60 research outputs found

    Respons Pertumbuhan dan Produksi Padi Varietas Ciherang pada Tiga Dosis Fungi Mikoriza Arbuskular dan Dua Sistem Tanam

    Full text link
    Kebutuhan beras dari tahun ketahun terus meningkat, hal tersebut tidak diimbangi dengan produksi padi yang cukup. Salah satu USAha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi yaitu dengan pengaplikasian fungi mikoriza arbuskular (FMA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan dan produksi padi Varietas Ciherang pada berbagai dosis FMA dan dua sistem tanam. Penelitian disusun secara tunggal terstruktur berkelas dengan 6 perlakuan yang terdiri dari 4 ulangan yaitu d 0 s 1 (dosis FMA 0 spora per rumpun pada lahan tergenang), d 1 s 1 (dosis FMA 300 spora per rumpun pada lahan tergenang), d 2 s 1 (dosis FMA 600 spora per rumpun pada lahan tergenang), d 0 s 2 (dosis FMA 0 spora per rumpun pada lahan kering), d 1 s 2 (dosis FMA 300 spora per rumpun pada lahan kering), dan d 2 s 2 (dosis FMA 600 spora per rumpun pada lahan kering). Homogenitas ragam diuji dengan Uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan Uji Tukey. Pemisahan nilai tengah perlakuan dengan uji Ortogonal kontras 1% dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) padi Varietas Ciherang yangditanam di lahan tergenang menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditanam di lahan kering, (2) pemberian FMA pada lahan tergenang dengan dosis 300 dan 600 spora per rumpun menghasilkan pengaruh yang tidak berbeda dibandingkan dengan tanaman tanpa inokulasi FMA, (3) pemberian FMA dosis 600 spora per rumpun menghasilkan pengaruh yang tidak berbeda dibandingkan dengan dosis 300 spora per rumpun, (4) pemberian FMA pada lahan kering dengan dosis 300 dan 600 spora per rumpun menghasilkan pertumbuhan padi Varietas Ciherang yang lebih baik dibandingkan tanpa inokulasi FMA yang ditunjukkan oleh variabel jumlah anakan dan persen infeksi akar (5) pemberian FMA dosis 600 spora per rumpun pada lahan kering menghasilkan produksi yang lebih baik dibandingkan dengan 300 spora per rumpun yang ditunjukkan oleh variabel bobot gabah kering panen, bobot gabah kering giling, dan persen infeksi akar oleh FMA

    Respon Pertumbuhan Kelapa Sawit Bibit ( Elaeis Guineensis Jacq.) Terhadap Jenis Fungi Mikoriza Arbuskula Pada Dua Tingkat Pemupukan NPK

    Full text link
    Oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) is one of the important excellent crop plantations which have significance for the development of national farm and country source of foreign exchange earnings.Oil palm cultivation is mostly done on the ground of ultisol that have constraints phosphorus deficiency that needed improvement in the quality of the nursery with the utilization of arbuscular mycorrhiza fungi (AMF). The study aimed: (1) determine the best type of AMF in enhancing the growth of oil palm seedlings, (2) determine dose of NPK fertilize most appropriate for the oil palm seedling, (3) determine whether the response of oil palm seedlings to type AMF influenced by dose NPK fertilizer, and (4)determine the best dose of NPK fertilizer for each type of AMF. The treatment design is a factorial (6x2) arranged in randomize completely block design with 5 replications. The first factor is the type of AMF, design as without AMF, Glomus sp. Isolate MV 23, Glomus sp. Isolate MV 26, Entrophospora sp. Isolate MV 22, Entrophospora sp. Isolate MV 25, Entrophospora sp. Isolate MV 28.The second factor is number of NPK fertilize design as p1 (100 % from recomendation) and p2 (50 % from recomendation). Means homogeneity among the treatments were tested using Barlett test and the aditivity data were tested with Tukey test. Separation of means value were analyzed using Least Significant Difference (LSD) at 5% significance level. The results showed the interaction between the type and dose of NPK fertilizer AMF is can be concluded that (1) oil palm seedlings response to AMF inoculation type is determined by the dose of NPK fertilizer on the variable plant height, dry weight of root, and number of primary roots, 2) the optimum dose for each type of AMF are used based on the data root dry weight is a combination of 100% NPK fertilizer with each type of AMF, excepton the AMF types Entrophospora sp. Isolates MV 22

    Seleksi Lima Isolat Fungi Mikoriza Arbuskular Untuk Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Di Pembibitan

