102 research outputs found
Perbandingan Estimasi Anggaran Biaya Antara Metode Bow, SNI, dan Kontraktor
Keuntungan jinansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat
perkiraan biaya. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi,
kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan. Sebaliknya bila memenangkan
lelang dengan harga terlalu rendah, akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu
perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan
dan mengendalikan sumber daya seperti material, tenaga kerja, pelayanan maupun waktu.
Untuk meningkatkan ejisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di
bidang konstruksi, diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya
Konstruksi. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW, SM
dan kontraktor. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data - data yang
mendukung diantaranya gambar bestek, RAB penawaran kontraktor, RKS, daftar harga bahan
dan upah pada daerah penelitian. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan
didapatkan perbandingan harga satuan dengan metode BOW, SM dan kontraktor. Dan
menghasilkan anggaran biaya yang ekonomis dengan menggunakan metode kontraktor yaitu
sebesar Rp. 10,910,553,058.825, sedangkan hasil anggaran biaya dengan metode BOW yaitu
sebesar Rp. 13,300,607,060.087 dan metode SNlyaitu sebesar Rp. 11,158,461,104.427
Strategic Planning of Information Systems Beauty Clinics with Ward and Peppard Model Approaches (Case Study: Virgina Aesthetics Company (Farina Beauty Clinic))
Virgina Aesthetic Company (Farina Beauty Clinic) is an organization or company engaged in the field of face and body skin care services. To be able to get a competitive advantage and be able to survive in tight competition, the strategy that can be done by a beauty clinic is differentiation and cost reduction. One of the things that can be done for cost-reduction is to make the business processes in the Beauty Clinic more efficient, one of the things that can be used for efficiency is Information Systems (IS) / Information Technology (IT). This research is an effort to build an information system strategic planning and application portfolio in the Virgina Aesthetic Company (Farina Beauty Clinic) that can provide optimal, well integrated and innovative contributions that can unite all supporting aspects in achieving clinical business strategies to increase its competitive value especially in health services.
In preparing the information system strategic planning framework using the Ward and Peppard Model approach and in evaluating the elaboration of information systems strategic planning and business strategies using IT Balance Scorecard. Several analytical methods such as Value Chain Analysis, SWOT Analysis, PEST Analysis and Five Force Model Analysis are used to analyze internal and external business environments. Strategic Grid McFarlan Analysis is used to map the application portfolio. In the end this research resulted in a recommendation for the organization in the form of development priorities which were divided into two related matters, the establishment of an IS / IT unit and the development of an application portfolio that would support the sustainability of Virgina Aesthetics Company (Farina Beauty Clinic) Karawang
Purwarupa Pembersih Pipa Otomatis (Automatic Tube Remover) Pada Heat Exchanger Menggunakan Teknik Pengolahan Citra
In the industry era, especially the oil processing industry, the heat exchanger is needed to regulate temperature and produce oil products such as petroleum, kerosene and diesel fuel. In the operation, the heat exchanger requires maintenance, especially when the minor unit is shut down or stop and routine reparation. Maintenance is done by replacing the tubesheet that commonly referred to as bundle retube where there are pipe fritter to be cleaned, which are cutted at the time of maintenance. This maintenance is typically done in manual approach, which is not efficient in terms of time. For a more efficient maintanence, this paper proposes a prototype design to discard these pipes fritter by utilizing image processing method for detecting the edge of the circle and the position of the pipe fritter. Based on the experiments, it has been obtained that the test circle radius that can be captured is at 4 to 10 pixels. The longest time for positioning was 2.41 minutes and the whole process of disposal of this pipeline reaches 47.92 %
Gambaran Perilaku Pemanfaatan Ventilasi, Penutupan Penampungan Air Pengurasan Bak Mandi Untuk Mencegah Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Puskesmas Pajang Surakarta
