7 research outputs found

    Karakteristik Fruit Leather Kering dari Apel (Malus sylvestris) dan Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus)

    Get PDF
    Processing apples into products such as fruit leather is an effort to extend its shelf life, provide added value, easy to distribute, and potentially an export product, but it has an unattractive color, so it needed to combine with red dragon fruit. In addition, fruit leather has water content of 10-20%, so it has a limited shelf life. Therefore, it’s necessary to study dried fruit leather. This study aimed to determine the characteristics of dried fruit leather made from apple and dragon fruit. The experimental design used a randomized block design (RBD) with two factors, i.e. proportion of apples and red dragon fruits (75%:25%, 50%:50%, 25%:75%) and citric acid concentration (0%, 0.1%). The combination of those treatments was conducted in triplicate. Elasticity, tensile strength, L*a*b color, water content, total sugar, and vitamin C were parameters observed of the dried fruit leather. Sensory testing used a rank test of taste, color, texture, and aroma preferences. The data were analyzed by ANOVA (α=5%). If there was a difference, Duncan's test was performed. The Friedman test was used to analyze organoleptic test data. The results showed that there was an interaction between treatments on each parameter and between the treatments of the panelists' preference for the color and texture of the dried fruit leather. The characteristics of dried fruit leather have ranges of elasticity 13.00–33.00%, tensile strength 1.2–3 N, water content ranges from 1.3–5.3%, total sugar ranges from 67.30–71.70%, and vitamin C ranges from 50.00 mg/100g–94.00mg/100g. Brightness values ​​(L) range from 29.50 to 31.40, a* values ​​range from 12.9 to 17.7(red), and b* values ​​range from -8.2 to -14.8 (blue). Apple and red dragon fruit can make into dried fruit leather, which has a reddish-blue color. Keywords: apple, citric acid, dragon fruits, dried fruit leathe

    Kajian suhu ekstraksi panas dan konsentrasi bunga telang kering terhadap karakteristik fisikokimia dan organoleptik pudding

    Get PDF
    Pudding is well known as nutritious food and popular for all ages of consumers. One of determinant factors of consumer acceptance is food color, particularly in using natural colorants. Colored pudding was more attractive than colorless, especially by using natural dyes. Blue is one of the colors that attracting consumers. It can be extracted from dried butterfly pea flower (telang in Indonesian). The hot method extraction was the simplest natural dye extraction for household-scale industries. This study was aimed to determine the affected of the hot extraction temperature and the concentration of dried telang flower on the quality of pudding. The observed parameters were total anthocyanin content and color properties in terms of L*a*b. Sensory testing was used to evaluate color, taste, aroma, and texture preferences. The result showed that the interaction of the the treatments had a significant impact on the anthocyanin content, b* value, and panelists’ preference for color. The dried telang concentration affected brightness value (L*) and a* value. The concentration of telang flowers increased, resulting in a reduction in L* value. Also, a* value was affected by heat extraction temperature. Friedman’s test result showed that the treatments only had a significant effect on the panelists' preference for color. The panelists have very liked the color of pudding with heat extraction temperature 800C and concentration of dried telang flower 0.10%. The color was greenish-blue. This study recommend that dried telang flower can potentially as a pudding natural color

    Teknologi Pengolahan Fruit Leather Pada Siswa SMK NU Al Hidayah Ngimbang Lamongan

    Get PDF
    Indonesia adalah negara agraris sekaligus penghasil buah-buahan yang sangat banyak dalam ukuran, jenis maupun jumlah. Potensi ini harus dikembangkan, mengingat buah sebagai hasil pertanian memiliki sifat mudah rusak karena  masa simpan yang pendek. Upaya pengolahan aneka ragam produk berbahan baku buah-buahan perlu terus ditingkatkan sebagai langkah untuk memperpanjang masa simpan buah tersebut. Selain itu konsumsi buah sangat bagus untuk kesehatan sehingga  olahan produk berbahan baku buahpun merupakan peluang pasar yang bagus untuk dikembangkan. Beberapa contoh produk olahan buah yang sering ditemui di Indonesia adalah manisan buah, keripik buah, selai buah dan buah dalam kaleng.  Fruit leather adalah jenis olahan produk buah yang sudah terkenal di negara Eropa, Amerika, Jepang tapi belum  banyak dikembangkan di Indonesia. Selain itu fruit leather bisa diolah dengan memanfaatkan buah naga dan buah apel dengan cara yang mudah. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah untuk memberikan pengetahuan dan  transfer teknologi terkait pengolahan buah  menjadi fruitleather sebagai alternative diversikasi olahan produk berbahan baku buah-buahan sehingga bisa dipasarkan dengan cakupan lebih luas. SMK NU Al Hidayah Ngimbang Lamongan  adalah SMK swasta yang terletak di daerah Ngimbang Lamongan.  Salah satu jurusan yang dimiliki adalah jurusan Pengolahan Hasil Pertanian. Sebagian besar siswa SMK NU Al Hidayah Ngimbang belum mengenal produk Fruit Leather sehingga  mereka sangat tertarik   untuk mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang pengolahan fruit leather

