14 research outputs found

    Application of Filter Cake on Growth of Upland Sugarcanes

    Full text link
    Recently planting site of sugarcane was shifted from lowland to upland area. Sugar cane cultivation in upland has many constraints, especially limited water supply and low nutrition availability. The objectives of this research were to study the influence of application of composted filter cake on growth and water use efficiency of upland sugar cane. The research was conducted in Jengkol, Kediri. Treatments consist of three factors: frequency of irrigation (once every 1 week, once every 2 weeks, and once every 3 weeks); sugarcane varieties (PS-862 and PS-864); and compost doses (0, 2.5, 5, and 7.5 ton ha-1). Split plot design with three replications was used in each irrigation treatment, using composted filter cake as main plots and sugarcane varieties as sub plots. The results showed that the highest sugar content was reached at application of 5 ton ha-1 compost and the greatest crystal sugar was reached at 3.09 ton ha-1 compost. Compost application at 5 ton ha-1 on each planted row can reduce frequency of irrigation from once a week to once every 2 weeks

    Neraca Karbon, Emisi dan Serapan Historis Co2 Karena Perubahan Penggunaan Lahan di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan

    Get PDF
    Land use change is the cause of carbon loss from land. The loss of this carbon becomes a source of carbon dioxide (CO2) in the atmosphere that can cause global warming. Intensive land use and land cover occurred in Kabupaten Banyuasin from 2004-2014. The purpose of this study. to create carbon balance, emissions and sequestration of CO2 during the period of 2004 - 2014 in Banyuasin Regency caused by land use change and land cover change. The method used to create carbon balance using land use change matrix, carbon calculation of each carbon pool by allometric method, destructive sample and organic C by Walkley and Black method. Stock diference method for analysis of changes in carbon storage, CO2 emissions and CO2 sequestration. The results of this study indicate that the 2004-2014 carbon balance in Banyuasin Regency is negative, with a carbon loss of 22,033,277 tons with an average annual carbon loss of 2,203,327 tons. CO2 sequestration of 29,298,966 tons and CO2 emissions 118,044,141 tons, while net emissions 88,745,175 tons. Average net CO2 emissions from above ground carbon pools, carbon necromassa pools, litter carbon pools and underground carbon pools are 7 tonnes ha-1 year-1, whereas CO2 emissions from organic soil C 0.61 tonnes ha- 1 year-1. The largest contributor of CO2 emissions in Banyuasin Regency are sequentially caused by changes in peat swamp forests, secondary mangrove forests, primary mangrove forests and secondary swamp forests. While the source of sequestration is the change of monoculture rubber peat, oil palm, rubber monoculture and shrubs

    Sustainability Index of Rice Field for Supporting Spatial Planning (Case Study in Jember District, East Java)

    Full text link
    Rice Field agriculture in Jember district is a main sector due to its contribution to rice production in this region. The objective of this study is to determine the rice field sustainability index based on agro-ecosystem zone and to formulate policy alternatives for supporting the spatial planning in achieving sustainable rice field agriculture. The study used the primary andsecondary data which include biophysical environment, economy, social and culture. The data analysis used GIS (Geographic Information System) modelbase, factor analysis, and AHP (Analytical Hierarchy Process). The results showed that the sustainability index of the rice field agro-ecosystem zones were different. The threats of the rice field sustainability were causedby the main indicators of the biophysical environment, economy, social, and culture such as water availability, soil nutrients of Carbon organic content, Nitrogen, and Phosphor-available, profit, fertilizer access, land conversion, land ownership and fragmentation, farmer education, and age of farmer. To overcome those threats, the policy consideration was more dominantly determined by the biophysical factor rather than that of theeconomy, social, and culture. The implementation of the policy tohandle the threats needs to be coordinated among the stakeholders, considering that the rice field resource can be categorized into a common pool resource

