11 research outputs found

    PENYEDIAAN NANOPARTIKEL KATEKIN DAN PENGGUNAANNYA SEBAGAI SUPLEMEN PADA HARD CANDY

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan nanokatekin dari katekin gambir dan untuk mengetahui perbedaan sifat katekin sediaan biasa dengan nanokatekin. Penelitian dimulai dengan preparasi katekin berkadar diatas 95% secara ekstraksi suksesif dengan air dan etil asetat. Katekin yang diperoleh dikonversi menjadi nanokatekin menggunakan High Speed Homogenizer kecepatan 12.000 rpm dengan perbedaan waktu homogenisasi yaitu 30, 45, 60, 75 dan 90 menit pada konsentasi katekin 1% dalam air. Sebaran ukuran partikel nanokatekin diamati dengan Particle Size Analyzer (PSA). Diameter nanokatekin rata-rata terkecil yang diperoleh dari perlakuan waktu homogenisasi yang berbeda selanjutnya diamati sifat fisika dan sifat kimianya. Hasil pengamatan diperoleh nilai rata-rata diameter nanokatekin yaitu 1938,64 nm ; 1106,66 nm ; 288,46 nm ; 271, 02 nm dan 230,75 nm secara berturut-turut sesuai dengan waktu homogenisasi. Koloid hasil homogenisasi dengan perlakuan waktu 90 menit selanjutnya dikeringkan dengan spray dryer untuk tujuan pengujian sifat fisika dan kimia. Hasil pengamatan terhadap beberapa parameter sifat fisika dan kimia ditemukan beberapa nilai yang sama antara katekin sediaan biasa dengan nanokatekin tetapi juga ditemukan sifat-sifat yang berbeda. Nilai parameter hasil pengamatan yang sama yaitu pH, Indeks bias, massa jenis, berat molekul dan sudut putar. Sebaliknya ditemukan nilai parameter yang berbeda antara katekin sediaan biasa dengan nanokatekin yaitu kenampakan, sifat kelarutan, sifat termal, panjang gelombang dengan nilai absorban tertinggi dan aktifitas antioksidan. Terjadi peningkatan suhu degradasi awal dan aktifitas antioksidan dari katekin sediaan biasa setelah dikonversi menjadi nanokatekin. Suplementasi katekin sediaan biasa dan nanokatekin pada hard candy menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas antioksidan dibandingkan dengan hard candy tanpa suplementasi. Kata kunci : nanokatekin, homogenisasi, perbedaan sifat, antioksida

    Hubungan Kadar Tanin dan Katekin Gambir dengan Kualitas Perekat dan Perekatan Cold Setting Glue dari Gambir (Uncaria gambir, Roxb)

    Get PDF
    Hubungan Kadar Tanin dan Katekin Gambir dengan Kualitas Perekat dan Perekatan Cold Setting Glue dari Gambir (Uncaria gam¬bir, Roxb) Yefsi Malrianti, Anwar Kasim, Novelina ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas gambir berbagai sentra produksi di Sumatera Barat dan hubungan komponen utama penyusun gambir (tanin dan katekin) dengan kekuatan rekat gambir. Penelitian ini menggunakan metode eksploratif. Sampel gambir diambil dari tujuh sentra produksi gambir di Sumatera Barat yaitu di Kabupaten 50 Kota yang meliputi daerah Muaro Paiti, Pangkalan, Sago Halaban, dan Mungka. Sementara di Kabupaten Pesisir meliputi daerah Barung-Barung Balantai, Batang Kapeh dan Siguntur. Pengambilan sampel bahan baku dilakukan secara acak dengan mengambil gambir dari salah satu tempat produksi di daerah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang erat antara kadar tanin gambir dengan kualitas perekat yang dihasilkan sebesar r = 0,8296. Kadar tanin yang tinggi menunjukkan kekuatan rekat yang tinggi , sedangkan kadar katekin yang tinggi menunjukkan kekuatan rekat yang rendah. Dari tujuh daerah asal sampel yang dihasilkan perekat terbaik adalah dari daerah Sago Halaban dengan kekuatan rekat 21,1 kg / cm2, kandungan tanin 58,67%, dan kandungan katekin 44,47%. Kualitas perekat yang dihasilkan dari gambir yang digunakan menunjuk sifat fisik dan mekanik perekat kayu sesuai dengan SNI 06-4565-1998 dan SII 0778-83 Fenol Formaldehida Cair. Kata Kunci : Gambir, Tanin, Katekin, Cold Setting Glue, Kekuatan Pereka

