12 research outputs found

    FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI PADA KEIKUSERTAAN SEKTOR FORMAL DALAM SKEMA ASURANSI KESEHATAN SOSIAL: NARATIVE REVIEW

    Get PDF
    Berbagai negara di dunia telah berupaya menuju target Universal health coverage, termasuk negara dengan penghasilan rendah dan menengah. Meskipun bersifat mandatory, sektor formal tidak secara otomatis ikut menjadi peserta dalam asuransi kesehatan sosial. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan faktor yang berkontribusi keikusertaan sektor formal dalam asuransi kesehatan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan naratif review. Studi ini berfokus pada faktor yang ikut berkontribusi pada keikutsertaan sektor formal dalam skema asuransi kesehatan sosial. Kami mengidentifikasi artikel yang terpilih sesuai dengan kriteria inklusi meliputi sektor formal, bahasa inggris dan bahasa Indonesia, mengadopsi asuransi sosial dan artikel yang terbuka untuk diakses. Kami kemudian mengumpulkan artikel terpilih dan akhirnya, kami mensintesis apa saja faktor yang berkontribusi akan kepesertaan sektor formal dalam skema asuransi kesehatan sosial. Kami menemukan bahwa keikutsertaan sektor formal ke dalam asuransi kesehatan sosial berkaitan dengan faktor: skema wajib, pengetahuan sektor usaha/perusahaan, finansial perusahaan, jenis perusahaan, risiko yang mungkin dialami perusahaan dan persepsi terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Studi ini menemukan beberapa faktor yang berkontribusi pada keikutsertaan sector usaha dalam asuransi kesehatan sosial. Factor yang bersifat struktur/kebijakan, pengetahuan tentang kebijakan asuransi sosial dan kualitas layanan dari supply side perlu menjadi perhatian pemerintah dalam upaya perluasan pada kelompok ini

    IDENTIFIKASI SANITASI LINGKUNGAN DASAR RUMAH TANGGA MELALUI SURVEY DAN PENYULUHAN DI KAWASAN TAMBAK PERAIRAN SUNGAI MUSI KECAMATAN GANDUS

    Get PDF
    Improved sanitation is an effort to prevent disease and health problems from environmental risk factors to realize a healthy environmental quality from the physical, chemical, biological, and social aspects. One of the efforts that can be done, namely increasing access to clean water, sanitation facilities, and hygienic behavior (WASH), is a significant opportunity to improve public health and welfare by preventing the spread of disease and improving nutritional status. This service aims to identify environmental sanitation and efforts to improve public health status. The method used in this service was a survey and observation in 24 residents' houses, then continued with providing education and counseling about environmental health. The results of the service show that the characteristics of most residents' houses still need a ceiling. On average, respondents throw away their garbage and burn it, residents have trash cans, but they are temporary, and the conditions are not strong or tightly closed. Most respondents already have a latrine with a sitting latrine type, but the distance is less than 10 meters, and there is still a lack of clean water sources, so they do not meet the requirements. Almost half of the respondents stated that a family member had been sick in the past year with non-communicable disease. Respondents have implemented clean and healthy living behavior. However, some things need to be implemented optimally, such as the need for more eating vegetables and fruit and many family members still smoking. It is crucial to improve household basic environmental sanitation to improve the health status of the community.  ---  Peningkatan sanitasi merupakan upaya pencegahan penyakit dan atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi maupun social. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan akses ke air bersih, fasilitas sanitasi, dan perilaku higienis (WASH) merupakan peluang utama untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dengan mencegah penyebaran penyakit dan meningkatkan status gizi. Tujuan pengabdian ini untuk mengidentifikasi sanitasi lingkungan dan upaya dalam peningkatan status kesehatan masyarakat. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini dilakukan survey dan observasi di 24 rumah warga kemudian dilanjutkan dengan pemberian edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan lingkungan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa karakteristik rumah warga mayoritas belum memiliki plafon. Rata-rata responden membuang sampahnya dan dibakar, warga memiliki tempat sampah namun tidak permanen dan kondisinya tidak kuat dan tidak tertutup rapat. Mayoritas responden telah memiliki jamban dengan jenis jamban duduk namun jaraknya < 10 meter serta masih minimnya sumber air bersih sehingga belum memenuhi syarat. Hampir separuh responden menyatakan bahwa terdapat anggota keluarga yang pernah sakit dalam satu tahun terakhir dengan jenis penyakit tidak menular. Responden telah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat namun masih ada beberapa hal yang belum diterapkan secara maksimal seperti kurangnya makan sayur dan buah serta masih banyaknya anggota keluarga yang merokok. Penting untuk meningkatkan sanitasi lingkungan dasar rumah tangga untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat

