71 research outputs found

    PENGARUH TEKNOLOGI DIGITAL TERHADAP PENINGKATAN KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN

    Get PDF
    ABSTRAKLatar Belakang: Rendahnya pengetahuan para ibu dan remaja perempuan tentangkesehatan reproduksi mengakibatkan banyak yang tidak mengetahui pentingnya kesehaatanreproduksi. Situasi ini akhirnya berdampak pada ketidak mampuan perempuan dalammerawat alat reproduksi dikarenakan adanya informasi yang simpang siur. Hal ini juga jugaterjadi karena minimnya informasi yang di terima para remaja perempuan dan ibu-ibu.Padahalpengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam berperilaku.Informasi-informasi ini sebenarnya bisa didapatkan dari sesama teman, atau dari guruataupundari orang tua. Tetapi ada juga para ibu atau remaja perempuan yang malu dalam bertanyaatau membicarakan tentang alat reproduksi.Mereka masih menganggap bahwa masalahtersebut adalah hal yang tabu terutama didaerah pedesaan. Media sosial internet sangatberpengaruh dalam meningkatkan pemahahaman kesehatan reproduksi bagi perempuanMetode: Penelitian ini menggunakan Literature Review dengan menggunakan pencarian greyliterature Google Scholar. Hasil pencarian yang memenuhi kriteria kemudian dilakukananalisis artikel.Hasil: Hasil didapatkan 12 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Dari 12 artikel didapatkantiga tema yaitu media sosial, pengetahuan dan kesehatan reproduksi.Simpulan: Pemanfaatan internet sebagai media informasi dalam mendapatkan informasiberkontribusi pada pendidikan kesehatan reproduksi perempuan dengan cara yang lebihinteraktif, menyenangkan, dan praktis. Hal ini menyiratkan jika interaksi secara online melaluiplatform media sosial lebih disukai para perempuan terutama remaja dibandingkan denganpendidikan kesehatan secara formal yang dilakukan di ruang kelas. Strategi denganpendekatan ini dapat digunakan oleh perawat dalam melakukan intervensi berupa pendidikandan promosi kesehatanKata Kunci: media social, pengetahuan, kesehatan reproduks

    The Impact of Physical Exercise on Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) Level in Elderly Population

    Get PDF
    BACKGROUND: Memory function disorder is a major health problem in geriatric patients. Physical exercise has the potency to decrease the incidence of many degenerative and chronic health problem, related to cognitive deterioration (dementia). AIM: This research aimed to observe the effect of physical exercise in various doses and duration on memory function by analysing the role of Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) as a regulatory protein affected by exercise. METHODS: This was an analytical observational study with a cohort design. Thirty participants were included in each group, classified as exercise and non-exercise group. The exercise was in the form of jogging for at least fifteen minutes every day. The observation was done for sixty days. Cognitive function assessment was done by using the Mini-Mental State Examination (MMSE) questionnaire. Meanwhile, the BDNF level was assessed by ELISA. Statistical analysis was done using Independent T-test. RESULTS: Exercise group showed better MMSE score (28.56 ± 1.76), and a higher concentration of BDNF (235.34 ± 12.56 pg/mL), both were statistically significant. CONCLUSION: Physical exercise was able to maintain geriatric cognitive function performance by BDNF protein regulation

    Korelasi Antara Hypoxia Inducible Factor-1α Dengan Aktivitas Enzim Creatine Kinase Jaringan Otot Jantung Tikus Pada Aktivitas Fisik Aerobik dan Anaerobik

    Get PDF
    Aktivitas fisik aerobik dan anaerobik tanpa hari istirahat dapat mengakibatkan terjadinya hipoksia dan perubahan histopatologi pada otot jantung. Kondisi hipoksia berkorelasi terhadap perubahan histopatologi pada otot jantung. Untuk mengetahui apakah kondisi hipoksia ini juga berkorelasi dengan indikator kerusakan jaringan otot jantung, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara hipoksia yang terjadi pada otot jantung akibat pembebanan aktivitas fisik aerobik dan anerobik tanpa hari istirahat dengan aktivitas enzim CK jaringan otot jantung. Jaringan otot jantung berasal dari tikus yang diberi aktivitas fisik aerobik dan anaerobik menggunakan treadmill selama 1,3,7 dan 10 hari tanpa hari istirahat. Kemudian dilakukan pengukuran kadar HIF-1α sebagai parameter hipoksia dan aktivitas enzim CK sebagai parameter terjadinya kerusakan sel otot jantung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat korelasi yang sangat kuat  antara konsentrasi HIF-1α dengan aktivitas CK jaringan pada kelompok anaerobik (r=0,91, p<0,05), sedangkan pada kelompok aerobik terdapat korelasi yang sedang (r=0,48, p<0,05). Kondisi hipoksia pada otot jantung yang terjadi akibat aktivitas fisik aerobik dan anaerobik  yang dilakukan selama 10 hari tanpa hari istirahat berkorelasi sangat kuat dengan indikator kerusakan jaringan pada kelompok anaerobik dan berkorelasi sedang pada kelompok aerobik