    KARAKTERISASI DAMAR DARI PESISIR SELATAN DAN APLIKASINYA UNTUK PEMBUATAN PERNIS

    Get PDF
    Damar merupakan resin resin alami yang dihasilkan oleh tanaman dari famili Dipterocarpaceae dan Burseraceae. Sumatera Barat adalah satu propinsi penghasil damar yang penting di Indonesia dengan sentra produksi Kabupaten Pesisir Selatan. Pemanfaatan damar di Indonesia sebagian kecil untuk memenuhi kebutuhan pembatik dalam negeri dan sebagian besar diekspor. Padahal damar dapat dijadikan sebagai bahan baku utama pernis yang dapat digunakan pada industri mebel dan bagian tertentu bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik damar yang diperoleh dari Kabupaten Pesisir Selatan dan menentukan komposisi yang tepat pada pembuatan pernis yang memanfaatkan damar tersebut. Selain damar juga digunakan terpentin dan minyak kemiri sebagai bahan penyusun pernis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa di Pesisir Selatan didapatkan jenis damar mata kucing dan damar batu. Karakteristik damar mata kucing yang didapatkan antara lain warna kuning bening, titik leleh 71 0C, densiti 0,68 g/cm dan kehilangan berat suhu 105 0C 18 jam 0,84%. Komposisi terpilih pernis yang dihasilkan dengan waktu pengeringan yang sama dengan pernis komersil adalah 23% damar, 54% terpentin dan 23% minyak kemiri

    Kenaikan nilai aktivitas antioksidan nanokatekin dibanding katekin sediaan konvensional dan peluang aplikasinya pada hard candy

    Get PDF
    Katekin memiliki banyak manfaat dalam kehidupan manusia diantaranya pada dunia pangan, kosmetik dan farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kenaikan nilai aktivitas antioksidan dari nanokatekin dibanding dengan katekin sediaan konvensional dan peluang aplikasinya pada hard candy (HC). Preparasi nanokatekin menggunakan high speed homogenizer (HSH) kecepatan 12.000 rpm selama 90 menit pada campuran katekin dalam air konsentrasi 1%. Ukuran partikel diamati dengan PSA dan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode IC50. Ukuran diameter rata-rata partikel nanokatekin yang didapat adalah 229,21 nm. Nilai IC50 nanokatekin adalah 0,63±0,18 μg/mL sedangkan IC50 katekin sediaan konvensional adalah 2,62±1,75 μg/mL sehingga untuk mencapai nilai IC50 oleh nanokatekin hanya dibutuhkan 24,04% saja dibanding dengan katekin sediaan konvensional, jadi terlihat peningkatan sifat antioksidan yang sangat tinggi pada nanokatekin. Aplikasi katekin dan nanokatekin pada HC mempengaruhi aktivitas antioksidan HC. HC dengan penambahan katekin sediaan konvensional menghasilkan aktivitas antioksidan 9 kali lebih tinggi dibanding dengan HC tanpa katekin, sedangkan HC dengan penambahan nanokatekin menghasilkan aktivitas antioksidan 13 kali lebih tinggi dibanding dengan HC tanpa katekin

    Effect of Microwave Use on Kawa Daun Production: Production, Composition, and Antioxidant Properties: Kawa Daun

    Get PDF
    Kawa daun tea is a drink made of dried coffee leaves from Western Sumatra, offering refreshing benefits for the body. The use of a microwave in the drying process proves to be an effective method due to its significantly high efficiency. Therefore, this study aimed to investigate the impact of varying drying time using microwave on the characteristics of coffee leaves, kawa daun tea, and drinking water, as well as to determine effect of microwave treatment. This study uses a complete random design with ANOVA (Analysis of Variance) and followed by a DNMRT (Duncan’s News Multiple Range Test). The results showed that the difference in drying times significantly affected properties of coffee tea leaves, specifically on the total water-soluble substance test. However,there was no substantial impact on the yield, water level, polyphenols level, caffeine level, and antioxidant activity. The length was also affected by polyphenols level, total soluble solidity, and water solubility antioxidant activity, but did not impact caffeine content test. The maximum time for optimal drying coffee leaves was two minutes with a yield of 35.99% hydration, 4.33% water level, 48.56 mgGAE/g total polyphenols level, 0.56% caffeine level, 63.43% oxidative activity, and 4.61% total water-soluble material. In the chemical analysis of drinking water, the results obtained were total polyphenol content of 28.1 mg GAE/g, caffeine content of 0.45%, total dissolved solids of 1.87%, and antioxidant activity of 88.79%. Thus, it is also concluded that there is no negative effect of drying coffee leaves with a microwave. Key words: Antioxidant; caffeine; robusta coffee leaves; microwave drying; polyphenols

