4 research outputs found
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STRES KERJA PADA ASN BIRO UMUM, HUMAS, DAN PROTOKOL SEKRETARIS DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Stres dapat diakibatkan karena adanya ketidakseimbangan antara sumber daya dan tuntutan yang dimiliki oleh individu. ASN Biro Umum, Hubungan Masyarakat, dan Protokol memiliki tuntutan atau beban kerja yang cukup berat karena tugas yang kompleks, waktu kerja tidak menentu, dan berhubungan dengan banyak pihak, termasuk dengan pejabat daerah. Tuntutan dan beban kerja tersebut apabila tidak sesuai dengan sumber daya yang dimiliki individu dapat mengakibatkan stres kerja. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada ASN Biro Umum, Humas, dan Protokol Sekretaris Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh ASN Biro Umum, Humas, dan Protokol yang berjumlah 139 orang. Jumlah sampel adalah 58 dengan teknik proportional random sampling. Instrumen pengukuran menggunakan angket, yaitu stres kerja menggunakan Depression Anxiety Stres Scales (DASS-42) dan beban kerja mental menggunakan National Aeronautics and Space Administration Task Load Index (NASA-TLX). Hasil uji statistic dengan chi-square diperoleh bahwa jenis kelamin (p=0.199), umur (p=0.460), masa kerja (p=0.372), dan beban kerja mental (p=0.992) tidak memiliki hubungan signifikan dengan stres kerja. Terdapat hubungan signifikan antara hubungan interpersonal (p=0.019) dengan stres kerja.
Kata kunci: stres kerja, beban kerja mental, hubungan interpersona
Pemanfaatan Talimaa Sebagai Bahan Ajar Sastra Klasik Di Perguruan Tinggi
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemanfaatan talimaa sebagai bahan ajar sastra klasik di Perguruan Tinggi. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologi sastra. Data penelitian ini mengenai bahan ajar sastra klasik sebagai pembelajaran sastra di Perguruan Tinggi. Sumber data dalam penelitian ini adalah dokumen dan hasil wawancara bersama dosen mata kuliah sastra klasik. Teknik pengumpulan data penelitian ini melalui wawancara dan dokumen. Validitas data yang digunakan dalam penelitian ini berupa trianggulasi teori dan trianggulasi sumber. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukan bahwa talimaa dapat dikategorikan atau diidentifikasi sebagai bahan ajar sastra klasik serta berdasarkan wawancara dengan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP PGRI Pontianak bahwa talimaa bisa dijadikan sebagai bahan ajar karena mampu meningkatkan apresiasi mahasiswa terhadap kesusasteraan klasik yang ada melalui pengenalan berbagai karya sastra klasik berupa teks dan lisan, mengetahui konsep, dasar, kaidah, fungsi, hakikat, genre, karakteristik, aliran, dan interprestasi dasar sastra, mampu memberikan contoh teks/lisan sastra klasik, dan mampu membuat laporan tentang sastra klasik di daerah Kalimantan Barat
Motivasi Berhenti Merokok pada Perokok Dewasa Muda Berdasarkan Transtheoretical Model (TTM)
Pendahuluan: Merokok telah diketahui menjadi faktor resiko banyak penyakit dan kematian. Meskipun demikian, terdapat peningkatan prevalensi perokok berusia muda. Intervensi untuk meningkatkan angka berhenti merokok diharapkan efektif dilakukan. Desain intervensi tersebut dapat dipengaruhi oleh seberapa tinggi motivasi berhenti merokok. Tujuan: Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi motivasi seseorang untuk berhenti merokok berdasarkan Transtheoretical Model (TTM), untuk menentukan hubungan faktor demografi dan pengetahuan rokok terhadap motivasi berhenti merokok, dan menemukan faktor-faktor yang membedakan motivasi untuk berhenti merokok. Metode: Penelitian ini dilakukan di sekitar kampus B Universitas Airlangga pada September 2018 menggunakan metode survei, rancangan studi cross-sectional dengan teknik accidental sampling. Responden dalam penelitian ini merupakan perokok berusia 17 - 25 tahun (n = 162). Hasil: Dari hasil analisis data diperoleh bahwa tingkat motivasi tertinggi terdapat pada tahap kontemplasi yaitu sebanyak 38,9% (62 responden). Tahap kontemplasi adalah tahap dimana seseorang masih berstatus sebagai perokok aktif, tetapi sudah berkeinginan untuk berhenti merokok dalam 6 bulan ke depan, sehingga masih memiliki kecenderungan untuk membatalkan keinginan berhenti merokok. Profil demografi, seperti uang saku, jumlah teman merokok dan keberadaan perokok di rumah responden tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat motivasi berhenti merokok. Pengetahuan dan intensitas merokok berpengaruh signifikan terhadap motivasi berhenti merokok. Terdapat korelasi antara pengeluaran untuk merokok dan jumlah batang rokok per hari dengan motivasi berhenti merokok (p = 0,000). Kesimpulan: Promosi kesehatan terkait berhenti merokok yang berfokus di kalangan remaja sangat perlu dilakukan. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perokok pada tahap kontemplasi adalah mengadakan penyuluhan tentang bahaya merokok dan pemberian informasi adanya NRT (Nicotine Replacement Therapy).</jats:p
