45 research outputs found
Pemberdayaan Masyarakat Tani melalui Penerapan Teknik Pascapanen dengan Teknik Pelilinan pada Buah Tomat di Nagari Tanjung Bonai Kec Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar
Nagari Tanjung Bonai khususnya Jorong Tanjung Modang merupakan daerah sentra pengembangan tanaman hortikultura. Hasil produksi tanaman hortikultura selain di pasarkan dalam nagari Lintau Buo Utara sendiri juga dipasarkan ke Propinsi Riau yaitu kota Pekanbaru. Permintaan masyarakat terhadap produk ini selalu meningkat dari waktu ke waktu terutama untuk daerah Pekanbaru. Permasalahan yang dialami mayarakat tani adalah komoditi hortikultura yang dijual dibeli dengan harga murah dan tidak mampu bersaing di pasaran. Produk luar negeri yang berada di pasaran mempunyai nilai mutu yang sesuai standar mutu, penampilan dan masa simpan yang lebih baik dari produk yang mereka jual. Selama ini masyarakat tani dalam memasarkan komoditi hortikultura langsung dibawa kepasaran tanpa ada perlakuan pascapanen. Petani tidak punya pengetahuan dalam hal penerapan teknik pascapanen, sementara komoditi hortikultura ini adalah komoditi yang cepat rusak sehingga akan mempengaruhi terhadap mutu dan umur simpan. Penanganan pascapanen dengan pelapisan lilin pada buah tomat dapat mencegah kerusakan dan memperpanjang umur simpan dan menjaga kesegaran serta harga jual masyarakat di pasaran bisa dipertahankan. Hasil yang telah dicapai pada kegiatan ini yaitu masyarakat telah mempunyai pengetahuan dan bisa menggunakan lilin lebah sebagai salah satu teknik penanganan pascapanen. Kelompok tani dapat melihat secara nyata dengan pelapisan lilin dapat memperpanjang umur simpan buah, mempertahankan kesegaran buah dan mempertahan warna kulit buah. Buah tomat tanpa pelilinan akan mengalami kerusakan lebih cepat dan umur simpan lebih pendek.
Kata kunci : Pelilinan , Pascapanen, Tanjung Bonai
AGRICULTURE COMMUNITYEMPOWERMENT THROUGH THE APPLICATION OF POST HARVEST ENGINEERING WITH WAXING TECHNIQUES ON TOMATO IN NAGARI TANJUNG BONAI KEC LINTAU BUO UTARA KABUPATEN TANAH DATAR
Dr. Ifmalinda, S.TP, MP1) and Omil Charmyn Chatib, S.TP, M.Si2)
Department of Agricultural Engineering Faculty of Agriculture Technology
University of Andalas, Padang
Email: [email protected]
 
Pemberdayaan Masyarakat Tani melalui Usaha Mandiri Tepung Beras di Nagari Bukit Tandang Kec. Bukit Sundi Kab. Solok
Nagari Bukit Tandang khususnya Jorong Parit merupakan daerah sentra pengembangan tanaman pangan khususnya tanaman padi di Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok juga merupakan sentra produksi padi dan beras di Propisinsi Sumatera Barat yang terkenal dengan beras Soloknya. Kondisi dengan penen padi dan produksi beras yang melimpah ini menggambarkan bahwa daerah Nagari Bukit Tandang relatif potensial untuk dikembangkan sebagai distributor dan USAha mandiri tepung beras di Kecamatan Bukit Sundi dan Kabupaten Solok. Progam pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan metode andragogi. Metode ini dilakukan dengan cara pemberian materi dengan penyuluhan dan melakukan praktek secara bersama-sama.Kegiatan yang dilakukan adalah 1) penyuluhan dan praktek penggunaan alat penepungan, 2) penyuluhan dan praktek penggunaan alat pengering semi mekanis menggunakan energi tenaga surya, 3) penyuluhan dan praktek penggunaan plastik kemasan dan alat sealer. Kegitan ini dilakukan pada kelompok tani Harapan Jaya. Data diperoleh dari hasil penepungan, pengeringan secara manual dan menggunakan alat. Proses penepungan dengan disk mill mampu memproduksi tepung sehari 20-30 kg/hari (delapan jam kerja/hari) berat basah tepung beras. Sedangkan menggunakan lesung dapat memproduksi tepung beras 5-6 kg/hari (delapan jam kerja/hari). Hasil pengeringan tepung dengan rumah pengering dapat meningkatkat kualitas tepung lebih bersih dengan kuantitas tepung yang tetap, apabila dibandingkan dengan pengeringan yang dilakukan di para-para menggunakan talam. Satu hari rumah pengering dapat mengeringkan tepung 2- 3 kali. Jika cuaca cerah rumah pengering dapat mengeringkan tepung 4 kali, sedangkan kondisi cuaca tidak cerah, hanya mampu mengeringkan tepung 2 kali penepungan. Rata-rata rumah pengering mampu mengeringkan tepung dalam sehari 10kg/hari. Sedangkan menggunakan para-para dan talam hanya mampu memproduksi 4 kg/hari
