475 research outputs found
Pola Pertumbuhan Bayi Di Daerah Endemik Malaria: Kasus Di Desa Robek, Flores
Telah diteliti pola pertumbuhan bayi di daerah endemik malaria yaitu di Desa Robek, Kecamatan Rao, Kabupaten Flores, Nusa Tenggara Timur. Penelitian dilakukan dengan menimbang berat badan bayi sekali sebulan sejak dilahirkan sampai berumur 12 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun rata-rata berat badan lahir bayi-bayi di daerah itu lebih rendah dari pada baku Harvard; sampai umur 4 bulan ternyata laju pertumbuhan berat badan mereka sama seperti bayi sehat di daerah lain di Indonesia. Tetapi sesudah umur ini, laju pertambahan berat badan mereka cenderung mengarah ke pola pertumbuhan tidak sebagaimana layaknya untuk bayi-bayi sehat menurut baku Harvard. Pertambahan berat badan bayi yang mengidap penyakit malaria lebih rendah daripada yang tidak mengidap penyakit tersebut
Cakupan Suplementasi Kapsul Vitamin a Pada Ibu Masa Nifas Dan Faktor-faktor Yang Memengaruhi Di Indonesia Analisis Data Riskesdas 2010
Background: Vitamin A supplementation program for postparum mothers has been implemented in lndonesia since 1996. The objective is to improve vitamin A status of postpartum mother and newborn through improvement of vitamin A status in breastmilk. However, Riskesdas 2010, across-sectional nationwide health study, reveals that the coverage is lower than in children underfives. In order to improve the coverage, there is a need to analyze factors associated with high or low coverage. The objective of this paper is to assess vitamin A coverage for postpartum mothers and factors of household, mother, access to health services that favour or limit the coverage. Methods: Riskesdas 2010 collected information on whether 19,000 samples mother 10-59 years having living children underfives received vitamin A capsules during postpartum period of the last child. A multivariate logistic regression was used to measure odd ratio. Vitamin A supplementation coverage among mother (in pospartum period) was 56.1%, varies 35-70% among provinces, higher in urban (61.4%) than in rural areas (50.8%). Gdd ratios of mothers who didn\u27t receive capsule are significantlyassociated with not having neonatal care (AGR = 2,334, 95% CI 2,156-2,530), not receiving iron tablet during pregnancy (AGR = 2,076,95% CI 1,874-2,298), ANC 3 times or less (AGR = 1.252,95% CI 1,095-1,431), without ANC (AGR = 1,355, 95% CI 1,217-1,510), not receiving TT immunization (AGR = 1,245, 95% CI 1, 156-1,341). The coverage is also significantly associated with not attending Posyandu, low education, did not know Polindes with AGR slightly above 1, but not associated with age and marital status. Results: The analysis shows that factors significantly associated with the coverage are mostly assessibility of health care of mothers during pregnancy and delivery High coverage of vitamin A supplementation should be improved by increasing access of women during pregnancy and delivery in community and health education on importance of vitamin A supplementation
Status Vitamin A Anak 12-59 Bulan dan Cakupan Kapsul Vitamin A di Indonesia
Masalah kurang vitamin A (KVA) masih merupakan masalah gizi di Indonesia. Program untuk mengatasi KVA dilakukan dengan program suplementasi kapsul vitamin A untuk anak 6-59 bulan dua kali setahun (Februari dan Agustus). Tetapi cakupan program tersebut belum optimal dan bervariasi antar daerah dan sebagian Balita masih terkena KVA. Studi ini bagian dari SEANUTS yang bertujuan untuk mengetahui cakupan kapsul vitamin A, faktor-faktor yang mempengaruhi status serum retinol anak Indonesia umur 12-59 bulan. Studi dilakukan di 48 kabupaten yang mencakup 3595 Balita. Cakupan kapsul dan faktor-faktor dikumpulkan oleh enumerator dengan kuesioner terstruktur. Serum retinol dianalisis dengan metode HPLC dari 504 sub-sampel Balita. Cakupan kapsul vitamin A sebesar 83,0 persen. Faktor yang berperan Balita tidak menerima kapsul vitamin A adalah status ekonomi rendah (OR 1,75 95% CI 1,35-2,27), tidak pernah ke posyandu (OR 7,90 95% CI 6,20-10,06), ke posyandu hanya 1-3 kali dalam 6 bulan terakhir (OR 2,62 95%CI 2,00-3,49), dan pendidikan ibu SMP ke bawah (OR 1,41 95% CI 1,11-1,78). Serum retinol Balita yang tidak menerima kapsul lebih rendah (p=0,039) dibanding yang menerima kapsul (1,37+0,47 dibanding 1,51+0,53 µmol/L). Kadar serum retinol tertinggi pada 2 bulan sesudah distribusi kapsul (2,10+0,36 sampai 2,18+0,61 µmol/L) dan kemudian terus menurun sampai sebelum bulan distribusi kapsul 6 bulan berikutnya (1,21+0,45 sampai 1,28+0,40 µmol/L). Hal ini berarti kenaikan serum retinol antara 0,82-0,97 µmol/L dengan suplementasi kapsul vitamin A. Program kapsul vitamin A masih tetap diperlukan karena kapsul meningkatkan status vitamin A yang masih belum optimal
