24 research outputs found
SILICIFIED COAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENAMBANGAN DI DAERAH ARAHAN, KABUPATEN LAHAT, SUMATERA SELATAN
Pada kegiatan penambangan, silicified coal sangat mempengaruhi kualitas batubara, selain kuantitas dari produksi batubara, kualitas juga menjadi tolak ukur keberhasilan dalam suatu proses penambangan. Salah satu tujuan dilakukannya penelitian ini adalah upaya untuk pengendalian kualitas batubara dengan cara mengurangi produksi yang melibatkan unsur pengotor salah satunya silicified coal. Daerah penelitian terletak di Desa Arahan, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Metode penelitian yang digunakan berupa studi literatur, pemetaan permukaan baik secara lateral maupun vertikal, analisis laboratorium berupa analisis petrografi dan XRD. Sampel diambil menggunakan teknik grab sampling dengan jumlah 10 sampel pada lokasi yang kemungkinan mewakili secara keseluruhan. Formasi pada daerah penelitian adalah Formasi Muaraenim yang terendapkan di lingkungan delta plain, Formasi Kasai yang tersedimentasikan di lingkungan darat. Silicified coal merupakan sisa tumbuhan yang membatu akibat penggantian komponen dengan silika. Mineral silika terbentuk dalam rekahan-rekahan, bukaan antar sel tumbuhan, dan pada cairan yang tertinggal dalam sel tumbuhan. Kenampakan fisik silicified coal pada lapisan batubara berupa layered dan lenses dan hampir sama seperti batubara berwarna hitam, tetapi memiliki nilai kekerasan yang lebih tinggi. Pada lapisan batubara daerah penelitian didominasi oleh silicified coal yang berbentuk lenses dengan tebal 10 - 40 cm. Pola sebaran silicified coal dikontrol oleh lapisan batubara. Dari hasil analisa XRD dan Petrografi silicified coal, ditemukan bahwa mineral yang mendominasi adalah mineral silika, sedikit karbon dan oksidabesi. Dari hasil observasi lapangan, pemetaan mengenai silicified coal pada lapidan batubara sangat penting dilakukan untuk menghindari penurunan kualitas produksi batubara
Analysis of Landslide Prone Areas in Tampahan, Toba Samosir Regency, North Sumatra Province
The topography of the Tampahan area which tends to be steep and dominated by tuff lithology can result in a landslide. The intensity of landslides and the resulting losses can be reduced by the analysis of landslide-prone areas in Tampahan. The administration of the area is located in Toba Samosir Regency, North Sumatra Province which is included in the Toba Caldera Region. Analysis of landslide-prone areas is carried out with five parameters namely slope, land use, morphological elevation, lithology, and rainfall. The data processed in this analysis comes from field data, DEMNas (National Digital Elevation Model), and other spatial data. Classification of each parameter and weighting based on literature is away in the analysis of landslide-prone areas of Tampahan. Then do each parameter overlay to get the value of landslide-prone and distinguished based on the calculation of the landslide class interval. The results are divided into five classes that are prone to landslides, namely classes not prone (1-1,8), rather prone (1,8-2,6), quite prone (2,6-3,4), prone (3,4-4,2), and very prone (4,2-5). Based on the analysis that has been done, some areas are very prone to landslides in the southeast while areas that are not prone to landslides are in the southwest of the study area. Therefore, landslide-prone studies are categorized as high landslides with almost 60% coverage of the study area
Macerals Analysis Seam M2 Muaraenim Formation, : Implication Toward Coal Facies and Coal Rank in Kendi Hill, South Sumatra
The Muaraenim Formation is a coal bearing formation in South Sumatra Basin of the Late Miocene – Pliocene. Shell (1978) divides this formation based on coal seam content are: M1, M2, M3, and M4. Coal seam in this area include in seam M2 member, with the general characteristics of the presence of silicified coal on the roof and floor of coal seams as a marker. The administration of the research area is located in east Kendi Hill, South Sumatra. The Kendi Hill is composed of adesite igneous rocks that intruded Muaraenim Formation in unconformity at the time of Pleistocene. This study aims to determine the environment of coal depositional based on maceral analysis and determine the factors influence the physical characteristics of coal seams in Kendi Hill. Data that has been obtained from the field, then conducted a selection process. The number of samples analyzed were nine sample based on near and far to the Kendi Hill spread from the southern, central, and northern of the location. The