26 research outputs found
Determinan Kejadian Stunting Pada Balita: Asupan Protein, Zink, Penyakit Infeksi Dan Indikator Keluarga Sehat
Stunting terjadi akibat dari tidak tercukupinya asupan zat gizi, kondisi kesehatan yang buruk serta pola asuh yang kurang memadai. Asupan zat gizi pada masa pertumbuhan khususnya saat balita memiliki pengaruh pada tinggi badan yang akan terlihat pada waktu yang relatif lama. Selain asupan faktor lain seperti penyakit infeksi juga turut menjadi penyebab stunting. Program pemerintah melalui PIS PK dengan indikator keluarga sehat diharapkan dapat menurunkan angka kejadian stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa determinan kejadian stunting meliputi asupan dan indikator keluarga sehata pada anak balita. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan penelitian kasus kontrol. Hasil penelitian menunjukkan balita yang mengalami penyakit infeksi mempunyai resiko 2 kali lebih besar terjadinya stunting. Balita dengan tingkat konsumsi protein kurang mempunyai resiko 3 kali lebih besar terjadinya stunting. Balita dengan asupan zink kurang beresiko 7 kali terjadinya stunting. Keluarga dengan indikator keluarga sehat sebagai faktor pencegah timbulnya stunting. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsumsi zink yang kurang mempunyai faktor resiko lebih besar dengan kejadian stunting, sedangkan indikator keluarga sehat menjadi peluang untuk mencegah anak stunting
BALITA TIDAK ASI EKSKLUSIF BERISIKO TINGGI MENGALAMI DIARE
Penyakit diare terjadi pada anak sebesar 2,1 milyar setiap tahun di seluruh dunia, khusus di Indonesia sebesar 1,08% balita terkena diare. Pemberian ASI ekslusif juga dapat mempengaruhi perkembangan kejadian diare sebab ASI mengandung Lysosim yang melindungi bayi dari bakteri (E. Coli dan Salmonella) dan virus. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganali- sis hubungan pemberian ASI eklusif terhadap kejadian diare pada anak usia 7 – 59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sungai Raya Dalam. Jenis penelitian ini adalah observasional ana- litik dengan pendekatan rancangan case control. Lokasi penelitian adalah di Wilayah kerja Puskesmas Sungai Raya Dalam. Sampel pada penelitian ini adalah anak yang menderita diare akut usia 7 – 59 bulan sebesar 40 kasus dan 40 kontrol. Data dianalisis dengan menggunakanuji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signi kan (p=0,01)antara pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian diare pada anak usia 7-59 bulan. Balita yang tidak mendapatkan ASI Ekslusif memiliki peluang 3,45 kali lebih besar untuk terkena diare (OR=3,45). Kesimpulan penelitian yaitu balita tidak ASI ekslusif berisiko mengalami diare
PKM KELOMPOK PEMBINAAN KESEJAHTERAAN KELUARGA (PKK) DALAM EDUKASI MANFAAT BUAH JAMBU HUTAN (Bellucia Pentamera Naudin) SEBAGAI BAHAN MAKANAN PREBIOTIK BAGI BALITA STUNTING DI KECAMATAN SUNGAI AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA
Anak yang stunting dapat mengalami peradangan kronis dari usus kecil, yang disebut enteropati lingkungan pediatric atau Pediatric Enterophaty Environment (PEE) yang menyebabkan terhambatnya. penyerapan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Intervensi untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut antara lain dengan memberikan makanan yang dapat memperbaiki usus dalam mengabsorbsi zat gizi serta dapat meningkatkan sistem imunitas. Hasil penelitian yang dilakukan pada tentang analisis kandidat pangan lokal buah jambu hutan (Bellucia Pentamera Naudin) sebagai sumber prebiotik menunjukkan bahwa buah jambu hutan (Bellucia Pentamera Naudin) yang ditambahkan ke dalam yogurt mempunyai daya hambat yang lebih baik terhadap pertumbuhan bakteri Esterichia Coli dibandingkan yogurt murni. Hasil penelitian tersebut menjadi dasar untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait manfaat buah jambu hutan sebagai salah satu alternatif pangan lokal yang dapat digunakan sebagai sumber prebiotik bagi saluran cerna. Kegiatan melibatkan tim penggerak PKK yang merupakan garda terdepan dalam menggerakkan masyarakat khususnya bagi ibu yang mempunyai balita dan sebagai pendamping dalam memberikan layanan dan edukasi untuk perbaikan gizi di lingkungannya. Lokasi kegiatan dipusatkan di Desa Mega Timur Kecamatan Sungai Ambawang dengan kondisi geografis merupakan wilayah tanah gambut dengan buah jambu hutan yang tersedia cukup banyak di wilayah tersebut. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan adalah edukasi kepada tim pengerak PKK di Desa Mega Timur Kecamatan Sungai Ambawang dengan waktu pelaksanaan selama 8 bula
