8 research outputs found

    EFEK SEGERA PEMBERIAN KINESIO TAPING PADA INSTABILITAS FUNGSIONAL PERGELANGAN KAKI ATLET BASKET LAKI-LAKI

    Get PDF
    Pendahuluan : cidera pergelangan kaki sering terjadi pada atlet basket, yang menyebabkan terjadi instabilitas fungsional pergelangan kaki. Untuk menurunkan instabilitas fungsional pergelangan kaki diberikan kinesio taping, namun hingga saat ini efek-segera pemberian kinesio taping pada instabilitas fungsional pergelangan kaki belum pernah dijelaskan. Tujuan : Menjelaskan efek segera pemberian kinesio taping pada instabilitas fungsional pergelangan kaki atlet basket laki-laki. Metode : Penelitian ini bersifat quasi eksperimen. Sampel terdiri dari 15 orang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Sampel dikelompokkan menjadi satu kelompok, kelompok perlakuan pemberian kinesio taping terdiri dari 15 orang. Pengukuran instabilitas fungsional pergelangan kaki menggunakan star excursion balance test. Hasil: Hasil penilaian instabilitas fungsional pergelangan kaki sebelum perlakuan (pre test) diperoleh pada kelompok perlakuan dengan arah gerakan pada SEBT antero lateral 69,533 ± 6,379 cm, antero medial 68,733 ± 5,245 cm, posterior 67,133 ± 5,792 cm, kemudian 20 menit setelah pemberian kinesio taping (post test) diperoleh pada kelompok perlakuan dengan arah gerakan pada SEBT antero lateral 72,066 ± 6,158 cm, antero medial 71,333 ± 5,259 cm, posterior 69,600 ± 5,435 cm. Hasil uji normalitas dengan menggunakan Shapiro Wilk Test didapatkan data berdistribusi normal. Hasil uji hipotesis pada kelompok pemberian kinesio taping dengan uji paired t-test didapatkan p-value 0,000 yang berarti pemberian kinesio taping dapat mengurangi instabilitas fungsional pergelangan kaki. Kesimpulan: Pemberian kinesio taping mengurangi instabilitas fungsional pergelangan kaki atlet basket laki-laki secara segera

    PENGARUH LATIHAN ZIG-ZAG RUN TERHADAP PENINGKATAN KELINCAHAN PEMAIN DI UKM FUTSAL STIE YOGYAKARTA

    Get PDF
    Latar belakang : UKM futsal STIE Yogyakarta yang mengalami penurunan kelincahan dikarenakan kurangnya menguasai teknik dasar permainan futsal, sehingga pemain untuk mengoptimalkan tehnik dasar permainan futsal yaitu dengan latihan zig-zag run. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh latihan Zig-Zag Run terhadap kelincah pada pemain di UKM futsal STIE Yogyakarta. Metode penelitian : Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Exsperimental menggunakan pre and post test one groupdesign yang bertujuan untuk mengetuhi penerapan yang lebih efektif antra pengaruh latihan zig-zag run untuk kelincahan pada pemain futsal. Pada penelitian ini di gunakan 1 kelompok perlakuan, sampel diberikan latihan zig zag run. Sebelum diberikan perlakuan, sampel di ukur kelincahannya dengan Agility t-test terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat kelincahannya. Setelah menjalani perlakuan selama 4 minggu, sampel di ukur kembali kelincahannya dengan Agility t-test. Hasil : Berdasarkan hasil uji Paired t test dari data tersebut didapatkan nilai p=0,000 dimana p<0,05, hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa pembarian latihan Zig-Zag Run dapat meningkatkan kelincahan pemain futsal. Saran :Bagi peneliti selanjutnya diharapkan menambah jumlah responden untuk di teliti, sehingga dapat diraih hasil yang luas dan lebih bervariatif

