63 research outputs found

    PELATIHAN SIKAP KERJA ERGONOMIS PADA PERAJIN MANIK-MANIK DI DESA BUDAYA PAMPANG SAMARINDA

    Get PDF
    Abstrak: Keluhan muskuloskeletal merupakan salah satu faktor yang dapat menghambat produktivitas kerja tidak terkecuali pada perajin manik-manik di Desa Budaya Pampang Samarinda. Berdasarkan hasil observasi awal didapatkan bahwa perajin sering mengalami keluhan muskuloskeletal seperti rasa pegal dan nyeri di leher, bahu, punggung, pinggang serta lutut. Selain itu ditemukan bahwa mayoritas postur kerja pengrajin termasuk ke dalam kategori risiko sangat tinggi. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berupa penyuluhan mengenai sikap kerja ergonomis. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman terkait sikap kerja ergonomis guna mengurangi keluhan muskuloskeletal pada perajin. Kegiatan penyuluhan dihadiri oleh 20 orang perajin manik-manik di Desa Budaya Pampang Samarinda yang berusia rata-rata 40 tahun dengan masa kerja rata-rata 15 tahun. Evaluasi keberhasilan kegiatan dilakukan dengan cara memberikan kuisioner pre-test dan post-test sebelum dan sesudah dilakukannya pemaparan materi. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa ada peningkatan pengetahuan peserta yaitu sebesar 12,5% setelah mengikuti pemaparan materi penyuluhan. Abstract: Musculoskeletal disorders are one of the factors that can affect work productivity, including bead artisans in Pampang Cultural Village, Samarinda. A preliminary survey showed that bead artisans often experience musculoskeletal complaints such as aches and pains in the neck, shoulders, back, waist, and knees. In addition, it was found that the majority of artisans’ working postures were included in the very high-risk category. Based on these problems, community service activities were carried out in the form of counseling about ergonomic work attitudes. This activity aims to provide knowledge and understanding regarding ergonomic working postures to reduce musculoskeletal complaints in artisans. The counseling activity was attended by 20 bead artisans in Pampang Cultural Village, Samarinda with an average age of 40 years dan an average working period of 15 years. Evaluation of the activity was carried out by giving pre-test and post-test questionnaires before and after the presentation of the material. Based on the results of the analysis, it was found that there was an increase in participants' knowledge of 12.5% after attending the counseling

    Pengambilan Keputusan Dalam Pemilihan Supplier Dengan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Technique For Others Reference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS)

    Get PDF
    M-Merchandise is a business launched by the Mulawarman University Business Management Agency. The problem for these merchandise products is that in determining suppliers it has not been done well, there is no particular method of determining suppliers. So M-Merchandise needs to do supplier selection to get the best supplierr. In making a decision, determining suppliers is applied to the AHP and TOPSIS methods. The AHP method is used to determine the most influential criteria with a paired comparison matrix, then the weight values ​​are used as input to the TOPSIS method to rank suppliers. From the results of the AHP calculation, M-Merchandise have obtained the quality criteria with the highest weight of 0.300. This shows that quality is a major factor in supplier selection. Furthermore, other criteria applied are price with a weight of 0.221, shipping 0.040, technical capability 0.165, a communication system 0.095, and a packaging ability 0.179. From the results of the TOPSIS calculation, the PK supplier is the best supplier to choose with a value of 0.61

    Analisis Beban Kerja Fisik dan Mental Pada Operator Contact Center (Studi Kasus : PT. XYZ Samarinda)

