10 research outputs found
Sebab Keruntuhan suatu Bangsa (Kajian Surat Al-fajr Ayat 6-13)
The writing aims to study about the last causes of a nation\u27s collapse which is contained in surah Al-Fajr was used thematic interpretation approach. As for the discussion was focused in verses 6-13. There were three languages that collapsed and destroyed in surah Al-Fajr, they were ‘Ad, Tsamud and Fir\u27aun. These three nations were actually potraits of advanced nations and achieving high civilization, but their bad traits have delivered them to the detruction. These two bad traits were: the first was arrogance in the form of theological disobedience which include all of the denial of faith, blasphemy of religion and its symbols and treatise lie. The second, vandalism in the form of sosiological disobedience that include all of the destructive behavior such as intellectual brilliance, rebellion, persecution and criminalization of da\u27wah and tryrannical power
Konsep Penyandang Cacat dan Eksistensinya Menurut al Qur’an
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode tafsir
tematik (Maudhûî). Kajian ini berangkat dari sebuah kenyataan yang
menunjukkan bahwa keberadaan penyandang cacat yang tidak dapat dinafikan dan
merupakan bagian dari kehidupan manusia. Berdasarkan teori ilmu sosial secara
umum penyandang cacat dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu fisik, non fisik
dan ganda. Semua kelompok penyadang cacat itu bermuara pada
ketidakmampuan dan ketidakberfungsian organ-organ fisik (panca indra) maupun
non fisik (bermuara pada saraf). Pada tataran realita, para penyandang cacat masih
seringkali mendapatkan perlakuan diskriminasi dan stigma negatif dari orangorang
sekitar. Maka penelitian ini bertujuan untuk meneropong bagaimana al
Qur’an berbicara mengenai penyandang cacat serta eksistensinya dalam tatanan
sosial dan hukum. Terminologi yang digunakan al Qur’an untuk menunjukkan
keberadaan penyandang cacat adalah : ىَوْػَأ (a’mâ) dan ََوْكَأ (akmah) untuk
menunjukkan makna buta (tunanetra), ٌنْكُث (bukmun) untuk menunjukkan makna
bisu (tunawicara), ٌنُص (shummun) untuk menunjukkan makna tuli (tunarungu),
dan جَشْػَأ (a’raj) untuk menunjukkan makna pincang (tunadaksa). Terdapat 38
ayat yang tersebar dalam 26 surat, 17 diantaranya adalah surat-surat Makkiyah,
sedangkan 9 surat lainnya adalah Madaniyah. Dari jumlah itu, hanya ada 5 ayat
yang berbicara mengenai cacat fisik, dan selebihnya berbicara mengenai cacat non
fisik (hati dan teologis). Dari kajian ini, didapatkan kesimpulan bahwa
penyandang cacat dalam konsep al Qur’an adalah orang-orang yang memiliki
kecacatan fisik dan teologis. Keberadaan penyandang cacat fisik menurut al
Qur’an secara umum adalah sama dengan individu normal lainnya dalam sosial
dan hukum. Meskipun dalam beberapa hal dan kondisi memiliki kekhususan
sebagai bentuk perlindungan. Sedangkan para penyandang cacat teologis dikecam
keberadaannya oleh al Qur’an
METODE DAN CORAK TAFSIR AL QUR’AN AL KARIM KARYA MAHMUD YUNUS
Skripsi ini berjudul: Metode dan Corak Tafsir Al Qur’an Al Karim
Karya Mahmud Yunus.
Kajian terhadap Al Qur’an di Indonesia terbilang lebih
artikulatif jika dibandingkan dengan wilayah
-
wilayah lain di Asia Tenggara yang
juga berbahasa Melayu. Hal
ini dibuktikan dengan munculnya tokoh
-
tokoh yang
melahirkan karya
-
karya di bidang tafsir. Mulai dari Syaikh Abdul Rauf Singkel,
Imam Muhammad Nawawi Al Bantani, Hasbi Ash Shiddiqi, HAMKA hingga karya
fenomenal Muhammad Quraish Shihab.
Dari sekian banyak k
arya
-
karya tafsir yang lahir di bumi nusantara ini
(Indonesia), salah satu karya yang perlu mendapat perhatian adalah Tafsir Al Qur’an
Al Karim karya Mahmud Yunus, seorang intelektual dari Minangkabau. Hal itu
disebabkan tafsir ini memiliki karakter tersen
diri sesuai dengan perkembangan
dan
keadaan saat itu serta kental dengan nuansa wawasan keindonesiaan, terlebih tafsir ini
merupakan salah satu tafsir
lengkap
berbahasa Indonesia pertama.
Maka pada penelitian ini akan dikaji metodologi penafsiran yang digu
nakan
Mahmud Yunus dalam karyanya tersebut, baik bentuk penafsiran, metode penafsiran
dan corak penafsiran.
Setelah melakukan pengkajian terhadap tafsir ini, maka dapat disimpulkan
bahwa tafsir ini disusun sesuai dengan urutan pada mushaf ustmani. Adapun
m
etodologi yang digunakan oleh Mahmud Yunus adalah sebagai berikut:
(1)
bentuk
penafsirannya adalah
tafsir bir ra’yi
yang dipadukan dengan unsur
ma’tsur.