    PENGARUH LATIHAN CLAPPING PUSH UP PADA DAYA LEDAK OTOT LENGAN ATAS TERHADAP KECEPATAN SMASH PEMAIN BULUTANGKIS

    Get PDF
    Latar Belakang: Permainan badminton berhubungan dengan berbagai kemampuan dan keterampilan gerak yang komplek. Bahwa pemain harus melakukan gerakan gerakan seperti lari cepat, gerak melompat, menjangkau, memutar badan dengan cepat, melakukan langkah lebar tanpa pernah kehilangan keseimbangan tubuh.. Ada beberapa unsur komponen fisik yang dibutuhkan dalam olahraga badminton yaitu unsur kekuatan, kecepatan, kelentukan, daya tahan, kelincahan, koordinasi, keseimbangan dan power. Tujuan: Mengetahui pengaruh clapping push up pada daya ledak otot lengan atas terhadap pemain badminton dari UKM Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Metodologi: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian metode pre-Experimenal Rancangan atau desain penelitian ini adalah one group pretest – posttest desain Sampel pada penelitian ini berjumlah 18 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Metode analisis yang digunakan adalah uji statistik menggunakan paired t-test Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sebelum diberikan latihan clapping push up rerata sebesar 4,67, dan setelah diberikan clapping push up rerata sebesar 5,51. Simpulan: Terdapat Pengaruh Clapping Push Up terhadap penurunan frekuensi daya ledak otot lengan atas dilihat dari nilai p-value didapat 0,000<0,05. Saran: Sebagai acuan untuk meningkatkan daya ledak pada pemain badminton di UKM Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

    PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN SQUAT EXERCISE DENGAN NORDIC HAMSTRING EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN AKTIVITAS FUNGSIONAL PADA STRAIN HAMSTRING

    Get PDF
    Latar Belakang : Cedera hamstring yang terjadi di Amerika menurut America Football lebih dari 40% yang terkena cedera hamstring, sedangkan menurut Australia Ruler Football menduduki urutan ketiga setelah cedera knee dan ankle dengan presentase cedera hamstring 16%. Strain hamstring menyebabkan gangguan keseimbangan dan gangguan fleksibilitas otot sehingga menurunkan kemampuan aktivitas fungsional penderita. Tujuan : Mengetahui perbedaan pengaruh pemberian squat exercise dengan nordic hamstring exercise terhadap peningkatan aktivitas fungsional pada strain hamstring. Metode Penelitian : Jenis pepenelitian ini quasy experimental sedangkan rancangan penelitian ini bersifat randomized dan design menggunakan pre and post test two group design. Populasi adalah pemain sepakbola di perum tirto, nogotirto, sleman, yogyakarta yang mengalami penurunan kemampuan aktivitas fungsional dikarenakan strain hamstring. Sampel didapat melalui metode purposive sampling, sampel terdiri dari 7 orang setiap kelompok perlakuan. Instrumen pengukuran aktivitas fungsional pada strain hamstring menggunakan OSTRC indeks. Uji normalitas dengan Saphiro Wilk Test dan uji homogenitas data dengan Lavene‟s Test. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test untuk mengetahui peningkatan aktivitas fungsional pada kelompok I dan II serta uji Independent Sample T-Test untuk menguji perbedaan pengaruh kelompok I dan II. Hasil : Uji dengan Paired Sample T-Test untuk kelompok I nilai p=0,000 (p0,05). Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian squat exercise dengan nordic hamstring exercise terhadap peningkatan aktivitas fungsional pada strain hamstring. Simpulan : Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian squat exercise dengan nordic hamstring exercise terhadap peningkatan aktivitas fungsional pada strain hamstring. Saran : Untuk peneliti selanjutnya, agar peneliti dapat mengatur aktivitas sampel selama penelitian

    PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN MASSAGE DAN STRETCHING TERHADAP PENURUNAN NYERI AKIBAT DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS (DOMS)