    Get PDF
    The work requirements of the contact center operator in PT. XYZ Samarinda to always be friendly to customers in any circumstances and have to focus on work is likely to cause mental workload. In addition, the contact center operator must work monotonously by sitting in front of the computer within 8 hours can cause physical workload. Based on these problems, a study was conducted on the analysis of physical and mental workload on the contact center operators so that recommendations could be given to improve productivity and comfort while working. Measurement of physical workload is done using the %CVL measurement method at work. While the measurement of mental workload was carried out using the NASA-TLX method by distributing questionnaires to 9 contact center operators for 10 days. The results showed that the average physical workload of contact center operators was 13.5%. These results indicate that the physical workload of contact center operators is included in the low category, which means there is no significant burden. While the average mental workload of contact center operators is 65. Based on these results, the mental workload value of contact center operators is in the moderate category. Recommendations for improvements that can be given are doing the right way to sit, making improvements to the layout of the air conditioner so that the work environment becomes comfortable and using an ergonomic work chair. In addition it is necessary to build a good relationship that is by understanding the communication style between workers so that misunderstandings cannot be occur, conduct small celebrations, recreation, and hold ESQ Training to balance emotions and intelligence.Tuntutan perkerjaan operator contact center PT. XYZ Samarinda untuk selalu ramah kepada pelanggan dalam keadaan apapun dan harus fokus dalam bekerja kemungkinan dapat menimbulkan beban kerja mental. Selain itu operator contact center harus bekerja monoton dengan keadaan duduk di depan komputer dalam waktu 8 jam dapat saja menimbulkan beban kerja fisik. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian mengenai analisis beban kerja fisik dan mental pada operator contact center sehingga dapat diberikan rekomendasi perbaikan untuk meningkatkan produktivitas dan kenyamanan saat bekerja. Pengukuran beban kerja fisik dilakukan menggunakan metode pengukuran %CVL pada saat bekerja. Sedangkan pengukuran beban kerja mental dilakukan menggunakan metode NASA-TLX dengan membagikan kuesioner kepada 9 operator contact center selama 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata beban kerja fisik operator contact center adalah 13,5%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa beban kerja fisik operator contact center termasuk kategori ringan yang artinya tidak terjadi pembebanan yang berarti. Sedangkan rata-rata beban kerja mental operator contact center adalah 65. Berdasarkan hasil tersebut maka nilai beban kerja mental operator contact center dalam kategori sedang. Rekomendasi perbaikan yang dapat diberikan antara lain melakukan cara duduk yang benar, melakukan perbaikan tata letak AC agar lingkungan kerja menjadi nyaman dan menggunakan kursi kerja ergonomis. Selain itu perlu dibangun hubungan yang baik yaitu dengan memahami gaya komunikasi antar pekerja agar tidak terjadi kesalahpahaman, melakukan perayaan kecil, berolahraga atau berekreasi bersama, dan mengadakan Training ESQ untuk menyeimbangkan emosi dan kecerdasan

    ANALISIS POSTUR KERJA PADA SECTION MAINTENANCE TIRE DENGAN MENGGUNAKAN METODE WORKPLACE ERGONOMIC RISK ASSESSMENT (WERA) (STUDI KASUS: PT. RIUNG MITRA LESTARI SITE EMBALUT)

    Get PDF
    PT. Riung Mitra Lestari Site Embalut merupakan perusahaan kontraktor pertambangan batubara sebagai penunjang ketersediaan dan pemeliharaan alat berat. Salah satu aktivitas pemeliharaan alat berat yaitu section maintenance tire. Berdasarkan observasi, pada aktivitas section maintenance postur kerja dilakukan secara membungkuk dan berjongkok mengakibatkan keluhan MSDs pada pinggang dan punggung. Berdasarkan permasalahan, dilakukan analisis postur kerja menggunakan metode WERA. Dari 20 aktivitas terdapat 4 aktivitas mendapatkan action high yaitu pelepasan dan pemasangan nut tire dengan score 50 (92,60%), pemasangan tire dengan score 48 (88,90%), dan pemasangan bead seat band, o-ring, dan lockring dengan score 49 (90,70%). Diberikan usulan perbaikan yaitu alat fasilitas kerja dan postur kerja menggunakan simulasi software CATIA V5. Pada pelepasan dan pemasangan nut tire, diperoleh hasil 26 (48,15%) dengan action low. Pada pemasangan tire, diperoleh hasil 25 (46,29%) dengan action low. Dan pada pemasangan bead seat band, o-ring, dan lockring diperoleh hasil dari 31 (57,40%) dengan action medium

    Penerapan Metode Kansei Engineering Sebagai Upaya Perancangan ulang Kemasan Takoyaki (Studi Kasus: Takoyakiku Samarinda)