Uji Coba Kartu Pemantauan Minum Tablet Tambah Darah (Fe) terhadap Kepatuhan Konsumsi Ibu Hamil
Abstract: Adherence to Consuming Iron Supplementation For Pregnancy Women By Using Monitoring Card. The aim of this research was to determine the effect of monitoring card influence the adherence of consuming. iron supplementation in pregnant women in Sungai Sembawang's Public Health Center. The research design is a quasi-experimental study with pretest-posttest control group design. The study was conducted in Sungai Ambawang’s Public Health Center starting Mei in November 2015. The samples were selected by consecutive sampling. Results show that there was the significant association between the average number of consuming iron supplementation tablet in trial group and control group (p = 0,002).Abstrak: Uji Coba Kartu Pemantauan Minum Tablet Tambah Darah (Fe) Terhadap Kepatuhan Konsumsi Ibu Hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kartu pemantauan minum tablet tambah darah terhadap kepatuhan minum tablet darah pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya. Penelitian ini bersifat eksperimen semu dengan rancangan penelitian pre test-post test kontrol group design. Penelitian dilaksanakan di wilayah Puskesmas Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya, mulai bulan Mei sampai dengan Nopember tahun 2015. Sampel yang diambil secara Consecutive sampling. Hasil penelitian menunjukan ada perbedaan rata-rata jumlah tablet tambah darah yang diminum oleh ibu hamil pada kelompok yang diberi kartu pemantauan minum tablet tambah darah dengan kelompok kontrol (p = 0,002)
HUBUNGAN POLA MAKAN DAN AKTIFITAS FISIK TERHADAP STATUS GIZI DI SISWA SMP AL-AZHAR PONTIANAK
Nutritional problem is one public health problem that has not been fully addressed in the world. Combating the problem of malnutrition is not resolved nutritional problems arise, namely the rise in the incidence of obesity and chronic disease so that nutritional problems become more complex. Results RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) in 2013 showed the prevalence of underweight 12.7% and 21.5% overweight for West Kalimantan, Pontianak prevalence at 5.2% fat and very wasted 4.8%.The purpose of this study to determine the relationship of diet and physical activity on the nutritional status of junior high school students of Al-Azhar Pontianak.This study was an observational study with cross sectional approach. The data collection being done with anthropometric measure to determine the nutritional status of students and using dietary questionnaires to determine the students’ diets and physical activity questionnaires to determine physical activity in students.The results showed by nutritional status category with greater fat found in students with sufficient diet that is equal (19.4%). While students with greater nutritional status wasted contained in students with eating less is equal (20.8%). From the findings, it seemed that students with greater nutritional status found in students with mild activity (35.0%). While students with less nutritional status is also greater in students with mild activity (10.0%). Research shows there is a relationship between diet (p = 0.016), physical activity (p = 0.021) on nutritional status in junior high school students of Al-Azhar Pontianak. The need for attention from parents to help control food intake of children so that children are not consuming excessive amounts of food can affect the nutritional status and Encourage students to undertake enough physical activity to prevent obesity
ANALISIS ZAT GIZI DAN DAYA TERIMA COOKIES TEPUNG TALAS PONTIANAK
