222 research outputs found

    PENGARUH PEMEPARAN DEBU KAPAS TERHADAP PENURUNAN FEV-1 PADA PEKERJA BAGIAN PEMINTALAN UNIT SPD. II PT. SINAR PANTJA DJAJA KODYA SEMARANG

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemaparan debu kapas terhadap penurunan FEV-1 yang dihubungkan dengan masa kerja (lama pemaparan). Dari hasil pengukuran di lapangan menunjukkan bahwa kadar debu kapas di bagian pemintalan unit SPD II PT Sinar Pantja Djaja Semarang, sudah melebihi NAB. Dan dari analisa data membuktikan bahwa: a.adanya pengaruh yang bermakna antara besarnya kadar debu kapas terhadap besrnya persentase penurunan FEV1. b.Tidak ada hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan penurunan FEV1 persen, pada tenaga kerja bagain Ring Spining dan Carding. Berbagai beban selalu dihadapi oleh pekerja dalam melakukan pekerjaan, sebagai hasil interaksi lingkungan di tempat kerja. Kesehatan kerja jelas merupakan aspek yang sangat menentukan dalam upaya mencapai produktivits dan kesejahteraan yang setinggi-tingginya. Penurunan fungsi paru ini selalu lebih banyak didapatkan pada tenaga kerja yang mempunyai riwayat byssinosis. Dan akhirnya pada orang yang menderita penyakit berat, maka gejala bysinosis tersebut tetap ada setiap hari kerja, dan gejala ini tidak akan berkurang selama tenaga kerja tersebut masih tetap bekerja di pabrik tekstil. Kata Kunci: PENGARUH DEBU KAPA

    PENEMPATAN PERHENTIAN KERETA API PADA JALUR RANGKASBITUNG – LABUAN

    Get PDF
    AbstractMass Transportation had become a problem encountered by the Dutch colonial government in their colonies, this includes Banten. These conditions encouraged the development of railway as a solution. The Dutch government successfully opened the railway between Batavia to Anyerkidul, Staatsspoorwegen expanded the line by opening railway from Rangkasbitung to Labuan. The problem discussed in this paper concerned with the placement of a train shelter on the railway line accross Rangkasbitung to  Labuan. This paper is descriptive by using spatial approach data analysis. Builders of the railway line in Banten, including Rangkasbitung - Labuan crossing, aimed to open the inclosure of Banten regions, the exploitation of natural resources, and to reduce security threats that often occurred in the area. The placement of train stops at Rangkasbitung to Labuan traffic was done with the consideration on residential areas, passenger destinations, locations of railway crossing, refueling, and government businesses. 

    Ucapan Terima Kasih

    Get PDF

    JALUR KERETA API PELABUHAN CIREBON: JEJAK ANGKUTAN KOMODITAS PERDAGANGAN PADA MASA KOLONIAL BELANDA 1897-1942

    Get PDF
    The high demand for various plantation commodities in the world market, especially sugar, encourages the construction and operation of railroad lines in the Cirebon region. The construction and operation of railroad lines in Cirebon are directed to facilitate commodity traffic to be sent through the Port of Cirebon. The problem raised in this paper is related to what archeological remains are markers of the existence of the Cirebon-Cirebon Port Railway. The method used to answer these problems is the descriptive analysis method. Data collection was carried out through literature study and field observations. Dutch colonial railroad relics on the track in the form of the railbed, signal pole structure, boundary stakes, bridge structure, level crossing pole structure, and rail rods that are still installed. The existence of the railroad remains is a proof of the activities of the train transportation mode to the Port of Cirebon. Tingginya permintaan berbagai komoditas perkebunan di pasaran dunia, terutama gula mendorong dibangun dan dioperasikannya jalur kereta api di wilayah Cirebon. Pembangunan dan pengoperasian jalur kereta api di Cirebon diarahkan untuk memperlancar lalu lintas komoditas yang akan dikirim melalui Pelabuhan Cirebon. Salah satu bagian dari jalur kereta api yang dibangun, adalah jalur Stasiun cirebon - Pelabuhan Cirebon. Permasalahan yang diangkat pada tulisan ini, adalah berkenaan dengan tinggalan arkeologi apa saja yang menjadi penanda keberadaan Jalur kereta api Cirebon - Pelabuhan Cirebon. Metode yang dipergunakan untuk menjawab permasalahan tersebut, adalah Metode deskriptif analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui studi Pustaka, dan pengamatan lapangan. Saat ini, Jalur kereta Cirebon - Pelabuhan merupakan jalur tidak aktif di wilayah Cirebon. Tinggalan perkeretaapian masa Kolonial belanda di jalur tersebut berupa railbed, struktur tiang sinyal, patok batas, patok KM, struktur jembatan, struktur tiang perlintasan sebidang, dan batang rel yang masih terpasang. Keberadaan tinggalan perkeretaapian tersebut merupakan bukti aktifitas moda angkutan kereta api menuju Pelabuhan Cirebon

