12 research outputs found
Penentuan Dosis Optimum Pemupukan N, P, dan K pada Tanaman Kacang Bogor [Vigna Subterranea (L.) Verdcourt]
Bambara groundnut is considered tolerant to drought and unfertile soil; therefore, has higher potential to be cultivated. The average yield of dry pod weight from agricultural fields in Indonesia is still low (< 4 ton ha-1); hence, the cultivation technique must be improved. Fertilizer is the main input to increase yield of Bambara groundnut, but the optimum rates of N, P, and K have not been determined. Therefore, the objectives of the research were to determine the optimum rate of N, P, and K fertilizer for Bambara groundnut production. Three parallel experiments were conducted at Cikarawang Experimental State, Dramaga, Bogor from March to July 2013. Each experiment tested different rates of N or P or K fertilizer with compeletely randomized block design and three replications. The fertilizer rates were 0, 50, 100, 150, and 200% of recommendation rate (100% N = 100 kg Urea ha-1, 100% P = 150 kg SP-36 ha-1, 100% K = 75 kg KCl ha-1). The results showed that leaf P content increased linearly with N fertilizer application. Leaf N content linearly decreased with P fertilizer application. Leaf P content and shoot dry weight quadratically increased with K fertilizer application. The optimum rates of N and P fertilizer was unable to be determined due to insignificant response of several variables. Optimum rate of K fertilizer ranged 86.4-118.95 kg KCl ha-1
Memahami Pengalaman Komunikasi Antar Pribadi Orang Tua,guru, dengan Anak Tunawicara dalam Menanamkan Nilai Prososial dan Antisosial di Masyarakat
1ABSTRAKSIJudul : MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ORANG TUA, GURU, DENGAN ANAK TUNAWICARA DALAM MENANAMKAN NILAI PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL DI MASYARAKATNama : MAYA PUJI LESTARINIM : D2C009032Anak tunawicara merupakan anak yang memiliki keterbatasan dan gangguan dalam berkomunikasi. Keterbatasan komunikasi ini yang membuat proses penyampaian dan pemaknaan pesan sulit dipahami oleh orang tua dan guru. Orang tua dan guru mempunyai peran sangat besar dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat kepada anak tunawicara, karena keterbatasan komunikasi seringkali membuat anak tunawicara sulit melakukan interaksi dengan masyarakat. Melakukan interaksi dengan orang lain merupakan hal yang perlu dilakukan oleh setiap orang tidak terkecuali anak tunawicara, sehingga salah satu hal yang harus dipahami oleh anak tunawicara ketika anak berinteraksi dengan masyarakat adalah berperilaku prososial dan mengindari perilaku antisosial.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini berusaha menjelaskan pengalaman unik orang tua, guru, dan anak tunawicara mengenai proses penyampaian pesan menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal serta pemaknaan pesan terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara. Penelitian ini menggunakan Teori Manajemen Makna Terkoordinasi dan Teori Kinesik, yang menjelaskan bahwa dalam proses komunikasi dengan anak tunawicara, hal yang paling penting adalah pemaknaan pesan dan tindakan setelah menerima pesan. Proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua, guru, dan anak tunawicara seringkali menggunakan gerak tubuh sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang merupakan cara komunikasi yang dilakukan.Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa orang tua dan guru harus memiliki komitmen dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara. Kendala dalam berkomunikasi dengan anak tunawicara adalah proses penyampaian dan pemaknaan pesan.Cara efektif yang dilakukan orang tua dan guru dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial kepada anak tunawicara adalah mendemonstrasikan pesan dengan menggunakan gerak tubuh. Selain proses penyampaian pesan secara verbal dan nonverbal, anak tunawicara memahami perilaku prososial dan antisosial dari perilaku yang ditunjukkan oleh orang tua dan guru dalam interaksi sehari-hari. Komunikasi Antar Pribadi antara orang tua, guru, dengan anak tunawicara dikatakan berhasil ketika anak tunawicara dapat memaknai pesan secara interpersonal bukan sekedar makna pribadi. Ketika anak tunawicara mampu memaknai pesan secara interpersonal, perilaku yang ditunjukkan oleh anak tunawicara akan sesuai dengan perilaku prososial