    Get PDF
    Takoyaki adalah makanan tradisional Jepang. Takoyaki terbuat dari tepung terigu dan diisi dengan daging gurita. Bentuknya bulat seperti bakso, jadi takoyaki disebut juga baso panggang Jepang (tako = gurita; yaki = panggang). Pengemasan produk Takoyakiku yang saat ini dijual dikemas dengan cara yang sederhana dan tidak menarik. Bahan kemasan produk Takoyakiku yang saat ini digunakan adalah kemasan plastik mika dengan karakteristik yang kuat (tidak mudah sobek), berwarna bening (transparan) dan aman untuk makanan. Sehingga peneliti akan melakukan studi lebih lanjut untuk pengembangan kemasan takoyakiku yang menarik agar lebih diminati oleh konsumen. Pengembangan kemasan sesuai keinginan konsumen dilakukan dengan bantuan metode rekayasa Kansei. Metode kansei engineering merupakan metode perancangan dan pengembangan yang didasarkan pada perasaan konsumen untuk mengetahui desain yang diinginkan. Metode rekayasa kansei dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu pengumpulan kata kansei dari wawancara, kemudian penyebaran kuesioner semantiq diferensial I untuk memilih kata kansei dan dilanjutkan dengan menyebarkan kuesioner semantiq diferensial II untuk mengetahui desain kemasan berdasarkan kata kansei. Analisis yang digunakan adalah analisis konjoin, yang berfungsi untuk mengetahui preferensi konsumen terhadap kemasan takoyakiku. Hasil dari penelitian ini adalah desain kemasan takoyakiku yang diinginkan konsumen yaitu yang berbahan kertas ivory, memiliki logo dan gambar produk, serta informasi terkait produk takoyaki. Metode rekayasa kansei dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu pengumpulan kata kansei dari wawancara, kemudian penyebaran kuesioner semantiq diferensial I untuk memilih kata kansei dan dilanjutkan dengan menyebarkan kuesioner semantiq diferensial II untuk mengetahui desain kemasan berdasarkan kata kansei. Analisis yang digunakan adalah analisis konjoin, yang berfungsi untuk mengetahui preferensi konsumen terhadap kemasan takoyakiku. Hasil dari penelitian ini adalah desain kemasan takoyakiku yang diinginkan konsumen yaitu yang berbahan kertas ivory, memiliki logo dan gambar produk, serta informasi terkait produk takoyaki. Metode rekayasa kansei dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu pengumpulan kata kansei dari wawancara, kemudian penyebaran kuesioner semantiq diferensial I untuk memilih kata kansei dan dilanjutkan dengan menyebarkan kuesioner semantiq diferensial II untuk mengetahui desain kemasan berdasarkan kata kansei. Analisis yang digunakan adalah analisis konjoin, yang berfungsi untuk mengetahui preferensi konsumen terhadap kemasan takoyakiku. Hasil dari penelitian ini adalah desain kemasan takoyakiku yang diinginkan konsumen yaitu yang berbahan kertas ivory, memiliki logo dan gambar produk, serta informasi terkait produk takoyaki. Kemudian menyebarkan kuisioner semantiq differential I untuk memilih kata kansei dan dilanjutkan dengan menyebarkan kuisioner semantiq differential II untuk mengetahui desain kemasan berdasarkan kansei words. Analisis yang digunakan adalah analisis konjoin, yang berfungsi untuk mengetahui preferensi konsumen terhadap kemasan takoyakiku. Hasil dari penelitian ini adalah desain kemasan takoyakiku yang diinginkan konsumen yaitu yang berbahan kertas ivory, memiliki logo dan gambar produk, serta informasi terkait produk takoyaki. Kemudian menyebarkan kuisioner semantiq differential I untuk memilih kata kansei dan dilanjutkan dengan menyebarkan kuisioner semantiq differential II untuk mengetahui desain kemasan berdasarkan kansei words. Analisis yang digunakan adalah analisis konjoin, yang berfungsi untuk mengetahui preferensi konsumen terhadap kemasan takoyakiku. Hasil dari penelitian ini adalah desain kemasan takoyakiku yang diinginkan konsumen yaitu yang berbahan kertas ivory, memiliki logo dan gambar produk, serta informasi terkait produk takoyaki

    Analisis Beban Kerja dan Penentuan Tenaga Kerja Optimal dengan Metode Workload Analisis dan ECRS

