6 research outputs found

    UJI KARAKTERISTIK UNSUR HARA PADA PUPUK ORGANIK CAIR HASIL LIMBAH SAYURAN DENGAN PENAMBAHAN EM-4 DAN ZEOLIT

    Get PDF
    Human’s increasing activity causes an immense increase in domestic waste. one form of domestic waste which could harm environment is vegetable waste. in this research, vegetables waste is used as based material of liquid compost. The process of producing liquid compost with vegetables waste as the base materials was using EM4 fermentation method as a starter and zeolite 80-100  mesh as the bind for soil nutrient in liquid compost. In the fermentation process, the researcher conducted 3 different behaviors in adding EM4 and Zeolite, in each 10 gr, 20 gr and 30 gr of EM4; and 40 gr, 60 gr and 80 gr of Zeolite. The fermentation process was conducted  in 40 days. The liquid compost samples were analized for pH, C-Organic, N-total, P-total and K-total. The results showed that highest concentrate of soil nutrient was from the adding of 30 gr EM4 and 80 gr Zeolite in which the result was 0.27% C- organik, 0,07 %  N-total, 0,04 % , P-Total dan 0,46 %  K-Total

    KARAKTERISTIK LUMPUR LAPINDO DAN FLUKTUASI LOGAM BERAT Pb DAN Cu PADA SUNGAI PORONG DAN ALOO

    Get PDF
    Penelitian ini mengkaji karakteristik dan fluktuasi logam berat Pb dan Cu dalam perairan Sungai Aloo dan Sungai Porong. Dalam penelitian ini pengambilan sampel lumpur Lapindo diambil dari 4 lokasi yang berbeda. Berdasarkan analisis karakteristik dari lumpur Lapindo diperoleh parameter fisik berat jenis berkisar 1,25-2,35 (cm.cm-3 ), dengan kandungan liat dan debu sebesar 34-53% dan 39- 46%, dimana tekstur dari lumpur Lapindo merupakan jenis lempung berliat. Untuk parameter kimia diperoleh nilai pH berkisar 6,6-7, KTK sebesar 3,89-35,42 me/100g), logam berat Pb sebesar 0,19-0,34 mg/L, Cu sebesar 0,19-0,85 mg/L, asam humat tidak teridentifikasi, kadar air sebesar 40,41-60,73% dan kandungan total karbon organik 54,75-55,47%. Fluktuasi logam berat Pb dan Cu pada lumpur Lapindo tertinggi terdapat pada lokasi air tawar yaitu SA1, SA2 dan SP1, SP2. Pada Sungai Aloo, fluks logam tertinggi adalah untuk Cu, sedangkan pada Sungai Porong fluks logam tertinggi adalah Pb

    Pelatihan Pembuatan Produk Keripik Melon Menggunakan Alat Dehydrator bagi Kelompok UMKM Inkubator Bisnis Teknologi (ITe) Unizar

    Get PDF
    This Community Service program aims to increase the knowledge and skills of ITe Universitas Islam Al-Azhar MSME group members in making rock melon chips using a Dehydrator. The training was conducted through several stages: planning, implementation, monitoring, and evaluation. The participants for this service were the university's business technology incubator MSME group consisting of rock melon farmers and chip entrepreneurs, with 35 participants. The activities resulted in the participants' understanding of making rock melon chips using the Dehydrator tool could increase after the training, as well as understanding regarding the packaging of fruit chip products that were durable and long-lasting

    Pelatihan Pengolahan dan Pengemasan Keripik Buah

    Get PDF
    The purpose of this community service is to provide solutions through providing tools and training for processing and packaging fruit chips in Gelangsar Village, Gunungsari, West Lombok. This training activity is one of Kosabangsa's programs for 2023. Participants in this training consist of village owned enterprises and farmer groups totalling 26 people. The method used in this service is socialization and training related to technology and innovation in processing and packaging fruit chips. The results of implementing community service through questions and answers and discussions are that the community strongly agrees with the training on processing and packaging fruit chips because it can increase understanding, skills and new, more innovative business ideas to improve the economy of Gelangsar village residents. Through this training, the community has new insights regarding the latest technology and innovation in processing chips from post-harvest fruit and packaging them so that they are durable and long-lasting. The continuation of this program is related to product marketing assistance which will collaborate with various related parties such as Business and Technology Incubator of Universitas Islam Al-Azhar and Nusa Tenggara Barat Mall. The impact of this program is the local people are able to increase their income through the training