Identification of Coffee Fruit Consumption Based Mongoose Age
Methods of captive breeding of civet coffee is one solution to increase the production of civet coffee. The survey results into captivity writer Pangalengan mongoose in Bandung, age mongoose kept ranging between 1-4 years and male and female. In the case of feeding the coffee fruit, maintainer civet civet usually gives to each weighing about 3 kg feed. The amount of feed given is not all consumed mongoose. Until now there has been no regulation or standard amount of feed weight by age mongoose. The research aims to determine the amount of feed weight based age civet coffee fruit. The method used was completely randomized factorial design. The results showed no difference in the level of consumption of red fruit for civet coffee 2 years old and 4 years old mongoose namely the age of 4 years (771.67) g higher than 2 years old mongoose (642.94) g. Differences in the level of consumption of coffee berries are dark red to civet age 2 years and 4 years old mongoose mongoose ie 4 years of age (1183.50) g higher than the age of 2 years mongoose (668.89) g. Age 2 years the level of consumption of civet coffee berries are red and dark red there is no difference. The level of consumption of civet age of 4 years for coffee cherries red and dark red there is a difference, namely civet 4 years old consume more coffee berries are dark red
Study of Drying Temperature and Slice Thickness on The Quality of Dragon Fruit Plant Stem Flour (Hylocereus sp.)
Cactus plants include the stems of dragon fruit plants (Hylocereus sp.), which have nutrients that may be good for human health. These can also be used to make flour because they have the ability to replace wheat flour by up to 25% and have been used in a variety of processed goods, including noodles, yoghurt, cakes, puddings, cookies, and jelly drinks Abundant dragon fruit plant stems will come to waste if not utilized optimally, so it is necessary to process dragon fruit stems by processing them into flour. One of the stages of making flour is drying, which aims to remove the water content of the material to a certain extent to get maximum results and can extend the shelf life of flour. This study aimed to examine the effect of the appropriate drying temperature and slice thickness on the quality of dragon fruit stem flour using a rack-type oven with gas as a heat source. This study used an experimental method with a Completely Randomized Design arranged in a factorial manner consisting of 2 factors: drying temperature and slice thickness. The results showed that the best treatment was at a drying temperature of 60°C with a thickness of 2 mm, as seen from the observations, namely the relative humidity of 28,51 and the fineness modulus of 1,030
Application of Capacitive Sensor for Measuring Grain Moisture Content Based on Internet of Things
Moisture content is one of the factors that determine the selling value of grains. A good moisture content by standard is around 14%. Determination of moisture content is generally done using an oven, for farmers this method is quite complicated because farmers have to bring samples to the laboratory. This study aims to develop a real-time measurement of grain moisture content using an IoT-based capacitive sensor, which is able to measure the moisture content of crop yields in the form of grains and is monitored directly using Android in realtime. This research begins by designing a schematic of the circuit system, designing the structure of the tool, making the tool, carrying