yang diajarkan oleh orang tua dan guru. Anak tunawicara juga akan memahami bahwa perilaku antisosial harus dihindari di masyarakat.Kata kunci : keterbatasan dan gangguan komunikasi, prososial dan antisosial, makna dan tindakan2ABSTRACKTitle : UNDERSTANDING INTERPERSONAL COMMUNICATION EXPERIENCE BETWEEN PARENTS AND TEACHERS WITH COMMUNICATION DISORDER CHILD IN INCLUCATING PROSOCIAL AND ANTISOCIAL VALUES IN SOCIETYName : MAYA PUJI LESTARINIM : D2C009032Communication disorder child is a child who has limitations and disorders in communication. This limitations communication makes the process of delivering and meaning of messages is difficult to understood by parents and teachers. Parents and teachers have a very big role in inclucating prosocial and antisosial values in society to communication disorder child, because of limited communication often makes communication disorder child difficult to interact with the society. Interaction with other people is the thing to be done by every person no exception communication disorder child, so one of the things that must be understood by communication disorder child when the child interact with the society is prosocial behavior and avoid antisocial behavior.This study uses a qualitative descriptive type with phenomenological approach. This study attempts to explain the unique experience of parents, teachers, and communication disorder child about process of delivering a message using verbal and nonverbal communication as well as the meaning of messages related with prosocial and antisocial values are delivered by parents and teachers to communication disorder child. This study uses Coordinated Management of Meaning Theory and Kinesik Theory, which explains that in the process of communication with communication disorder child, the most important thing is the meaning of messages and the action after receiving messages. The process of delivering messages that is done by parents, teachers, and communication disorder child often use gestures as a form of nonverbal communication that is the way communication is done.Based on the results of the study, suggests that parents and teachers should have a commitment to nurturing and educating communication disorder child. Constraints in communication with communication disorder child is the process of delivering and meaning of messages. The effective way that done by parents and teachers in inculcating prosocial and antisosial values to communication disorder child is demonstrate with using gestures messages. Besides the process of delivering messages verbally and nonverbally, communication disorder child understanding the prosocial and antisocial from the behaviors are shown by parents and teachers in their daily interactions. Interpersonal communication between parents and teachers with communication disorder child is successful when the child can meaning of messages in interpersonal rather than personal meaning. When communication disorder child are able meaning of messages in interpersonal, the behaviors are shown by communication disorder child interpersonal, will suit with prosocial behavior that is taught by parents and teachers. Cmmunication disorder child will also understand that antisocial behavior should be avoided in the society.Key words : limitations and disorders communications, prosocial and antisocial, meaning and action3MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ORANG TUA,GURU, DENGAN ANAK TUNAWICARA DALAM MENANAMKAN NILAI PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL DI MASYARAKATLatar BelakangPerilaku masyarakat yang seringkali mengasingkan atau membedakan anak tunawicara seperti menolak anak tunawicara untuk sekolah di sekolah umum dan juga terbatasnya sekolah inklusi bagi anak berkebutuhan khusus, sehingga hak anak untuk mendapatkan pendidikan tidak dimiliki oleh anak tunawicara. Hal seperti ini yang membuat anak tunawicara semakin bersikap antisosial di masyarakat, selain itu anak tunawicara juga memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan anak normal biasa seperti sering membentak, berteriak keras, berkemauan keras, dan juga sulit untuk diajarkan sesuatu. Sikap yang ditunjukkan anak tunawicara seperti ini membuat orang tua dan guru memiliki peran besar dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat, karena pada dasarnya setiap orang merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain,tidak terkecuali anak tunawicara.Penanaman nilai prososial dan antisosial merupakan salah satu hal yang penting, karena dalam berinteraksi dengan masyarakat, anak tunawicara harus memahami akan perilaku yang harus dilakukan dan harus dihindari. Anak tunawicara merupakan anak berkebutuhan khusus yang memiliki gangguan komunikasi, hal ini membuat proses komunikasi tidak berjalan dengan baik. Proses komunikasi bukan sekedar proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan, akan tetapi lebih menekankan kepada proses sharing meaning atau berbagi makna. Perilaku prososial yang diajarkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara ditunjukkan dengan komunikasi instruksional dengan cara mendemontrasikan menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal. Penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal merupakan salah satu cara untuk memudahkan anak memaknai pesan dengan mudah.Perumusan Masalah dan TujuanGangguan komunikasi yang dialami oleh anak tunawicara membuat orang tua, guru serta anak tunawicara mengalami kesulitan dalam memaknai setiap pesan yang dikomunikasikan. Sehingga dalam penelitian ini ingin mengetahui “Bagaimana4pengalaman komunikasi antarpribadi orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat?”Sehingga melalui penelitian ini ingin mendeskripsikan pengalaman komunikasi antarpribadi orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat yang fokus pada 1)mengetahui komitmen orang tua dan guru dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara, 2)mengetahui kendala komunikasi selama proses penyampaian pesan kepada anak tunawicara, 3)mengetahui konsistensi penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat.Kerangka Teori dan Metodologi PenelitianPeneilitian ini menggunakan Teori Manajemen Makna Terkoordinasi atau Coordinated Management of Meaning yang dikembangkan oleh W.Bernett Pearce, Vernon Cronen yang mengatakan bahwa ini merupakan pendekatan komprehensif terhadap interaksi sosiak yang memakai tata cara kompleks dari tindakan dan makna yang selaras dalam komunikasi. Teori ini membantu kita dalam memahami proses pemaknaan dan tindakan. Kunci pada teori ini adalah makna dan tindakan, interaksi serta cerita. (Littlejohn,2009:225)Keterbatasan komunikasi anak tunawicara tidak menghalangi hubungan interaksi diantara orang tua dan guru dengan anak tunawicara. Dalam proses penyampaian makna terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara diharapkan dapat dimaknai sebagaimana makna tersebut disampaikan oleh orang tua maupun guru dalam berkomunikasi dengan anak tuanawicara. Sehingga makna tersebut terbentuk dalam makna interpersonal bukan hanya sekedar makna pribadi. Manusia mengkoordinasikan makna dengan cara yang hierarkis, ini merupakan salah satu ciri inti dari CMM. Terdapat enam level makna dalam hierarki yang dibentuk yaitu isi, tindak tutur, episode, hubungan, naskah kehidupan, dan pola budaya. (Turner,2008:118-119)Proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua dan guru adalah menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal yang dalam penelitian ini menggunakan Teori Kinesik dari Birdwhistel yang menjelaskan tentang isyarat nonverbal yang menggunakan tubuh untuk mengisyaratkan pesan (Liliweru,1997:72).5Ray Birdwhistell dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semua tubuh dan anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dan komunikasi antar manusia.Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata – kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah dan cenderung menggunakan analisis induktif.Penelitian ini menggunakan pendekatan atau tradisi fenomenologi yang fokus pada pengalaman pribadi objek yang diteliti. Fenomenologi diartikan sebagai 1) pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal, 2) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang. Istilah fenomenologi sering digunakan sebagai anggapan umum bahwa menunjuk pada pengalaman subjektif dari berbagai jenis dan tipe subjek yang ditemui. Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. (Moelong, 2007: 14-15)Dapat dikatakan bahwa penelitian deskriprif kualitatif ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman pribadi objek yang diteliti. Sehingga seseorang dapat memahami tentang pengalaman pribadi objek yang diteliti karena semua informasi yang didapatkan oleh peneliti berdasarkan pengalaman pribadi yang dikomunikasikan dan informasi yang didapatkan dideskripsikan dan ditulis dalam bentuk naratif.Deskripsi Tekstural dan Struktural Pengalaman Komunikasi Antarpribadi Orang Tua, Guru dengan Anak Tunawicara dalam Menanamkan Nilai Prososial dan Antisosial di MasyarakatDeskripsi struktural merupakan deskripsi mengenai bagaimana fenomena dimaksud sebagai pengalaman. Deskripsi struktural meliputi perilaku sadar dalam berpikir dan memutuskan, berimajinasi, dan mengingat kembali untuk menemukan makna struktural dasar yang hanya dipahami melalui refleksi. Deskripsi tekstural adalah deskripsi dari sesuatu yang tampak sedangkan deskripsi struktural mendeskripsikan pengalaman yang tersembunyi. (Moustakas,1994:79)6Pengalaman unik yang ditemukan dari pengalaman informan dalam tiga bagian yang dikelompokkan adalah 1) komitmen orang tua dan guru dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara. Pengalaman unik orang tua dalam mengasuh anak tunawicara adalah dalam berkomunikasi dengan anak tunawicara orang tua harus konsisten menggunakan satu bahasa yang mana bahasa merupakan media komunikasi. Guru mempunyai pengalaman dalam mendidik anak tunawicara seorang guru harus mampu memahami bahasa isyarat nonverbal SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) yang seringkali digunakan anak tunawicara untuk melakukan komunikasi.Bagian yang ke 2) kendala komunikasi dengan anak tunawicara. Pengalaman orang tua ketika berkomunikasi dengan anak tunawicara adalah orang tua mengalami kesulitan dalam menanamkan iman dan kepercayaan kepada anak, karena orang tua tidak dapat memberikan contoh secara nyata kepada anak tunawicara. Penggunaan bahasa isyarat SIBI yang dilakukan oleh anak tunawicara sulit untuk dipahami oleh orang tua. Sedangkan kendala yang dialami oleh guru adalah dalam mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia yang lebih kepada mengenalkan kata dan makna kepada anak tunawicara.Bagian yang ke 3) konsistensi penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal sebagai pembelajaran penanaman nilai prososial dan antisosial di masyarakat. Pengalaman komunikasi yang diungkapkan oleh orang tua dan guru ketika mengajarkan anak untuk memahami nilai prososial dan antisosial adalah dengan mendemonstrasikan pesan kepada anak tunawicara yaitu menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal.Sintesis Makna Tekstural dan StrukturalCara berkomunikasi yang digunakan oleh orang tua dan guru dengan anak tunawicara adalah komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi nonverbal biasanya digunakan untuk menekankan pesan yang disampaikan. Orang tua dan guru lebih menggunakan komunikasi verbal untuk melatih anak berkomunikasi, dalam penyampaikan pesan terkait dengan penanaman nilai prososial dan antisosial, orang tua lebih sering mendemontrasikan kepada anak tentang perilaku prososial. Dalam mendemonstrasikan, orang tua lebih banyak menggunakan bahasa nonverbal.Teori Kinesik dari Birdwhistel menjelaskan tentang isyarat nonverbal yang menggunakan tubuh untuk mengisyaratkan pesan (Liliweri, 1997:72). Ray Birdwhistell dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semua gerakan tubuh dan7anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dan komunikasi antar manusia (Liliweri, 1997:72). Bagi anak tunawicara isyarat nonverbal merupakan cara komunikasi yang dilakukan anak dalam menyampaikan setiap pesan. Gerakan tangan dan gerakan tubuh lainnya yang dilakukan oleh anak tunawicara dalam berkomunikasi mengisyaratkan pesan, setiap gerakan isyarat yang dilakukan memiliki makna pesan, sehingga semua gerakan tubuh dan anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dalam proses komunikasi dengan orang lain.Hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh anak tunawicara saja, akan tetapi orang tua dan juga guru yang akan berkomunikasi dengan anak tunawicara. Ketika orang tua dan guru menyampaikan pesan kepada anak tunawicara dengan menggunakan komunikasi nonverbal, orang tua dan guru menggunakan gerakan tubuh untuk menekankan pesan yang disampaikan. Terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang diajarkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara, proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua adalah lebih menggunakan demonstrasi yang didalamnya menggunakan gerak tubuh, isyarat tangan