    KARAKTER TEPUNG HIDROLISAT PROTEIN IKAN GALAMA (Pterotolithus) HASIL HIDROLISIS ENZIMATIS MENGGUNAKAN ACID PROTEASE POWDER (SQZYME PSP-F)

    Get PDF
    Tujuan utama penelitian ini adalah mengetahui hubungan linieritas antara Produk Maillard dengan Kadar Protein Terlarut, Warna dan Derajad Ketengikan serta karakter tepung hidrolisat protein Ikan Galama (Pterotolithus) hasil hidrolisis enzimatis acid protease powder (SQzyme PSP-F). Penelitian dirancang dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 (dua) faktor, Acid Protease Powder sebagai faktor pertama dengan 3 (tiga) level masing-masing sebesar 15.000 unit, 30.000 unit dan 45.000 unit, dan Lama Hidrolisis sebagai faktor kedua dengan 3 (tiga) level masing-masing 60 menit, 90 menit dan 120 menit, diulang 3 (tiga) kali ulangan. Konsentrasi Acid Protease Powder dan Lama Hidrolisis berpengaruh tidak nyata terhadap parameter Rendemen Tepung , terdapat hubungan asosiasi linier antara Produk Maillard dengan Kadar Protein Terlarut, Warna (L, a dan b) dan Tingkat Ketengikan yang dirumuskan dalam persamaan Y = -2.838 + 0.073 X1 + 0.872 X2 – 1.326 X3 + 0.111 X4 + 0.593 X5 – 0.247 X6 dimana ( Y = Produk Maillard, X1 = Rendemen tepung, X2 = Derajad Ketengikan, X3 = Kadar Protein terlarut, X4 = Warna L, X5 = Warna a* dan X6 = Warna b*)Kata Kunci: Asosiasi Linier, Tepung Hidrolisat Protein, Ikan Galama (Pterotolithus) , Acid Protease Powder, dan Produk Maillar

    Teknologi Pengolahan Mi Sehat pada Ibu PKK Desa Wedoroklurak Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo

    Get PDF
    Mi banyak dikonsumsi sebagai alternatif pengganti nasi yang sangat disukai anak-anak. Ditinjau dari kandungan nutrisinya, nilai gizi mi tergolong rendah karena hanya sebagai sumber karbohidrat. Untuk itu diperlukan fortifikasi pada produk mi agar nilai gizinya meningkat. Sayuran, buah dan ikan mempunyai potensi untuk ditambahkan pada produk mi, karena jenisnya yang cukup banyak dan mengandung vitamin, mineral, serat pangan dan protein yang sangat diperlukan untuk meningkatkan gizi. Sebagai penyedia pangan keluarga, ibu rumah tangga berperan penting untuk menyediakan makanan yang bergizi, sehat dan bersih, sehingga diperlukan pengetahuan dan teknologi pengolahan mi sehat tanpa menggunakan bahan tambahan pangan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu rumah tangga tentang pengolahan mi sehat secara tepat guna, serta memberikan pilihan produk olahan untuk berwirausaha. Peserta kegiatan ini adalah ibu-ibu PKK Desa Wedoroklurak, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Setelah kegiatan selesai, sebanyak 90% ibu menyatakan bahwa telah memahami proses pembuatan mi sehat, dan sebanyak 90 % ibu menyatakan tertarik untuk membuat mi sehat. Semua ibu tertarik untuk membuat mi sehat dan menyajikannya sebagai menu keluarga, dan hanya ada seorang ibu yang tertarik untuk mencoba berwirausaha mi sehat ini sebagai pengembangan industri mi kering yang sudah digelutinya

