85 research outputs found
OPTIMALISASI AWAK KAPAL DALAM MENGAWASI PEMASANGAN LASHING KONTAINER GUNA MENUNJANG KESELAMATAN OPERASIONAL DI M.V. MERATUS MAKASSAR
ABSTRAKSI
Ilham Nur Alfian, 2017, NIT : 50134752.N, ”Optimalisasi Awak Kapal Dalam Mengawasi Lashing Kontainer Guna Menunjang Keselamatan Operasional di M.V. Meratus Makassar”, Program Studi Nautika, Program Diploma IV, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang. Pembimbing I: Sahabuddin Sunusi, Pembimbing II: Sri Murdiwati.
Latar belakang terhadap permasalahan adalah lashing kontainer membutuhkan perhatian khusus terutama pada prosedur pemasangan lashingan peti kemas, pelaksanaan pengawasan atau dinas jaga dari pihak kapal terhadap para buruh dari pelabuhan. Apabila terjadi kesalahan dan lashing tidak sesuai dengan prosedur yang standar, maka kerugiannya akan berdampak buruk bagi berbagai pihak. Penyebab terjadinya kesalahan pada pelashingan adalah pada proses pelashingan, pengawasan, pengecekan dan kurangnya kordinasi antara pihak kapal dengan pihak pelabuhan dan dengan permasalahan antara lain mengapa bisa terjadi kesalahan dalam pelashingan ketika proses memuat di M.V Meratus Makassar dan Bagaimana cara untuk menanggulangi kesalahan dalam pelashingan tersebut
Metode dalam melakukan penelitian menggunakan metode USG (Urgency, Seriously, Growth). Dimana metode Matriks USG adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukan suatu masalah yang prioritas, terdapat tiga faktor yang perlu dipertimbangkan. Ketiga faktor tersebut adalah urgency, seriousness, dan grownth.pengumpulan dan penarikan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi pustaka. Sedangkan pembahasan skripsi ini digunakan teknik analisis deskriptif kualitatif.
Simpulan dari hasil penelitian yaitu pelaksanaan pelashingan yang tidak sesuai dengan prosedur disebabkan karena dua faktor yaitu (1) Minimnya pemahaman dalam teknik pelashingan yang benar oleh stevedore (2) Minimnya perawatan sarana alat-alat lashing kontainer di atas kapal. Minimnya pengawasan perwira jaga dan crew kapal terhadap proses pelashingan kontainer disebabkan karena (1) Pelaksanaan dinas jaga di pelabuhan yang belum dilaksanakan dengan benar.(2) Waktu istirahat di pelabuhan yang tidak digunakan dengan baik.Untuk mengatasi masalah dalam pelashingan kontainer di atas kapal yaitu (1) Pelaksanaan brefing dan arahan oleh mualim 1 pada foreman stevedore.(2) Pelaksanaan perawatan alat-alat lashing kontainer yang rutin (3) Pengoptimalan dinas jaga pelabuhan saat proses bongkar muat berlangsung (4) Penggunaan waktu istirahat yang sesuai dengan baik.
Kata Kunci : Awak Kapal, Lashing , Kontainer, Keselam
DEBUS (Early Bullying Detection) Training to Improve the Knowledge and Ability of Adolescent Cadres in Detecting Bullying Situations
Bullying is believed to be behavior that cannot be avoided and commonly occurs in school-aged children. Especially for children who are in poverty and living in slums, their risk of becoming aggressive and carry out bullying is higher due to the influence of their culture and environment. The research participants were members of the Sanggar Alang-alang community, most of whom live in Joyoboyo, which is a risky environment. The aim of this research is to form a cadre of teenagers who can detect bullying situations so that they can independently find out, analyze and report the situation to their caretaker or others with more authority. The research method is quasi experiment with a quantitative and qualitative approach. Quantitative data (n=7) was obtained from pre and post-test questionnaires to determine changes in knowledge after being given the intervention. Furthermore, qualitative data was obtained through semi-structured interview methods and case studies to determine field data, responses and implementation of the interventions provided. The intervention was carried out using psychoeducational training techniques given to selected teenagers from the members of the community. The results of the research showed that there was a significant difference in knowledge before and after the training (p=0.114). From the qualitative data, the participants showed the ability to detect, identify and analyze bullying situations and behaviors. They were also enthusiastic about becoming supervisory cadres in the community to channel the knowledge and skills they have gained. Based on these results, the DEBUS (Detecting Bully at Early Age) training is effective in increasing knowledge about bullying and giving the participants skills to detect bullying situations.Bullying dipercayai sebagai perilaku yang tidak bisa dihindari dan biasa terjadi pada anak usia sekolah. Khususnya pada anak yang berada dalam kemiskinan dan hidup di lingkungan kumuh, risiko mereka untuk menjadi agresif dan melakukan bullying lebih tinggi karena pengaruh dari