result of the analysis will display the maceral diagram. Megascopically, coal seam in the Kendi Hill are black, dull with bright, uneven – subchoncoidal, blackish brown in streak, have a pyrite and resin. The thickness of the coal seams ranges from 0,45 to 14 meters. Based on the maceral analysis, the coal seam in the Muaraenim Formation is composed dominated by vitrinite, then liptinite, inertinite and mineral matter pyrite (1,6-6,6%). Vitrinite reflectance of coal in the research area ranges from (0,37-0,48%) that included to the Sub bituminous – High Volatile Bituminous C. From the results of Tissue Preservation Index and Gelification Index value indicated that the environment of coal depositional in the research area was a limnic to wet forest swamp. Whereas the deposition of the Muaraenim Formation in deltaic environment (Transitional lower delta plain)
KONTROL LINGKUNGAN PENGENDAPAN TERHADAP KONSENTRASI TRACE ELEMENT BATUBARA DAERAH MUARA TIGA BESAR KABUPATEN LAHAT SUMATERA SELATAN
pada batubara Seam A1, A2, B, C1, dan C2. Tujuan dari studi ini adalah melihat hubungan antara lingkungan pengendapan dengan komponen dari trace element. Metode yang diterapkan dengan optimasi data logging serta analisis geokimia batubara berupa uji proksimat dan Inductively coupled plasma atomic emission spectroscopy (ICP AES). Karakteristik fisik litofasies dari data logging mengindikasikan batubara terendapkan pada sistem delta dari upper hingga back barrier. Analisis trace element merefer 19 unsur yaitu Be, Cd, Ni, V, Zn, Pb, Mn, Ba, B, Fe, Ag, Co, Mo, As, Hg, Cu, Cr dan Cl, dan P. Komparasi hasil dari dua sumur bor menunjukkan pola selaras, tidak selaras, dan uncertain. Kemudian Seam C1 dan C2 yang terendapkan pada lingkungan back barrier memiliki kadar trace element paling tinggi. Sedangkan tiga seam lainnya dengan konsentrasi trace element cenderung linear. Hal ini memberi petunjuk bahwa nilai konsentrasi trace element pada lingkungan laut lebih tinggi dibandingkan lingkungan deltaplain
Analisis Fondasi Disposal Tambang Terbuka PT Bara Anugrah Sejahtera, Muara Enim, Sumatera Selatan
Aktivitas tambang terbuka pada umumnya memerlukan sebuah tempat untuk membuang tanah penutup (overburden) yang dikenal sebagai disposal. Kestabilan suatu disposal tidak hanya dipengaruhi oleh material disposal tersebut, fondasi juga memiliki peran penting dalam kemantapan suatu disposal. Penelitian ini bertujuan untuk menganilisis kemantapan disposal PT Bara Anugrah Sejahtera. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan menganalisis beberapa parameter yang dianggap berperan penting dalam kemantapan fondasi disposal, yaitu foundation slope, foundation shape, overburden type, undrained failure potential, groundwater, compactnessmaterial, dan groundwater. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data pemboran geotek yang dilakukan pada lima titik. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa fondasi disposal pada daerah penelitian termasukdalam kategori cukup baik, hal tersebut dilihat dari bentukan lereng fondasi yang dominan cembung, sudut kemiringan fondasi yang cukup landai dengan rata-rata kemiringan 13,45°, tipe soil yang merupakan alluvial deposit, memiliki potensi rendah untuk terjadi undrained failure yang dilihat dari nilai konduktivitas hidrolik dan porositas material yang termasuk kategori moderate, kondisi fondasi tidak dalam kondisi jenuh (unsaturated), kekompakan material dense hingga very dense, dan bedrock yang cukup fresh serta tidak adanya struktur
ESTIMASI SUMBERDAYA UNDERGROUND COAL GASIFICATION (UCG), DAERAH BANJARSARI, TANJUNG ENIM, SUMATERA SELATAN
Penelitian ini berfokus pada seam batubara dengan kedalaman 100 meter dan ketebalan 3 meter, nilai kadar abu + kadar air 60%. Teknologi UCG dapat menjadi alternatif lain dalam pemanfaatan batubara yang tidak ekonomis apabila dilakukan penambangan secara konvensional. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji secara teknis sumberdaya UCG hingga membangun model komprehensif mengenai simulasi potensi UCG di daerah penelitian. Guna menopang tujuan tersebut, maka penelitian ini menerapkan metode circular untuk mengolah data (data logging geofisika dan data kualitas batubara) dengan bantuan software (MineScape 5.7 dan Surfer 13). SEAM ENIM pada lokasi penelitian memiliki potensi untuk dilakukan pengembangan dalam pemanfataan batubara dengan metode gasifikasi bawah permukann. Kedalaman mulai dari 120,55 s/d 182,45 meter, serta ketebalan lapisan tersebut mulai dari 11,95 sampai 19,35 meter, nilai kalori 12.151 s/d 12.222 btu/lb (ASTM,2004), nilai kadar abu+ kadar air 60%, batuan pengapit yang permeabel rendah, dan estimasi sumberdaya batubara SEAM ENIM yang mengacu pada SNI-2011 terdiri dari sumberdaya tereka 241.529,58 ton, dan sumberdaya terunjuk sebesar 123.818,28 ton