    Using Principal Component Analysis To Measure The Readiness of Sorghum Entrepreneurs To The Marketplace

    No full text
    People should be competitive in order to foster an entrepreneurial mindset and produce effective entrepreneurs. The factors that determine sellers in choosing a market place are the higher organizational readiness, external environment encouragement and perceived benefits. faith, Quality of e-marketplace site, Cost and Product Reputation. This research uses the Principal Component Analysis (PCA) methodology, to made the structure of the analyzed dataset to the measurement of readiness entrepreneur sorghum to the marketplace. In the early stages of this research, a questionnaire-based poll was conducted, and was designed based on a literature study from seven studies that have been reviewed. The seven studies on marketplace readiness factors were then integrated and mapped to produce seven marketplace readiness factors as the basis for assessing marketplace readiness at UES. Number of respondents are 127 consisting of entrepreneurs, employees and buyers. The conclusions that can be drawn from this research are from the initial seven variables in the dataset (Organizational Readiness, External Environment Encouragement, Payment, Delivery, Site Quality, Price, Product reputation), after data reduction using the Principal Component Analysis (PCA) method two new variables (factors) were obtained which were able to explain the total variance (cumulative percent of variance) of 83.81%. The two factors formed are named Organization and Technology. From the two factors obtained, a measurement of the readiness level of marketplace implementation is then carried out. The results obtained are Organizational factors in the category "Ready with the need for a little improvement", Technology factors are in the category "Ready to proceed"

    Marketplace Entrepreneur Sorgum Menggunakan Klastering K Medoid

    No full text
    Marketplace is a virtual market where the market is a meeting place for buyers and sellers to make transactions. Wijaya Kusuma University Surabaya has established an Entrepreneurship Sorghum Unit (UES) starting in 2009 and is collaborating with Sorghum Entrepreneurs in several areas in East Java. The objectives of this research are: (1) creating a marketplace for Sorghum Entrepreneurs who have joined UES, (2) Classifying using the K-Medoid method to group Sorghum Entrepreneurs based on the income that has been obtained by UES, (3) Conducting mapping based on clustering results so that UES can provide assistance to sorghum entrepreneurs. From the results of the questionnaire, obtained data on the level of desire for UES for each variable from 35 sorghum entrepreneurs as respondents. Quantitative data obtained is then entered and then proceed with the clustering stage. The data is divided into several clusters based on the type of sorghum, products sold and sales results. After that, the cluster performance calculation is carried out by calculating the k-fold value. analysis of the results of testing the effect of the k-fold value is the best percentage found in the k-fold value = 6 with an accuracy value of 34.597%.Marketplace merupakan sebuah pasar virtual dimana pasar tersebut menjadi tempat bertemunya pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya telah mendirikan Unit Entrepreneurship Sorghum (UES) mulai tahun 2009 dan berkolaborasi dengan Entrepeneur Sorgum di beberapa daerah di Jawa Timur. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) pembuatan marketplace untuk Entrepeneur Sorgum yang telah bergabung di UES, (2) Melakukan klasifikasi menggunakan metode K-Medoid untuk mengelompokkan Entrepeneur Sorgum berdasarkan pendapatan yang telah didapatkan oleh UES, (3) Melakukan pemetaaan berdasarkan hasil klastering agar UES dapat memberikan bantuan kepada entrepreneur sorgum. Dari hasil kuesioner, didapatkan data tingkat keinginan UES untuk tiap-tiap variabel dari 35 entrepreneur sorgum sebagai responden. Data kuantitatif yang diperoleh kemudian dimasukan dan selanjutnya dilanjutkan dengan tahap pengklasteran. Data dibagi menjadi beberapa klaster yaitu berdasarkan jenis sorgum, produk yang dijual dan hasil penjualan. Setelah itu dilakukan perhitungan performansi klaster dengan menghitung nilai k-fold. analisis hasil pengujian pengaruh nilai k-fold adalah persentase terbaik terdapat pada nilai k-fold=6 dengan nilai akurasi 34,597%
    corecore