Asupan Zat Besi, Vitamin a Dan Zink Anak Indonesia Umur 6-23 Bulan
Anak di bawah dua tahun paling rentan terhadap kekurangan gizi. Oleh karena itu, seribu hari kehidupan pertama merupakan periode kritis anak untuk mendapatkan kesehatan dan status gizi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur asupan zat besi, vitamin A dan zink dari makanan anak yang berkontribusi terhadap masalah kurang gizi mikro. Desain penelitian ini potong-lintang dengan sampel 1,177 anak umur 6-23 bulan di 48 kabupaten di Indonesia. Asupan makanan diukur menggunakan metoda recall 24 jam asupan makan, oleh enumerator terlatih. Asupan zat gizi dihitung berdasarkan Daftar Komposisi Bahan Makanan Indonesia. Variabel lainnya seperti karakteristik rumah tangga, ASI dan praktik pemberian makanan pendamping ASI, pelayanan kesehatan, angka kesakitan, antropometri dan hemoglobin. Hasil penelitian menunjukkan rerata asupan vitamin A, zat besi dan zink adalah 298+9 µg, 4,6+0,2 mg, and 3,3+0,1 mg. Bila dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (AKG) vitamin A, zat besi, dan zink adalah 74,6+1,8%, 60,3+2,7%, dan 41,0+1,1%. Prevalensi anemia sebesar 56,4 persen. Analisis ANCOVA menggambarkan bahwa asupan berhubungan secara nyata dengan tempat tinggal (desa/kota), status sosial ekonomi, umur, morbiditas (kesakitan), nafsu makan, pemberian ASI dan konsumsi susu dan hasil olahnya. Walaupun demikian, analisis dengan regresi logistik ganda menggambarkan bahwa asupan rendah vitamin A dibawah AKG berhubungan dengan umur anak yang lebih muda, status sosial ekonomi rendah, penyapihan dan nafsu makan yang rendah. Asupan zat besi rendah berhubungan dengan umur, tempat tinggal, status sosiaI ekonomi rendah, sedangkan asupan zink berhubungan dengan status sosial ekonomi rendah dan penyapihan. Anak dengan konsumsi zat besi kurang dari AKG berhubungan dengan prevalensi anemia
Serum Retinol Dan Status Gizi Ibu Menyusui Menentukan Kadar Vitamin a Dalam Asi
Latar Belakang: Status vitamin A ibu menyusui dan bayinya telah dibuktikan mempunyai hubungan yang erat. Bayi dari ibu yang menderita kurang vitamin A mempunyai risiko yang tinggi menderita KVA. Asumsinya hubungan tersebut dimediasi oleh kadar vitamin A dalam ASI sebagai sumber vitamin A utama. Tujuan: Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status vitamin A ibu menyusui dan kadar vitamin A dalam ASI. Metode: Studi dilakukan pada 440 ibu menyusui yang bayinya umur 6-12 bulan di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis. Serum vitamin A dalam darah dan kadar vitamin A dalam ASI dikumpulkan dan dianalisis dengan metode HPLC. Kovariat antropometri, morbiditas, karakteristik ibu dan bayi yang berperan dalam serum vitamin A dan vitamin A ASI dikumpulkan. Analisis uji-t, ANOVA dan ANCOVA dilakukan untuk menguji peran status vitamin A ibu terhadap vitamin A ASI. Hasil: Hasil studi menunjukkan KVA ibu menyusui berpengaruh secara signifikan terhadap rendahnya kadar vitamin A dalam ASI setelah dikontrol oleh kovariat status gizi ibu menyusui. Rerata vitamin A dalam ASI pada ibu yang KVA dan non KVA 47,0 μg/dL dan 88,2 μg/dL. Kesimpulan: Setelah dikontrol oleh kovariat status gizi ibu menyusui, kurang vitamin A pada ibu menyusui berpengaruh secara signifikan terhadap rendahnya kadar vitamin A dalam ASI
ANALISIS PENGARUH KUALITAS LAYANAN TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN PADA PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK KANTOR CABANG UTAMA SLAMET RIYADI SOLO
Heru Sandjaja. P 100080026. Analisis Pengaruh Kualitas Layanan
Terhadap Loyalitas Pelanggan Pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
Kantor Cabang Utama Slamet Riyadi Solo. Program Magister Manajemen
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah faktor
kepercayaan, image perusahaan dan biaya peralihan berpengaruh terhadap
loyalitas nasabah pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang
Utama Slamet Riyadi Solo.
