13 research outputs found

    Quality of Life in Married Women: Religiosity and Psychological Immune System as Predictors

    Get PDF
    Women are known to be particularly susceptible to mental health issues, which can have a detrimental impact on various aspects of their lives, including physical, psychological, and social well-being. To enhance their quality of life, it is crucial to identify protective factors such as religiosity and psychological immune. Therefore, this research explored the relationship between religiosity, psychological immune system, and married women’s quality of life. The research employed a quantitative correlational approach, with data collected from 207 married women aged 22-63 years who identified as Muslims using the convenience sampling method. Based on SEM Partial Least Square analysis, it was concluded that religiosity indirectly affects quality of life through psychological immune system with a t value of 4.722 (p = .000) and a total effect t value of 2.803 (p = .003). Increasing religiosity is important in improving psychological immune system to improve quality of life

    ISLAMIC GROUP PLAY THERAPY: UPAYA PENGEMBANGAN KETERAMPILAN HELP SEEKING BEHAVIOUR DALAM MENGHADAPI KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK

    Get PDF
    Sexual violence against children is increasingly prevalent, in some cases, it is found that the child's lack of skills in dealing with situations that threaten him. The purpose of this study is to look at the effectiveness of Islamic Group Play Therapy in improving help-seeking behavior skills in children who are vulnerable to sexual harassment or violence. Respondents in this study were 15 children who have experienced sexual violence and children who are vulnerable to sexual harassment or violence in Siak Regency. The data analysis technique is a paired sample test technique. The results of the overall analysis showed that there was no increase in skills to seek help in child victims of sexual violence with a value of t-1.976 with a significance level of 0.068. However, an increase in skills occurred in the informal dimension, namely an increase in the behavior of asking for help from others with a value of -3.761 at a significance level of 0.002, meaning that the subject was able to ask for help from others during sexual violence. There is an increase in helping yourself with a t value of 4795 at a significance level of 0.000, meaning that there has been an attempt by the subject to help himself so that the subject is not just silent when he experiences sexual violence

    PERAN RELIGIUSITAS DAN IMUN PSIKOLOGIS TERHADAP KUALITAS HIDUP DI MASA PANDEMI COVID-19 (KAJIAN TERHADAP PEREMPUAN YANG SUDAH MENIKAH DI KOTA PEKANBARU)

    Get PDF
    Perempuan sangat rentan mengalami masalah kesehatan mental. Kesehatan mental yang negatif akan memengaruhi aktifitas dan mobilitas secara fisiologis, psikologis, sosial dan gangguan kesehatan lainnya yang dapat mengancam kualitas hidup. Religiusitas dan imun Psikologis merupakan protective factor yang penting untuk dimiliki oleh perempuan yang sudah menikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiusitas dan sistem imun psikologis terhadap kualitas hidup perempuan yang sudah menikah. Adapun populasi yaitu perempuan yang sudah menikah dengan jumlah sampel 207 orang. Adapun kriteria partisipan yaitu perempuan yang sudah menikah, beragama Islam, dengan rentang usia 22-63 tahun dengan menggunakan teknik non probability sampling yaitu convenience sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah SEM-Partial Least Square. Hasil penelitian menemukan bahwa religiusitas berpengaruh secara tidak langsung terhadap kualitas hidup melalui sistem imun psikologis dengan nilai t statistic 4,722 (p=0.000) dengan nilai total effect t statistic 2,803 (p=0.003). Peningkatan religiusitas merupakan faktor penting untuk meningkatkan sistem imun psikologis dalam upaya meningkatkan kualitas hidup

    Peran Religious Coping dan Tawakal untuk Meningkatkan Subjective Wellbeing pada Masyarakat Melayu

    Full text link
    Setiap orang mendambakan kebahagiaan dan hidup yang bermakna, kebahagiaan dianggap lebih penting dari pada uang dan kebaikan moral. Kebahagiaan sebagai bagian dari subjective wellbeing merupakan salah satu kualitas hidup individu dan masyarakat yang baik termasuk masyarakat Melayu. Salah satu faktor yang mempengaruhi subjective wellbeing adalah religiusitas. Saat individu dihadapkan pada masalah, maka salah satu cara individu untuk mengelola masalahnya adalah dengan menggunakan keyakinannya melalui coping religious. Islam memiliki suatu konsep yang juga merupakan coping religious yaitu tawakkal, yang merupakan penyerahan diri kepada Allah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana coping religious dan tawakkal dapat mempengaruhi subjective well-being atau kesejahteraan diri pada masyarakat melayu. Partisipan penelitian merupakan 161 masyarakat Melayu Kecamatan Bukit Batu kabupaten Bengkalis yang berprofesi sebagai Petani. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan skala coping religious yakni BriefRCOPE yang dikembangkan (Pargament, Smith, Koenig, & Perez (1998), skala Tawakkal yang dikembangkan Rusydi (Putri & Uyun, 2017.; Husnar, Saniah & Nashori, 2017.; Sartika & Kurniawan, 2015) dan skala subjective well-being (Diener et.al, 2002). Analisa data yang digunakan menggunakan teknik Regresi Berganda. Hasil analisis menunjukkan coping religious dan tawakkal secara bersama memiliki hubungan dengan subjective well-being dengan nilai (F) 4.046 dengan nilai (p) 0.019 (p<0.05).) Artinya bahwa individu yang memiliki kesejahteraan subjektif adalah individu yang mampu memiliki keyakinan yang kuat terhadap agama dan Tuhannya yang diwujudkan dalam sikap tawakkal dalam hidupnya saat dihadapkan pada permasalahan. Kata

