26 research outputs found
STRATEGI RANTAI PASOK AGROINDUSTRI GULA MERAH TEBU
Gula merah tebu (GMT) merupakan hasil olahan tebu dalam bentuk gula cetak dengan rasa dan aroma yang khas serta dapat menjadi barang substitusi gula pasir. Proses pengolahan GMT dilakukan secara mekanis dengan menggunakan mesin, secara semi mekanis menggunakan hand traktor dan secara manual menggunakan tenaga ternak/kerbau. Ketersediaan bahan baku, teknologi pengolahan yang masih tradisional dan fluktuasi harga menjadi persoalan dalam rantai pasok agroindustri GMT. Adapun tujuan penelitian ini adalah : (1) menentukan harga pokok produksi GMT yang terprediksi; (2) memilih teknologi yang digunakan dalam proses penggilingan tebu menjadi GMT; (3) merumuskan strategi rantai pasok agroindustri GMT.
Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus di Kabupaten Agam sebagai sentra produksi GMT Sumatera Barat. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder serta menggunakan penilaian 7 orang pakar yang terdiri dari pelaku rantai pasok agroindustri GMT, akademisi, dan dinas terkait. Penetapan harga pokok produksi GMT yang terprediksi menggunakan metode full costing dan pemilihan teknologi menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Analisis strategi rantai pasok agroindustri GMT dilakukan dengan menggunakan metode analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats). Kemudian dilanjutkan dengan analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) untuk memilih strategi rantai pasok agroindustri GMT yang terbaik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga pokok produksi GMT pada pengolahan secara mekanis dengan agroindustri milik sendiri adalah Rp 11.772,08/kg, secara semi mekanis Rp 11.810,83/kg dan secara mekanis dengan sistem sewa Rp 13.223,50/kg serta secara manual Rp 13.653,89/kg. Ditinjau dari pemilihan teknologi pengolahan GMT maka cara mekanis juga terpilih sebagai alternatif dengan nilai prioritas tertinggi yakni 0,419 yang diikuti cara manual dan cara semi mekanis. Pemilihan mengacu pada kriteria technoware, humanware, infoware dan organoware dengan kriteria humanware memiliki nilai prioritas tertinggi (0,382) dan kemudian diikuti oleh kriteria technoware, infoware, dan orgaware.
Adapun strategi rantai pasok agroindustri GMT yang terbaik adalah : melakukan pengembangan dan penetrasi pasar (nilai TAS 6,77649) yang dapat dilakukan melalui pemasaran GMT ke daerah pemasaran baru dan perbaikan pemasaran dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk pemasaran GMT.
Kata kunci : gula merah tebu, rantai pasok, AHP, full costing, QSP
ANALISA SOSIOEKONOMI PENERAPAN PENGUMPANAN TEBU DALAM PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI GULA MERAH TEBU DI LAWANG
Pengembangan agroindustri untuk meningkatkan nilai tambah usahatani terus digalakkan. Sejalan dengan itu, peran inovasi teknologi makin strategis dalam upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi sistem produksi. Pengembangan agroindustri tidak terlepas dari pemanfaatan teknologi mekanisasi, baik di dalam maupun luar usahatani. Begitu juga halnya dengan agroindustri gula merah tebu (GMT) yang merupakan agroindustri skala kecil yang menghadapi berbagai kendala dalam pengembangannya. Salah satunya adalah rendemen dan produkstivitas agroindustri GMT yang rendah di Lawang yang disebabkan diantaranya kurang optimalnya proses penggilingan. Berbagai alternatif teknologi dapat diterapkan untuk mengatasinya, salah satunya melalui cara pengumpanan tebu. Namun perlu dilakukan pemilihan teknologi yang tepat baik secara teknis, ekonomi dan sosial. Oleh karenanya tujuan penelitian ini adalah menentukan dan menganalisis kelayakan sosioekonomi cara pengumpanan tebu yang diterapkan dalam pengembangan agroindustri gula merah tebu. Metode MPE digunakan untuk memilih pengumpanan tebu yang akan diterapkan, sedangkan analisa sosioekonomi dilakukan secara kualitatif dengan metode deskriptif. Dari penelitian ini diketahui bahwa (1) Perbaikan cara pengumpanan tebu dengan melakukan pengumpanan tebu 4 batang sekaligus dipilih sebagai alternatif dalam pengembangan agroindustri GMT di Lawang (berdasarkan metode penilaian MPE) dengan nilai 749, dengan mengacu pada kriteria laju pengumpanan, ketersediaan tenaga kerja ,ketersediaan bahan baku, kemampuan operator dan kemampuan modal, (2) Cara pengumpanan tebu 4 batang sekaligus ditinjau dari aspek ekonomi dan sosial layak untuk diterapkan dalam pengembangan agroindustri GMT di Lawang.Kata Kunci: Gula merah tebu, pengembangan agroindustri, pengumpanan teb
ANALISA EKONOMI PENGOPERASIAN ALAT DAN MESIN PENGADUK ADONAN KERUPUK MERAH