Anak sekolah umumnya berada dalam masa pertumbuhan yang sangat cepat dan aktif, gizi menjadi bagian penting dalam pertumbuhan dan kecerdasan anak, ini dikarenakan dapat berpengaruh serta menghambat pertumbuhan fisik,mental maupun kemampuan berfikir pada anak. Asupan yang diperlukan oleh tubuh dapat melalui makanan yang dikonsumsi seperti makanan selingan, makanan selingan merupakan makanan yang disukai oleh berbagai kalangan usia, mulai dari anak hingga dewasa. Pemberian makanan selingan umumnya dalam porsi kecil dengan kandungan zat gizi berkisar 10%- 20% dari kebutuhan energi sehari. Salah satu produk yang mudah dibuat dan disukai anak-anak ialah cookies. Penelitian ini bertujuan mengetahui analisis zat gizi serta daya terima cookies. Metode yang digunakan yaitu eksperimen, dengan perlakuan tepung talas pontianak dan tepung pisang kepok pontianak adalah F1 (75% : 25%), F2 (50% : 50%), F3 (25% : 75%). Uji yang dilakukan yaitu uji organoleptik untuk melihat tingkat kesukaan dan uji kimia untuk menganalisa zat gizi. Berdasarkan uji organoleptik, dari 3 perlakuan dilihat dari tingkat kesukaannya paling tertinggi adalah F3 (25% : 75%) dengan kandungan protein (5.535%), lemak (28.214%), karbohidrat (10.635%), kadar abu (1.451%), kadar air (4.470%)
Pemberian Kalium Buah Pisang Lampung terhadap Densitas Mineral Tulang pada Lansia
Abstract: Effect of Lampung Banana Potassium on Bone Mineral Density in the Elderly. This study aims to determine the effect of banana lampung on bone mineral density in the elderly in the Social Welfare Tresna Werdha and Werdha Graha Kasih Father’s home). This research is a research with experimental design with the separate sample pretest posttest control group design. The research was carried out in the Tresna Werdha Social Institution and the Werdha Graha Kasih Father’s house, from May to July 2017. The sampling technique was taken by random sampling The result of potassium feeding on 150 grams of banana per day for 30 days by increasing BMD T-score of 0.17 while in control group (without banana lampung) BMD T-score decreased by - 0.32. After intervention in both groups showed a difference of BMD T-score of 0.49. Abstrak: Pemberian Kalium Buah Pisang Lampung terhadap Densitas Mineral Tulang pada Lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui pengaruh pemberian buah pisang lampung terhadap bone mineral density pada lansia di wilayah Panti Sosial Tresna Werdha dan panti Werdha Graha Kasih Bapa). Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian dengan desain eksperimen dengan rancangan the separate sample pretest posttest control group design. Penelitian dilaksanakan di wilayah Panti Sosial Tresna Werdha dan panti Werdha Graha Kasih Bapa), mulai bulan Mei s/d Juli 2017. Teknik sampling diambil dengan cara random sampling Hasil pemberian kalium pada buah pisang lampung sebanyak 150 gr setiap hari selama 30 hari dengan dapat meningkatkan BMD T-score sebesar 0,17 sedangkan pada kelompok control (tanpa pemberian buah pisang lampung) BMD T-score menurun sebesar - 0,32. Setelah intervensi pada ke dua kelompok menunjukkan adanya perbedaan BMD T-score sebesar 0,49
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK FORMULASI FLAKES TEPUNG UMBI KRIBANG, KACANG HIJAU DAN KULIT PISANG
Kekurangan gizi pada ibu hamil masih menjadi masalah utama di Indonesia, salah satunya adalah Kekurangan Energi Kronik. Upaya untuk mengatasi kekurangan energi kronik dapat dilakukan dengan Pemberian Makanan Tambahan. Salah satu upaya yang dapat dikembangkan adalah dengan menggali potensi pangan lokal sebagai upaya diversifikasi olahan pangan yaitu memanfaatkan umbi kribang yang di substitusi tepung kacang hijau dan tepung kulit pisang sebagai bahan baku untuk pembuatan flakes. Kribang merupakan jenis umbi-umbian yang dapat menjadi alternatif makanan pokok dengan nilai gizi yang tinggi namun rendah kadar gula yang dapat di substitusi dengan menggunakan kacang hijau dan memanfaatkan kulit pisang yang memiliki kandungan serat yang tinggi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Formula produk terdiri atas tiga taraf (P) yaitu tepung umbi kribang dengan penambahan tepung kacang hijau dan tepung kulit pisang kepok (30%:70% ; 50%:50% ; 70%:30%). Perlakuan terbaik dalam pengujian organoleptik ada pada P2, dilanjutkan dengan analisis fisikokimia warna: L 34,38, a* 8,83 dan b* 16,94, waktu ketahanan kerenyahan dalam susu selama 4 menit 25 detik, daya serap air sebesar 161,57 % dan daya rehidrasi sebesar 17,04 %. Hasil analisis proksimat : kadar air 5,03%, kadar abu 4,11%, kadar lemak 9,07%, protein 7,72%, karbohidrat 64,90% dan serat kasar 9,16%