    Hubungan Dukungan Sosial Suami Dengan Motivasi Dalam Menjaga Kesehatan Selama Kehamilan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial suami dengan motivasi dalam menjaga kesehatan selama kehamilan. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang berada di Pekanbaru yang berjumlah 80 orang. Data dikumpulkan dengan dua buah skala yaitu skala dukungan sosial suami dan skala motivasi dalam menjaga kesehatan selama kehamilan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan korelasi product moment. Berdasarkan hasil analisis diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,781 dengan p = 0,000. Hasil ini menunjukkan ada hubungan yang sangat signifikan antara dukungan sosial suami dengan motivasi dalam menjaga kesehatan selama kehamilan. Semakin tinggi dukungan suami maka semakin tinggi motivasi menjaga kesehatan pada ibu hamil

    Relasi Orangtua-Anak pada Keluarga Melayu (Analisis Berdasarkan Perspektif Psikologi Indijinus)

    Full text link
    Relasi orangtua-anak pada keluarga Melayu unik karena adanya tanggung jawab masing-masing antara orangtua dan anak. Pemahaman akan adanya tanggung jawab masing-masing ini menjadikan relasi terkadang bermasalah. Tujuan penelitian ini untuk mengukur relasi orangtua-anak pada keluarga Melayu. Metode penelitian ini mengadopsi metode kualitatif dengan pendekatan psikologi indijinus. Responden dalam penelitian ini adalah anak Melayu yang sudah memasuki remaja usia 12-20 tahun dengan jumlah 340 orang. Pengujian ini dilakukan berdasarkan analisis tematik menggunakan empat indikator kewajiban orangtua terhadap anak, yaitu hutang bela dengan pelihara, hutang tunjuk dengan ajar, hutang tuang dengan isi dan hutang bekal dengan pakaian. Dan berdasarkan tiga indikator kewajiban anak terhadap orangtua yaitu sifat tahu membayar utang, sifat tahu diri, dan sifat nan bersifat. Hasil penelitian diperoleh bahwa jumlah responden yang sangat dekat dengan ibu lebih banyak dibanding ayah yakni 86,8% dan 51,2%. Cara ayah dalam berelasi dengan anak cenderung dengan mengajarkan kebaikan (hutang tunjuk dengan ajar) yaitu (54,1%) dan dengan ibu yaitu merawat dan mengasuh agar anak sehat jasmani dan rohani (hutang bela dengan pelihara) yakni (38,5%). Sedangkan dari sisi anak, anak melakukan relasi dengan ayah dengan cara berbakti yaitu (55,6) dan ibu dengan cara berprestasi (84,4%), dimana keduanya termasuk indikator tahu membayar hutang. Penelitian ini memberikan manfaat bagi orangtua dan anak dari keluarga dengan budaya Melayu dalam memahami model relasi antara orangtua dan anak, dan pengembangan ilmu psikologi dalam hal relasi orangtua-anak pada keluarga dengan budaya Melayu. Pada peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengembangkan alat ukur relasi orangtua-anak pada keluarga Melayu

    Dukungan Sosial Keluarga dan Post Traumatic Growth pada Penyintas Stroke

    Full text link
    Family Social Support And post traumatic growth in stroke survivorsRaudatussalamah, [email protected] Putri, [email protected] Psikologi UIN Suska Riau ABSTRACT Posttraumatic growth is a difficult process for stroke patients because a stroke does not only threaten physical disability but also cognitive, emotional and even trauma so that many stroke sufferers experience disappointment and crisis, that it is difficult to rise or grow after a stroke. The purpose of this study was to measure the relationship between family social support and post traumatic growth (PTG) stroke survivors. Quota sampling method used in this study with 110 people who are stroke survivors who undergo therapy at the physiotherapy installation at Duri Regional Hospital. The research instrument used was the social support scale from Sarafino and the posttraumatic growth scale from Tadechi and Calhoun. Data analysis techniques using regression analysis. The results showed social support correlated with post traumatic growth in post-stroke patients (F = 25.210, R= 0.435, R square = 18.9%). The family can be the main source of support to increase posttraumatic growth in stroke survivors. This study has a limited subject, posttraumatic growth research for stroke survivors who do not undergo therapeutic physiotherapy for development. Keyword: family social support, posttraumatic growth, PTG, stroke. DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DAN POST TRAUMATIC GROWTH PADA PENYINTAS STROKE ABSTRAK Post traumatic growth merupakan proses yang sulit untuk dilakukan oleh penyintas stroke karena serangan stroke bukan hanya mengancam disabilitas fisik akan tetapi kognitif, emosi bahkan trauma sehingga banyak penderita stroke yang mengalami kekecewaan dan krisis hingga sulit untuk bangkit atau tumbuh setelah serangan stroke. Tujuan Penelitian ini untuk mengukur hubungan antara family social support dengan post traumatic growth (PTG) pasien stroke. Metode Kuota sampling digunakan pada penelitian ini dengan jumlah 110 orang yang merupakan pasien stroke yang menjalani terapi di instalasi fisioterapi di RSUD Duri. Instrument Penelitian yang digunakan adalah skala dukungan sosial dari Sarafino dan skala post traumatic growth dari Tadechi dan Calhoun. Teknik analisis data menggunakan analisis Regresi. Hasil penelitian menunjukkan dukungan sosial berkorelasi dengan post traumatic growth pada penderita pasca stroke (F = 25.210, R= 0.435, R square= 18,9 %). Keluarga dapat menjadi sumber dukungan yang utama untuk meningkatkan post traumatic growth pada survivor stroke. Penelitian ini memiliki subjek yang terbatas, penelitian post traumatic growth untuk survivor stroke yang tidak menjalankan fisioterapi terapi dapat dilakukan untuk pengembangan.
    corecore