    Peningkatan Peluang Wirausaha di Nagari Koto Tuo Melalui Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring

    Get PDF
    Abstract:  Dish soap making training can provide many benefits for community empowerment in Nagari Koto Tuo. This training can improve entrepreneurial skills, creativity, independence, and understanding of the production process and environmental awareness of the trainees. Therefore, training in making dish soap needs to be given to the nagari community as a form of community empowerment. This program of activities aims to: 1.) Improve the ability of the PKK Nagari Koto Tuo group to be skilled at entrepreneurship, 2.) Motivate to be active and creative in self-development of the PKK Nagari Koto Tuo group, 3). Have expertise in product tips and tricks, 4. Have skills in producing products. The method in this activity is the counselling and demonstration method in which direct demonstrations of making dish soap, clearly describe each step and provide practical examples to the PKK Nagari Koto Tuo group. The results obtained from community service activities are increased ability and motivation of the PKK Nagari Koto Tuo group in entrepreneurship and self-development as well as increased expertise and skills in producing products.Abstrak: Pelatihan pembuatan sabun cuci piring dapat memberikan banyak manfaat bagi pemberdayaan masyarakat di Nagari Koto Tuo. Pelatihan ini dapat meningkatkan keterampilan wirausaha, kreativitas, kemandirian, dan pemahaman tentang proses produksi serta kesadaran lingkungan peserta pelatihan. Program kegiatan ini bertujuan untuk :1.) Meningkatkan kemampuan kelompok PKK Nagari Koto Tuo untuk terampil berwirausaha, 2.) Memotivasi untuk aktif dan kreatif dalam pengembangan diri kelompok PKK Nagari Koto Tuo, 3). Memiliki keahlian tips dan trik produk, 4. Memiliki keterampilan memproduksi produk. Metode dalam kegiatan ini adalah metode penyuluhan dan demonstrasi dimana melakukan demonstrasi langsung tentang pembuatan sabun cuci piring, menggambarkan setiap langkah dengan jelas dan memberikan contoh-contoh praktis kepada kelompok PKK Nagari Koto Tuo. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pengabdian masyarakat adalah meningkatnya kemampuan dan motivasi kelompok PKK Nagari Koto Tuo dalam berwirausaha dan pengembangan diri serta meningkatnya keahlian dan keterampilan dalam memproduksi produk

    Mesin Penyangrai Biji Kopi Portabel dengan Tuas Pengaduk Vertikal

    Get PDF
    Pengolahan biji kopi perlu memperhatikan berbagai aspek yang dapat menjaga kualitas biji kopi, seperti penyangraian. Aroma dan citarasa kopi yang baik dapat dihasilkan melalui tahapan penyangraian dengan menggunakan suhu yang tepat pada setiap tingkat penyangraian. Pengendalian suhu yang presisi dan konsistensi dalam proses penyangraian menjadi kunci untuk menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi yang sesuai dengan preferensi konsumen. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen design. Penelitian ini bertujuan untuk membuat mesin sangrai kopi portabel yang mudah digunakan dan dibawa ke berbagai tempat. Mesin sangrai kopi portable memiliki dimensi yang meliputi panjang mesin 88 cm, lebar mesin 70 cm, dan tinggi mesin 146 cm. Uji kinerja yang dilakukan meliputi kapasitas mesin, kecepatan putar alat, kadar air, dan laju pengeringan. Kapasitas untuk produk light, medium, dan dark secara berturut-turut adalah sebesar 2 kg/jam, 1,33 kg/jam, dan 1 kg/jam. Mesin penyangrai kopi digerakkan oleh motor listrik berkekuatan 1 HP dengan putaran 1.400 RPM. Tuas pengaduk memiliki kecepatan putar 17,5 RPM, yang diperoleh dari pengurangan putaran dari motor listrik, dengan perbandingan pulley 4:8, dan peredam kecepatan 1:40. Kadar air untuk produk light, medium dan dark diperoleh sebesar 7%, 5%, dan 2%. Laju pengeringan produk light, medium dan dark diperoleh sebesar 1 %, 4 % dan 6 %. Hasil analisis ekonomi mesin sangrai kopi menunjukkan biaya tetap sebesar Rp. 1.502.989,2/tahun. Terdapat tiga biaya tidak tetap pada mesin ini yaitu produk light, produk medium, dan produk dark sebesar Rp. 17.297,5. Biaya pokok untuk produk light sebesar Rp. 25.118,43/jam, produk medium sebesar Rp. 27.839,6/jam, dan produk dark sebesar Rp. 32.434,48/jam. Sementara itu, BEP untuk produk light sebesar 336,8 kg/tahun, produk medium sebesar 245,30 kg/tahun, dan produk dark sebesar 208,56 kg/tahun