    Full text link
    Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) merupakan simbiosis antara fungi tertentu dengan akar tanaman dan memiliki kemampuan bersimbiosis hampir dengan 90% tanaman. FMA tidak memiliki inang yang spesifik, namun tingkat infektivitas dan efektivitasnya berbeda. Pemilihan jenis FMA yang tepat untuk kelapa sawit diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan isolat FMA yang terbaik untuk pembibitan kelapa sawit. Perlakuan disusun dalam rancangan perlakuan tunggaltidak terstruktur dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan, sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Perlakuan yang digunakan yaitu P0 (Kontrol), P1 (Glomus sp. isolat MV 10), P2 (Glomus sp. isolat MV 27), P3 (Gigaspora sp. isolat MV 17), P4 (Entrophospora sp. isolat MV 2), P5 (Entrophospora sp. isolat MV 29). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok. Kesamaan ragam antar perlakuan diuji dengan Uji Barlett. Kemenambahan data diuji dengan Uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi yaitu ragam perlakuan homogen dan data bersifat menambah, data dianalisis ragam. Pengujian beda nilai tengah antar perlakuan dilakukan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada selang kepercayaan Q 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FMA jenis Entrophospora sp. isolat MV 29 dan Glomus sp. isolat MV 27 merupakan FMA yang terbaik untuk pertumbuhan bibit kelapa sawit dibandingkan dengan FMA lainnya dan tanpa FMA yang dilihat melalui nilai tengah jumlah daun sebesar 10,5 helai, nilai tengah bobot kering tajuk sebesar 30,7 g dan 29,2 g, nilai tengah diameter batang sebesar 3,98 cm dan 4,02 cm dan nilai tengah persen infeksi akar sebesar 82,9% dan 75,8%

    Pengaruh Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Pupuk Kandang dengan Berbagai Dosis terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kedelai (Glycine Max [L.] Merrill) pada Ultisol

    Full text link
    Lahan yang mendominasi di Indonesia adalah lahan dengan tingkat kesuburan tanah yang rendah dari Ordo Ultisol. Untuk meningkatkan kesuburannya dapat diaplikasikan pupuk kandang dan FMA. Adapun tujuan penelitian ini adalah; (1) mengetahui pengaruh aplikasi FMA terhadap peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai pada Ultisol; (2) mengetahui pengaruh aplikasi pupuk kandang dengan berbagai dosis terhadap peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai pada Ultisol; (3)mengetahui apakah respons tanaman kedelai pada Ultisol terhadap aplikasi FMA dipengaruhi oleh dosis pupuk kandang yang diaplikasikan; (4) mengetahui dosis pupuk kandang optimum untuk aplikasi FMA pada tanaman kedelai. Percobaan dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu dan Laboratorium Produksi Perkebunan Jurusan Agroteknologi FP Unila dari bulan Agustus hingga November 2015. Rancangan perlakuan disusun secara faktorial (2x5) menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah aplikasi FMA (M) yang terdiri atas dua taraf, yaitu tanpa aplikasi FMA (M 0 ) dan dengan aplikasi FMA (M 1 ). Faktor kedua adalah pupuk kandang sapi (K), terdiri atas lima taraf yaitu (K 0 ) 0 ton/ha, (K 1 ) 5 ton/ha, (K 2 ) 10 ton/ha, (K 3 ) 15 ton/ha, dan (K 4 ) 20 ton/ha pupuk kandang. Pemisahan nilai tengah diuji dengan uji Polinomial Ortogonal dengan α 0,05 dan 0,01. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) aplikasi FMA mampu meningkatkan produksi tanaman kedelai pada tanah Ultisol melalui variabel pengamatan jumlah polong per tanaman, bobot polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, dan bobot 20 butir biji; (2) aplikasi pupuk kandang hingga dosis 20 ton/ha masih meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai melalui variabel tinggi tanaman, jumlah cabang, bobot akar kering, bobot tajuk kering, serapan P tanaman, jumlah polong per tanaman, bobot polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, dan bobot 20 butir biji; (3) respons tanaman kedelai pada Ultisol akibat aplikasi FMA tidak dipengaruhi oleh dosis pupuk kandang yang diaplikasikan; (4) belum terdapat dosis pupuk kandang optimum untuk aplikasi FMA pada tanaman kedelai

    Data monitoring roadmap. The experience of the Italian Multiple Sclerosis and Related Disorders Register

    Get PDF
    Introduction Over the years, disease registers have been increasingly considered a source of reliable and valuable population studies. However, the validity and reliability of data from registers may be limited by missing data, selection bias or data quality not adequately evaluated or checked.This study reports the analysis of the consistency and completeness of the data in the Italian Multiple Sclerosis and Related Disorders Register.MethodsThe Register collects, through a standardized Web-based Application, unique patients.Data are exported bimonthly and evaluated to assess the updating and completeness, and to check the quality and consistency. Eight clinical indicators are evaluated.ResultsThe Register counts 77,628 patients registered by 126 centres. The number of centres has increased over time, as their capacity to collect patients.The percentages of updated patients (with at least one visit in the last 24 months) have increased from 33% (enrolment period 2000-2015) to 60% (enrolment period 2016-2022). In the cohort of patients registered after 2016, there were >= 75% updated patients in 30% of the small centres (33), in 9% of the medium centres (11), and in all the large centres (2).Clinical indicators show significant improvement for the active patients, expanded disability status scale every 6 months or once every 12 months, visits every 6 months, first visit within 1 year and MRI every 12 months.ConclusionsData from disease registers provide guidance for evidence-based health policies and research, so methods and strategies ensuring their quality and reliability are crucial and have several potential applications

    Prevalence of peripheral artery disease by abnormal ankle-brachial index in atrial fibrillation: Implications for risk and therapy

    Get PDF
    corecore