3,703 research outputs found
Symbolism In Ron Howard’s Angels And Demons Movie (2009): A Semiotic Approach
The major problem of the study is how symbolism is reflected in Angels and Demons movie by Ron Howard. The objective of this study is to analyze the movie based on its structural elements and analyze the movie based on the
semiotic approach. In Analyzing Angels and demons movie, the writer uses qualitative method and semiotic approach. The data source consists of primary data and secondary data sources. Primary data source is the Angels and demons movie
directed by Ron Howard released in 2009. While secondary data source are other materials taken from books, journals and internet related to study. Both data collected trough library research and analyzed by descriptive analysis.
The study comes to the following conclusion. Firstly, based on the structural analysis, it is evident that in this movie, the director is saying that “angels and demons are symbols of good and evil behavior of individuals in the
society”. Secondly, based on the semiotic analysis, it is apparent that in this movie, the director want to makes the audience realize that the war of good against evil is an everlasting war that everybody should fight in all ages
Lima Pilar Rukun Islam Sebagai Pembentuk Kepribadian Muslim
Tulisan ini bermaksud menjabarkan cara atau metode canggih dalam menggapai kepribadian muslim sejati menggunakan lima pilar Rukun Islam yang terdiri dari syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Bahasan dilakukan dengan cara berfikir mendalam dengan mensinergikan dan memaknai lima pilar Rukun Islam menggunakan cara kerja psikologi dalam membentuk kepribadian muslim. Hasil kajian menunjukkan bahwa Rukun Islam merupakan salah satu pendekatan yang diciptakan Allah untuk membentuk kepribadian muslim, dengan cara memberikan beberapa latihan dasar supaya terbentuk habit atau pembiasaan yang nantinya melahirkan sifat dan perilaku positif yang menetap. Latihan dasar yang disediakan Allah untuk membentuk sifat dan perilaku positif tersebut, diawali dengan latihan lisan (syahadat), dilanjutkan dengan latihan jiwa raga (shalat), diikuti dengan latihan kepemilikan materi (zakat), disertai dengan latihan pengendalian nafsu dan syahwat (puasa), diakhiri latihan paripurna mencakup keempatnya yakni (haji). Lima pilar Rukun Islam akan benar-benar efektif menghasilkan sosok kepribadian muslim yang prima bagi pengamalnya ketika lima pilar tersebut dilaksanakan dengan menyatukan sisi syari dan hakiki
Faktor Pemicu Munculnya Radikalisme Islam Atas Nama Dakwah
Berbagai tindak kekerasan seperti demonstrasi, aksi protes dan terorisme, realitanya sebagian dilakukan oleh kelompok muslim yang berafiliasi pada organisasi Islam radikal. Islam ditengarai sebagai agama yang membawa kedamaian dan keselamatan, tetapi mengapa sebagian pemeluknya menjadi radikal dan bersedia melakukan tindakan radikalisme dan terorisme? Apakah hal ini berhubungan dengan ajaran-ajaran tertentu dalam Islam yang telah dimanipulasi, yang juga melibatkan faktor sosial dan psikologi? Guna menjawab pertanyaan tersebut dilakukan kajian menggunakan cara berfikir induktif dengan cara memaparkan data yang berasal dari kajian pustaka dan hasil-hasil penelitian kemudian ditarik kesimpulan umum. Data dianalisis dengan menggunakan perspektif agama dan psikologi sosial.Hasil kajian menunjukkan bahwa radikalisme Islam melibatkan tiga faktor sekaligus yakni faktor agama, faktor sosial dan faktor psikologis. Faktor sosial berupa berbagai kasus ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik, merupakan pemicu utama yang dijadikan alat bagi pihak-pihak tertentu untuk membangkitkan kemarahan dan merasa diperlakukan tidak adil. Sementara faktor agama berupa ajaran dakwah, amar makruf nahi mungkar dan jihad, dijadikan legitimasi untuk melakukan tindakan radikalisme atas nama agama. Ajaran agama yang sesungguhnya bersifat netral, telah ditafsir secara ekslusif dengan hanya memilih ayat-ayat yang berkonotasi kekerasan dan mengabaikan ayat-ayat yang bersahabat. Ajaran agama yang telah ditafsir ekslusif untuk melawan ketidakadilan tersebut secara psikologis mampu merubah pandangan apa yang semula dinilai hina (misalnya membunuh dan merusak) menjadi sebuah perjuangan moral