Di Sumatera Barat, sentra industri kerupuk merah terdapat di daerah Piladang Kecamatan Akabiluru Kabupaten Lima Puluh Kota dan jumlah industri ini terus meningkat (14, 16 % pada tahun 2011) seiring dengan meningkatnya permintaan kerupuk merah. Namun, permasalahan pada industri kerupuk merah ini adalah teknologi pengolahan yang masih sederhana (manual) dari hulu sampai ke hilir dalam proses produksi kerupuk merah yang membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang banyak sehingga biaya operasionalnya pun menjadi besar. Kapasitas produsi kerupuk merah sangat ditentukan oleh proses pencampuran adonan (proses awal) yang selama ini 3-4 orang tenaga pria sebagai tenaga pengaduknya yang mengaduk adonanan 500 kg selama 2,5 jam – 3 jam. Proses ini menjadi pekerjaan yang melelahkan, membutuhkan waktu yang lama dan menurunkan kuantitas dan kualitas produksi. Oleh karena itu, didesignlah alat pencampur adonan kerupuk merah yang dapat meningkatkan kapasitas produksi dan efisien waktu serta lebih higienis.Hasil penelitian Melly dan Harni (2015) menunjukkan secara teknis alat dan mesin pencampur adonan kerupuk merah yang didesign layak digunakan karena dapat meningkatkan produksi serta efektif dan efisien dari segi waktu dan tenaga kerja dimana berkapasitas 906,34 kg/jam dengan kecepatan 27,2 rpm serta membutuhkan 1 orang operator dalam pengoperasiannya. Selanjutnya perlu dikaji dari segi eknomisnya.Penelitian ini dilakukan di workshop Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh dan industri kerupuk merah Payakumbuh pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2015. Metode yang digunakan adalah metode perhitungan biaya pengoperasian alat yang memperhitungkan biaya tetap dan biaya tidak tetap. Dari segi biaya pengoperasian alat pencampuran kerupuk merah lebih ekonomis dibandingkan dengan cara manual dimana biaya pengoperasian alatnya Rp.42,112/kg, sedangkan secara manual membutuhkan biaya Rp. 140,625/kg. Dengan demikian alat pencampuran adonan kerupuk merah ini secara teknis dan ekonomis layak digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi kerupuk merah pada industri kerupuk merah dan lebih efisien waktu, tenaga dan biaya
Processing Coconut Fiber and Shell to Biodiesel
Based on research conducted, liquid smoke coming from the husk and coconut shell containing 58-70% Methyl Ester as biodiesel-forming compounds. Then conducted research for the manufacture of methyl esters of liquid smoke based on differences in their boiling points. The purpose of this research is the development of tools producing liquid smoke, liquid smoke processing into biodiesel, biodiesel testing with the diesel engine and the determination of the proper blending between biodiesel. The method used in this study is a phase of making tools, raw material preparation, testing tools for liquid smoke production, purification, separation of methyl esters and methyl esters testing by blending in diesel engines. Obtained from research conducted work capacity device of liquid smoke 1:22 kg / hour with a yield of 32.17%. Performance test by blending biodiesel B10, B20, B30, B40, B50 and B100 with a 6.5 HP engine capable of running a diesel engine with performance that is not much different, more smoke clear, odorless and lighter engine speed
Rancang Bangun Mesin Pencacah Batang Pisang untuk Pakan Ternak
Batang pisang merupakan bagian vegetatif tanaman yang dapat diolah untuk pakan ternak karena mengandung nutrisi yang bagus untuk pengganti pakan ternak ruminansia. Pengolahan batang pisang untuk pakan ternak melewati proses pencacahan kemudian dilanjutkan dengan fermentasi. Selama ini, pencacahan dilakukan secara manual menggunakan pisau sehingga butuh tenaga dan waktu yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk membuat mesin pencacah batang pisang dan, melakukan uji kinerja serta analisa ekonomi teknik. Pembuatan mesin pencacah batang pisang ini dilakukan dengan prosedur pelaksanaan melalui perancangan fungsional dan perancangan struktural. Komponen pada mesin ini terdiri dari rangka, ruang pencacah, mata pisau, poros, inlet, outlet dan motor listrik 1 Hp. Dalam pengoperasian mesin ini menggunakan prinsip kerja dengan memanfaatkan gerak putar (rotasi) dari motor listrik yang akan di transmisikan melalui besi poros (poros utama) untuk memutar dudukan mata pisau pencacah. Mata pisau pencacah terdiri dari dua buah mata pisau yang berputar searah jarum jam dan akan mencacah batang pisang tersebut. Mesin ini memiliki kapasitas 1.348 kg/jam dengan tebal cacahan rata-rata 2 cm. Dalam pengoperasiannya diketahui biaya pokok Rp. 10,91/kg dan break event point15.939,6 kg/tahun
Human Umbilical Cord Blood-derived Secretome Enhance Endothelial Progenitor Cells Migration on Hyperglycemic Conditions