    The Relation between Rainfall and Larval Density of Dengue Hemorrhagic Fever with Spatial Modeling

    Get PDF
    Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease transmitted by the aedes aegypti mosquito. This study aims to determine the relationship between rainfall and larval density which consist of House Index (HI), Container Index (CI), Breteau Index (BI), and Larval Free Rate (LFR) on the incidence of dengue hemorrhagic fever using GIS modeling. The research method is quantitative with a spatial approach and Univariate and Bivariate analysis. The study population was all cases of DHF in all working areas of Lahat District Health Center, Lahat Regency in 2016-2019. The results of the statistical correlation test showed that there was a correlation between rainfall and the incidence of DHF with a value (p=0.003), while larval density showed a correlation between HI and the DHF incidence (p-value=0.007), CI (p-value=0.007), BI (p-value=0.007). ABJ (p-value=0.012). Spatially, it was found that the incidence of dengue fever was high in the working regions of Public Health Center with high HI (≥5%), low CI (<10%), low BI (<50%), and low larvae-free rate (<95%). It can be concluded that there is a relation among rainfall, HI, CI, and BI on the incidence of DHF in Lahat Regency in 2016-2019 and spatially shows the high incidence of DHF in high HI (≥5%) and low LFR (<95%). It is recommended that the Lahat Regency Office used climate information from the BMKG in planning a program to eradicate DHF and eradicate mosquito nests during the rainy season in Lahat District

    The Establishment of Poskestren (Islamic Boarding School Health Center) at Kampung At-Tauhid Islamic Boarding School, Ogan Ilir Regency

    Get PDF
    Health issues are important in the world of education, including in Islamic boarding schools. To support the health status of santri (students at the Islamic boarding school), Islamic boarding schools need to facilitate them through Pos kesehatan pesantren or Poskestren (Islamic Boarding School Health Center). This community service aimed to establish a Poskestren at an Islamic boarding school. The methods adopted in this community service included advocacy, education, socialization, promotion, and empowerment for santri. This study used action research design. There is collaborative between researcher and student in Islamic boarding school. We collected data by survey, taking action and evaluating action. Data analysed used descriptive. The result of this community service showed the establishment of a Poskestren was supported by all parties, and a special room was provided for this health service with the necessary facilities and infrastructure at Kampung At-Tauhid Islamic Boarding School. In addition, this community service also established Kader Santri Husada (Santri Husada Cadres) consisting of nine santri whom the campus and community health center had trained regarding emergencies, use of medical devices, personal hygiene, and prevention of sexually deviant behavior. It is expected that the Poskestren can provide services for all communities at the Islamic boarding school on an ongoing basis. It is also expected that the Islamic boarding school and community health center can continue the development of this Poskestren service

    DETERMINAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF OLEH IBU MULTIPARA DI KABUPATEN JENEPONTO

    Get PDF
    Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu strategi global yang dicanangkan WHO dan UNICEF untuk mengurangi angka kematian bayi dan neonatal. Pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Jeneponto pada tahun 2013 sebesar 67,7%, belum mencapai target nasional yaitu 80%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deteminan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu multipara. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Jeneponto Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2015. Jenis penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Wawancara dilakukan pada 262 ibu multipara yang memiliki bayi usia 6-12 bulan. Sampel diperoleh dengan cara proporsional random sampling. Analisis data menggunakan uji statistik chi square dengan p=0,05. Penelitian ini menemukan bahwa sebesar (26,3%) ibu mutlipara yang memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian ini menunjukkan variabel yang berhubungan dengan pemberberian ASI eksklusif oleh ibu multipara, yaitu tingkat pengetahuan ibu (0,000), sikap ibu (0,000) dan penerimaan informasi dari petugas kesehatan (0,000), sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif yaitu usia ibu (0,237), tingkat pendidikan ibu (0,468), tingkat pendidikan suami (0,476), status pekerjaan ibu (0,289), dan usia kehamilan ibu (0,095). Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan tingkat pengetahuan ibu, sikap ibu dan penerimaan informasi dari petugas kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif oleh ibu multipara di Kabupaten Jeneponto

    DETERMINAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF OLEH IBU MULTIPARA DI KABUPATEN JENEPONTO

    Get PDF
    Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu strategi global yang dicanangkan WHO dan UNICEF untuk mengurangi angka kematian bayi dan neonatal. Pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Jeneponto pada tahun 2013 sebesar 67,7%, belum mencapai target nasional yaitu 80%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deteminan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu multipara. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Jeneponto Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2015. Jenis penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Wawancara dilakukan pada 262 ibu multipara yang memiliki bayi usia 6-12 bulan. Sampel diperoleh dengan cara proporsional random sampling. Analisis data menggunakan uji statistik chi square dengan p=0,05. Penelitian ini menemukan bahwa sebesar (26,3%) ibu mutlipara yang memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian ini menunjukkan variabel yang berhubungan dengan pemberberian ASI eksklusif oleh ibu multipara, yaitu tingkat pengetahuan ibu (0,000), sikap ibu (0,000) dan penerimaan informasi dari petugas kesehatan (0,000), sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif yaitu usia ibu (0,237), tingkat pendidikan ibu (0,468), tingkat pendidikan suami (0,476), status pekerjaan ibu (0,289), dan usia kehamilan ibu (0,095). Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan tingkat pengetahuan ibu, sikap ibu dan penerimaan informasi dari petugas kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif oleh ibu multipara di Kabupaten Jeneponto

    IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO STUNTING DAN UPAYA PENCEGAHAN DENGAN INTERVENSI SECARA KOLABORATIF DI KABUPATEN EMPAT LAWANG

    Get PDF
    Stunting merupakan proses terlambatnya tumbuh kembang anak karena kekurangan gizi kronik, inveksi penyakit berulang dan stimulasi psikosial pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Permasalahan Stunting merupakan masalah nasional sesuai dengan Perpres 42/2013 Tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi untuk mencapai generasi emas pada 2045. Berdasasrkan data dari SSGI 2021 angka stunting Indonesia masih cukup tinggi yaitu 24,4 % dan di targetkan 14% pada tahun 2024 dan pada kabupaten Empat Lawang masih sebesar 26% di tahun 2021 dengan jumlah lokasi utama penangan stunting 58 desa sekabupaten Empat lawang pada tahun2022 serta di targetkan sebesar 15% pada tahun 2024. Permasalahan yang muncul ialah kurangnya kesadaran masyrakat dan upaya kerjasama antar elemen di kabupaten Empat Lawang yang menyebabkan keadaan Stunting di Kabpupaten Empat lawang ini masih tinggi.. Metode yang dipakai dalam Pengabdian ini ialah metode penyuluhan dan di lanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) antar Elemen penggerak penanganan Stunting Empat Lawang. Hasil yang didapatkan melalui kegiatan ini ialah meningkatnya pemahaman tentang pentingnya penangnan stunting bagi elemen penggerak penanganan Stunting di tingkat Kabupaten Empat Lawang, meningkatnya fungsi kordinasi antar elemen

    MAHASISWA “PENTING” MELALUI SURVEI DAN PEMANTAUAN EMPAT POSYANDU DI DESA PENGARAYAN, KECAMATAN TANJUNG LUBUK, OGAN KOMERING ILIR