lingkungan dan budaya mereka. Partisipan penelitian adalah anggota komunitas Sanggar Alang-alang yang sebagian besar hidup di Joyoboyo yang merupakan lingkungan berisiko. Tujuan penelitian ini yaitu membentuk kader remaja yang bisa mendeteksi situasi bullying agar mereka bisa secara mandiri mengetahui, menganalisis dan melaporkan situasi tersebut ke pendamping atau orang yang lebih berwenang. Metode penelitian yang dilakukan adalah quasi experiment dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif (n=7) diperoleh dari kuisoner pre dan post-test untuk mengetahui perubahan pengetahuan setelah diberikan intervensi. Selanjutnya, data kualitatif didapatkan melalui metode wawancara semi terstruktur serta studi kasus untuk mengetahui data lapangan, respon dan implementasi dari intervensi yang diberikan. Intervensi dilakukan dengan teknik psikoedukasi pelatihan yang diberikan pada remaja terpilih dari anggota sanggar. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan (p=0,114). Secara kualitatif, subjek menunjukkan kemampuan dalam deteksi, identifikasi, dan analisis situasi dan perilaku bullying. Mereka juga antusias untuk menjadi kader pengawas di sanggar untuk menyalurkan pengetahuan dan kemampuan yang mereka dapatkan. Berdasarkan hasil tersebut, pelatihan DEBUS (Deteksi Bully Sedari Dini) yang dilakukan efektif dalam meningkatkan pengetahuan tentang bullying serta memberikan subjek penelitian keterampilan untuk melakukan deteksi situasi bullying
Application of Cognitive Behavior Therapy (CBT) in the Treatment of Patients with Substance Induced Psychotic Disorder (SIPD)
Many people in Indonesia still use drugs with an estimated 4,8 million people from the entire population, and an increase of 0,15% compared to 2019. The type of drug that is often used is marijuana because it is relatively easy to obtain. Prolonged drug use can cause side effects, one of which is Substance Induce Psychotic Disorder (SIPD). Cognitive Behavior Therapy (CBT) is often given to treat psychosis so that the application of CBT to SIPD has a positive hypothesis. The aim of this study was to intervene in one of the patients with substance-induced psychotic disorder (SIPD). CBT was given to a 34-year-old patient of psychiatric hospital who suffered from SIPD due to prolonged consumption of marijuana. Researchers provide intervention in the form of Cognitive Behavior Therapy (CBT) with the aim of changing a weak belief system regarding the behavior of taking medication. The research method used in the research is qualitative case study research. CBT is effectively used as a therapeutic tool in shaping the subject’s negative thought patterns and behavior into more positive ones and can develop the subject’s potential. CBT can increase awareness of taking medication in SIPD patients. However, psychoeducation and additional interventions need to be provided, especially when the patient has returned home.Indonesia menghadapi tantangan besar dalam hal penggunaan narkoba. Diperkirakan 4,8 juta penduduk menggunakan narkoba, dan angka ini meningkat sebanyak 0,15% dibandingkan dengan tahun 2019. Jenis narkoba yang paling umum digunakan adalah ganja hal tersebut dikarenakan ganja relatif mudah didapatkan. Penggunaan narkoba dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai efek samping, salah satunya yaitu gangguan Substance Induced Psychotic Disorder (SIPD). Terapi Cognitive Behavior Therapy (CBT) terbukti efektif dalam mengobati psikosis, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki penerapannya pada pasien Substance Induced Psychotic Disorder (SIPD). CBT diberikan pada pasien RSJ berusia 34 tahun yang mengidap SIPD akibat konsumsi ganja secara berkepanjangan. CBT secara khusus menargetkan keyakinan negative terkait kepatuhan terhadap pengobatan. Peneliti menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif untuk menganalisis pengalaman pasien dengan CBT. CBT efektif dalam mengubah pola pikir dan perilaku negative pasien terkait dengan pengobatan. Dengan menumbuhkan pola pikir yang positif, CBT berkontribusi pada potensi pemulihan pasien. Penelitian ini juga menyoroti kebutuhan penting akan intervensi tambahan, seperti psikoedukasi, terutama setelah pasien keluar dari rumah sakit, untuk memastikan keberhasilan jangka panjang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Cognitive Behavior Therapy (CBT) efektif digunakan sebagai sarana terapi dalam pembentukan pola pikir dan perilaku subjek yang negatif menjadi lebih positif serta dapat mengembangkan potensi Subjek
Pelatihan Kontrol Diri Kepada Kader Remaja Sebagai Upaya Preventif Perilaku Seksual Berisiko