Hyperglycemia state is harmful to body’s homeostasis. Uncontrolled hyperglycemic patients, especially patients with diabetes mellitus have a higher mortality risk of heart disease 2 to 4 times compared to non-hyperglycemic patients. Vascular endothelial impairment always been observed and found as a key feature of hyperglycemia state, which is correlated with reduced numbers and dysfunction of endothelial progenitor cells (EPCs). Objective: This paper aims to investigate the effect of hUCB-MSCs derived secretome treatment on the EPCs migration under hyperglycemia state. Materials and Methods: EPCs were isolated and cultured from peripheral blood samples and cultured for three days. Cultured EPCs were cultivated in 6-well plates until confluence and incubated with high glucose for 5 days, then placed in the modified Boyden chamber at the upper chamber with basal media. The lower chamber was supplemented with basal media and secretome at 2%, 10%, and 20% concentration and VEGF treated group as a control. EPCS migration was evaluated using a Boyden chamber assay. Statistical analysis was performed using SPS 25.0. Results: EPCs migration were significantly higher when hUCB-MSCs-derived secretome was given in high glucose concentrations compared to the and control group (79.80 ± 5.07 vs 51.00 ± 5.15, p<0.000). This study also showed that hUCB-MSCs-derived secretome increase EPCs migration under high glucose concentrations in a dose-dependent manner (p<0.05). Conclusion: hUCB-MSCsderived secretome enhances EPCs migration under hyperglycemic state. This result may be of relevance for cell-free and regenerative therapeutic modality for a diabetic patient with coronary artery disease (CAD)
RANCANG BANGUN DAN ANALISA ALAT PENGUPAS KOPI
Pengupasan kulit kopi sangat berpengaruh pada kualitas kopi yang dihasilkan. Kendala yang dihadapi dalam pengupasan kopi tradisional adalah waktu dan energi yang digunakan terlalu besar. Alat pengupas kopi berfungsi untuk mengupas atau memisahkan kulit kopi dari biji kopi dan diharapkan bisa membantu petani dalam mengupas hasil dengan maksimal dan efektif. Alat pengupas kopi berkapasitas 200 kg/jam. Hasil analisa ekonomi teknik alat pengupas kopi didapat biaya tetap Rp. 1.179.630/tahun, biaya tidak tetap Rp. 16.069/jam, biaya pokok Rp. 82/kg dan Break Event Point (BEP) 1.567 kg/tahun
Capital Structure, Board Gender Diversity and Financial Performance of Listed Companies at Nairobi Securities Exchange in Kenya
This research examined how board gender diversity influences the relationship between capital structure and financial performance of companies listed on the Nairobi Securities Exchange (NSE) in Kenya. The study aimed to address the following research inquiries: The link between capital structure and financial performance of listed firms on the NSE in Kenya is being inquired. Does the presence of a diverse gender composition on a company's board of directors influence the link between debt and equity funding and the company's financial performance? In order to do this, the study was based on the conventional theory of capital structure and used an explanatory research method. The research focused on a population of 65 publicly traded companies on the Nairobi Securities Exchange (NSE) in Kenya from 2018 to 2023. However, the sample size consisted of only 32 companies, resulting in a total of 192 observations. Document analyses were used to gather secondary panel data, which were then submitted to statistical analysis techniques such as Pearson's correlation and descriptive analytic measures such as mean and standard deviation. Finally, the study's hypotheses were examined by hierarchical regression analysis. The results suggest that debt financing, equity financing, and capital structure have a substantial and beneficial impact on financial performance. The presence of women on the board, known as board gender diversity, serves as a beneficial mediator between debt financing, equity financing, capital structure, and financial performance. It is therefore imperative that firms regularly try to keep check on the amount of money borrowed and the efforts should be made to ensure that companies do not go overboard in their borrowing and this is by ensuring they balance their sources of financing between debt and equity. Further, firms should afford more importance to equity financing since the study demonstrates that equity financing has always a positive association with the financial performance of firms. Also, it is important to strive to have high capital structures and ensure that there is a proper. mods separation of the two major sources of financing which is debt and equity. Finally, research has demonstrated that a number of aspects related to gender diversity on boards have a positive effect on firms’ financial performance, and therefore this area of corporate governance should be a priority.
Keywords: Board gender diversity, Capital structure, financial performance, and Nairobi Securities Exchange (NSE).
 