    Get PDF
    Air Minum Dalam Kemasan di Indonesia (AMDK) memberikan kontribusi yang baik untuk memenuhi konsumsi air minum masyarakat yang semakin meningkat. Industri AMDK merupakan solusi untuk menunjang kebutuhan air minum. Seiring dengan kebutuhan air mium Badan Pengelola Usaha (BPU) UNMUL membuka usaha yaitu depo air minum AMULA. Dalam proses produksinya AMULA masih menggunakan sumber daya manusia sebagai tenaga kerjanya. Untuk melakukan proses kerja ini hanya melibatkan 1 orang pekerja yang proses kerjanya dilakukan berurutan. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan mengenai penentuan beban kerja dan jumlah tenaga optimal, salah satu metode yang digunakan adalah metode workload analysis dan ECRS. Perhitungan waktu proses menggunakan stopwatch time study.. Hasil penelitian menunjukan bahwa waktu baku total untuk memproduksi 1 kardus yaitu 22,94 menit. Beban kerja total didapat yaitu sebesar 0,49 untuk memproduksi target yaitu 9 kardus perhari. Berdasarkan hasil dibutuhkan untuk produksi adalah 1 orang. Setelah diketahui beban kerja untuk seluruh proses kerja maka dilakukan efesiensi menggunakan ECRS. Waktu baku yang didapat setelah melakukan penataan kembali yaitu sebesar 17,25 menit dan beban kerja total sebesar 0,38. Hal ini mampu menurunkan waktu baku sebesar 5,72 menit atau sebesar 24,93% dari waktu baku awal dan beban kerja sebesar 0,11 atau 11% dari beban kerja awal

    ANALISIS BEBAN KERJA MENTAL DAN FISIK OPERATOR HD KOMATSU 785-7 (STUDI KASUS: PT.SIMS JAYA KALTIM

    Get PDF
    Sims Jaya Kaltim merupakan salah satu perusahaan terkemuka dibidang kontraktor penyedia jasa pertambangan yang berfokus pada pengangkutan material Overburden (OB). Operator HD Komatsu 785-7 bertugas untuk mengangkut material dari disposal menuju ke dumpingan. Pengukuran beban kerja fisik menggunakan metode pengukuran %CVL (cardiovasculair load) selama 6 hari dengan pengukuran denyut jantung pada saat bekerja dan istirahat menggunakan alat pulse oxymeter lalu dihitung menggunakan rumus %CVL. Pengukuran beban kerja mental menggunakan metode NASA-Task Load Index dengan membagikan kuesioner kepada 30 operator HD Komatsu 785-7. Pengukuran dilakukan selama 6 hari kerja. Pengukuran dibagi menjadi 3 regu, satu regu terdiri dari 10 operator. Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan didapatkan nilai rata-rata %CVL dengan rata-rata keseluruhan 17,00% yang berarti operator tidak mengalami kelelahan fisik karena <30% termasuk dalam kategori ringan. Hasil beban dengan rata-rata keseseluruhan sebesar 66,60 yang termasuk dalam golongan perkrjaan tinggi (61-80) yang berarti memerlukan perhatian khusus. Rekomendasi Usulan perbaikan yang diberikan kegiatan random fatique, kontroling pengisian KKH, kontroling jalan, dan kontroling debu

    Penerapan Metode GEW dalam Perancangan Ulang Desain Kemasan Keripik Pisang (Studi Kasus: UKM Ngemilan Qu)

    Get PDF
    Keripik pisang merupakan makanan ringan yang berbahan dasar buah pisang dengan tekstur yang renyah seperti keripik pada umumnya. Keripik pisang yang dijual oleh UKM Ngemilan Qu di Kota Samarinda dikemas secara sederhana, yaitu langsung dikemas menggunakan kemasan berbahan plastik dan minim informasi.  Oleh karena itu dibutuhkan kemasan yang lebih menarik agar tidak kalah dengan produk pesaing. Sehingga peneliti akan melakukan studi lebih lanjut untuk dilakukan perancangan desain kemasan agar menjadi lebih menarik dan diminati oleh konsumen. Perancangan dilakukan dengan mempertimbangkan emosi responden terhadap kemasan dengan menggunakan metode Geneva Emotion Wheel. Metode Geneva Emotion Wheel merupakan suatu alat pengukuran emosi untuk mengukur respon atau reaksi emosi terhadap suatu objek. Metode Geneva Emotion Wheel dilakukan dengan beberapa tahap yaitu, penyebaran kuesioner GEW 1 dilakukan untuk mendapatkan hasil rata-rata emosi responden dan alasan responden pada tiap emosi beserta atribut kemasan, kemudian melakukan perancangan desain kemasan berdasarkan keinginan responden, setelah mendapatkan hasil desain usulan lalu melakukan penyebaran kuesioner GEW 2 untuk melihat apakah ada kenaikan emosi positif dan perubahan yang signifikan

