27 research outputs found
Respon Morfologis Dan Fisiologis Beberapa Varietas Kedelai (Glycine Max L. Merrill) Di Tanah Masam
The aim of the research was to determine the morphological and physiological response of severalsoybean varieties in acid soil. This research was conducted at the screen house at Faculty ofAgriculture, University of North Sumatra-Medan (± 25 m asl) from April-August 2014, using arandomized block design with 2 factors ie varieties (Tanggamus, Detam 2, Anjasmoro and Detam1) and media (liming and addition of sulfur). The parameters measured were plant height, rootlength, number of branches, leaf area, days of flowering, the amount of chlorophyll a and b,harvesting age, number of pods per sample, number of containing pods per sample. The resultsshowed that the varieties significantly different the parameters of leaf area, days to flowering,harvesting age, number of pods per sample and the number of containing pods per sample. Themedia had no significant effect on all parameters were observed
Studi Radiosensitivitas Kedelai [Glycine Max (L) Merr] Varietas Argomulyo Melalui Irradiasi Sinar Gamma
Benih-benih kedelai dari varietas Argomulyo diiradiasi sinar gamma untuk meningkatkan keragaman genetik, memperbaiki morfologi tanaman dan nantinya untuk mendapatkan produksi hasil yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui radiosensitivitas tanaman kedelai [Glycine max (L) Merr ] varietas Argomulyo melalui irradiasi sinar gamma dan mengetahui respon pemberian tingkat irradiasi mikro sinar gamma terhadap pertumbuhan dan perkembangan dari benih kedelai turunan pertama (M ). Penelitian ini 1merupakan percobaan faktor tunggal dosis irradiasi yang terdiri dari delapan taraf, yaitu 0 Gy, 200 Gy, 400 Gy, 600 Gy, 800 Gy, dan 1000 Gy. Untuk mendapatkan nilai Lethal Dosis 50 (LD ), digunakan program Curve-fit 50Analysis. Untuk mengetahui respon pemberian tingkat irradiasi mikro sinar gamma, benih kedelai yang diuji adalah benih kedelai varietas Argomulyo yang diirradiasi dengan dosis rendah sinar gamma (micro mutation) dengan dosis sedikit dibawah LD yaitu 0 Gy, 50 Gy, 100 Gy, 150 Gy dan 200 Gy. Hasil penelitian menunjukkan 50 bahwa nilai Lethal Dosis 50 (LD ) terdapat pada dosis 457,178 Gy. Keragaman yang diperoleh dari tinggi 50 tanaman, jumlah cabang, jumlah polong, jumlah polong hampa dan jumlah biji pada generasi M mempengaruhi 1 pertumbuhan dan perkembangan tanaman baik secara kualitatif dan kuantitatif yang akhirnya akan mempengaruhi produksi tanaman
Keragaan Fenotipe Berdasarkan Karakter Agronomi Pada Generasi F2 Beberapa Varietas Kedelai (Glycine Max L. Merril.)
Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaan fenotipe berdasarkan karakter agronomi dan pewarisan maternal dari tetua betina pada persilangan resiprokal generasi F2 beberapa varietas kedelai. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Medan, dimulai Juni 2015 sampai September 2015 menggunakan hasil persilangan kombinasi antara varietas V1 : Anjasmoro, V2 : Detam II, V3 : Grobogan sebagai tetua dengan empat kombinasi persilangan G1 : Anjasmoro x Detam II, G2 : Detam II x Anjasmoro, G3 : Detam II x Grobogan, G4 : Grobogan x Detam II dengan uji t. Data dianalisis dengan Uji Sebaran Normalitas dan Heritabilitas. Parameter diamati adalah umur berbunga, tinggi tanaman, jumlah cabang primer, umur panen, jumlah polong berbiji 1, jumlah polong berbiji 2, jumlah polong berbiji 3, jumlah polong berisi per tanaman, jumlah polong hampa per tanaman, jumlah biji polong berbiji 1, jumlah biji polong berbiji 2, jumlah biji polong berbiji 3, jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman dan bobot 100 biji. Hasil uji t F2 dan tetua betina menunjukkan genotipe persilangan G1, G2, G3, dan G4 berbeda nyata terhadap jumlah cabang primer, umur panen, jumlah polong berbiji 1, jumlah polong berbiji 3, jumlah polong berisi per tanaman, jumlah biji polong berisi 1, jumlah biji polong berisi 3, jumlah biji per tanaman, dan bobot biji per tanaman.. Uji t F1 dan F2 menunjukkan berbeda nyata terhadap umur berbunga, jumlah cabang primer, umur panen, jumlah polong berbiji 2, jumlah polong berbiji 3, jumlah polong berisi per tanaman, jumlah biji polong berisi 2, jumlah biji polong berisi 3, jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman, dan bobot 100 biji. Sebaran frekuensi karakter agronomis menunjukkan kurva tidak berdistribusi normal karena segregasi tertinggi terjadi pada F2