    Get PDF
    Latar Belakang: Problematika setelah olahraga pada individu kurang aktifitas fisik yang dapat terjadi salah satunya adalah delayed onset muscle soreness (DOMS). DOMS dapat terjadi ketika pertama kali melakukan olahraga dengan intensitas tinggi dan kerja otot secara berlebihan. DOMS adalah nyeri otot dan ketidaknyamanan yang dirasakan mulai dari 1-3 hari setelah olahraga. Gejala DOMS sering terjadi pada individu yang tidak terbiasa olahraga, terutama olahraga yang membutuhkan kontraksi otot ekstra. Massage telah dipelajari sebagai pilihan penanganan untuk DOMS dengan hasil yang menjanjikan dalam mengurangi rasa sakit dengan aplikasi selama 10 menit dimulai dari 2-3 jam setelah latihan yang merangsang DOMS. Intervensi stretching dengan kontraksi isometrik akan meningkatkan rileksasi otot melalui pelepasan analgesik endogenus opiat sehingga nyeri regang dapat diturunkan. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian massage dan stretching terhadap penurunan nyeri akibat delayed onset muscle soreness (DOMS). Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi experimental dengan pre dan post test one group design. Sampel berjumlah 34 orang yang dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok 1 diberikan intervensi massage dan kelompok 2 diberikan intervensi stretching dengan frekuensi 2 kali dalam seminggu selama 4 minggu. Alat ukur penelitian ini adalah Visual Analog Scale (VAS). Hasil: Hasil uji kelompok I dengan paired sample t-tes diperoleh p=0,000 yang berarti ada pengaruh pemberian massage terhadap penurunan nyeri akibat delayed onset muscle soreness (DOMS). Hasil uji kelompok II dengan paired sample t-tes diperoleh p=0,000 yang berarti ada pengaruh pemberian stretching terhadap penurunan nyeri akibat delayed onset muscle soreness (DOMS). Hasil uji kelompok III dengan independent t-test diperoleh p=0,355 yang berarti tidak ada perbedaan pengaruh pemberian massage dan stretching terhadap penurunan nyeri akibat delayed onset muscle soreness (DOMS) Kesimpulan: Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian massage dan stretching terhadap penurunan nyeri akibat delayed onset muscle soreness (DOMS)

    PENGARUH PEMBERIAN CIRCUIT TRAINING TERHADAP PENINGKATAN LEG MUSCLE POWER PEMAIN BOLA BASKET TERLATIH

    Get PDF
    Latar Belakang : Seiring berkembangnya kemajuan olahraga basket pada saat ini, seorang pemain basket dituntut untuk memiliki performa yang bagus dalam suatu pertandingan. Salah satu yang mempengaruhi performa pemain basket yaitu leg muscle power. Leg muscle power adalah kemampuan otot untuk megatasi beban dengan kecepatan kontraksi otot dalam waktu yang singkat. Berbagai metode latihan diberikan untuk menunjang leg muscle power, contohnya pemberian circuit training. Circuit training merupakan suatu metode latihan yang menggabungkan beberapa model latihan menjadi suatu kesatuan latihan yang bertujuan untuk meningkatkan leg muscle power untuk performa yang lebih baik. Leg mucle power dapat diukur menggunakan sargent jumpt test. Tujuan : Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian circuit training terhadap peningkatan leg muscle power pemain bola basket terlatih. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan pre test and post test one group design, 15 orang pemain basket laki-laki menjadi sampel dengan kriterika inklusi dan eksklusi yang sudah ditentukan. Sampel dijadikan 1 kelompok, yaitu kelompok yang diberikan perlakuan circuit training yang dilakukan 3 kali seminggu selama 6 minggu. Penelitian ini menggunakan alat ukur Sargent Jump Test (SJT). Uji normalitas dengan saphiro wilk test. Uji hipotesis dengan paired sample t-test digunakan untuk mengetahui peningkatan leg muscle power pada kelompok perlakuan. Hasil : Terdapat pengaruh yang signifikan pada kelompok perlakuan (p=0,000). Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian circuit training terhadap peningkatan leg muscle power pemain bola basket terlatih. Saran : Penelitian selanjutnya disarankan untuk mencoba menggunakan macam- macam item yang dimasukkan ke dalam circuit training, efek lain pemberian circuit training, serta alat ukur yang berbeda

    PERBEDAAN PENGARUH NEURODYNAMIC SLIDING TECHNIQUE DAN MULLIGAN BENT LEG RAISE TECHNIQUE TERHADAP FLEKSIBILITAS HAMSTRING PADA HAMSTRING TIGHTNESS