    CIREBON PRUJAKAN RAILWAY STATION ON THE SPATIAL PLAN OF CIREBON IN THE DUTCH COLONIAL ERA (1897-1942)

    Get PDF
    Cirebon Prujakan Station is one of the cultural heritage buildings in Cirebon City. This station was built NV. SCS to facilitate the Semarang – Cirebon train journey. This station has an important value in the economy of Cirebon and its surroundings, because it is part of the sugar trade traffic in Cirebon. The problem raised in this paper relates to the placement of the Cirebon Prujakan station as part of the Dutch colonial government's strategic policy in the field of rail transportation, especially in Cirebon. The method used in writing is descriptive analysis with a spatial approach. Data was collected through field surveys and literature review. Cirebon Prujakan Station was built by NV. SCS to facilitate the Semarang – Cirebon train journey. This station has a branch to the Port of Cirebon to facilitate the transportation of commodities to be sent by ship. Geographically, Cirebon Prujakan Station is in a strategic location because it is close to the center of government and is located at the rail transportation node that connects the northern route of Java Island.     Stasiun Cirebon Prujakan merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kota Cirebon. Stasiun ini dibangun NV. SCS untuk memfasilitasi perjalanan kereta api Semarang – Cirebon. Stasiun ini memiliki nilai penting dalam perekonomian Cirebon dan sekitarnya, karena menjadi bagian dari lalu lintas perdagangan Gula di Cirebon. Permasalahan yang diangkat pada tulisan ini berkenaan dengan penempatan stasiun Cirebon Prujakan sebagai bagian dari kebijakan stretegis pemerintah Kolonial Belanda di bidang angkutan kereta api, khususnya di Cirebon. Metode yang digunakan pada tulisan adalah deskriptif analisis dengan pendekatan keruangan. Pengumpulan data dilakukan melalui survey lapangan dan kajian pustaka. Stasiun Cirebon Prujakan dibangun oleh NV. SCS untuk memfasilitasi perjalanan kereta api Semarang – Cirebon. Stasiun ini memiliki percabangan ke Pelabuhan Cirebon untuk memfasilitasi pengangkutan komoditas yang akan dikirim melalui kapal laut. Secara geografis, Stasiun Cirebon Prujakan berada di lokasi strategis karena dekat dengan pusat pemerintahan dan berlokasi pada simpul transportasi kereta api yang menghubungkan jalur utara Pulau Jawa.  Cirebon Prujakan Station is one of the cultural heritage buildings in Cirebon City. This station was built NV. SCS to facilitate the Semarang – Cirebon train journey. This station has an important value in the economy of Cirebon and its surroundings, because it is part of the sugar trade traffic in Cirebon. The problem raised in this paper relates to the placement of the Cirebon Prujakan station as part of the Dutch colonial government's strategic policy in the field of rail transportation, especially in Cirebon. The method used in writing is descriptive analysis with a spatial approach. Data was collected through field surveys and literature review. Cirebon Prujakan Station was built by NV. SCS to facilitate the Semarang – Cirebon train journey. This station has a branch to the Port of Cirebon to facilitate the transportation of commodities to be sent by ship. Geographically, Cirebon Prujakan Station is in a strategic location because it is close to the center of government and is located at the rail transportation node that connects the northern route of Java Island.     Stasiun Cirebon Prujakan merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kota Cirebon. Stasiun ini dibangun NV. SCS untuk memfasilitasi perjalanan kereta api Semarang – Cirebon. Stasiun ini memiliki nilai penting dalam perekonomian Cirebon dan sekitarnya, karena menjadi bagian dari lalu lintas perdagangan Gula di Cirebon. Permasalahan yang diangkat pada tulisan ini berkenaan dengan penempatan stasiun Cirebon Prujakan sebagai bagian dari kebijakan stretegis pemerintah Kolonial Belanda di bidang angkutan kereta api, khususnya di Cirebon. Metode yang digunakan pada tulisan adalah deskriptif analisis dengan pendekatan keruangan. Pengumpulan data dilakukan melalui survey lapangan dan kajian pustaka. Stasiun Cirebon Prujakan dibangun oleh NV. SCS untuk memfasilitasi perjalanan kereta api Semarang – Cirebon. Stasiun ini memiliki percabangan ke Pelabuhan Cirebon untuk memfasilitasi pengangkutan komoditas yang akan dikirim melalui kapal laut. Secara geografis, Stasiun Cirebon Prujakan berada di lokasi strategis karena dekat dengan pusat pemerintahan dan berlokasi pada simpul transportasi kereta api yang menghubungkan jalur utara Pulau Jawa. 