    Pengaruh Latihan Fisik Anaerobik Terhadap Kadar Laktat Plasma dan Kadar Laktat Jaringan Otot Jantung Tikus Wistar

    Get PDF
    Latihan fisik anaerobik adalah latihan  fisik yang dilakukan dalam durasi yang singkat dan dengan intensitas tinggi, proses metabolisme pembentukan energi tidak menggunakan oksigen. Energi dihasilkan dari pembentukan ATP melalui sumber energi yang berasal dari kreatinfosfat dan glikogen. Laktat merupakan produk akhir dari metabolisme anaerob. Latihan fisik anaerobik mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar laktat  darah. Belum diketahui apakah peningkatan kadar laktat pada latihan fisik anaerobik juga terjadi pada otot jantung, mengingat jantung merupakan organ  yang bekerja keras selama latihan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mempengaruhi pengaruh latihan fisik anaerobik terhadap kadar laktat plasma dan kadar laktat jaringan otot jantung. Jaringan otot jantung berasal dari tikus yang diberi latihan  fisik anaerobik menggunakan treadmill selama 1,3,7 dan 10 hari tanpa hari istirahat. Kadar laktat diukur menggunakan Lactate Assay Kit dengan panjang gelombang pengukuran 450 nm untuk kadar laktat plasma dan 570 nm untuk  kadar laktat jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kadar laktat plasma sedangkan kadar laktat jaringan otot jantung terjadi penurunan dibandingkan kelompok kontrol. Peningkatan kadar laktat plasma pada hari ke-10 (2.26 ± 0.09 nmol/μL) hampir sama dengan hari pertama latihan fisik anaerobik (2.23 ± 0.28 nmol/μL), begitu pula penurunan kadar laktat jaringan otot jantung pada hari ke-10 (0.23 ± 0.03 nmol/μL) hampir sama dengan hari pertama latihan fisik anaerobik (0.22±0.00 nmol/μL). Terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar laktat plasma dengan laktat jaringan otot jantung (p<0,05). Latihan fisik anaerobik mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar laktat plasma dan penurunan kadar laktat jaringan otot jantung. Terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar laktat plasma dengan laktat jaringan otot jantung pada tikus yang diberi pembebanan latihan fisik anaerobik (p<0,05)

    PELATIHAN SENAM KAKI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DALAM UPAYA PENCEGAHAN KOMPLIKASI DIABETES PADA KAKI (DIABETES FOOT)

    Get PDF
    Senam kaki merupakan latihan yang dilakukan bagi penderita Diabetes Melittus (DM) atau bukan penderita untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki.Perawat sebagai salah satu tim kesehatan, selain berperan dalam memberikan edukasi kesehatan juga dapat berperan dalam membimbing penderita DM untuk melakukan senam kaki sampai dengan penderita dapat melakukan senam kaki secara mandiri. Kegiatan Pengabdian Masyarakat dengan judul â€Pelatihan Senam Kaki Pada Penderita Diabetes Mellitus Dalam Upaya Pencegahan Komplikasi Diabetes Pada Kaki (Diabetes Foot)†telah dilaksanakan.di desa Indralaya Mulya. Dari kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa seluruh peserta (100%) mengetahui tujuan dilakukannya senam kaki, mengetahui manfaat senam kaki, mengetahui indikasi dan kontraindikasi senam kaki dan antusias, perhatian serta aktif selama kegiatan pelatihan senam kaki

    Pengembangan Model Pembelajaran Gerak Dasar Nomor Lompat Berbasis Permainan Tradisional di Sekolah Dasar: (Development of Basic Motion Learning Models Based on Traditional Games in Primary Schools)

