31 research outputs found

    Hubungan Kepuasan Kerja Dan Need for Achievement Dengan Kecenderungan Resistance to Change Pada Dosen Undip Semarang

    Full text link
    The research is aimed to determine the correlation between job satisfaction, need for achievement, and dispositional resistance to change in a sample of 224 Diponegoro University lectures. The participants/ subjects are given three scales: job satisfaction scale, need for achievement scale and dispositional resistance to change scale. The results show a significant negative correlation between job satisfaction, need for achievement and dispositional resistance to change. The contribution of job satisfaction and need for achievement in predicting dispositional resistance to change is 24.9%

    Hubungan Antara Persepsi Terhadap Lingkungan Kerja Fisik Dengan Stres Kerja Pada Personil Detasemen Pengendalian Pangkalan (Dendallan) Pangkalan Udara Utama Ahmad Yani Semarang

    Full text link
    Stres kerja adalah reaksi fisik, psikologis, dan perilaku individu yang muncul di lingkungan kerja sebagai kombinasi antara sumber-sumber stres atau stressor pada pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara persepsi terhadap lingkungan kerja fisik dengan stres kerja pada personil Detasemen Pengendalian Pangkalan (Dendallan) Pangkalan Udara Utama Ahmad Yani Semarang.Populasi penelitian ini adalah seluruh personil di Pangkalan Udara Utama Ahmad Yani Semarang. Sampel penelitian sebanyak 48 personil dengan teknik sampling simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui dua skala psikologi, yaitu skala stres kerja (34 aitem valid α = 0.927) dan skala persepsi terhadap lingkungan kerja fisik (30 aitem valid α = 0.927).Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi rxy = -0.466 dengan p= 0,001 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan hipotesis terdapat hubungan negatif antara persepsi terhadap lingkungan kerja fisik dengan stres kerja. Semakin positif persepsi terhadap lingkungan kerja fisik, maka stres kerja semakin rendah. Sebaliknya, semakin negatif persepsi terhadap lingkungan kerja fisik, maka stres kerja semakin tinggi. Persepsi terhadap lingkungan kerja fisik memberikan sumbangan efektif sebesar 21,7% terhadap stres kerja. Sisanya sebesar 78,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini

    Hubunganantara Persepsi Terhadap Perubahan Organisasi Dengan Motivasi Berprestasi Pada Guru

    Full text link
    Motivasi berprestasi merupakan salah satu kebutuhan yang diartikan sebagai suatu dorongan untuk mencapai sesuatu dengan mengatasi segala hambatan.Motivasi berprestasi guru dapat dilihat dengan cara mengetahui persepsi guru terhadap Perubahan organisasi di sekolah tersebut. Persepsi Perubahan ini adalah berupa penilaian terhadap beralihnya suatu bagian organisasi dari kondisi yang berlaku kini menuju ke kondisi masa yang akan datang. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap Perubahan organisasi RSBI ke sekolah reguler dengan motivasi berprestasi pada guru di SMAN 1 dan SMAN 2 Semarang.Populasi dalam penelitian ini adalah 173 guru dengan sampel penelitian sebanyak 118 guru.Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik convenience sampling.Pengumpulan data menggunakan skala motivasi berprestasi (17 item valid) dengan koefisien reliabilitas 0,87 dan skala persepsi terhadap Perubahan organisasi RSBI (44 item valid) dengan koefisien reliabilitas 0,94.Analisis regresi sederhana menunjukkan rxy=0,82 dengan p=0,000 (p<0,05), artinya ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap Perubahan organisasi RSBI dengan motivasi berprestasi pada guru di SMAN 1 dan SMAN 2 Semarang.Persepsi Perubahan organisasi RSBI memberikan sumbangan efektif terhadap variabel motivasi berprestasi 68% sedangkan 32% berasal dari faktor-faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini

    Hubungan Antara Persepsi Terhadap Gaya Kepemimpinan Melayani Pimpinan Dengan Stres Kerja Pada Tenaga Pendidik Pusdik Binmas Polri Banyubiru

    Full text link
    Penelitian ini untuk mengetahui hubungan persepsi terhadap gaya kepemimpinan melayani dengan stres kerja pada tenaga pendidik Pusdik Binmas Polri Banyubiru. Stres kerja adalah Respon fisik, psikologi, dan perilaku yang ditimbulkan oleh adanya tuntutan kerja. Persepsi terhadap gaya kepemimpinan melayani adalah penilaian karyawan terhadap kemampuan pemimpin untuk melayani karyawannya dengan panggilan altruistik, penyembuhan emosional, kebijaksanaan, pemetaan persiasif, dan pelayanan organisasi.Sampel penelitian 50 orang. Alat ukur penelitian menggunakan skala stres kerja dengan 25 aitem (α =0,919) dan skala persepsi terhadap gaya kepemimpinan melayani dengan 40 aitem (α =0,966). Analisis regresi sederhana diperoleh rxy = -0,783 dengan p = 0,000 (p<0,05). Menunjukkan semakin positif persepsi terhadap gaya kepemimpinan melayani, maka stres kerjanya semakin rendah. Persepsi terhadap kepemimpinan melayani memberikan sumbangan efektif sebesar 60,5% terhadap Stres kerja. Sisanya 39,5% ditentukan oleh faktor-faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini

