43 research outputs found
Karakteristik Permen Jeli Susu Kambing yang Ditambahkan Berbagai Konsentrasi Jus Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus)
Pengaruh penambahan jus kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap kualitas jeli susu kambing telah diteliti. Jus tersebut disiapkan dengan menghomogenkan kulit buah naga merah dan air pada rasio 4:1. Berbagai jenis konsentrasi jus kulit buah naga merah terhadap konsentrasi susu yaitu 0, 2, 4, 6, dan 8 % telah ditambahkan pada formulasi permen jeli. Setelah dimasak, kadar air, pH, dan warna (L*, a, b*) sampel diuji. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan jus kulit buah naga merah meningkatkan kadar air sampel, sedangkan pH sampel menurun secara signifikan. Pada saat yang sama, lightness (L*) dan yellowness (b*) sampel menurun, tetapi redness (a*)–nya meningkat. Kesimpulannya, 8% kulit buah naga merah berkontribusi dalam menghasilkan redness yang lebih pekat, sehingga dapat menjadi pilihan zat pewarna untuk menghasilkan warna yang menarik pada pembuatan permen jeli susu kambing
Ipteks Bagi Forum Studi Islam (Fsi) Keputrian dalam Meningkatkan Mutu dan Nilai Jual Rendang Telur di Fakultas Peternakan, Universitas Andalas
Rendang merupakan makanan khas Sumatera Barat yang perlu disosialisasikan terutama terhadap masyarakat kampus Fakultas Peternakan melalui Mitra Forum Studi Islam (FSI) Keputrian Fakultas Peternakan Unand yang kenaggotaannya seluruh mahasiswi Fakultas Peternakan melalui pelatihan peningkatan mutu dan nilai jual rendang telur. Tujuan dari pengabdian ini adalah pelatihan kewirausahaan rendang telur di Fakultas Peternakan. Metode pelaksanaan berupa penyuluhan/penyadaran, pendampingan, rancang bangun kemasan, pelatihan produksi dan manajemen USAha rendang telur termasuk konsultasi bisnis. Luaran yang diharapkan adalah produk rendang telur Fakultas Peternakan dengan cakupan pemasaran yang lebih luas yang dikemas, siap untuk dipasarkan. Berdasarkan pengabdian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa Mitra telah mendapatkan pengetahuan yang proporsional dalam pembuatan rendang telur dan praktek pembuatan yang memadai sehingga diharapkan Mitra sudah dapat melanjutkan USAha rendang telur Fakultas Peternakan dengan mutu dan nilai jual yang lebih tinggi.
Kata kunci : Rendang telur, Kewirausahaan, FSI, Manajemen, Mutu dan Nilai jual
SCIENCE AND TECHNOLOGY FOR THE FORUM OF ISLAMIC STUDIES (FSI) DAUGHTER IN IMPROVING THE QUALITY AND SELLING VALUE EGGS RENDANG AT ANIMAL SCIENCE FACULTY, UNIVERSITAS ANDALAS
Deni Novia, Endang Purwati R.N., Yuherman, Indri Juliyarsi, Sri Melia, Afriani Sandra and Ade Sukma
1)Faculty of Animal Science, Andalas University, email: [email protected]
 
Thermophilic Campylobacter spp. occurrence on chickens at farm, slaughter house and retail
The aim of this study was to investigate the occurrence of campylobacters in chicken at farms (close-house system and open-house system), slaughtering (conventional slaughterhouse and processing plant) and retail (wet market and supermarket). Campylobacter spp. was not found in cloacal swabs in chickens aged of 4 weeks in farms with close-house system. Campylobacter spp. was found in cloacal swabs (95.0%) in four weeks old chicken in farms with open-house systems. End-slaughtering samples from conventional slaughterhouse and processing plant were contaminated with Campylobacter spp. at 84.0% and 94.0%, respectively. Campylobacter contamination on wet market and supermarket samples with 78.0% and 92.0%, respectively. Close-house system at farm level was able to prevent or delay Campylobacter spp. colonization in chickens but contamination by Campylobacter spp. at retail level was still high. Therefore, monitoring of Campylobacter spp. in chicken products at retail level is crucial to reduce risk of human ingestion of Campylobacter spp. through chicken products
ANALISIS FISIKOKIMIA DAN PENILAIAN ORGANOLEPTIK NUGET AYAM DENGAN PENAMBAHAN SAYUR BAYAM (Amaranthus. Sp)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan beberapa jenis bayam (Amaranthus sp.) terhadap kadar serat, kadar zat besi, nilai fisikokimia (kadar air, kadar protein, kadar lemak), warna (L, a*, b*) dan nilai organoleptik nugget ayam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu tanpa penambahan bayam (A), penambahan bayam hijau cabut (B), penambahan bayam hijau akar (C), dan penambahan bayam merah (D). Peubah yang diukur adalah kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar zat besi, warna, dan nilai organoleptik nugget ayam. Hasil penelitian menunjukkan nilai kadar serat, kadar zat besi berturut-turut berkisar 0,14-0,568%, 17,77-19,23%, nilai proksimat berturut-turut 25,96-28,45% untuk kadar air, 20,04-24,02% untuk kadar protein dan 19,24-19,87% untuk kadar lemak. Penilaian warna menunjukkan angka lightness, redness dan yellowness berturut-turut berkisar antara39,63-55,66, -4,03 – 1,18 dan 13,68-16,37. Sedangkan penilaian organoleptik menunjukkan penambahan bayam dapat diterima oleh panelis baik dari segi rasa, aroma, tekstur, warna dan penerimaan keseluruhan (overall) dengan kategori mulai dari agak suka sampai suka. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan bayam merah merupakan hasil terbaik dilihat dari kadar serat dan kadar protein nuget ayam
Bacillus cereus and Bacillus thuringiensis in ready-to-eat cooked rice in Malaysia
Bacillus cereus (B. cereus) isolates are toxigenic and can cause food poisoning. Cooked rice is a potentially hazardous food, especially in tropical countries. The aim of this study was to determine the prevalence of B. cereus and B. thuringiensis in raw and cooked rice marketed in Selangor, Malaysia. In this research combination of Most Probable Number - Polymerase Chain Reaction (MPN-PCR) was used to detect gyrB gene in B. cereus and B. thuringiensis. Five local varieties of raw rice samples were negative for B. thuringiensis but all (100%) were positive for B. cereus. A total of 115 cooked rice samples (nasi lemak, nasi briyani, nasi ayam and nasi putih) were studied for the presence of B. cereus and B. thuringiensis. Nasi ayam was found to have the highest prevalence (100%) of B. cereus compared to nasi putih (76.2%) and nasi lemak (70.4%). Nasi briyani had the lowest prevalence (50%) of B. cereus. The frequencies of B. thuringiensis were found to be 10, 30 and 35.2 % in nasi putih and nasi ayam, nasi briyani and nasi lemak, respectively. The range of B. cereus and B. thuringiensis in the samples was from 1100 MPN/g) while nasi ayam showed less contamination (460 MPN/g) with B. cereus which was significantly different (P 1100, 93, 9.2 and 3.6 MPN/g, respectively