    PERANCANGAN ULANG PRODUK BOTOL TUMBLER DENGAN MEMPERTIMBANGKAN USER EXPERIENCE MENGGUNAKAN METODE GENEVA EMOTION WHEEL (GEW) (Studi Kasus: Starbucks Samarinda)

    Get PDF
    Banyaknya produk yang beredar adalah salah satu tantangan besar suatu perusahaan dalam meraih kesuksesan penjualan. Tumbler adalah salah satu barang yang cukup banyak digunakan oleh manusia. Salah satu jenis tumbler yang diminati masyarakat adalah tumbler keluaran salah satu kedai kopi terkenal yaitu Starbucks. Fungsi botol tumbler sendiri sangat membantu dalam kemudahan membawa minuman dan berperan penting terhadap kelestarian lingkungan karena mengurangi penggunaan botol plastik. Permasalahan yang muncul adalah semakin banyaknya ragam tumbler yang ditawarkan dengan banyak pilihan jenis, model, bahan, dan harga sehingga tidak jarang terdapat beberapa jenis tumbler yang kurang diminati dan memiliki tingkat penjualan yang rendah.   Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan wawancara, observasi jumlah populasi, pengisian kuesioner Geneva Emotion Wheel (GEW) dan Usability Testing waktu. Kuesioner Geneva Emotion Wheel (GEW) digunakan untuk mengetahui nilai-nilai emosi responden terhadap produk tumbler sebelum dan sesudah product testing serta tumbler hasil perancangan ulang. Kuesioner terdiri dari 10 emosi positif dan 10 emosi negatif yang dirasakan oleh responden. Selain menilai responden juga memberikan alasan dan usulan terhadap produk. Usability Testing dilakukan agar responden dapat berinteraksi dengan produk. Pada penelitian ini dilakukan penilaian tampilan awal produk, product testing, dan penilaian produk setelah product testing. Selanjutnya dilakukan perancangan ulang produk berdasar alasan dan usulan yang telah diberikan dan dinilai kembali oleh responden. Nilai rata-rata awal tampilan tumbler 1 adalah 2,91, sesudah product testing adalah 2,86 dan nilai rancangan ulang produk adalah 3,16. Hal itu disebabkan karena responden puas dengan perubahan volume tumbler yang menjadi lebih banyak dan terdapat tempat untuk whipped cream dan sedotan. Nilai rata-rata awal tampilan tumbler 2 adalah 2,58, sesudah product testing adalah 2,59 dan nilai rancangan ulang produk adalah 3,20. Hal itu disebabkan karena responden menyukai penambahan sedotan yang dapat memudahkan penggunaannya. Nilai rata-rata awal tampilan tumbler 3 adalah 2,20, sesudah product testing adalah 2,21 dan nilai rancangan ulang produk adalah 2,74Nilai rata-rata emosi positif pada masing-masing tumbler mengalami peningkatan setelah dilakukan perancangan ulang

    Penerapan Metode GEW dalam Perancangan Ulang Desain Kemasan Keripik Pisang (Studi Kasus: UKM Ngemilan Qu)

    Get PDF
    Keripik pisang merupakan makanan ringan yang berbahan dasar buah pisang dengan tekstur yang renyah seperti keripik pada umumnya. Keripik pisang yang dijual oleh UKM Ngemilan Qu di Kota Samarinda dikemas secara sederhana, yaitu langsung dikemas menggunakan kemasan berbahan plastik dan minim informasi.  Oleh karena itu dibutuhkan kemasan yang lebih menarik agar tidak kalah dengan produk pesaing. Sehingga peneliti akan melakukan studi lebih lanjut untuk dilakukan perancangan desain kemasan agar menjadi lebih menarik dan diminati oleh konsumen. Perancangan dilakukan dengan mempertimbangkan emosi responden terhadap kemasan dengan menggunakan metode Geneva Emotion Wheel. Metode Geneva Emotion Wheel merupakan suatu alat pengukuran emosi untuk mengukur respon atau reaksi emosi terhadap suatu objek. Metode Geneva Emotion Wheel dilakukan dengan beberapa tahap yaitu, penyebaran kuesioner GEW 1 dilakukan untuk mendapatkan hasil rata-rata emosi responden dan alasan responden pada tiap emosi beserta atribut kemasan, kemudian melakukan perancangan desain kemasan berdasarkan keinginan responden, setelah mendapatkan hasil desain usulan lalu melakukan penyebaran kuesioner GEW 2 untuk melihat apakah ada kenaikan emosi positif dan perubahan yang signifikan
    corecore