    Hubungan Antara Perceived Organizational Support Dengan Stres Kerja Pada Sales Pt.astra International Tbk-daihatsu Kota Semarang Dan YOGYAKARTA

    Full text link
    Stres kerja merupakan kondisi dinamik yang dialami individu di lingkungan kerjanya dalam menghadapi peluang, kendala dan tuntutan sehingga mengganggu kondisi fisiologis, dan perilaku. Perceived Organizational Support adalah penilaian dari karyawan dimana karyawan memiliki keyakinan bahwa organisasi menghargai kontribusi dari USAhanya dan peduli dengan kesejahteraan karyawannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perceived organizational support dengan stres kerja pada sales PT.Astra International Tbk- Daihatsu Kota Semarang dan Yogyakarta.Subjek penelitian penelitian ini adalah sales pada PT.Astra International Tbk- Daihatsu Kota Semarang dan Yogyakarta. Jumlah sales yang menjadi sampel penelitian ialah 59 orang. Yang diperoleh melalui teknik proportional sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala psikologi berupa skala stres kerja (25 aitem valid, α = 0,893) dan skala perceived organizational support (25 aitem valid, α = 0,884).Hasil penelitian menunjukkan angka koefisien korelasi (rxy) sebesar -0,419 dengan p = 0,000 (p<0,05) yang berarti hubungan negatif yang signifikan antara perceived organizational support terhadap stress kerja. Semakin positif perceived organizational support, maka akan semakin rendah stres kerja pada sales, begitupun sebaliknya. Variabel perceived organizational support memberikan sumbangan efektif sebesar 17,6% dan sisanya sebesar 82,4% ditentukan faktor-faktor lain yang tidak diukur dalam penelitian ini

    Hubungan Antara Persepsi Terhadap Kepemimpinan Resonan Dengan Kesiapan Untuk Berubah Pada Pekerja PT. Pertamina Ep Asset 3 Field Jatibarang

    Full text link
    Perubahan pada sektor Migas menyebabkan Perubahan kebijakan PT. Pertamina EP. Kebijakan baru mengharuskan PT. Pertamina EP untuk melakukan Perubahan organisasi secara berkala. Kesiapan untuk berubah pekerja menjadi komponen penting yang mempengaruhi kesuksesan implementasi program Perubahan tersebut. Agen Perubahan (pemimpin) memiliki peran utama selama proses Perubahan berlangsung. Kepemimpinan resonan akan membantu menghadapi ketidakpastian selama proses Perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap kepemimpinan resonan dengan kesiapan untuk berubah pada pekerja PT. Pertamina EP Asset 3 Field Jatibarang. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 121 pekerja non teknisi dan non operator dengan sampel penelitian 48 pekerja. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling. Pengambilan data menggunakan skala kesiapan untuk berubah (21 aitem valid dengan α=0,882) dan skala persepsi terhadap kepemimpinan resonan (29 aitem valid dengan α=0,935) yang telah diujicobakan pada 66 pekerja PT. Pertamina EP Asset 3 kantor Klayan. Data yang diperoleh berdasarkan hasil analisis regresi sederhana menunjukkan nilai koefisien korelasi antara persepsi terhadap kepemimpinan resonan dengan kesiapan untuk berubah rxy=0,514 dengan p=0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti, yaitu terdapat hubungan positif antara persepsi terhadap kepemimpinan resonan dengan kesiapan untuk berubah pada pekerja PT. Pertamina EP Asset 3 Field Jatibarang dapat diterima. Persepsi terhadap kepemimpinan resonan memberikan sumbangan efektif sebesar 26,4% pada kesiapan untuk berubah

    Hubungan Antara Kepemimpinan Transformasional Dengan Keterikatan Kerja Pada Perawat Rawat Inap Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang

    Full text link
    RSI Sultan Agung Semarang mengalami persaingan di pasar bebas dan harus memperbaiki pelayanan dengan salah satu strategi yaitu menumbuhkan keterikatan kerja pada perawat melalui peran pemimpin dengan kepemimpinantransformasional.Keterikatan kerja adalah keadaan karyawan yang bekerja secara aktif terlibat penuh dengan semangat, berkomitmen, memfokuskan pikiran pada pekerjaan dan menunjukkan kepuasan dalam bekerja.Kepemimpinan transformasional merupakan penilaian karyawan terhadap pemimpin yang memiliki kemampuan dalam memotivasi, memberikan kepercayaan, sehingga karyawan bekerja melebihi kemampuan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara kepemimpinan transformasional dengan keterikatan kerja. Sampel penelitian berjumlah 65 perawat RSI Sultan Agung Semarang yang diambil menggunakan teknik convenience sampling. Pengumpulan data menggunakan Skala Keterikatan Kerja (24 aitem, α= .88) dan Skala Kepemimpinan Transformasional (26 aitem, α= .92). Analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan positif dansignifikan antara kepemimpinan transformasional dengan keterikatan kerja dengan (r= .80, p< .001) yang berarti semakin positif penilaian perawat terhadap kepemimpinan transformasional atasan maka semakin tinggi keterikatan kerja. Kepemimpinan transformasional memiliki sumbangan efektif sebesar 64.3% terhadap keterikatan kerja.RSI Sultan Agung harus mempertahankan keterikatan kerja pada perawat rawat inap yang tinggi dengan meningkat dan mempertahankan penilaian positif pada pemimpin dengan kepemimpinan transformasional

    Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan Transformasional Dengan Psychological Capital Pada Pegawai Pdam Tirta Moedal Kota Semarang

    Full text link
    Menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap PDAM memerlukan sumber daya yang memiliki kapasitas psikologi positif. Psychological capital adalah kapasitas psikologis yang positif dengan karateristik yaitu memiliki self-efficacy, optimism, hope, dan resilience. Pemimpin yang menggunakan gaya kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang menggunakan nilai pribadi, visi, passion, dan komitmen dalam bekerja untuk menggerakkan pegawai dan memotivasi pegawai agar bekerja dengan giat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kepemimpinan transformasional dengan psychological capital pada pegawai PDAM Tirta Moedal Kota Semarang. Populasi penelitian ini adalah pegawai PDAM Tirta Moedal Kota Semarang. Sampel penelitian adalah sebanyak 153 pegawai yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan dua buah skala psikologi yaitu Skala Psychological Capital (22 aitem valid, α = 0.908) dan Skala Kepemimpinan Transformasional (31 aitem valid, α = 0.941). Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi rxy = 0.648 dengan p=0,000 (p<0,001). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti, yaitu terdapat hubungan positif antara kepemimpinan transformasional dengan psychological capital. Semakin positif kepemimpinan transformasional maka semakin tinggi psychological capital. Kepemimpinan transformasional memberikan sumbangan efektif sebesar 41.9% pada psychological capital dan sebesar 58.1% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini

    Hubungan Antara Persepsi Terhadap Gaya Kepemimpinan Transaksional Dengan Semangat Kerja Pada Karyawan PT. Panca Putra Madani Bekasi

    Full text link
    Semangat kerja adalah sikap karyawan terhadap pekerjaan dan lingkungan kerjanya yang diwujudkan dalam kegairahan dalam melaksanakan pekerjaan, kesediaan bekerjasama dan kedisiplinan dalam bekerja sehingga mendorong seseorang untuk bekerja secara lebih baik. Pembentukan dan pengembangan semangat kerja ini menjadi tanggung jawab pemimpin melalui sejumlah pendekatan yang dilakukan sehingga pada akhirnya karyawan akan mengoptimalkan sikap dan perilaku kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara persepsi terhadap kepemimpinan transaksional dengan semangat kerja pada karyawan PT. Panca Putra Madani Bekasi.Populasi penelitian ini yaitu karyawan PT. Panca Putra Madani Bekasi. Sampel penelitian sebanyak 65 karyawan, sampel diambil menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan dua buah skala psikologi yaitu Skala Semangat Kerja (27 aitem valid, α = 0.910) dan Skala Persepsi terhadap Kepemimpinan Transaksional (20 aitem valid, α = 0.862).Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi rxy = 0.374 dengan p= 0,001 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti, yaitu terdapat hubungan positif antara persepsi terhadap kepemimpinan transaksional dengan semangat kerja. Semakin tinggi persepsi terhadap kepemimpinan transaksional maka semakin tinggi semangat kerja. Persepsi terhadap kepemimpinan transaksional memberikan sumbangan efektif sebesar 14% pada semangat kerja dan sebesar 86% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini

    Hubungan Antara Leader Member Exchange Dengan Kesiapan Untuk Berubah Pada Pegawai Universitas Tidar Di Magelang

    Full text link
    Kesiapan untuk berubah adalah sikap pegawai yang menyetujui, mendukung serta melaksanakan Perubahan yang terjadi. Leader-member exchange (LMX) adalah penilaian bawahan terhadap hubungan yang terjalin diantara pimpinan dan bawahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Leader-member exchange dengan kesiapan untuk berubah. Populasi penelitian ini adalah pegawai Universitas Tidar dengansampel penelitian berjumlah 67 pegawai. Karakteristik subjek penelitian ditinjau dari masa kerja lebih dari atau sama dengan tiga tahun dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan Skala Leader-member Exchange (21 aitem, α = 0,904 ) dan Skala Kesiapan untuk berubah (25 aitem, α = 0,893 ). Analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara leader-member exchange dengan kesiapan untuk berubah (rxy = 0,567 dengan p < 0,001) yang berarti semakintinggi Leader-member exchange maka semakin tinggi kesiapan untuk berubah. Leader-member exchange memberikan sumbangan efektif sebesar 32,2% terhadap kesiapan untuk berubah
    corecore