(2)
m
etode yang digunakan adalah
metode ijmali
dan pada beberapa tempat juga
digunakan
metode tahlili
d
an
muqaran.
Kemudian
(3)
coraknya adalah
Al Adabi Al
Ijtima’i
dengan penekanan pada aspek pendidikan, meski pada beberapa tempat juga
terdapat nuansa
lughawi, fiqhi
dan
‘ilm
Nikah Mut’ah di Iran dan Indonesia antara Regulasi dan Praktek
This research aims to explore the rules and regulations of mut'ah marriage in Iran and Indonesia and analyze the practice in both countries. This research is library research using qualitative methods with a descriptive-analytic approach. The results of this research found that mut'ah marriages are officially regulated in marriage regulations in Iran, specifically in The Civil Code of The Islamic Republic of Iran 2000. These temporary marriages are recognized and equivalent to permanent marriages in general, and stipulate provisions that must be complied with in its implementation. However, in this modern era, the practice of mut'ah marriage in Iran is starting to be abandoned. In contrast to Indonesia, where there are no rules governing contract marriage law, it is not even recognized in regulations in Indonesia. However, in reality, the practice of contract marriage is increasingly common among Indonesian people
Unity Of Ummah Mahmud Yunus's Perspective In Tafsir Al-Qur'an Al-Karim
Tafsir Al-Qur'an Al-Karim which is the great work of Mahmud Yunus who is known as one of the productive Indonesian scholars has produced written works in various Islamic disciplines. This interpretation is always interesting to study because its style is thick with the nuances of ijtima'i as a form of response to the realities of life that exist in society. Among the descriptions found in many places in this commentary is the importance of maintaining unity and integrity and avoiding disintegrity. So this paper aims to analyze Mahmud Yunus's thoughts on the unity of the people with a descriptive approach to analysis based on library data. The findings of this study found that efforts to realize unity among Muslims must continue to be carried out even though big challenges always exist. Challenges to the union came from external and internal. External, namely from parties outside Islam who do not want the realization of Muslim unity. While internal comes from within the body of Muslims caused by not adhering to the Qur'an and sunnah and the nature of ta'ashub. As a solution offered is to strengthen moral education or tarbawi akhlaqi in social life</jats:p
EKSISTENSI KAUM DIFABEL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Keberadaan kaum penyandang cacat tidak dapat dinafikan dan merupakan bagian dari kehidupan
menusia. Berdasarkan teori ilmu sosial secara umum penyandang cacat dapat dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu fisik, non fisik, dan ganda. Semua kelompok penyandang cacat ini bermuara kepada
ketidakmampuan dan tidak berfungsinya organ-organ fisik (panca indra) maupun non fisik. Pada
tataran realita para penyandang cacat masih sering mendapatkan perlakuan diskriminasi dan stigma
negatif dari beberapa pihak. Tulisan ini berusaha untuk melihat bagaimana al-Qur’an berbicara
mengenai penyandang cacat serta eksistensinya dalam tatanan hukum dan sosial. Terminologi yang
digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan keberadaan penyandang cacat adalah adalah a’ma, akmah,
bukm, dan shum. Terdapat 38 ayat yang tersebar dalam 26 surat dalam al Qur’an. Dari jumlah
yang cukup banyak tersebut hanya ada lima ayat yang berbicara mengenai cacat fisik dan selebihnya
berbicara mengetani cacat non fisik. Dari tulisan ini dapat diketahui bahwa penyandang cacat menurut
al-Qur’an orang yang memiliki kecacatan fisik dan teologis. Dari segi keberadaannya, mereka adalah
sama dengan individu normal lainnya, baik dalam aspek hukum maupun sosial. Meskipun dalam
beberapa hal dan kondisi memiliki kekhususan sebagai bentuk perlindungan
Offiside Kesetaraan Gender (Kritik Terhadap Liberasi Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur'an)
Kesetaraan gender menjadi kajian yang menarik terutama seiring dengan kehidupan modern. Pengarusutamaan kajian tentang gender yang digagas para pemerhatinya pada akhirnya bermuara pada kesetaraan tanpa batas (liberation of gender equality). Untuk membentengi hal itu perlu kiranya kajian yang berangkat dari sudut pandang Al-Qur’an sebagai pedoman utama dan menjadi pijakan kritis terhadap liberasi kesetaraan tersebut. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan; Pertama, Al-Qur’an menegaskan bahwa perempuan ditempatkan pada posisi yang mulia, terhormat dan setara dengan laki-laki. Al-Qur’an sangat menentang keras adanya perlakuan buruk dan dikriminatif terhadap perempuan. Kedua, Al-Qur’an memandang bahwa kesetaraan perempuan dengan laki-laki terletak pada hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak kemanusiaan dan ibadah. Namun pada fungsi-fungsi tertentu perempuan tidak dapat disamakan dengan laki-laki, seperti mengurus rumah tangga dan fungsi biologisnya. Dengan demikian kesetaraan yang diangkat oleh Al-Qur’an didasarkan pada aspek-aspek keadilan dan keseuaian dengan fitrah perempuan dan laki-laki.</jats:p
Islam, Globalization and postmodernity
This book examines the cultural responses of Muslim to the transformations, contradictions and challenges contemporary Islam as it moves towards the twenty-first century.xiv, 242 p.; 22 c