out the tool calibration process, testing the tool to measure the moisture content in different grain samples including rice, corn, green beans, and beans. grains with five variations of moisture content at 9%-27% intervals, validated the moisture content measuring instrument test with several observations including grain moisture content, tool response time, and tool error. Based on the results of the research, the calibration results of the research moisture content measuring instrument, the overall R2 value is 0,9902; which means that the measurement results of the research instrument are close to the actual value. The results of the analysis of observations of moisture content obtained an average difference in reading values ranging from 0,19%-0,41% with an average percentage error obtained ranging from 1,18%-2,12% and an average response time reading of 26,33 sec.sponse time reading of 26,33 sec.Kadar air merupakan salah satu faktor yang menentukan nilai jual gabah. Kadar air yang baik menurut standar adalah sekitar 14%. Penentuan kadar air umumnya dilakukan dengan menggunakan oven, bagi petani cara ini cukup rumit karena petani harus membawa sampel ke laboratorium, selain itu juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pengukuran kadar air gabah secara real-time menggunakan sensor kapasitif berbasis IoT, yang mampu mengukur kadar air hasil panen berupa gabah dan dipantau langsung menggunakan Android secara realtime. Penelitian ini dimulai dengan merancang skema rangkaian sistem, merancang struktur alat, membuat alat, melakukan proses kalibrasi alat, menguji alat untuk mengukur kadar air pada sampel biji-bijian yang berbeda termasuk biji-bijian, jagung, kacang hijau, dan kacang-kacangan. kedelai dengan lima variasi kadar air pada selang waktu 9%-27%, melakukan validasi uji kadar air alat ukur dengan beberapa pengamatan meliputi kadar air gabah, waktu respon alat, dan kesalahan alat serta membandingkan hasil pengukuran kadar air gabah menggunakan alat ini. instrumen. ukuran standar dengan alat ukur yang dirancang. Berdasarkan hasil penelitian maka alat penelitian yang dirancang dapat mengukur kadar air keempat sampel uji dengan baik, dari hasil kalibrasi alat ukur kadar air penelitian didapatkan nilai R2 keseluruhan sebesar 0,9902; yang artinya hasil pengukuran instrumen penelitian mendekati nilai sebenarnya. Hasil analisis pengamatan kadar air diperoleh rata-rata selisih nilai pembacaan berkisar antara 0,19%-0,41% dengan rata-rata persentase kesalahan yang diperoleh berkisar antara 1,18%-2,12% dan rata-rata waktu respon. pembacaan 26,33 detik
Rapid Prediction of Moisture and Ash Content in Sungkai Leaves Herbal Tea (Peronema canescens Jack.) using NIR Spectroscopy
It is imperative to measure the chemical composition of Sungkai leaf herbal tea in order to produce high-quality goods that promote human health. The moisture and ash content of Sungkai leaf herbal tea are critical parameters for assessing the quality of herbal tea. This study aimed to evaluate an NIR spectroscopy method for quickly determining the moisture and ash content of Sungkai leaf herbal tea. Sungkai leaf herbal tea has a moisture content between 3.93% and 7.59%, and an ash content between 3.94% and 5.51%. We developed a calibration model using partial least squares (PLS) with several pretreatment methods. We split the data into calibration and prediction sets and performed an internal random cross-validation. A PLS calibration model with Rp2 = 0.86, a root means square error of prediction (RMSEP) of 0.30 (%), and a residual predictive deviation (RPD) of 2.76, performed exceptionally well at predicting the moisture content when the standard normal variate (SNV) pre-treatment was applied to the NIR spectra. The Savitzky-Golay derivative (a 9-point smoothing window, second-order polynomial, dg2) pre-treatment method also generated the best PLS calibration model for ash content determination, with Rp2 = 0.70, RMSEP = 0.16 (%), and RPD = 1.86. NIR spectroscopy can quickly determine the moisture and ash content of Sungkai leaf herbal tea, as suggested by these findings