MODALITAS EPISTEMIK YOUDA, SOUDA, RASHII DALAM BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA
Modalitas epistemik youda, souda dan rashii memiliki persamaan dan perbedaan makna yang cukup sulit untuk dipahami, hal tersebut adalah youda dan rashii memiliki fungsi yang sama yaitu menyatakan suiryou (dugaan), souda dan rashii sama-sama dapat menyatakan denbun (penyampaian). Sedangkan perbedaannya youda juga dapat bermakna hikyou (pembandingan/ perumpamaan). Dan souda dapat bermakna youtai dan kisei no kanousei. Untuk dapat memahami penggunaan youda, souda, rashii dalam bahasa Jepang, perlu dilakukan penelitian kontrastif terhadap padanannya dalam bahasa Indonesia yaitu ‘seperti, rupanya, kelihatannya dan katanya’ untuk dapat mengetahui persamaan dan perbedaan yang ditimbulkan oleh pengekspresian tersebut sehingga dapat mengurangi tingkat kesulitan dalam pemahaman ungkapan youda, souda, rashii. Terutama dalam bidang sintaksis (struktur dalam kalimat) dan semantik (makna). Melalui penelitian diperoleh persamaan dan perbedaan youda, souda, rashii dan padanannya dalam bahasa Indonesia ‘seperti, rupanya, katanya, kelihatannya’ dari segi makna dan penempatan kata yang mendampingi pengekspresian tersebut.;---Epistemic Modality youda, souda, and rashii have similarities and differences of meaning which difficult to understand, it is youda and rashii have the same functionality that expressed suiryou (allegations), souda and rashii can declare denbun (delivery). But the difference of youda may also be significant hikyou (comparison / parable). And souda may also be significant youtai and kisei no kanosei. To understand the using of youda, souda, and rashii in Japanese Languange is necessary to study contrastive counterpart meaning in Indonesia Language. That are ‘seperti (like, as), rupanya (apparently), kelihatannya (seem), and katanya (said)’, these word are able to find out the the similarities and differences posed by the expression, so that it can reduce the degree of difficulty in understanding to use expression youda, souda, rashii. Through researching is showed similarities and differences youda, souda, rashii and Indonesia Laguange counterpart in seperti (like, as), rupanya (apparently), kelihatannya (seem), and katanya (said)’, in terms of meaning and placement of words that accompany the expression.;---認識のモダリティ「ようだ、そうだ、らしい」は意味的について共通点と相違点を理解しにくいと考える。それは「ようだ」と「らしい」が推量をいう意味をもち、「そうだ」と「らしい」も伝聞を表すことからである。しかし、「ようだ」と「らしい」は同様の意味を持つことであるが、違いはあり、「そうだ」と「らしい」も伝聞を表す意味があるが、違いもある。認識のモダリティ「ようだ」は推量を表すしかではなく、比況という意味も持つ。また、「そうだ」は伝聞を表すしかではなく、様態と生起の可能性という意味も持つことである。そのような共通点と相違点を理解できるために、「seperti, rupanya, kelihatannya dan katanya」のインドネシア語訳を対照研究しようとする。その結果、インドネシア人の日本語学習者が「ようだ、そうだ、らしい」の共通点と相違点理解ができれば、活用と使用の難しさを低下ができる。特に、統合論と意味論における分野である。本研究を通して、「ようだ、そうだ、らしい」と「seperti, rupanya, kelihatannya dan katanya」に関して、共通点と相違点が見られ、日本語の学習者も「ようだ、そうだ、らしい」についてどんな語句の位置があるか、どんな意味を表すか分かるようになると考えられる
Problem Solving Ability Of Students Taught By Missouri Mathematics Project
This research was pre experimental research. The experimental design used was One-Group Pretest-Posttest Design which aims to describe and to know the problem solving ability of students of class VIII 3 was taught by applying the model of Missouri Mathematics Project of grade VIII 3. The population was the students of class VIII and the sample was class VIII 3 consisting of 30 students as an experimental class. Based on the results of research and discussion, students were able to solve mathematical problems based on indicators of mathematical problem solving ability. The result of hypothesis test shows: 1)The mean posttest score of the students meets the determined KKM value that is greater equal to 78. This means that the postest average value is significantly greater than 77.9; 2)The average normalized gain value exceeds the medium category. This means that the average value of the gain normalized significantly more than 0.29; and 3)The posttest score obtained by the students has been completed by classical test based on the proportion test. This means that the classical mastery of students' mathematical problem solving abilities after the applied learning model of the Missouri Mathematics Project is significantly more than 0.849.
