/03/96 yang telah berumur 10 tahun. Dari hasil pengujian diperoleh sebanyak dua genotipe yang dikelompokkan kedalam klon penghasil lateks yaitu genotipe no. 75 (91/439) dan 33 (91/303), dan sebanyak sepuluh genotipe dikelompokan ke dalam klon penghasil lateks dan kayu, yaitu: no. 65 (91/160), 25 (91/438), 64 (91/301), 47 (91/45), 76 (91/65), 35 (91/409), 37 (91/369), 28 (91/214), dan 5 (91/343).. Genotipe-genotipe tersebut merupakan klon harapan unggul baru yang memiliki pertumbuhan dan hasil lateks yang baik. Diterima : 6 Februari 2014; Direvisi : 17 April 2014; Disetujui : 25 Juni 2014 How to Cite : Pasaribu, S. A., Suhendry, I., & Sayurandi. (2014). Genotipe terpilih berdasarkan karakter pertumbuhan dan hasil lateks dari UP/03/96. Jurnal Penelitian Karet, 32(2), 98-108. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/15
Karakter Fisiologi, Anatomi, Pertumbuhan Dan Hasil Lateks Klon Irr Seri 300
Karakter fisiologi, anatomi kulit, pertumbuhan dan produksi karet merupakan parameter penting di dalam seleksi klon karet unggul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter fisiologi lateks, anatomi, pertumbuhan dan produksi lateks klon IRR Seri 300. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Fisiologi Baai Penelitian Sngei Putih pada tahun 2011. Klon yang diuji dalam penelitian ini yaitu sebnayak 21 klon seri 300 dengan 3 klon pembanding (PB 260, RRIC 100, BPM 24) pada umur 12 tahun. Penelitiqn ini disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter fisiologi lateks (kadar sukrosa, kadar fosfat anorganik, kadar tiol, panjang alur sadap, indeks penyumbatan, kecepatan aliran lateks dan indeks produksi) memiliki perbedaan nyata diantara klon yang diuji. Demikian juga dengan karakter anatomi (jumlah pembuluh lateks dan diameter pembuluh lateks), pertumbuhan (lilit batang, tebal kulit), dan produksi lateks menunjukkan adanya perbedaan yang nyata. Hasil analisis korelasi menunjukkn bahwa indeks penyumbatan, indeks produksi, lilit batang, tebal kukit, jumlah pembuluh lateks dan diameter pembuluh latejs mempunyai korelasi cukup nyata terhadap hasil lateks, sedangkan panjang alur sadap, kecepatan aliran lateks, kadar sukrosa, kadar tiol, kadar fosfat anorganik, dan kadar karet kering tidak berkorelaso nyata terhadap hasil lateks. Diterima : 21 Desember 2012; Disetujui : 8 Maret 2013 How to Cite : Woelan, S., Sayurandi., & Pasaribu, S. A. (2013). Karakter fisiologi, anatomi, pertumbuhan dan hasil lateks klon IRR seri 300. Jurnal Penelitian Karet, 31(1), 1-12. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/12
Pengujian Adaptasi Beberapa Klon Karet Pada Masa Tanaman Belum Menghasilkan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja beberapa klon karet pada pengujian adaptasi selama masa tanaman belum menghasilkan. Sebanyak sembilan klon karet yaitu IRR 5, IRR 104, IRR 112, IRR 118, IRR 119, IRR 230, PB 217, RRIM 921, RRII 105 dan klon pembanding PB 260 diuji dalam penelitian ini. Pengujian adaptasi dilakukan pada dua daerah yang memiliki agroekosistem yang berbeda, yaitu Gunung Tua yang terletak di Kabupaten Padang Lawas Utara memiliki iklim yang lebih kering dan Batang Toru terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan memiliki iklim yang lebih basah. Pengujian adaptasi dibangun pada tahun 2005 dan 2007 dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Pengamatan karakter pertumbuhan lilit batang dilakukan pada umur 2, 3 dan 4 tahun, sedangkan karakter tebal kulit dan anatomi kulit diamati pada umur 4 tahun. Intensitas serangan penyakit gugur daun Oidium, Colletotrichum, dan Corynespora diamati pada umur 3 tahun. Hasil pengujian menunjukkan bahwa klon IRR 104 dan IRR 118 memiliki pertumbuhan yang cukup jagur di daerah kering, sedangkan klon IRR 5, IRR 112, PB 217 dan RRIM 921 memiliki pertumbuhan paling jagur pada kondisi iklim lebih basah. Berdasarkan karakter tebal kulit dan anatomi kulit menunjukkan klon IRR 5, PB 217, RRII 105, dan RRIM 921 memiliki karakter tebal kulit paling tinggi, sedangkan klon IRR 5, IRR 104, IRR 112, IRR 118, dan IRR 230 memiliki karakter anatomi kulit yang cukup baik. Semua klon yang diuji tergolong agak resisten hingga resisten terhadap penyakit gugur daun Oidium, Colletotrichum, dan Corynespora.Diterima : 8 Oktober 2013; Direvisi : 24 Desember 2013; Disetujui : 4 Maret 2014 How to Cite : Sayurandi., Suhendry, I., & Pasaribu, S. A. (2014). Pengujian adaptasi beberapa klon karet pada masa tanaman belum menghasilkan. Jurnal Penelitian Karet, 32(1), 1-9. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/14