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat penting di Indonesia dan sering menimbulkan suatu kejadian luar biasa dengan kematian yang besar. faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit demam berdarah dengue antara lain faktor host, lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat serta faktor virusnya sendiri. tahun 2010, di wilayah kerja puskesmas Pajang dengan kelurahan pajang kasus demam berdarah dengue sebanyak 533 kasus. Berdasarkan hasil studi pendahuluan diperoleh informasi bahwa 6 dari 10 kepala keluarga telah memanfaatkan ventilasi, membersihkan saluran air got di depan rumah, menguras bak penampungan air dan menutup serta, menguras bak mandi 2 kali dalam seminggu memberikan serbuk abate pada bak mandi. Namun sebanyak 4 keluarga masih tidak selalu membersihkan bak mandi 2 kali seminggu, tidak selalu membuka ventilasi rumah dengan alas an rumah dekat jalan yang banyak debu, menguras penampungan air namun tidak ditutup.Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran ventilasi rumah, keberadaan penutup air, dan pengurasan bak mandi dengan kejadian demam berdarah dengue di wilayah kerja Puskesmas Pajang Kecamatan Laweyan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi deskriptif. Populasi dalam penelitian adalah warga pada tahun 2011 sebanyak 13.160 kepala keluarga, sampel diambil sebanyak 30 Kepala keluarga, pengambilan jumlah sampel berdasarkan syarat minimal kenormalan data. Teknik pengambilan sampel dengan simple random sampling.. Data penelitian diperoleh dengan cara observasi ke lokasi penelitian. Analisis data menggunakan central tendensi. Hasil penelitian menunjukkan 53,3% responden masih buruk dalam pemanfaatan ventilasi, 76,7% responden tidak melakukan penutupan penampungan air, 56,7% responden masih memiliki kebiasaan buruk dalam pengurasan bak mandi kurang dari 2 kali semingg
Persepsi Masyarakat Desa Kuta Blang Kecamatan Sama Dua Kabupaten Aceh Selatan Terhadap Sirup Pala
Kabupaten Aceh Selatan merupakan daerah sentra kawasan Provinsi Aceh penghasil pala terbanyak diperingkat ketiga setelah Maluku Utara dan Maluku di Indonesia. Hal ini menjadi suatu peluang bagi kawasan Aceh Selatan untuk dapat memaksimalkan pemanfaatan pala dari berbagai komposisinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat Desa Kuta Blang terhadap sirup pala yang diproduksi yang dinilai berdasarkan 6 aspek yaitu tingkat pengetahuan masyarakat tentang buah pala, peluang usaha dan pendapatan, sarana dan prasarana pengolahan pala, pemahaman khasiat sirup pala, konsumsi sirup pala dan peningkatan ekonomi melalui pemanfaatan sirup pala. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif kuantitatif melalui penyebaran kuesioner kepada para responden. Teknik dalam penentuan sampel memakai teknik simple random sampling dengan penggunaan rumus slovin. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa keseluruhan aspek dari persepsi masyarakat dikatagorikan baik kecuali pada aspek peluang usaha dan pendapatan yang dikatagorikan tidak baik. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah diperlukan dukungan oleh pemerintah daerah dan para cendikiawan untuk dapat mengedukasikan dan pelatihan kepada masyarakat Desa Kuta Blang untuk dapatb memasarkan produk-produknya melalui media sosial atau platform jual beli online
Latihan Fisik dan Obesitas pada Remaja
This study aims to determine the relationship between physical exercise and obesity in adolescents. The method used is a systematic review using four databases: ClinicalKey Nursing, Emerald Insight, Sage Journals, and ScienceDirect. The results showed that of the thirteen articles reviewed, nine pieces showed that regular physical exercise could reduce body weight, body mass index (BMI), body fat percentage, and body composition. Physical exercise is also related to obesity status and is a strategy to control obesity as well as an obesity prevention factor which is not only recommended to prevent obesity but can maintain a healthy body; lack of physical exercise can increase the risk of obesity by 3.08 times greater than adolescents who do exercise physique. Four other articles stated that obesity in adolescents was not directly related to physical exercise. Still, they reported the occurrence of obesity due to food consumption habits that can increase body fat. In conclusion, physical exercise is recommended as a strategy for preventing and managing obesity. It is associated with obesity status in adolescents, which can be known from the value of body mass index (BMI).
Keywords: Physical Exercise, Obesity, Adolescent
ANALISIS PENGOPERASIAN TOWER CRANE UNTUK PEKERJAAN PENGECORAN STRUKTUR KOLOM