Keywords: Problem-solving Abilities, Mathematical Missouri Mathematics Project mode
Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Low Back Pain (Lbp) Akibat Hernia Nukleus Pulposus (Hnp) Dengan Shor Wave Diathermy (Swd) Dan Mc. Kenzie Exercise
Background: HNP lumbar (lumbar spinal disc herniation) is a state where all or part of the nucleus undergo protrusion into the spinal canal, causes of lower back pain are numerous and varied ranging from muscle fatigue to malignant tumors. With the pain, then there will be muscle spasm around the vertebrae and limited motion in the lumbar spine (flexion, extension, flexion latero).
Objective: To determine the benefits of Short Wave Diathermy (SWD) and Mc Kenzie in the case of Low back pain (LBP) as a result of spinal disc herniation (HNP) .in reduce pain, reduce spasms, increase range of motion (LGS) and improve functional activities.
Results: A decrease pain using the Visual Analogue Scale (VAS), to tenderness in T1 (5.2) to T6 (2.9). Pain motion on T1 (4.4) to T6 (2.1) .Nyeri silent on T1 (3.1) to T6 (0). Increased range of motion for gerakfleksi trunk T1 (28 cm) to T6 (36 cm). T1 trunk extension (45 cm) to T6 (45 cm). Latero left flexion T1 (46 cm) to T6 (46 cm). Right flexion T1 (47 cm) into (47 cm).
Conclusion: Therapeutic exercise Mc. Kenzie Exercise can reduce pain, improve muscle strength, Improving your posture
Pengembangan Modul Bimbingan Shalat Khusyu\u27 Berbasis Paradigma Integrasi Interkoneksi Guna Membentuk Karakter Positif Dan Kebermaknaan Hidup Muslim
Penelitian ini bertujuan untuk menggali kebutuhan dasar yang diperlukan bagi muslim guna mencapai shalat khusyu\u27. Juga untuk menemukan model shalat khusyu\u27 yang mampu menghantarkan muslim mencapai shalat khusyu\u27 dalam ritual formal hingga berimplikasi membentuk sikap dan perilaku positif. Penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan produk berupa modul bimbingan shalat khusyu\u27 berbasis paradigma integrasi interkoneksi guna membentuk karakter positif dan kebermaknaan hidup muslim. Guna mencapai tujuan tersebut, dilakukan penelitian pengembangan (Research and Development) yang pada saat ini baru sampai pada tahap menggali kebutuhan sasaran penelitian dan pengumpulan bahan modul dari sumber kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum muslim belum memahami hakikat shalat khusyu\u27, meskipun telah mengerjakannya. Hakikat shalat khusyu\u27 adalah merupakan tujuan shalat itu sendiri yakni mendirikan kebenaran dalam hidup dan kehidupan. Modul bimbingan shalat khusyu\u27 dikembangkan dengan memuat dua panduan yakni umum dan khusus. Panduan umum memuat kaifiah shalat sebagaimana diatur fikih. Panduan khusus memuat tata cara guna meraih kahikat dan tujuan shalat dengan memanfaatkan acuan ilmu fikih, aqidah dan tasawuf, dilengkapi dengan teknik-teknik tertentu yang dikembangkan ilmu psikologi dalam mementuk perilaku positif
Peningkatan Kemampuan Penguasaan Kosakata Melalui Kartu Huruf Bergambar Siswa Kelas II Sdn 5 Soni
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penguasaan kosakata kelas II SDN 5 Soni dengan menggunakan kartu huruf bergambar agar dapat diketahui keefektifan siswa dalam menggunakan kartu huruf untuk menguasai kosakata pada dua aspek yakni mengetahui bentuk kata dan mengetahui makna kata. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas II SDN 5 Soni tahun pelajaran 2013/2014 dengan jumlah siswa sebanyak 25 orang. Data penelitian ini dikumpukan dengan menggunakan metode observasi dan tes yang kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) adanya peningkatan prosentase kemampuan penguasaan kosakata sebesar 8% pada pra-tindakan menjadi 48% pada siklus satu, (2) dan terjadi peningkatan prosentase kemampuan penguasaan kosakata sebesar 60% pada siklus dua, meningkat lagi menjadi 84% pada siklus tiga. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan kartu huruf bergambar pada pembelajaran Bahasa Indonesia dalam meningkatkan kemampuan penguasaan kosakata siswa kelas II SDN 5 Soni tahun pelajaran 2013/2014 telah meningkat dan tuntas
- …