    Indeks

    Get PDF

    Sengkedan: Bentuk Rekayasa Lingkungan untuk Permukiman dan Pertanian

    Full text link
    Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan pemanfaatan sengkedan oleh masyarakat dalam merekayasa lahan miring untuk memenuhi kebutuhan akan lahan permukiman dan pertanian. Pemanfaatan sengkedan untuk rekayasa lahan miring oleh masyarakat Sunda sudah dilakukan sejak zaman dahulu dan terus berlanjut hingga saat ini. Teknologi tersebut hingga saat ini masih tetap aktual dalam upaya mengelola lahan miring agar dapat dimanfaatkan sebagai lahan permukiman, pertanian, dan keagamaan. Metode penulisan yang dipergunakan pada tulisan ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penggunaan sengkedan sebagai upaya merekayasa lahan miring merupakan bentuk rekayasa lingkungan oleh masyarakat Sunda dengan tetap mempertahankan keseimbangan alam. Pemanfaatan bagian lereng untuk pemukiman dan pertanian diimbangi dengan mempertahankan bagian puncak sebagai kawasan hutan. Melalui upaya tersebut, daur hidrologi tetap terjaga keseimbangannya, karena ketika turun hujan air masih bisa menyerap ke dalam tanah dan keluar dari dinding teras melalui celah di antara batu. Proses pengelolaan lahan tersebut diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui berbagai ajaran adat dalam bentuk pamali, buyut, tabu atau pantang larang. Perubahan pemanfaatan lingkungan dilakukan dengan tanpa pengrusakan dan keseimbangan ekologi tetap dipertahankan

    Analisis Eksistensi Sektor Pertanian terhadap Pengurangan Kemiskinan di Pedesaan dan Perkotaan

    Full text link
    Sumber daya alam di Indonesia berlimpah, Produk Domestik Brutonya telah masuk 20 terbesar di dunia, volume Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan alokasi anggaran penanggulangan kemiskinan cenderung terus meningkat, dan bahkan utang untuk pembiayaan pembangunan juga meningkat tajam, tetapi jumlah orang miskin sulit turun. Tujuan studi ini untuk menganalisis peran sektor pertanian terhadap pengurangan kemiskinan di perdesaan dan perkotaan. Pendekatan analisis deskriptif dan kuantitatif digunakan untuk menjawabnya. Hasil temuan menunjukkan bahwa sektor pertanian berperan penting terhadap pengurangan kemiskinan di perdesaan dibandingkan perkotaan. Sedangkan di wilayah perkotaan, sektor industri berperan penting dalam mengurangi kemiskinan. Sektor pertanian tetap menjadi kunci dan sebagai leading sector dalam mengurangi kemiskinan secara agregat, mengingat kemiskinan terbesar terdapat di perdesaan. Kebijakan pemerintah diharapkan mampu langsung menuju pada pusat di mana kemiskinan tersebut berada

    SKETSA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH

    Get PDF
    Multicultural education is learning habituation or culture regardless of differences in gender, social class, ethnicity, ethnicity, religion, and culture. Implicitly, the Al-Qur'an and Hadith mention multicultural education, among others, it is found in the Q.S. Al-Hujurat: 13 about tribes and nations, and Q.S. Ar-Rum: 22 about language and skin color. The topic of this research is a sketch of multicultural education contained in the Al-Qur'an and Sunnah which will be used as a basis for finding models and methods in multicultural education. A sketch here can be interpreted as a picture or painting that is still general and requires in-depth study to understand it completely.The method used in this research is a literature study, which tries to reveal by analyzing textually and contextually. Textual analysis is carried out by using several relevant interpretations and journals, while contextual analysis is the writer's understanding so that it forms a complete understanding. Based on the results of this analysis, multicultural education is to instill sympathy, respect, appreciation, and empathy for adherents of different religions and cultures.Therefore, to become a reference in implementing multicultural education, important components or elements in a system are needed to process the achievement of the expected goals, namely 1) Strengthening equality rather than differences, 2) Mutual trust and mutual understanding, 3) Tolerance of differences, 4) Discussing is not imposing an opinion
    corecore