    Studi Pengaruh Salinitas dan Total Karbon Organik terhadap Pelepasan Logam Berat (Cu dan Pb) dari Lumpur Lapindo

    No full text
    Selama ini pembuangan lumpur Lapindo dialirkan ke laut melalui Sungai Porong. Namun sejak akhir tahun 2009 sampai sekarang pembuangan lumpur dilakukan di Sungai Aloo dan Sungai Porong sehingga diduga akan dapat mencemari kelestarian ekosistem di sekitar aliran sungai. Penelitian ini mengkaji pengaruh dari salinitas perairan dan total karbon organik pada lumpur Lapindo terhadap fluktasi unsur logam berat Cu dan Pb ke dalam perairan sungai Aloo dan sungai Porong. Pada penelitian ini sampel lumpur Lapindo diambil dari 4 lokasi yang berbeda yaitu lumpur lapindo A, B, C dan D, untuk A dan B dekat Sungai Aloo sedangkan C dan D dekat Sungai Porong. Sampel air yang diambil berasal dari Sungai Aloo dan Sungai Porong yang diambil pada daerah air tawar, air payau dan air laut. Karakterisasi lumpur untuk sifat fisik meliputi tekstur, dan porositas. Sedangkan karakterisasi untuk sifat kimia meliputi pH, KTK, Asam humat, kadar Pb, kadar Cu, kadar air dan C-Organik. Parameter fisik lumpur Lapindo hasil pengujian massa jenis menunjukkan bahwa lumpur cukup berat (berkisar 2,34 – 2,35 cm.cm -3 ) karena adanya kandungan oksida. Oksida silika, kalsium, natrium dan kalium mempunyai densitas yang berat dan menyebabkan lumpur juga mempunyai densitas yang berat. Hasil analisa tekstur lumpur Lapindo yang diperoleh pada Sampel Lapindo A ( Pasir ;8%, debu;39%, dan liat 53%), sedangkan pada sampel Lapindo C (Pasir 20%, debu 46%, dan liat 34%). Dari analisa sifat fisik ini dapat disimpulkan bahwa lumpur Lapindo A memiliki tekstur lumpur Liat , sedangkan lumpur Lapindo C memiliki tekstur lempung berliat . Hasil analisa porositas pada lumpur Lapindo diperoleh untuk lumpur Lapindo A sebesar 46,75% dan lumpur Lapindo C sebesar 44,5%. Hal ini dikarenakan persentase antara fraksi pasir, debu dan liat masih terlihat seimbang pada Lapindo C dimana fraksi pasir lebih besar pada lumpur Lapindo C, sehingga menyebabkan sedikit terbentuknya pori-pori. Dengan terbentuknya pori yang sedikit ini maka luas permukaan sentuhnya menjadi sempit, sehingga daya pegang air akan lemah. Kondisi ini yang menyebabkan udara dan air mudah untuk keluar masuk lumpur, sehingga hanya sedikit air yang bisa tertahan. Konsentrasi logam Cu lebih besar dibandingkan konsentrasi logam Pb dalam lumpur Lapindo yaitu sebesar 0,83-1,31 mg/kg untuk Cu dan 0,27-0,34 mg/kg untuk Pb. Hal ini dikarenakan kelimpahan logam berat Cu pada kerak bumi sebesar 50 mg/kg sedangkan logam Pb hanya sebesar 15 mg/kg (Moore, 1991) sehingga keberadaan logam di alam Cu relatif lebih besar dibandingkan logam Pb. Kadar karbon organik total pada lumpur Lapindo yang diperoleh dari hasil analisa yaitu untuk Lapindo A = 54,75%; Lapindo B = 55,47%; Lapindo C = 54,82%; dan Lapindo D = 55,02%. Sumber karbon organik yang terdapat di dalam lumpur Lapindo kemungkinan berasal dari dekomposisi tumbuhan dan hewan yang berasal dari sisa tanaman dan hewan yang mati ketika lumpur menggenangi sawah pertanian di desa. Salah satu karbon organik yang mungkin ditemukan