Desain penelitian yang dilakukan adalah deskriptif dengan menggunakan
metode survei, dimana informasi dikumpulkan dari responden dengan
menggunakan kuesioner dengan berdasarkan jenis kelamin responden, usia
responden, jenis pekerjaan responden dan jenjang pendidikan responden. Lokasi
penelitian di kantor PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang
Utama Slamet Riyadi Solo. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh nasabah,
pegawai dan pengurus PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang
Slamet Riyadi Solo. Adapun sebagai sampelnya adalah para nasabah yang akan
diukur persepsinya terhadap kualitas pelayanan dan loyalitasnya. Sampel
dilakukan berdasarkan sampel kemudahan (Convenience Sampling). Jumlah
sampel dalam penelitian ini sebanyak 74 orang. Sedangkan metode analisis data
yang digunakan untuk menjawab permasalahan utama atau pengujian hipotesis
adalah metode regresi linier. Analisis data akan meggunakan program komputer
statistik yaitu SPSS for Windows.
Hasil penelitian ini adalah adanya pengaruh positif yang signifikan antara
kepercayaan terhadap loyalitas nasabah sebesar 21,6% dengan nilai thitung sebesar
2,116%, relevansi empiris yang lain menunjukkan bahwa penelitian saat ini
memiliki pengaruh yang positif dan signifikan antara factor image perusahaan (x2)
terhadap loyalitas nasabah sebesar 29% dengan nilai thitung sebesar 3,145%.
Selanjutnya adalah adanya pengaruh yang positif namun tidak signifikan antara
faktor biaya peralihan (x3) terhadap loyalitas nasabah sebesar 9,2%. Dengan
demikian, hipotesis 1 dan hipotesis 2 dalam penelitian ini terbukti dan signifikan
sedangkan untuk hipotesis 3 tidak terbukti atau tidak signifikan
Skor Pola Pangan Harapan dan Hubungannya dengan Status Gizi Anak Usia 0,5 – 12 Tahun di Indonesia
The prevalence of undernutrition in Indonesia is still high compared to its neighbouring countries. The causes are quantity and quality of dietary intakes that can be assesed by dietary recall and desirable dietary pattern (DDP) respectively. The objective was to measure DDP and its association with nutritional status of 0,5-12-year-old Indonesian children. Data was obtained from SEANUTS Indonesia\u27s research covering 3.600 children in 48 districts. Trained nutritionists collected food intakes and dietary pattern by 1x24 hour dietary recall. Nutrient intakes and DDP were calculated by food composition tables and 9 food groups respectively. DDP score were categorized into lowest (score <55), low (55-70), medium (71-84), and high (>85). Weight, length/height were measured by digital weight scale and length measuring board/microtoise. World Health Organization (WHO) child standard was used to calculate W/A, H/A, W/H Z-scores. Analysis was done to measure DDP and its association with nutritional status. The result showed that DDP child 0,5-1,9 years was 48,7 point, DDP child 2,0-5,9 years was 54,7 point, DD child 6,0-12,9 years was 48,8 point. The overall DDP was 49,9 point, far below the maximum value 100 point. DDP was higher among older age, urban areas, higher father education, and higher socioeconomic status. The risk of stunted was higher in low DDP (OR = 1,24; 95% CI 1,15-1,732) and underweight (OR = 1,27; 95% CI 1,16-1,38) but no risk for wasted. The conclusion DDP of Indonesian children was still low and it was associated significantly with stunting and underweight
Konsumsi Minyak Goreng dan Vitamin A pada Beberapa Kelompok Umur di Dua Kabupaten
Indonesia plans to implement mandatory vitamin A fortification of cooking oil. A pilot study of voluntary vitamin A fortification in unbranded cooking oil showed that vitamin A status improved significantly a year afterfortification for five age groups except for children 12-23 months of age. The objective of the study was to measure cooking oil consumption and dietary consumption of vitamin A in children, women of reproductive age(WRA), and lactating mothers. The study was a cross-sectional study in Tasikmalaya and Ciamis, Indonesia, covering 1.594 samples randomly selected of poor households. Cooking oil was collected at household byrecall of usual cooking oil purchase and individual sample by 2x24h recall of food consumption. The results showed that households prefer bought unbranded cooking oil sold in plastic pouch at foodstall (warung) nearbyhome (96.2%), purchased oil every 1-3 days (60.6%), each purchace contained < 250 mL oil (73.9%). The average (mean+SE) cooking oil consumption at household was 27.5+1.0 mL/capita/day. Cooking oilconsumption at individual level on the average was 22.3+0.5 mL/capita/day lower compared to household consumption of oil, varied significantly of 2.4+0.4, 13.3+0.8, 23.0+1.0, 30.5+1.3, 33.5+1.2, 33.1+1.3 mL/day in 6-11, 12-23, 24-59 month old, 6-9 year old, WRA, and lactating mothers respectively. Cooking oil consumptionwas lower in children 6-11 and 12-23 months old which contributed to non-significant improvement of serum vitamin A level particularly in children 12-23 months old but not other groups since they consumed higher intake of cooking oil or still brestfed for children 6-11 month old
- …