Tower Crane merupakan jenis excavator yang diberi suatu attachment yang berupa boom, dengan bantuan kabel baja kemudian digerakkan dengan generator. Alat ini dapat mengangkat/memindahkan material dari elevasi rendah ke elevasi yang lebih tinggi demikian juga sebaliknya. Penggunaan tower crane ini umumnya pada pekerjaan pembangunan gedung bertingkat. Masalah yang biasa dihadapi oleh kontraktor dalam pengoperasian tower crane adalah biaya pengoperasian yang cukup mahal baik biaya sewa maupun biaya operasional, dan juga efektivitas pengoperasian tower crane terhadap kinerja proyek. Perlu suatu perancanaan mengenai efektivitas pengoperasian tower crane. Dengan memperkirakan durasi pengoperasian tower crane pada setiap item pekerjaan, maka dapat memperkirakan waktu pengoperasian tower crane secara keseluruhan. Pada studi kasus yang dilakukan pada penelitian ini, penulis mencoba untuk melakukan perhitungan mengenai kebutuhan waktu untuk pengoperasian tower crane, penelitian ini akan fokus pada pengoperasian tower crane pada pekerjaan pengecoran struktur kolom saja. Untuk kebutuhan waktu pengoperasian tower crane pada pekerjaan pengecoran kolom K1 dengan luas 0,32 m² sebanyak 50 unit, dapat diselesaikan dalam waktu 23 hari dengan jam kerja normal yaitu 9 jam per hari. Namun waktu tersebut tidak termasuk apabila terjadi beberapa kendala dalam pengoperasian tower crane selama di lapangan, seperti kendala cuaca buruk, bencana alam, kerusakan dan lain-lain yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan di lapangan
PELAPIS LATEKS SEBAGAI ANTITRANSPIRAN PADA DAUN BIBIT TANAMAN KARET
Pengendalian laju transpirasi yang berlebihan pada tanaman karet dapat dilakukan dengan aplikasi bahan anti-transpiran untuk mengurangi konduktivitas stomata selama musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formula anti-transpiran lateks dengan berbagai konsentrasi terhadap laju transpirasi dan nilai Performance Index (PI) selama periode cekaman kekeringan. Bahan tanam dalam penelitian ini berupa bibit karet klon PB 260 satu payung daun yang ditanam pada polibeg berukuran 15 x 35 cm. Penelitian menggunakan rancangan split-plot dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah pemberian anti-transpiran tanpa anti-transpiran sebagai kontrol (A0), anti-transpiran lateks 7,5% (A7,5), anti-transpiran lateks 15% (A15), dan anti-transpiran lateks 22,5% (A22,5) pada daun. Faktor kedua adalah perlakuan stress kekeringan, yaitu kontrol (K) dan terminal stress (T). Parameter yang diamati meliputi luas daun, laju transpirasi, serta fluoresensi klorofil daun. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Penggunaan anti-transpiran berbahan dasar lateks pada tanaman karet dapat menurunkan laju transpirasi oleh daun dan mempertahankan ketersediaan air dalam jangka waktu yang lebih lama. Konsentrasi anti-transpiran yang paling ideal diaplikasikan pada daun tanaman karet adalah 7,5%. Aplikasi antitranspiran dengan konsentrasi 7,5% dapat mengurangi laju transpirasi sebesar 0,05 dan 0,065 g/cm2 luas daun/hari pada perlakuan kontrol dan cekaman kekeringan (terminal stress) berturut-turut. Selain itu, perlakuan aplikasi antitranspiran dengan konsentrasi 7,5%, 15%, dan 22,5% telah dapat mengurangi laju transpirasi sekitar 50%, 50%, dan 75% berturut-turut dibandingkan perlakuan kontrol (tanpa anti-transpiran). Konsentrasi yang lebih tinggi dari pada 7,5% dapat menyebabkan penutupan stomata yang berlebihan sehingga berpotensi menyebabkan terbentuknya ROS yang berlebihan. Anti-transpiran ini dapat diaplikasikan sekali sebelum terjadinya musim kemarau/kekurangan air
ANALISIS KINERJA BIAYA DAN WAKTU DENGAN MENGGUNAKAN METODE EARNED VALUE
Pada pelaksanaan suatu proyek konstruksi, sering ditemui suatu proyek berjalan tidak sesuai dengan yang telah direncanakan, baik dari segi waktu maupun biaya proyek, tetapi ada juga proyek yang mengalami percepatan dari yang telah direncanakan. Salah satu metode untuk mengukur kinerja proyek adalah earned value, suatu konsep perhitungan anggaran biaya sesuai dengan pekerjaan yang telah diselesaikan. Konsep earned value dapat digunakan sebagai alat ukur kinerja yang mengintegrasikan antara aspek biaya dan aspek waktu. Penulisan ini membahas mengenai analisis kinerja biaya dan waktu pada proyek gedung telekomunikasi di Jawa Tengah. Untuk BCWS, terlihat bahwa bertambahnya waktu pelaksanaan maka bertambah pula biaya pelaksanaannya, untuk BCWP terlihat bahwa pada periode yang ditempuh sudah 97% dari waktu yang telah direncanakan dan anggaran hampir menyentuh budget Rp.19.000.000.000,00. Untuk ACWP lebih rendah dibanding BCWP itu menandakan bahwa proyek tidak mengalami kerugian. Untuk SV menunjukkan bahwa pelaksanaan proyek belum berjalan optimal dari segi waktu, karena 15 minggu tidak sesuai dengan jadwal. Penyimpangan anggaran terjadi selama 37 minggu yaitu sebesar - 0,9704 % dari nilai kontrak awal. Untuk SPI menunjukkan proyek berjalan selama 37 minggu, tetapi pada minggu ke-2 sampai ke-4, minggu ke-14 sampai ke-15, dan minggu ke-21 sampai ke-37 kurang baik, karena kinerja proyek lebih lambat dari rencana. Dengan mengetahui kinerja biaya dan waktu, maka untuk mengatasi keterlambatan proyek perlu dilakukan percepatan untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu. Percepatan dapat dilakukan dengan penambahan jam kerja, penambahan tenaga kerja, dan lainnya. Namun jika ditinjau dari kontrak kerja awal proyek, berdasarkan informasi dari lapangan untuk penyelesaian proyek, masih sesuai rencana yaitu 37 minggu
- …