Faktor-faktor yang mendorong remaja ke dalam perilaku seksual berisiko muncul dari berbagai domain perkembangan remaja. Kurangnya kemampuan kontrol diri terhadap perasaan seksual merupakan salah satu penyebabnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan “MIKAN: Pahami dan Sebarkan” dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan menyampaikan kontrol perilaku, kontrol pikiran, dan kontrol keputusan pada kader remaja. Metode penelitian menggunakan pra-eksperimen, yakni one-group-pretest-posttest design degan metode purposive sampling, yaitu 6 anggota Sanggar X yang berusia 12-16 tahun. Peneliti menyusun sendiri alat ukur pengetahuan perilaku seksual berisiko dan kontrol diri. Pelatihan ini terdiri dari 4 sesi yang dilaksanakan dalam satu hari. Analisa data menggunakan paired sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa pelatihan “MIKAN: Pahami dan Sebarkan” efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan menyampaikan kontrol perilaku, kontrol pikiran, dan kontrol keputusan pada kader remaja
PERBEDAAN TINGKAT KEBERMAKNAAN HIDUP REMAJA AKHIR PAOA BERBAGAI STATUS IDENTITAS EGO DENGAN JENIS KELAMIN SEBAGAI KOVARIABEL
ABSTRAK INI MEMBAHAS TENTANG : PERBEDAAN TINGKAT KEBERMAKNAAN HIDUP REMAJA AKHIR PAOA BERBAGAI STATUS IDENTITAS EGO DENGAN JENIS KELAMIN SEBAGAI KOVARIABE
Hubungan antara Perilaku Prososial dengan Kesejahteraan Psikologis pada Penerima Beasiswa Bidikmisi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku prososial dengan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa bidikmisi. Perilaku prososial adalah perilaku yang bertujuan menguntungkan dan bermanfaat bagi orang lain tanpa memandang siapa orang lain tersebut. Kesejahteraan psikologis adalah istilah untuk menggambarkan kesehatan psikologis individu ketika fungsi psikologisnya positif. Penelitian dilakukan pada 246 mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi yang berusia 18-21 tahun. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner skala Prosocial Tendencies Measure (PTM) yang terdiri dari 23 aitem dan Ryff's Scales of Psychological Well-Being (RSPWB) yang terdiri dari 21 aitem. Teknik analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson menggunakan perangkat lunak IBM SPSS 25.0 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan jika terdapat hubungan antara perilaku prososial aspek altruism dan aspek menolong terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi, dan tidak terdapat hubungan antara perilaku prososial dalam aspek emosional, publik, dan krisis terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi
Perlawanan Simbolik Komunitas LGBT terhadap Stigma dan Diskriminasi
Konteks atau situasi adanya stigma dan diskriminasi terhadap komunitas LGBT di Indonesia masih kerap terjadi. Terlebih lagi di Indonesia sendiri pada tahun 2018, terdapat perluasan pasal dalam RUU KUHP mengenai kebijakan kriminalisasi komunitas LGBT. Perlawanan terhadap stigma dan diskriminasi itu perlu dilakukan dan dipahami untuk mampu mengambil peran dan membantu pemenuhan kesetaraan hak individu LGBT dan semua warga negara. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Studi Kasus. Hasil penelitian menemukan bahwa survival-technique merupakan karakteristik dari perlawanan simbolik yang dimunculkan oleh ketiga partisipan melalui proses penilaian kognitif yang mengacu pada tingkat bahaya, dan terdapat perasaan takut jika orang lain tidak menerima atau tidak suka terhadap komunitas LGBT, hal ini atas dasar mempertahankan keamanan dan keselamatan diri, sehingga memunculkan survival-technique. Perlawanan simbolik muncul tidak hanya dipicu melalui aturan, ideologi, atau pihak yang mendominasi, tetapi juga dipengaruhi oleh proses penilaian berbasis kognitif dan afektif, sehingga memunculkan karakteristik dari perlawanan simbolik
Pengaruh Efikasi Diri dan Penyesuaian Diri terhadap Stres Akademik pada Mahasiswa Masa Pandemi COVID-19
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efikasi diri dan penyesuaian diri terhadap stres akademik pada mahasiswa masa pandemi. Perubahan saat pendemi tersebut menyebabkan mahasiswa mengalami stres akademik dan peneliti ingin mengetahui ada tidaknya pengaruh antara efikasi diri dan penyesuaian diri terhadap stress akademik. Stres akademik yang dikembangkan dari Sarafino and Smith dan faktor yang mempengaruhi stres akademik adalah salah satunya efikasi diri yang disusun oleh Bandura dan penyesuian diri menggunakan teori Baker. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang sedang menjalani perkuliahan secara daring/online. Metode penelitian menggunakan tipe penelitian kuantitatif dengan alat pengumpulan data menggunakan survei melalui Google Form. Dalam menganalisis data menggunakan SPSS 25 for windows. Hasil analisis menunjukkan regresi menyebutkan bahwa terdapat 18,1% pengaruh secara bersamaan antara efikasi diri dan penyesuaian diri terhadap stres akademik. Sedangkan pengaruh antara efikasi diri terhadap stress akademik sebesar 68% dan penyesuaian diri terhadap stress akademik sebesar 10,8%
- …