    KARAKTERISASI DAMAR DARI PESISIR SELATAN DAN APLIKASINYA UNTUK PEMBUATAN PERNIS

    No full text
    Damar merupakan resin resin alami yang dihasilkan oleh tanaman dari famili Dipterocarpaceae dan Burseraceae. Sumatera Barat adalah satu propinsi penghasil damar yang penting di Indonesia dengan sentra produksi Kabupaten Pesisir Selatan. Pemanfaatan damar di Indonesia sebagian kecil untuk memenuhi kebutuhan pembatik dalam negeri dan sebagian besar diekspor. Padahal damar dapat dijadikan sebagai bahan baku utama pernis yang dapat digunakan pada industri mebel dan bagian tertentu bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik damar yang diperoleh dari Kabupaten Pesisir Selatan dan menentukan komposisi yang tepat pada pembuatan pernis yang memanfaatkan damar tersebut. Selain damar juga digunakan terpentin dan minyak kemiri sebagai bahan penyusun pernis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa di Pesisir Selatan didapatkan jenis damar mata kucing dan damar batu. Karakteristik damar mata kucing yang didapatkan antara lain warna kuning bening, titik leleh 71 0C, densiti 0,68 g/cm dan kehilangan berat suhu 105 0C 18 jam 0,84%. Komposisi terpilih pernis yang dihasilkan dengan waktu pengeringan yang sama dengan pernis komersil adalah 23% damar, 54% terpentin dan 23% minyak kemiri.</jats:p

    Kenaikan Nilai Aktivitas Antioksidan Nanokatekin Dibanding Katekin Sediaan Konvensional dan Peluang Aplikasinya pada Hard Candy

    Full text link
    Katekin memiliki banyak manfaat dalam kehidupan manusia diantaranya pada dunia pangan, kosmetik dan farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kenaikan nilai aktivitas antioksidan dari nanokatekin dibanding dengan katekin sediaan konvensional dan peluang aplikasinya pada hard candy (HC). Preparasi nanokatekin menggunakan high speed homogenizer (HSH) kecepatan 12.000 rpm selama 90 menit pada campuran katekin dalam air konsentrasi 1%. Ukuran partikel diamati dengan PSA dan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode IC50. Ukuran diameter rata-rata partikel nanokatekin yang didapat adalah 229,21 nm. Nilai IC50 nanokatekin adalah 0,63±0,18 μg/mL sedangkan IC50 katekin sediaan konvensional adalah 2,62±1,75 μg/mL sehingga untuk mencapai nilai IC50 oleh nanokatekin hanya dibutuhkan 24,04% saja dibanding dengan katekin sediaan konvensional, jadi terlihat peningkatan sifat antioksidan yang sangat tinggi pada nanokatekin. Aplikasi katekin dan nanokatekin pada HC mempengaruhi aktivitas antioksidan HC. HC dengan penambahan katekin sediaan konvensional menghasilkan aktivitas antioksidan 9 kali lebih tinggi dibanding dengan HC tanpa katekin, sedangkan HC dengan penambahan nanokatekin menghasilkan aktivitas antioksidan 13 kali lebih tinggi dibanding dengan HC tanpa katekin
    corecore