Simulasi Area Strategis Dalam Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sungai Kerap, Bengkulu Utara
North Bengkulu Regency is an area with various and unique morphological conditions. This is because the location of North Bengkulu itself is located on a row hill which makes it have various morphological reliefs. These unique and varied morphological conditions have the potential for potential micro-hydro power plants (MHP). In the research area, it can be said that the distribution of electricity to remote areas is still not evenly distributed. This research can be the main supporting data in the development of PLTMH for the problems of several villages in North Bengkulu Regency, especially in Kerkap District which still have limited electricity due to inaccessibility of the area. Therefore, it is important to conduct research on the determination of MHP adhesion based on geological aspects. The geological aspects analyzed are the slope morphology around the river and the rock lithology which is the basis for the PLTMH construction. This study uses the AHP (Analysis Hierarchy Process) method which combines several geological parameters that have a certain weight value and after that is applied with data overlay via GIS to obtain a prospect area for a power plant in terms of geology. Overall, this research will be applied to several rivers that have the prospect of building PLTMH, for example in Batang Palik and Sumber rejo villages, Kerkap sub-district, North Bengkulu Regency. Keywords: kerkap. lithology, microhydro, geology, hydrogeology
Imputing Rainfall Data for Flood Simulation in Citarum River, West Java
The central role of the Citarum River as a buffer to meet the needs of agricultural irrigation, industrial activities, and raw water in the six surrounding districts, including 80% of the population of Jakarta, has experienced a decline in conditions from up-downstream. That way, a lot of data is available regarding the adaptation of floods, drought, and other water source functions for an integrated concept for Citarum. The focus of the study is in the Central Citarum Zone by using 5 and 10 years of rainfall intensity (time series), actualizing the runoff coefficient, Intensity Duration Frequency (IDF) modeling to the formulation of the peak runoff discharge. This achievement is realized by applying Gumbel's Method and Mononobe's Equation and optimizing the 2D HEC-RAS software. Experimental data from 2010 to 2019 indicated that November was the highest rainfall of 448.07 mm/hour, while the lowest was in July with a value of 52.50 mm/hour. The simulation results show an increase in flow rate up to 11%, which means it affects the river's capacity to accommodate the overflow load. Furthermore, this simulation is equipped with a map of the flood-affected areas with a peak discharge scenario in November
Pengaruh Perubahan Tutupan Lahan Rawa dan Ruang Terbuka Hijau terhadap Peningkatan Debit Limpasan di Kota Palembang
Abstrak
Perubahan penggunaan lahan dari lahan non terbangun menjadi lahan terbangun akan menyebabkan terjadinya peningkatan limpasan atau aliran permukaan. Peningkatan debit puncak untuk masing-masing periode ulang tahunan disebabkan oleh berubahnya nilai koefisien limpasan (C) yang pada akhirnya meningkatkan persentase curah hujan yang menjadi limpasan permukaan. Penelitian ini difokuskan untuk memprediksi tren perubahan tutupan lahan berdasarkan ketersediaan data historis di lokasi studi yaitu antara tahun 2018, 2019 dan 2021 dengan menggunakan metode supervised maximum likelihood classification (MLC) dengan perangkat lunak ArcGIS terutama pada wilayah dengan persentase rawa terbesar di kota Palembang. Hasil analisa tutupan lahan pada DAS Kertapati menghasilkan perubahan lahan yang meningkat signifikan pada kelas tutupan lahan permukaan diperkeras yaitu 7% (2018) menjadi 12% (2021). Namun peningkatan luasan area vegetasi budidaya berupa sawah juga meningkat dari 41% (2018) menjadi 49% (2021). Analisis perhitungan debit banjir menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetis Soil Conservation Service dan distribusi hujan Alternating Block Method (ABM). Didapatkan pada tahun 2018 nilai debit banjir untuk periode 10 tahun sebesar 29,167 m3/det, kemudian untuk tahun 2019 nilai debit banjir untuk periode 10 tahun sebesar 34,820 m3/det dan untuk tahun 2021 nilai debit banjir untuk periode 10 tahun sebesar 34,169 m3/det.