    Get PDF
    This study aims to develop a basic motion learning model jumping numbers based on traditional games in elementary schools. The method in this study is a method of development with procedures in research, namely: (1) Requirement analysis, (2) Initial model, (3) Validation of the initial model, (4) Description of expert validation data, (5) Revision of the initial model draft, ( 6) Small group outcome data, (7) Revision of the model after the small group trial, (8) Large group outcome data, (9) Model revision after the large group trial. This research was conducted at SDN 02 Sungai Pinang. In this study, the results of questionnaire questionnaire validation obtained from expert validators namely the physical education teacher on the draft product model of jump-based learning numbers on average game 3.8 so that it is included in the valid category. The results of student motivation questionnaire analysis obtained a percentage of 86.4% while the t-test results obtained were 12,387 with ttable = 3.24 then tcount = 12.387&gt; ttable 3.24 as well as the results of the validation of psychomotoric results of students in both 64% categories, and 32% categories very good, obtained tcount of 15.601 with ttable 2.667 which is stated tcount&gt; ttable. So it can be concluded that the new learning model or game-based Jump learning model given to students is valid, practical, and effective to make students motivated to learn jump-based games and actively move in learning and can already be used in the game-based jump learning process in Primary Schools ( SD). Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran gerak dasar nomor lompat berbasis permainan tradisional di sekolah dasar.  Metode dalam penelitian ini adalah metode pengembangan dengan prosedur dalam penelitian, yaitu : (1) Analisis kebutuhan, (2) Model awal, (3) Validasi model awal, (4) Deskripsi data validasi ahli, (5) Revisi draft model awal, (6) Data hasil kelompok kecil, (7) Revisi model setelah uji coba kelompok kecil, (8) Data hasil kelompok besar, (9) Revisi model setelah uji coba kelompok besar. Penelitian ini dilakukan di SDN 02 Sungai Pinang. Pada penelitian ini didapatkan hasil validasi angket kuisioner dari validator ahli yaitu guru penjaskes pada draf produk model pembelajaran nomor lompat berbasis permainan rata-rata 3,8 sehingga sudah masuk dalam kategori valid. Hasil analisis kuisioner motivasi siswa didapat persentase sebesar 86,4%sedangkan hasil t-test yang didapat adalah 12.387 dengan ttabel = 3,24 maka thitung = 12.387&gt; ttabel 3,24serta hasil validasi hasil psikomotorik siswa kategori baik 64%, dan 32% kategori sangat baik, didapatkan thitung sebesar 15,601 dengan ttabel 2,667 yang dinyatakan thitung&gt;ttabel. Sehingga disimpulkan bahwa Model pembelajaran baru atau model pembelajaran Lompat berbasis permainan yang diberikan pada siswa valid, praktis, dan efektif untuk membuat siswa termotivasi untuk belajar lompat berbasis permainan serta aktif bergerak dalam pembelajaran dan sudah bisa digunakan dalam proses pembelajaran lompat berbasis permainan di Sekolah Dasar

    Analisis Implementasi Intervensi Gizi Spesifik dalam Penanganan Stunting di Puskesmas Wilayah Kabupaten Bengkulu Utara

    Get PDF
    District North Bengkulu is still designated as a focus district for integrated stunting reduction interventions. How to implement nutrition intervention in stunting management. The research uses qualitative methods with an exploratory evaluation study design. The research was carried out from March to June 2021. The main informant was the head of the public health center, nutritionist, midwife.. Secondary informant Head of the Nutrition Section of the Health Office. Handling stunting reduction with specific nutrition interventions, which began in 2017, has partially reached the target. Implementation has implemented effective communication, position, resources, bureaucracy starting from Health Office, Head of Puskesmas, Nutrition Officer, Coordinator Midwife and to pregnant women, breastfeeding mothers. Implementation of stunting reduction policies through specific nutrition interventions. Communication on the implementation of stunting reduction policies has been carried out in accordance with bureaucratic mechanisms. The available resources are sufficient, so that the application of the concept of specific nutrition interventions can be implemented. The disposition and structure of the bureaucracy within the Health Office has been running in accordance with the existing bureaucratic mechanisms, the implementation of policies can be carried out according to the objectives.Keywords: Policy, Stunting, Communication, Resources, Bureaucrac

    Asupan Gizi, Usia Kehamilan dan Usia Anak Terkecil Sebagai Prediktor Pertumbuhan Janin di Kota Pangkalpinang