dan ekspresi wajah. Setiap gerakan tangan dan tubuh lainnya memiliki makna pesan yang harus diinterpretasikan oleh anak tunawicara sesuai dengan makna pesan yang dimaksudkan oleh orang tua.Orang tua menjelaskan kepada anak akan nilai prososial dan antisosial , dengan menggunakan bahasa nonverbal dan mendemonstrasikannya seperti contoh anak tidak boleh berbohong orang tua menjelaskan bohong itu dosa dengan mendeskripsikan menunjuk keatas yang artinya Tuhan ditambah dengan ekspresi nonverbal yang memperlihatkan wajah dengan raut muka yang marah, mata melotot. Selain itu dipertegas lagi dengan orang bohong mulutnya lebar, dengan ekspresi mulut dibuka lebar dengan mata melotot. Deskripsi itu menjelaskan bahwa bohong tidak boleh, sehingga dapat dilihat bahwa setiap gerakan tubuh dan ekspresi yang digunakan untuk mengkomunikasikan setiap pesan memiliki makna.Paul Eckmandan Wallace V.Friesen memberikan beberapa klasifikasi gerakan tubuh yaitu emblems, ilustrator, affect display, regulator, dan adaptor (Devito,1997:187). Berdasarkan penuturan sebelumnya, orang tua dan guru mendemonstrasikan dengan menggunakan beberapa klasifikasi gerakan tubuh seperti ilustrator adalah perilaku nonverbal yang mengilustrasikan pesan verbal dengan menggunakan isyarat badan dengan gerakan gerakan tangan. Kemudian affect display8merupakan gerakan wajah yang mengandung makna emosional, seperti ekspresi marah dengan mata melotot, mulut dan mulut dibuka lebar yang ditunjukkan orang tua ketika menjelaskan suatu pesan kepada anak tunawicara.Berdasarkan penelitian mengenai pengalaman komunikasi antar pribadi antara orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat ini menunjukkan bahwa penelitian ini merujuk pada paparan teoritis dari Teori Manajemen Makna Terkoordinasi (Coordinated Management of Meaning) yang fokus pada hubungan antar individu dan bagaimana seseorang memberi makna pada pesan dan pentingnya mengatur koordinasi mengenai suatu makna pesan. Koordinasi adalah USAha untuk mengartikan pesan-pesan yang berurutan. (Turner, 2008:122)Kesesuaian Teori Manajemen Makna Terkoordinasi dengan penelitian ini adalah proses komunikasi antar pribadi antara orang tua dengan anak tunawicara serta guru dengan anak tunawicara yang membentuk suatu hubungan atau relasi diantara keduanya, baik hubungan dalam keluarga maupun di lingkungan sekolah. Relasi yang terbangun tersebut akan membantu anak tunawicara yang memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan yang dimaksudkan. Hubungan dalam suatu komunikasi akan sangat membantu antara komunikator dan komunikan yaitu orang tua, guru, serta anak tunawicara yang masing-masing dapat berperan sebagai komunikator dan komunikan.Anak tunawicara merupakan anak berkebutuhan khusus yang secara spesifik memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, sehingga proses pemaknaan pesan yang disampaikan tidak semudah ketika seseorang menyampaikan pesan dengan orang lain yang tidak memiliki keterbatasan komunikasi. Anak tunawicara memiliki kendala dalam mengkoordinasikan setiap pesan secara berurutan yang ditangkapnya dan kesulitan dalam memaknai setiap pesan yang ada. Hal yang terpenting dalam berkomunikasi adalah makna yang disampaikan dapat diterima dan dimaknai sesuai dengan makna pesan yang dimaksudkan. Sehingga yang ditekankan dan sangat penting dalam penelitian ini adalah proses pemaknaan pesan yang dilakukan oleh anak tunawicara terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru. Dalam penyampaian pesan tersebut, tidak terlepas dari sebuah interaksi komunikasi yang berada dalam sebuah hubungan atau relasi antar keduanya.9Pearce (1989) menyatakan bahwa koordinasi lebih mudah ditunjukkan daripada dijelaskan, maksudnya cara terbaik untuk memahami koordinasi adalah dengan mengamati orang-orang berinteraksi dalam sehari-hari. Karena orang memasuki suatu percakapan dengan kemampuan dan kompetensi yang berbeda-beda, mencapai koordinasi dapat menjadi sulit pada saat-saat tertentu. Selain itu, koordinasi dengan orang lain merupakan hal yang penuh tantangan sebagiannya karena orang lain juga sedang berusaha untuk mengkoordinasikan tindakannya dengan tindakan kita. (Turner,2008:122)Anak tunawicara memahami koordinasi atau mengartikan pesan-pesan yang disampaikan orang tua mengenai nilai prososial dan antisosial lebih kepada anak mengamati orang tua dalam berinteraksi sehari-hari. Seperti