    Get PDF
    Latar belakang: Hamstring tightness yang diakibatkan oleh sedentary lifestyle dan posisi duduk yang terlalu lama (6-8 jam), serta kurangnya latihan harian berulang dapat menyebabkan otot hamstring beradaptasi dengan keadaan yang memendek atau tight sehingga dapat menimbulkan penurunan fleksibilitas hamstring. Neurodynamic sliding technique (NDST) dan Mulligan bent leg raise technique (MBLR) merupakan teknik yang dapat meningkatkan fleksibilitas hamstring. Tujuan penelitian: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pengaruh Neurodynamic sliding technique dan Mulligan bent leg raise technique terhadap peningkatan fleksibilitas hamstring pada hamstring tightness. Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat true experimental dengan rancangan pre dan post test group two design. Sampel berjumlah 34 orang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 diberikan intervensi Neurodynamic sliding technique sedangkan kelompok 2 diberikan intervensi Mulligan bent leg raise technique. Data berupa skala ordinal AKE diambil sebelum dan sesudah perlakuan. Data yang diperoleh diuji beda menggunakan bantuan program komputer SPSS versi 22. Hasil Penelitian: Hasil analisis data dengan paired sample t-test menunjukkan bahwa pada subjek kelompok 1 dengan nilai AKE dimana p=0,000 (p0,05). Dari hasil penelitian tesebut disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh antara pemberian Neurodynamic sliding technique dan Mulligan bent leg raise technique terhadap peningkatan fleksibilitas hamstring pada hamstring tightnes

    PERBEDAAN PENGARUH PENAMBAHAN KINESIO TAPING PADA ISOMETRIC EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN AKTIVITAS FUNGSIONAL OSTEOARTHRITIS KNEE

    Get PDF
    Latar Belakang : Penyakit Osteoarthritis di Indonesia pevaluensinya cukup tinggi yaitu pria 15,5% dan wanita 12,7%. Osteoarthritis adalah penyakit degenerative sendi kronis yang terkait dengan bertambahnya usia dan mengakibatkan degradasi pada kartilago dan berpengaruh pada penurunan keseimbangan serta gaya berjalan sehingga terjadi penurunan aktivitas fungsional. Tujuan : Mengetahui perbedaan pengaruh antara isometric exercise dan penambahan kinesio taping pada isometric exercise terhadap peningkatan aktivitas fungsional osteoarthritis knee. Metode Penelitian : Populasi dalam penelitian ini berjumlah 53 orang yang mempunyai keluhan nyeri osteoathritis lutut. Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sampel dalam penelitian ini didapatkan 20 orang yang berfungsi sebagai kelompok eksperimen dan kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling. Pengukuran aktivitas fungsional osteoarthritis knee menggunakan WOMAC indeks. Uji normalitas dengan Saphiro Wilk Test dan uji homogenitas dengan Lavene’s Test. Hasil penelitian dengan uji Paired Sample T-Test untuk mengetahui peningkatan aktivitas fungsional pada kelompok 1 dan 2 serta uji Independent Sample T-Test untuk menguji perbedaan pengaruh kelompok 1 dan 2. Hasil : Uji dengan Paired Sample T-Test untuk kelompok 1 nilai p=0,000 (p<0,05) dan kelompok 2 nilai p=0,000 (p<0,05). Uji perbedaan pengaruh kelompok 1 dan 2 dengan Independent Sample T-Test nilai p=0,003 (p<0,05). Ada perbedaan pengaruh antara isometric exercise dan penambahan kinesio taping pada isometric exercise terhadap peningkatan aktivitas fungsional osteoarthritis knee. Kesimpulan : Ada perbedaan pengaruh antara isometric exercise dan penambahan kinesio taping pada isometric exercise terhadap peningkatan aktivitas fungsional osteoarthritis knee. Saran : Untuk peneliti selanjutnya, agar peneliti menambah variasi pemasangan kinesio taping dan isometric exercise
    corecore