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TANI MELALUI PENERAPAN TEKNIK PASCAPANEN DENGAN TEKNIK PELILINAN PADA BUAH TOMAT DI NAGARI TANJUNG BONAI KEC LINTAU BUO UTARA KABUPATEN TANAH DATAR
ABSTRAK
Nagari Tanjung Bonai khususnya Jorong Tanjung Modang merupakan daerah sentra pengembangan tanaman hortikultura. Hasil produksi tanaman hortikultura selain di pasarkan dalam nagari Lintau Buo Utara sendiri juga dipasarkan ke Propinsi Riau yaitu kota Pekanbaru. Permintaan masyarakat terhadap produk ini selalu meningkat dari waktu ke waktu terutama untuk daerah Pekanbaru. Permasalahan yang dialami mayarakat tani adalah komoditi hortikultura yang dijual dibeli dengan harga murah dan tidak mampu bersaing di pasaran. Produk luar negeri yang berada di pasaran mempunyai nilai mutu yang sesuai standar mutu, penampilan dan masa simpan yang lebih baik dari produk yang mereka jual. Selama ini masyarakat tani dalam memasarkan komoditi hortikultura langsung dibawa kepasaran tanpa ada perlakuan pascapanen. Petani tidak punya pengetahuan dalam hal penerapan teknik pascapanen, sementara komoditi hortikultura ini adalah komoditi yang cepat rusak sehingga akan mempengaruhi terhadap mutu dan umur simpan. Penanganan pascapanen dengan pelapisan lilin pada buah tomat dapat mencegah kerusakan dan memperpanjang umur simpan dan menjaga kesegaran serta harga jual masyarakat di pasaran bisa dipertahankan. Hasil yang telah dicapai pada kegiatan ini yaitu masyarakat telah mempunyai pengetahuan dan bisa menggunakan lilin lebah sebagai salah satu teknik penanganan pascapanen. Kelompok tani dapat melihat secara nyata dengan pelapisan lilin dapat memperpanjang umur simpan buah, mempertahankan kesegaran buah dan mempertahan warna kulit buah. Buah tomat tanpa pelilinan akan mengalami kerusakan lebih cepat dan umur simpan lebih pendek.
Kata kunci : Pelilinan , Pascapanen, Tanjung Bonai
AGRICULTURE COMMUNITYEMPOWERMENT THROUGH THE APPLICATION OF POST HARVEST ENGINEERING WITH WAXING TECHNIQUES ON TOMATO IN NAGARI TANJUNG BONAI KEC LINTAU BUO UTARA KABUPATEN TANAH DATAR
Dr. Ifmalinda, S.TP, MP1) and Omil Charmyn Chatib, S.TP, M.Si2)
Department of Agricultural Engineering Faculty of Agriculture Technology
University of Andalas, Padang
Email: [email protected]
ABSTRACT
Nagari Tanjung Bonai in particular Jorong Tanjung Modang is the center of horticultural crop development. The production of horticultural crops in addition to being marketed in Lintau Buo Utara itself is also on the market to Riau Province, Pekanbaru city. Public demand for this product always increases from time to time especially for Pekanbaru area. The problems experienced by farmers are horticultural commodities that are sold are bought cheaply and can not compete in the market. Overseas products on the market have a quality value that conforms to the quality standard, appearance and better shelf life of the products they sell. So far, farmers in marketing horticultural commodities directly brought to the market without any postharvest treatment. Farmers have no knowledge in the application of post-harvest techniques, while horticultural commodities are rapidly damaged commodities that will affect quality and shelf life. Postharvest handling with wax coating on tomatoes can prevent damage and extend shelf life and maintain freshness and the selling price of the community on the market can be maintained. The result that has been achieved in this activity is that the community already has knowledge and can use beeswax as one of postharvest handling technique. Farmer groups can see significantly with wax coatings to extend fruit shelf life, maintain fruit freshness and maintain fruit skin color. Unleaded tomato fruit will be damaged faster and shorter shelf life.