perilaku sopan santun, saling menolong, menghormati orang lain, anak tunawicara mengerti mengenai perilaku tersebut dari dia melihat sikap orang tuanya kepada orang lain ketika bertemu dengan tetangga yang memberikan senyuman. Pesan tersebut dikoordinasikan oleh anak karena dia mengamati orang tuanya, orang tua dalam menjelaskan nilai prososial dan antisosial ini juga lebih mengkomunikasikan melalui contoh atau demontrasi. Hal tersebut ternyata sangat membantu anak mengkoordinasikan pesan yang disampaikan. Hanya menggunakan komunikasi secara verbal dirasa susah untuk dikoordinasikan oleh anak karena kemampuan komunikasi verbal lisan yang sangat kurang dari anak tunawicara.Pembelajaran nilai prososial dan antisosial di masyarakat yang dilakukan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara ini menerangkan mengenai instruksi yang ditunjukkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara untuk berperilaku prososial. Instruksi yang disampaikan tersebut menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal seperti gerak tangan dan tubuh. Pesan yang disampaikan tersebut kemudian diterima oleh anak tunawicara, dalam proses penerimaan pesan, anak kemudian akan memaknai pesan yang disampaika
Pengaruh Bauran Promosi terhadap Proses Keputusan Pembelian Gofood di Kota Bandung
Currently the GoFood food delivery service application is very helpful for consumers, so this food delivery service is a solution in fulfilling these needs. GoFood needs to carry out various promotional strategies to be superior to its competitors who are actively promoting. This study aims to determine the response and how much influence partially the promotion mix on the Gofood purchasing decision process. This istudy uses a quantitative method of descriptive research. And iuse ia Likert scale as a measurement. The sampling technique uses incidental non-probability sampling technique. The population in this study are people who live in Bandung and have used Gofood services, from this population there are 100 samples to be studied. The data analysis technique used in this study is multiple linear regression analysis. The results showed that the promotion mix was in a good category, and the purchase decision process was in a good category. The promotion mix has a significant effect on purchasing decisions. The coefficient of determination test results obtained a value of 61%, while the remaining 39% was influenced by other factors not examined in this study. Based on the results of this study, GoFood should improve and maintain all dimensions of the promotional mix, where each dimension has a significant influence on purchasing decisions
Strategi Marketing Produk Tabungan Bank BJB dalam Meningkatkan Customer Experience
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruhnya Strategi Pemasaran produk Tabungan di dunia perbankan dalam meningkatkan Customer Experience . Penelitian ini, dilakukan di salah satu Bank BJB di Bandung. Dalam penelitian ini, survey yang dilakukan yaitu kepada nasabah yang memiliki salah satu produk Tabungan Bank BJB. Dan dalam penelitian tersebut, jumlah sampel yang digunakan yaitu sebanyak 97 nasabah. Serta untuk menghasilkan hasil atau jumlah sampelnya, yaitu dengan menggunakan rumus slovin . Metode pada penelitian merupakan kuantitatif.Serta teknik pengumpulan data yang diambil untuk penelitian ini, yakni melalui kuesioner kepada responden yang disebar dengan alat bantu google form . Penelitian ini menggunakan uji validitas dan reliabilitas, asumsi data klasik, serta model persamaan regresi linier sederhana. Alat analisis yang dipakai dalam proses penelitian ini, yaitu diselesaikan dengan dukungan memakai alat bantu komputer IBM SPSS 26. Berdasarkan hasil ini, menunjukan jika strategi pemasaran mempengaruhi dalam meningkatkan pengalaman pelanggan
Factors Associated with the Choice of Place for Delivery Assistance to Pregnant Women in the Third Trimester
Background: The low coverage of deliveries in health facilities is 64.66% of the 100% target in 2020, one of which is caused by the lack of knowledge of pregnant women about the importance of giving birth in health facilities. This study aimed to determine the factors associated with the choice of place for delivery assistance to pregnant women in the third trimester in the working area of the Public Health Center Bengkunat Belimbing In 2021.