Faktor risiko sarapan pagi dan makanan selingan terhadap kejadian overweight pada remaja sekolah menengah atas
Background: Overweight or obesity during childhood and adolescence are important risk factors for the presence of adult overweight or obesity. Eating habits in childhood and adolescence influence their healthy condition. Prospective studies of breakfast habits and nutritional status suggest an inverse (protective) association between the frequency of eating breakfast and the risk for overweight and obesity and relationships between no breakfast and increasing body weight.Objective: To examine risk factor of breakfast and snacking related to overweight status in adolescents.Method: This was the observational study with case control design. The first step of the study was screening to have a prevalence of overweight in adolescents. The second step was case control study participated by 100 overweight adolescents and 100 normal weight adolescents in senior high school matched in sex, age, and school. Data collected were weight and height measurements for nutritional status, respondent identity and characteristic, breakfast dan snacking habits and physical activity. Statistical analysis used Chi-Square statistics and multivariable logistic regression analysis.Results: Prevalence of overweight in adolescents were 16,8%. There was significant association between breakfast with overweight (p<0,05; OR=3.1; 95% CI=1.4-7.47). There was no association between snacking and overweight, but there was significant association between frequency of snacking (OR=1.9; 95% CI=1.05-3.50), the energy of snacking (OR=2.1; 95% CI=1.13-4.02), and carbohydrate of snacking (OR=4.5; 95% CI=1.94-11.50) with overweight. In the multivariate model, breakfast habits, carbohydrate of snacking and physical activity had a significant association with overweight.Conclusion: Skipping breakfast was a risk factor for overweight in adolescence. Adolescents who had to snack more than twice a day were having the greater risk factor for overweight
Pemberian Susu Kambing Prebiotik terhadap Kadar Hb pada Anak Stunting
Kalimantan Barat adalah provinsi di Indonesia yang memiliki masalah prevalensi stunting yang tinggi dibandingkan dengan prevalensi stunting nasional yaitu sebesar 29,8%. Kabupaten di Kalimantan Barat yang memiliki prevalensi kasus stunting yang tinggi pada tahun 2021 yaitu terdapat di Kabupaten Melawi sebesar 37,2% dan di Kabupaten Sintang sebesar 38,2%. Asupan protein menjadi faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting. Asupan protein dapat diperoleh dari konsumsi susu setiap hari sebagai alternatif. Konsumsi jenis susu yang berasal dari hewani dapat diperoleh dari susu sapi dan susu kambing. Susu kambing lebih tidak menyebabkan alergi dan mudah dicerna dibandingkan dengan susu sapi. Susu kambing dengan penambahan probiotik pada kasus stunting dapat meningkatkan sintesis dan penyerapan mikronutrien, memediasi inflamasi, dan menyebabkan kenaikan atau penurunan berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, memengaruhi nafsu makan, dan meningkatkan penyerapan mineral. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cohort study dimana penelitian akan dilakukan dengan membandingkan antara dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok control dengan rasio 1:1. Tujuan untuk memantau perbedaan pertumbuhan anak stunting dengan asupan susu kambing dan susu kambing fortivikasi (susu kambing probiotik) di Kabupaten Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, yang akan dilaksanakan selama 90 hari dengan melakukan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan kadar tiroid, dan kadar seng serta standar antropometri