    Satu Langkah Menuju Impian Lanjut Usia Kota Ramah Lanjut Usia 2030: Kota Depok

    Full text link
    Studi asesmen kota ramah lanjut usia 2013 dilakukan di 14 kota di Indonesia yaitu Jakarta Pusat, Medan, Surabaya, Bandung, Semarang, Makassar, Mataram, Yogyakarta, Denpasar, Balikpapan, Payakumbuh, Depok, Surakarta, dan Malang. Kota Depok masuk kualifikasi kota kecil di antara 14 kota wilayah studi. Populasi lanjut usia Kota Depok termasuk tidak terlalu tinggi. Menurut data Sensus 2010 jumlah lanjut usia 60+ kota Depok mencapai 4,9%. Tetapi yang perlu diperhatikan dari kota ini adalah cukup tingginya usia harapan hidup yang mencapai 73 tahun, lebih tinggi dari usia harapan hidup nasional yang mencapai hanya 70,7 tahun. Urbanisasi dan persentase penduduk di kota juga mengalami peningkatan pesat di Indonesia termasuk di lokal Kota Depok. Urbanisasi ini terjadi sebagai pengaruh dari tiga hal yaitu pertum- buhan alami, perpindahan dari perdesaan ke perkotaan, dan Perubahan klasifikasi pedesaan ke perkotaan. Pada tahun 2000 jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan telah hanya 42,1%, tahun 2025 diproyeksikan mencapai 67,5%. Di tahun 2025 provinsi di Jawa dan Bali memiliki tingkat urbanisasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan keadaan Indonesia secara umum, bahkan Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta persentase penduduk yang tinggal di perkotaan melebihi 80%. Kedua masalah demografi tersebut, di antaranya, yang mendorong dilakukannya Studi Asesmen Kota Ramah Lansia di Kota Depok

    Satu Langkah Menuju Impian Lanjut Usia Kota Ramah Lanjut Usia 2030: Kota Balikpapan

    Full text link
    Studi asesmen kota ramah lanjut usia 2013 dilakukan di 14 kota di Indonesia yaitu Jakarta Pusat, Medan, Surabaya, Bandung, Semarang, Makassar, Mataram, Yogyakarta, Denpasar, Balikpapan, Payakumbuh, Depok, Surakarta, dan Malang. Kota Balikpapan merupakan kota industri minyak dengan jumlah penduduk cukup padat sehingga masuk kualifikasi kota besar di antara 14 kota wilayah studi. Populasi lanjut usia Balikpapan cukup tinggi. Menurut sensus 2010, jumlah lanjut usia 60+ kota ini mencapai 4,18%. Angka tersebut, secara persentase lebih tinggi dibandingkan persentase Provinsi Kalimantan Timur yang hanya 4.02%. Hal ini dapat terjadi karena, salah satunya, dipengaruhi dengan semakin meningkatnya angka harapan hidup, di mana angka harapan hidup Kota Balikpapan mencapai 67.9 tahun Selain itu, urbanisasi dan persentase penduduk di kota, juga mengalami peningkatan pesat di Indonesia pada umumnya dan di Balikpapan khususnya. Urbanisasi ini terjadi sebagai pengaruh dari tiga hal yaitu pertumbuhan alami, perpindahan dari perdesaan ke perkotaan, dan Perubahan klasifikasi pedesaan ke perkotaan. Pada tahun 2000 jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan hanya 42,1%, di tahun 2025 diproyeksikan mencapai 67,5%. Kedua masalah demografi tersebut, di antaranya, yang melatarbelakangi dilakukannya Studi Asesmen Kota Ramah Lansia di Kota Balikpapan

    Satu Langkah Menuju Impian Lanjut Usia Kota Ramah Lanjut Usia 2030: Kota Malang

    Full text link
    Studi Asesmen Kota Ramah Lanjut Usia 2013 dilakukan di 14 kota di Indonesia yaitu Jakarta Pusat, Medan, Surabaya, Bandung, Semarang, Makassar, Mataram, Yogyakarta, Denpasar, Balikpapan, Payakumbuh, Depok, Surakarta, dan Malang. Kota Malang masuk kualifikasi kota kecil di antara 14 kota sampel. Populasi lanjut usia Kota Malang termasuk cukup tinggi. Menurut hasil Sensus 2010, jumlah lanjut usia umur 60+ Kota Malang mencapai 8.5%. Persentase tersebut lebih tinggi dibanding persentase nasional yang hanya mencapai 7.6%. Hal tersebut terjadi karena dipengaruhi, di antaranya, dengan semakin mening-katnya usia harapan hidup, di mana usia harapan hidup Kota Malang sudah mencapai 65 tahun. Disamping itu, urbanisasi dan persentase penduduk di kota juga mengalami peningkatan pesat di Indonesia termasuk di Kota Malang. Urbanisasi terjadi sebagai pengaruh dari tiga hal yaitu pertumbuhan alami, perpindahan dari perdesaan ke perkotaan, dan Perubahan klasifikasi pedesaan ke perkotaan. Pada tahun 2000 jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan sudah menyentuh angka 42,1%, dan di tahun 2025 diproyeksikan mencapai 67,5%. Di tahun tersebut provinsi di Jawa dan Bali memiliki tingkat urbanisasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan keadaan Indonesia secara umum, bahkan di provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta persentase penduduk yang tinggal di perkotaan melebihi 80%
    corecore