Method: This research design is a descriptive non-experimental, correlational research with a cross-sectional method. The population in this study were all third-trimester pregnancies in November 2021, with 32 pregnant women. The sample amounted to 32 respondents, third trimester of pregnant women taken from the population using the Total Sampling technique. Bivariate analysis in this study used the chi-square test with an alpha value (α) of 0.01.
Result: The research result obtained values for each research variable, including mother's knowledge with a p-value of 0.000, mother's behavior with a p-value of 0.000, and distance to health care facilities with a p-value of 0.006.
Conclusion: From the results of this study, the researchers suggest optimizing the intervention of problems related to factors related to the choice of place for delivery assistance, namely increasing health education about the importance of giving birth in health facilities to mothers and families, optimizing the use of the Birth Waiting House (RTK) and proposing to the village or local governments in the construction of health service facilities, especially in remote areas
Toksikologi Klinis: Analisis Laboratorium
Buku ajar Toksikologi Klinis: Analisis Laboratorium mengulas secara komprehensif mengenai zat-zat toksik yang berpotensi membahayakan tubuh manusia serta bagaimana analisis laboratorium membantu dalam mendeteksi, memahami, dan menangani kasus-kasus keracunan. Berbagai jenis racun, jalur masuk ke dalam tubuh, serta respons fisiologis yang ditimbulkan dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Melalui pembahasan yang terstruktur, buku ini menjembatani pemahaman antara dunia kesehatan dan kebutuhan praktis masyarakat dalam mengenali risiko zat beracun di lingkungan sekitar. Sangat bermanfaat bagi masyarakat umum yang ingin mengetahui cara kerja laboratorium dalam mendukung diagnosis dan penanganan kondisi keracunan secara tepat dan cepat
Automatic Risk Detection System for Farmer’s Health Monitoring Based on Behavior of Pesticide Use
KINERJA KARYAWAN
Produktifitas sangat berhubungan langsung dengan sumber daya manusia, maka hal ini sangat penting diperhatikan oleh pimpinan perusahaan. Jika produktifitas meningkat maka tujuan perusahaan untuk mendapatkan laba juga pasti meningkat. Peningkatan produktifitas ini sangat berkaitan dengan kinerja karyawan yang merupakan sumber daya manusia dalam perusahaan, sehingga sumber daya manusia merupakan asset yang sangat penting dalam perusahaan. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana memahami kinerja karyawan dalam perusahaan, mulai dari pengertian dari pada kinerja, faktor yang harus diperhatikan dalam penilaian kinerja, karakteristik kinerja dan indikator kinerja, penilaian kinerja, metode penilaian kinerja, manajemen kinerja organisasi serta pemahaman tentang pekerjaan. Selanjutnya, manfaat yang diperoleh dalam manajemen kinerja adalah untuk pencapaian tujuan perusahaan, peningkatan produktifitas, mendukung program pengembangan dan pelatihan karyawan, meningkatkan prestasi dan potensi karyawan serta mempererat hubungan antara pimpinan dan bawahan