Keyword: Waxing, Post Harvest, Tanjung Bona
PENGARUH ETHEPON DAN DAUN GAMAL TERHADAP KARAKTERISTIK MUTU BUAH PISANG JANTAN (Musa paradisiaca var paradisiaca)
Buah pisang dikatakan baik ketika buah pisang mengalami pemasakan di pohon, namun sangat sulit mendapatkan karakteristik mutu buah pisang yang baik di pasar karena kebanyakan petani yang menjual buah pisang tidak bisa menunggu buah pisang tersebut mengalami proses pematangan di pohon sebab buah pisang dapat mengalami pembusukan sebelum dipasarkan. Salah satu cara untuk menghindari hal tersebut dapat dilakukan dengan cara pemeraman. Bahan pemeraman yang digunakan untuk buah pisang Jantan yaitu ethepon dan daun gamal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik mutu buah pisang Jantan menggunakan bahan ethepon dan daun gamal. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap 1 Faktor yaitu jenis bahan pemeraman. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji ANOVA menunjukkan pemberian ethepon dan daun gamal memberikan pengaruh nyata terhadap kekerasan, total padatan terlarut, vitamin C, analisis warna (hue), dan uji organoleptik. Konsentrasi daun gamal 20% merupakan perlakuan terbaik terhadap perubahan mutu pisang Jantan. Nilai pengamatan yang diperoleh pada perlakuan terbaik yaitu susut bobot sebesar 5,199 %, total padatan terlarut 26,60 Brix, organoleptik tekstur 3,07 (lunak) dan organoleptik rasa 3,56 (manis).Kata Kunci: Pisang Jantan, Karakteristik Mutu Buah, Ethepon, Daun Gamal
Kajian Jenis Media Simpan Terhadap Mutu Pisang Cavendish (Musa parasidiaca ‘Cavendish’)
Abstrak. Pisang Cavendish merupakan salah satu jenis pisang yang cukup potensial dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat, baik untuk olahan maupun untuk santapan segar. Pisang merupakan buah klimakterik yang tetap mengalami proses kematangan walaupun telah dipanen dan diikuti dengan proses kerusakan karena buah tetap melangsungkan proses respirasi dan metabolisme (Sumadi, et al., 2004). Hal ini merupakan kendala dalam upaya memperpanjang umur simpan buah pisang Cavendish. Cara mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan melakukan perbaikan penanganan pascapanen, agar kualitasnya dapat dipertahankan setelah panen dilakukan. Pelilinan dan pemilihan media simpan merupakan salah satu teknologi pascapanen dalam mempertahankan mutu produk yang berfungsi mengurangi kerusakan produk pertanian akibat proses respirasi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh media simpan berupa pasir dan serbuk gergaji terhadap mutu dan umur simpan pisang yang telah dilapisi lilin selama penyimpanan. Pemberian jenis media simpan selama penyimpanan buah pisang berpengaruh terhadap mutu pisang yaitu nilai kerusakan mekanis, susut bobot, TPT, hue, kekerasan dan kadar air buah pisang selama penyimpanan. Umur simpan buah pisang yang terlama terdapat pada perlakuan ada pemberian media simpan serbuk gergaji (A0M1) dengan 15 hari umur simpan. Study Media Types Storage on Cavendish Banana Quality (Musa parasidiaca ‘Cavendish’) Abstract. Cavendish banana is one type of banana is quite potential and widely consumed by the community, both for processing and for fresh cuisine. Banana is a climacteric fruit that continues to experience the process of maturity although it has been harvested and followed by the destruction process because the fruit continues the process of respiration and metabolism (Sumadi, et al., 2004). This is an obstacle in an effort to extend the life of the Cavendish banana shelf. How to overcome these problems is to make improvements postharvest handling, so that quality can be maintained after harvest is done. Pelilinan and the selection of media store is one of the postharvest technology in maintaining product quality that serves to reduce the damage of agricultural products due to respiration process. The purpose of this research is to examine the effect of storage media in the form of sand and sawdust on the quality and life of banana shelf that has been coated wax during storage. Giving the type of storage media during the storage of bananas affect the quality of bananas are the value of mechanical damage, weight loss, TPT, hue, hardness and moisture content of bananas during storage. The oldest banana-saving age was found in the treatment of sawdust storage media (A0M1) with 15 days of shelf life. fermentation box to the environment in the outside. The results showed that the ideal temperature of fermentation in wooden boxes was obtained in the fifth day, while the ideal temperature of fermentation in Styrofoam was obtained in the third day. Heat transfer in the wood material is higher than in the Styrofoam material. This was due of the heat in a wooden box go out faster, so that the temperature in the fermentation process may be lower than using a Styrofoam box. The result of cocoa seed fermentation using a wooden box obtained a good cocoa seed on the fifth day of fermentation and while using a Styrofoam box cocoa seed were moldy in the fifth day