    Get PDF
    This study aimed to confirm various predictors that affect fetal growth in pregnant women in Pangkalpinang City, Bangka Belitung Islands. This observational analytic study with a cross-sectional design was conducted in December 2022. The subjects of the study were 121 pregnant women who were selected using the simple random sampling technique. The data in this study consisted of the size of the abdominal circumference as an indicator of fetal growth and is the dependent variable. Indicators of energy intake, protein, fat, carbohydrate, Fe, Ca, Vitamin C, the difference in weight, height, MUAC, Hb levels, blood pressure, the youngest child, age of pregnant women, and husband were determined as independent variables. A backward regression model with the IBM SPSS Statistics version 25 program defined risk factors as predictors. The results showed that energy and carbohydrate intake, gestational age, and the youngest child were responsive predictors of fetal growth in Pangkalpinang City with the regression model ?=-2,338+0,003X_1-0,025X_4+0,841X_16+0,210X_17. This research recommends that policymakers consider improving the socioeconomic conditions of families, especially mothers' education, family income, and social affiliation

    HUBUNGAN STATUS GIZI TERHADAP KADAR ALBUMIN SERUM PADA IBU HAMIL: LITERATURE REVIEW

    Get PDF
    Albumin adalah sebuah indikator spesifik untuk menilai kekurangan energi kronis (KEK) pada wanita hamil. Studi ini bertujuan untuk menilai hubungan antara asupan protein dengan kadar albumin serum ibu hamil pada trimester pertama KEK. Untuk semua studi yang relevan, tiga database (PubMed, Embase, dan Perpustakaan Cochrane) ditelusuri hingga 27 Mei, 2021. Tidak ada batasan bahasa yang diterapkan. Studi yang memenuhi kriteria inklusi berupa: (1) penelitian yang melaporkan kadar albumin serum ibu hamil; (2) yang dirancang sebagai uji coba terkontrol secara acak atau studi observasional; (3) yang menyediakan kuantitatif ukuran kadar albumin serum dan perkiraan yang sesuai efek. Data dari setiap studi diekstraksi berdasarkan inklusi yang ditentukan sebelumnya kriteria, termasuk penulis pertama, tahun publikasi, geografis lokasi, jenis studi, peserta (jenis kelamin, usia, dan ukuran sampel), penyesuaian untuk perancu, kategori albumin serum dan odds ratio yang disesuaikan (OR) dengan interval kepercayaan 95% (CI) untuk setiap kategori albumin serum. Hasil analisa dari 10 artikel menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein dan kadar serum pada ibu hamil timester pertama dengan KEK. Kesimpulan dari studi ini adalah terdapat hubungan asupan protein dengan kadar serum albumin pada wanita hamil trimester pertama dengan KEK

    OPTIMALISASI PEMERATAAN SDM KESEHATAN DI INDONESIA

    Get PDF
    Pendahuluan: SDM Kesehatan merupakan salah satu bagian yang perlu diperhatikan di Indonesia. SDM kesehatan terjadi karena standar konsistensi yang rendah dari tenaga kesehatan meskipun fakta bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan pemeliharaan kesejahteraan tenaga kesehatan/SDM kesehatan untuk membangun sirkulasi aset kesejahteraan yang adil. Dalam subsistem dan eksekutif SDM kesehatan, pemeliharaan tenaga kesehatan adalah dengan memperhatikan tingkat kesejahteraan SDM kesehatan, di mana hal ini sangat penting agar SDM kesehatan yang terampil dan ahli dapat terus bekerja untuk jangka waktu yang lama. Metode: Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik literature review. Dalam tulisan ini, informasi yang digunakan adalah informasi opsional. Informasi opsional menggunakan informasi yang diperoleh dari item kueri sumber tulisan yang didapat melalui indeks web, seperti peneliti google, buku harian bersumber dari Mendeley dan Google Scholar dan buku harian kesejahteraan. Hasil dan Pembahasan: Dalampemeliharaan kesejahteraan SDM kesehatan merupakan salah satu masalah dalam subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan karena kelangsungan SDM kesehatan untuk tinggal dan bekerja di daerah yang jauh untuk mengoptimalisasi Pemerataan SDM Kesehatan di Indonesia. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa pemeliharaan tenaga kesehatan merupakan isu yang diusung oleh multifaktor dan mencakup multisektor sehingga tidak ada lagi maldistribusi sumber SDM kesejahteraan antara wilayah metropolitan (Perkotaan) dan di daerah terpencil
    corecore