    Get PDF
    Kegiatan optimalisasi potensi masyarakat dalam pencegahan stunting ini dilakukan di Desa Pengarayan, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatra Selatan pada November-Desember 2022. Kegiatan ini dilakukan oleh mahasiswa peduli stunting atau mahasiswa “Penting”. Tujuan dilakukannya kegiatan ini untuk (1) memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahaya stunting, (2) mengetahui kondisi sarana dan prasarana posyandu, dan (3) mengetahui data balita yang mengalami stunting. Metode yang digunakan adalah survei dan pemantauan posyandu. Hasil kegiatan ini adalah kondisi sarana dan prasarana posyandu masih kurang memadai dan terdapat 1 balita yang mengalami stunting. Balita yang mengalami stunting berusia 4 tahun yang memiliki berat badan 10 kg dan tinggi badan 86 cm. Selain balita tersebut tidak ada yang terdeteksi stunting dari hasil posyandu setiap bulannnya. Dapat disimpulkan bahwa balita dan bayi yang ada di desa Pengarayan dalam kondisi normal. Dikarenakan keadaan desa tersebut cukup bersih, memiliki jamban yang baik dan bahan pangan yang ada di sana cukup memadai sehingga balita dan bayi tumbuh dengan baik

    Gambaran Faktor Risiko pada Kasus Asfiksia Neonatorum di RSIA Budi Kemuliaan Jakarta

    No full text
    Dalam sustainable development goals (SDGs) tertuang salah satu target yang ingin dicapai pada tahun 2030 di bidang kesehatan yaitu menurunkan angka kematian bayi dan anak dibawah usia 5 tahun. Salah satu yang berkontribusi terhadap angka kematian tersebut adalah asfiksia neonatorum yang merupakan kasus kegagalan bernafas bayi secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Studi ini menggunakan desain case control dengan jumlah sampel sebesar 360 responden dengan melakukan analisis secara univariat dengan tujuan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi faktor penyebab pada kasus asfiksia neonatorum di RSIA Budi Kemuliaan yang merupakan rumah sakit ibu dan anak rujukan swasta di Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari rekam medik responden. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kasus (asfiksia) sebesar 120 (33.3%) dan kontrol (tidak asfiksia) sebesar 240 (66.7%), pengambilan kasus dan kontrol menggunakan rasio 1:2. Hasil penelitian menunjukkan gambaran distribusi faktor penyebab kasus asfiksia neonatorum terdiri dari faktor bayi yang meliputi berat badan lahir rendah, jenis kelamin dan malpresentasi bayi seperti letak lintang dan sungsang. Sedangkan faktor ibu meliputi umur paritas, penyakit diabetes, pelayanan kesehatan yang didapatkan saat hamil seperti antenatal care dan antenatal corticosteroid serta  kondisi dan tindakan pada saat persalinan seperti jenis persalinan, persalinan lama, ketuban pecah dini dan pemberian induksi atau oksitosin saat persalinan

    Gambaran Spasial Kasus Kematian Neonatal di Sumatera Selatan : Spatial Description of Case of Neonatal Mortality in South Sumatra

    No full text
    Latar belakang: Angka kematian anak menjadi salah satu indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat suatu negara. Secara global 2.4 juta anak meninggal pada bulan pertama kehidupannya. Salah satu penyebab kematian neonatal yang tinggi adalah riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) dan pemeriksaan kehamilan. Berdasarkan data nasional kasus tersebut masih tergolong tinggi di beberapa wilayah di Indonesia termasuk di Provinsi Sumatera Selatan. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran spasial tentang kasus kematian neonatal dan variabel BBLR serta antenatal care di Sumatera Selatan pada tahun 2019. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan mengumpulkan data sekunder dari laporan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2019 yang terdiri dari variabel kasus kematian neonatal serta faktor penyebabnya dan berat badan lahir rendah (BBLR) serta antenatal care. Analisis yang dilakukan adalah spasial dengan menggunakan QGIS (Geographic Information Systems) dengan melakukan visualisasi peta dan analisis korelasi. Hasil: Kasus kematian neonatal di Provinsi Sumatera selatan telah berada dibawah target nasional namun masih ada beberapa wilayah yang perlu mendapat perhatian, utamanya daerah yang masih cukup tinggi kasusnya yaitu diatas rata-rata kasus kematian neonatal provinsi. Faktor penyebab tertinggi kematian neonatal disebabkan oleh berat badan lahir rendah (BBLR). Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan pada variabel BBLR dan antenatal care terhadap korelasinya dengan kematian neonatal, namun meskipun demikian pada semua variabel memperlihatkan arah korelasi sesuai dengan teori tentang beberapa faktor penyebab kasus kematian neonatal
    corecore