Pengaruh Pemberian Mva (Mikoriza Vesicular Arbuskular) Terhadap Pertumbuhan Stump Karet Klon Pb 260 (Hevea Brasiliensis Muell Arg.) Dan Serapan Hara Pada Berbagai Kadar Air Tanah Di Rumah Kasa
Mikoriza arbuskular merupakan jamur akar yang dapat meningkatkan ketahanan bibit yang diinfeksinya lebih baik dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi jika ditanam ke lapang. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian MVA (Mikoriza VesicularArbuskular) terhadap pertumbuhan stump karet Klon PB 260 (Hevea Brasiliensis MUELL Arg.) dan serapan hara pada berbagai kadar air tanah di rumah kasa. Penelitian dilakukan pada akhir Maret 2014 dan selesai pada pertengahan Agustus 2014. Isolat MVA yang digunakan adalah Acaulospora sp 1, Acaulospora sp 2 dari hasil penelitian HB 2013 dan Glomus sp yang berasal dari koleksi Laboratorium Biologi Tanah FPUSU. Penelitian ini dilakukan di rumah kasa FP USU, dengan menggunakan rancangan petak terpisah. Sebagai petak utama adalah kadar air (100, 80 dan 60% kapasitas lapang). Sebagai anak petak adalah perlakuan MVA sebanyak 100g inokulum/polibeg yang terdiri dari tanpa inokulasi dan diinokulasi dengan berbagai isolat MVA. Setiap kombinasi perlakuan diulang empat kali. Variabel yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman (pertambahan diameter batang) yang diamati setiap minggu, bobot kering tanaman, serapan hara N dan P, derajat infeksi akar pada akhir percobaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan kadar air tanah menurunkan serapan unsur hara N dan P oleh tanaman. Pada kondisi kadar air tanah 80% kapasitas lapang diperoleh pertambahan diameter batang, serta serapan hara N, P tertinggi pada tanaman yang diinolulasi dengan Acaulospora Sp1. Pada kondisi kadar air tanah 60% kapasitas lapang, pertambahan diameter batang tertinggi diperoleh pada tanaman yang diinokulasi dengan Glomus sp
Respon Terbentuknya Tunas Mikro Pada Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg) Akibat Lama Penyinaran Dan GA3
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyinaran dan teknik aplikasi GA3 terhadap pembentukan tunas mikro pada tanaman karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg.). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Microcutting Tanaman Karet PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Gunung Pamela Tebin Tinggi, Sumatera Utara, Medan pada April 2015- Juli 2015,menggunakan rancangan acak lengkap dengan 2 faktor perlakuan yaitu lama penyinaran dan konsentrasi GA3 dengan 7 ulangan. Peubah amatan yang diamati adalah persentase eksplan membentuk tunas dan umur munculnya tunas. Hasil penelitian menunjukkan lama penyinaran dan konsentrasi GA3 serta interaksi keduanya belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase eksplan membentuk tunas
Respon Morfologi Tanaman Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill) Varietas Anjasmoro Terhadap Beberapa Iradiasi Sinar Gamma
Soybean was the self pollinated plant with low genetic diversity. The gamma irradiation was used toinduced the mutation as the genetic diversity. The increase of the genetic diversity would make theeasy selection of certain growth character. The effect of gamma irradiation on the first phase ofplant growth would affected the morphological performance and the plant yield. The aim of theresearch was to determine the morphological response of soybean plant (Glycine max (L.) Merill)Anjasmoro variety to the gamma irradiation. The research was priored by inducing the seed ofAnjasmoro variety with several gamma irradiation i.e. : 0, 100, 200, 300 gy. The result showed thatthe gamma irradiation affected the plant height, the number of branches, the time of flowering, theflower colouration, the time of pod maturation, the number of pods, the number of seeds, and theseed weight per plant
