2 research outputs found

    LAPORAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) UPTD SANGGAR KEGIATAN BELAJAR (SKB) KULON PROGO

    Get PDF
    Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan bentuk pengabdian perguruan tinggi kepada instansi pemerintah maupun sekolah-sekolah formal melalui peran mahasiswa yang terjun langsung untuk mengabdi kepada masyarakat, dengan memberdayakan warga belajar maupun pihak lain seperti wali murid dan mengikuti kegiatan belajar mengajar di lapangan yang bertujuan untuk memberikan motivasi kepada masyarakat dan warga belajar. Dengan adanya PPL, diharapkan akan memberi manfaat bagi masyarakat atau warga belajar dan dapat mengembangkan kreatifitas serta meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam belajar di tengah-tengah masyarakat dan warga belajar. Kegiatan PPL ini penulis laksanakan di UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kulon Progo. Penyususnan program rencana kerja dimulai dari tahapan observasi wilayah instansi UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kulon Progo. Observasi di lakukan dengan metode wawancara, melihat data demografi dan melihat langsung kondisi lapangan aktivitas kegiatan di SKB Kulon Progo khususnya di bagian kesetaraan dan TPA/KB Pelangi Nusa di UPTD SKB Kab. Kulon Progo. Berdasarkan hasil observasi tersebut dapat ditentukan program kerja yang sekiranya sesuai dengan kebutuhan pembelajaran yang berada di paket B dan paket C, serta TPA/KB Pelangi Nusa. Dalam program PPL ini, mahasiswa dituntut untuk dapat merencanakan, melaksanakan, serta mengevaluasi program. Sementara program mengajar tidak terlalu ditekankan. Dari hasil observasi tersebut, maka di susunlah suatu program utama yaitu program administrasi TBM Damar Gemilang dan program monitoring dan evaluasi paket C. Adapun program penunjang yaitu monitoring dan evaluasi TPA/KB Pelangi Nusa, parenting, strategi pengembangan koleksi TBM Damar Gemilang, training motivasi/outbound paket C, penataan buku dan ruang TBM Damar Gemilang, workshop jurnalistik paket C, pendampingan dan pembuatan mading paket C, motivasi minat baca, success story, pelatihan pembuatan APE dan media pembelajaran dari kain perca, sosialisasi narkoba. Sasaran dari program ini adalah untuk warga belajar paket C, TPA/KB Pelangi Nusa. Dengan diadakannya praktik pengalaman lapangan maka mahasiswa dapat melatih keterampilan dalam merencanakan, melaksanakan, serta mengevaluasi program

    PENGELOLAAN PROGRAM KURSUS TATA RIAS DI SANGGAR KEGIATAN BELAJAR (SKB) KABUPATEN BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) pengelolaan program kursus tata rias di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bantul, Kabupaten Bantul; 2) keberhasilan pengelolaan program kursus tata rias di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bantul, Kabupaten Bantul; 3) faktor pendukung dan penghambat pengelolaan program kursus tata rias di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bantul. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pemilihan subjek penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive. Subjek penelitian ini adalah ketua penyelenggara, tutor/nara sumber program kursus tata rias dan peserta didik/warga belajar program kursus tata rias. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data penelitian dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pengelolaan program kursus tata rias di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bantul meliputi enam tahap, yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, penilaian dan pengembangan. 2) Bentuk keberhasilan pengelolaan program kursus tata rias di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bantul dilihat dari ketercapaian tujuan program yaitu kemampuan, keterampilan serta ilmu pengetahuan peserta bertambah setelah mengikuti program, peserta dapat meningkatkan mata pencaharian dibidang rias pengantin, melestarikan budaya jawa, peserta kursus dapat mengetahui pakem gaya rias pengantin dan langkah-langkah rias pengantin sesuai pedoman yang berlaku. Peserta kursus tahun 2015 yang dapat membuka usaha mandiri 6 orang, dan 5 orang lainnya dapat bekerja dengan orang lain. 3) faktor pendukung terlaksananya program kursus tata rias di Sanggar Kegiatan belajar (SKB) Bantul adalah ruang, baju dan aksesoris yang memadai, narasumber yang sudah berkompeten dan profesional, materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta, serta antusias dari warga belajar dalam mengikuti kegiatan. Sedangkan faktor penghambat program tersebut meliputi dana, alat untuk merias (make up) kurang memadai, tidak tersedianya model untuk dirias, serta ada beberapa peserta yang terlambat saat mengikuti kegiatan kursus. Kata Kunci : pengelolaan program, kursus tata ria
    corecore