2 research outputs found
RANCANG BANGUN SISTEM OTOMASI pH LARUTAN NUTRISI PADA BUDIDAYA TANAMAN HIDROPONIK SISTEM DFT ( Deep Flow Technique ) BERBASIS Internet Of Things
Hidroponik merupakan salah satu perkembangan teknologi dibidang pertanian yang dapat diterapkan pada saat sekarang ini karena lahan pertanian di Indonesia yang semakin sempit akibat dialihkan untuk pembangunan industri. Hidroponik merupakan budidaya pertanian yang menggunakan air sebagai media tanamnya, serta dapat diaplikasikan pada lahan yang sempit. Dengan metode hidroponik memang dapat meminimalisir perawatan tanaman, namun tetap perlu pengecekan berkala pada larutan nutrisi yang digunakan. Tanaman kangkung merupakan salah satu tanaman yang dapat dibudidayakan dengan sistem hidroponik. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai pengembangan sistem pemantau dan pengendali pH larutan nutrisi pada budidaya hidroponik sistem DFT berbasis Internet of Things (IoT) pada tanaman kangkung. Sistem kontrol yang digunakan adalah sensor pH sebagai pendeteksi nilai pH larutan, Arduino Uno sebagai mikrokontroler, Module ESP 8266 sebagai modul wifi, dan Blynk App sebagai platform IoT nya serta tambahan kontrol PID sebagai penekan error pada sistem. Hasil kalibrasi sensor pH yang dilakukan dengan membandingkan hasil pembacaan sensor pH dengan pH meter pada larutan buffer menghasilkan nilai R2 0,9997. Selanjutnya hasil ketepatan pembacaan sensor pH yang dilakukan selama 18 hari diperoleh rata-rata nilai R2nya sebesar 0,9908 dengan error 0,274%. Dengan nilai R2 yang mendekati 1, maka dapat dikatakan sensor pH berjalan dengan baik dan akurat. Kontrol PID yang ditetapkan dalam sistem ini adalah Kp = 2,1; Ki = 0,05; dan Kd = 0,03. Hasil pengamatan pada tanaman kangkung selama 18 hari setelah semai (HSS) adalah tanaman kangkung dengan sistem kontrol memiliki tinggi batang 40,50 cm dengan 18 helai daun dan hasil panen sebanyak 1,064 kg, sedangkan tanaman kangkung tanpa sistem kontrol memiliki tinggi batang 35,66 cm dengan 16 helai daun dan hasil panen sebanyak 0,814 kg. Dari hasil penelitian yang dilakukan, sistem kontrol yang diterapkan pada budidaya hidroponik tanaman kangkung memiliki pengaruh yang baik dalam tumbuh kembang tanaman kangkung dibandingkan tanaman kangkung tanpa kontrol
Pengembangan Sistem Otomatisasi pH Larutan Nutrisi pada Hidroponik Sistem DFT (Deep Flow Technique) Berbasis IOT
Hidroponik merupakan teknik budidaya di bidang pertanian yang sesuai dengan keadaan saat ini, terutama di Indonesia dimana lahan pertanian semakin menyusut akibat ekspansi industri. Teknik budidaya ini menggunakan air sebagai media tanam dan efektif pada lahan terbatas. Meskipun hidroponik meminimalkan perawatan yang dibutuhkan tanaman, pemantauan rutin terhadap larutan nutrisi tetap penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem pemantauan dan pengendalian larutan nutrisi hidroponik DFT berbasis Internet of Things (IoT) pada kangkung. Sistem kendali yang digunakan adalah sensor pH sebagai pendeteksi nilai pH larutan, Arduino Uno sebagai mikrokontroler, modul ESP 8266 sebagai modul wifi, dan aplikasi Blynk sebagai platform IoT dan kontrol PID. Hasil kalibrasi sensor pH dengan membandingkan nilai sensor pH dengan pH meter pada larutan buffer memberikan nilai R 2 sebesar 0,9997, sedangkan nilai sensor pH selama 18 hari memberikan nilai R 2 sebesar 0,9908 dengan hasil error sebesar 0,274%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sensor pH bekerja dengan baik dan akurat. Pengontrol PID sistem ini adalah Kp=2. 1; Ki = 0,05; dan Kd = 0,03. Pemeriksaan kondisi pabrik di 60 tanaman (30 kangkung dengan sistem kendali dan 30 kangkung tanpa sistem kendali). Pengamatan pada 18 hari setelah tanam (HSS) menunjukkan bahwa kubis dengan sistem kontrol memiliki tinggi batang 40,50 cm dan 18 helai daun serta hasil 1,064 kg, sedangkan kangkung tanpa sistem kontrol memiliki tinggi batang 35,66 cm dan 16 helai daun. Berdasarkan hasil penelitian, sistem pengendalian yang diterapkan pada tanaman kangkung hidroponik memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kangkung dibandingkan dengan tanaman kontrol