Kata kunci: limpasan, perubahan tutupan lahan, debit rencana, hidrograf
Abstract
Changes in land cover from undeveloped to developed areas lead to an increase in runoff or surface flow. The rise in peak discharge for each annual return period is attributed to changes in the runoff coefficient (C), which increases the percentage of rainfall contributing to surface runoff. This study aims to predict trends in land cover change based on the availability of historical data from 2018, 2019 and 2021, utilizing the supervised maximum likelihood classification (MLC) method with ArcGIS software, particularly in regions with the biggest wetlands in Palembang City. The results of the land cover analysis in the Kertapati Watershed revealed a significant increase in the impervious surface, rising from 7% in 2018 to 12% in 2021. Conversely, the area of cultivated vegetation, specifically rice fields, also increased from 41% in 2018 to 49% in 2021. To analyze flood discharge, the study employed the Soil Conservation Service Synthetic Unit Hydrograph method and the Alternating Block Method (ABM) for rainfall distribution. The findings indicated that the flood discharge value for a 10-year return period was 29.167 m³/sec in 2018, increasing to 34.820 m³/sec in 2019 and slightly decreasing to 34.169 m³/sec in 2021.
Keywords: runoff, land cover change, design discharge, hydrographPerubahan penggunaan lahan dari lahan non terbangun menjadi lahan terbangun akan menyebabkan terjadinya peningkatan limpasan atau aliran permukaan. Peningkatan debit puncak untuk masing-masing periode ulang tahunan disebabkan oleh berubahnya nilai koefisien limpasan (C) yang pada akhirnya meningkatkan persentase curah hujan yang menjadi limpasan permukaan. Penelitian ini difokuskan untuk memprediksi tren perubahan tutupan lahan berdasarkan ketersediaan data historis di lokasi studi yaitu antara tahun 2018, 2019 dan 2021 dengan menggunakan metode supervised maximum likelihood classification (MLC) dengan perangkat lunak ArcGIS terutama pada wilayah dengan persentase rawa terbesar di kota Palembang. Hasil analisa tutupan lahan pada DAS Kertapati menghasilkan perubahan lahan yang meningkat signifikan pada kelas tutupan lahan permukaan diperkeras yaitu 7% (2018) menjadi 12% (2021). Namun peningkatan luasan area vegetasi budidaya berupa sawah juga meningkat dari 41% (2018) menjadi 49% (2021). Analisis perhitungan debit banjir menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetis Soil Conservation Service dan distribusi hujan Alternating Block Method (ABM). Didapatkan pada tahun 2018 nilai debit banjir untuk periode 10 tahun sebesar 29,167 m3/det, kemudian untuk tahun 2019 nilai debit banjir untuk periode 10 tahun sebesar 34,820 m3/det dan untuk tahun 2021 nilai debit banjir untuk periode 10 tahun sebesar 34,169 m3/det
Analisis Kestabilan Lereng Disposal PT Bara Anugrah Sejahtera Muara Enim Sumatera Selatan
Dalam sistem tambang terbuka diperlukan suatu tempat untuk membuang material overburden yang disebut sebagai disposal, di mana disposal tersebut nantinya akan membentuk lereng-lereng yang berpotensi mengalami kelongsoran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kestabilan lereng Out Pit Disposal (OPD) tambang PT Bara Anugrah Sejahtera. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode analisis kesetimbangan batas (Limit Equilibrium Method) dan perhitungan faktor keamanan menggunakan metode Morgenstern-Price yang di-running dengan software Slide V6. Parameter yang digunakan dalam menganalisis kestabilan lereng adalah menggunakan data geometri lereng hasil dari section disposal dan nilai material properties yang didapatkan dari back analysis, meliputi nilai kohesi, berat jenis, dan sudut geser dari material timbunan, sand, dan silty clay. Dari sebelas section OPD yang dianalisis, lereng disposal terbilang dalam keadaan yang stabil dengan FK 1,3. Namun pada 2 section didapatkan hasil FK 1,26 untuk section E – E’ dan FK 1,05 untuk section F –F’. Secara keseluruhan disposal dapat dianggap stabil, namun perlu diperhatikan pada beberapa faktor yang dapat mengganggu kestabilan lereng seperti curah hujan yang cukup tinggi, sehingga perlu upaya untuk menjaga stabilitas lereng disposal