adalah asam humat. Namun dari hasil analisa kandungan asam humat dalam lumpur Lapindo tidak terdeteksi. Nilai kapasitas tukar kation (KTK) sebesar 34,89 – 35,42 Me/100g. Nilai kapasitas tukar kation pada lumpur Lapindo mencerminkan kemampuan lumpur Lapindo di dalam mengikat kation logam berat. KTK pada lumpur Lapindo ini tergolong tinggi. Karena nilai KTK dari lumpur Lapindo sangat tinggi maka kandungan bahan organik dan mineral organik yang berperan dalam penyerapan logam berat pada lumpur Lapindo juga besar. Nilai pH pada lumpur Lapindo yaitu antara 6-7 yang dikategorikan dalam kondisi yang netral. Kandungan Total organik Karbon(TOC) pada lumpur lapindo cukup besar yaitu berkisar antara 54-55%. Kandungan TOC (Total Organik Karbon) tertinggi terletak pada lokasi B yaitu 55,47%. Sumber karbon yang terkandung di dalam lumpur Lapindo kemungkinan berasal dari dekomposisi tumbuhan dan hewan. Karbon organik yang terdapat di dalam lumpur Lapindo lebih dimungkinkan cenderung mengikat logam berat Cu daripada logam Pb yang dikarenakan jari-jari ion Cu lebih kecil daripada jari-jari ion Pb yaitu Cu = 74 pm dan jari-jari ion Pb = 108 pm. Jika semakin besar ukuran jari-jari atom logam maka akan menyebabkan ikatan logam semakin lemah sehingga mengakibatkan logam berat Pb dalam lumpur memiliki konsentrasi yang kecil. Fluks logam yang tertinggi untuk logam Pb terdapat pada lumpur lapindo yang dikontakan dengan Sungai Porong yaitu pada daerah air tawar, sedangkan untuk logam Cu fluks tertinggi terdapat pada lumpur lapindo yang dikontakan dengan Sungai Aloo pada daerah air tawar. Jadi fluks logam berat yang tertinggi dari semua lokasi sampel air terletak pada daerah air tawar. Hal ini disebabkan karena kelarutan ion-ion logam berat seperti Pb 2+ dan Cu 2+ dipengaruhi oleh besarnya kandungan ion bikarbonat HCO 3 - yang terlarut di dalam air sungai dimana ion bikarbonat dapat meningkatkan kelarutan ion logam di dalam perairan. Pada air payau yaitu lokasi APY dan PPY fluks loga

    Vibration Spectroscopy Potential for Beef and Pork Determination

    Get PDF
    Meat is one of the most foodstuff consumed. The increasing consumption of meat had led some traders to falsify the identity of meat for gaining profit. The meat adulteration case that often occurs is substituting the beef with pork. This adulteration case is very detrimental to consumers, therefore a method to identify the type of meat sold is very necessary. The vibration spectroscopy method, Fourier Transform Infra Red (FTIR), had been developed to analyze the type of beef and pork. The FTIR measurement was carried out with cut raw meat samples without further preparation. The Data obtained from the measurement are infra-red spectrum from beef and pork from 4000-500 cm-1 wavenumber and then the data was analyzed with Principle Component Analysis (PCA) statiscticall method. Projection result with PCA obtained data reduction that can represent all data generated from measurements shown through the Principle Component 1 and Principle Component 2 regions. Based on those projection, beef and pork profile area can be classified properly
    corecore