14 research outputs found

    Pengaruh Umur Replantasi Mangrove (Rhizophora SP.) Sebagai Habitat Uca SP.

    Full text link
    Sebagian besar kawasan hutan pesisir di Indonesia telah mengalami kerusakan, termasuk kawasan di sekitar pantai Desa Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kabupaten Semarang. Kerusakan ini lebih banyak disebabkan oleh ulah manusia yang kurang bijak dalam mengelolanya. Hilang dan rusaknya kawasan mangrove pada beberapa wilayah pesisir telah mengakibatkan hilangnya fungsi mangrove baik fisik, ekologis, maupun ekonomi. Salah satu penyelesaian atas permasalahan tersebut adalah dengan melakukan gerakan penghijauan atau penanaman kembali (replantasi). Adapun aspek yang dapat ditinjau dalam mengevaluasi keberhasilan replantasi hutan mangrove ini adalah kembalinya fungsi ekologis hutan mangrove, diantaranya adalah penyedia habitat berbagai biota seperti Uca sp. Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui wilayah hasil replantasi yang mampu menyediakan habitat bagi Uca sp.Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah mengetahui keberadaan berbagai ukuran karapas Uca sp. sebagai indikasi kesesuaian habitat dan mengetahui kepadatan Uca sp. berdasarkan wilayah tanpa mangrove dan wilayah mangrove dengan jenis mangrove Rhizophora sp. berumur tiga bulan dan satu tahun. Sampel Uca sp. dan substrat diambil dari tiga zona dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona replantasi mangrove berumur satu tahun merupakan habitat bagi Uca sp. dan terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai kepadatan Uca sp. pada zona tanpa mangrove dan zona dengan perbedaan umur replantasi mangrove. Most of the coastal forest in Indonesia have been damaged, including the area around the coastal village of Mangunharjo, District of Tugu, Semarang. This damage is mainly caused by negative human activities. The loss and destruction of mangrove areas in some coastal areas have resulted the disfunction of mangrove in physical, ecological, and economical aspects. One of the solution to this problem is a replantation of mangrove. One of the variabel indicating the success of replantation is the return of the ecological function, for example providing the habitat for many organisms such as Uca sp. The general objective of this research was to determine which area that is able to provide habitat for Uca sp. The specific objectives were to know the existence of various sizes of the carapaces as an indication of the suitable habitat and to know the density of Uca sp. between non-mangrove area and those with mangrove areas with species Rhizophora sp. the age of three months and the age of one year. Uca sp. and substrate samples were taken from three zones with three repetition. The results showed that one year old mangrove replanted area is suitable habitat for Uca sp. and the density of Uca sp. between non-mangrove area and mangrove replanted areas with different age have significant difference

    Distribusi Dan Kelimpahan Larva Ikan Pada Ekosistem Mangrove Di Desa Pasar Banggi Kabupaten Rembang

    Full text link
    Rembang Regency located in the northeastern part of Central Java which has 106.66 ha mangrove rehabilitation area. Mangrove ecosystem in Rembang has been managed by local communities and NGOs for eco-tourism. The local people also have actively cleared mangrove area for artificial ponds that are put an ecological pressure into mangrove ecosystem function. One of the important impact that needs to be concerned is the disruption of vital habitat as well as the development of fish larvae in mangrove area. The purpose of this study was to determine the type of fish larvae families, distribution, abundance, uniformity, diversity and dominance of larval fish in in the mangrove ecosystem of Pasar Banggi, Rembang. The samplings were conducted in April 2016 three times, with intervals one week. The sampling method was done by stratified sampling method. In three times sampling we obtained seven families of fish larvae in the following name: Gerreidae, Gobiidae, Clupeidae, Engraulidae, Adrianichtyidae, Megalopidae and Carangidae. The diversity indices range between 0,087- 0,770, with the highest in level in mangrove area with mangrove age of three years. The uniformity index ranges between 0,062 – 0,555, the highest value is also in mangrove area with mangrove age of three years. The dominance index values ranging between 0,577 – 0,972, with the highest value in the in mangrove area with mangrove age of fifty years. Highest abundance of fish larvae were caught among the sites acquired in the area A ( mangrove area about fifty years ) is 40 Ind / m3 , region B ( mangrove area about seven years ) of 22 Ind / m3 and the lowest is the area C ( mangrove area about three years old ) by 19 Ind / m3

    Kepadatan Dan Distribusi Spasial Kerang Kijing (Anodonta Woodiana) Di Sekitar Inlet Dan Outlet Perairan Rawapening

    Full text link
    Rawapening merupakan salah satu perairan air tawar yang banyak dihuni oleh kerang kijing Anodonta woodiana, kepadatan dan pola sebaran dari kerang tersebut di sekitar inlet dan outlet perairan Rawapening masih belum diketahui. Adanya Perubahan ekosistem akibat sedimentasi di Rawapening kemungkinan akan berdampak pada populasi kerang tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan pola sebaran dari populasi Kijing di sekitar inlet dan outlet di Rawapening dan mengetahui distribusi spasial kijing A. woodiana berdasarkan ukuran panjang cangkang kerang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan rumus kepadatan populasi dan Indeks Morishita, untuk mengetahui distribusi spasial kerang berdasarkan ukuran panjang digunakan uji Analysis of Variance. Hasil penelitian bahwa jumlah kepadatan populasi pada stasiun I (inlet) DAS Panjang 1 ind/m² - 5 ind/m²; stasiun II (inlet) DAS Rengas 1 ind/m² - 9 ind/m²; stasiun III (inlet) DAS Ringis 1 ind/m² - 8 ind/m²; stasiun IV (outlet) DAS Kedungringin 1 ind/m² - 16 ind/m², dan angka rataan Indeks Morishita dari seluruh stasiun pengamatan kurang dari 1 (Id < 1) yang berarti bahwa pola sebaran dari kerang A. woodiana cenderung seragam dan teratur. Hasil analisis distribusi spasial berdasarkan ukuran panjang kerang diketahui F sebesar 4,952 dengan signifikansi sebesar 0,003. Oleh karena signifikansi sebesar 0,003 < 0,05, maka inferensi yang diambil adalah terdapat perbedaan panjang kerang berdasarkan empat stasiun dan panjang minimal kerang A. woodiana dari seluruh stasiun 8,03 cm dengan panjang maksimal sebesar 16,54 cm. Rawapening is one waters of freshwater that many inhabited by shells Kijing Anodonta woodiana, density and distributions paterns of the shells around inlet and outlet in Rawapening still unknown. The ecosystem as a result of change in sediment in Rawapening would likely impact on the population of the shells. This research was conducted in September 2014. This research aimed to understand the density and the pattern of the population to scatter shells around inlet and outlet in Rawapening and knowing spatial distribution shells based on size A. woodiana the long shells. The method used in the survey was done by deskriptif the case study. Then analyzed the result of the research using formula density of population and morishita index, to know the spatial distribution shells used measure of length based on analysis of variance. The result showed that the population density in the station I (inlet) DAS Panjang 1 ind/m² - 5 ind/m²; station II (inlet) DAS Rengas 1 ind/m² - 9 ind/m²; station III (inlet) DAS Ringis 1 ind/m² - 8 ind/m²; station IV (outlet) DAS Kedungringin 1 ind/m² - 16 ind/m², and value an average of the index morishita an observation station less than 1 (Id < 1) which means that the distribution of shell A. woodiana inclined uniform and orderly. The results of the analysis of spatial distribution arrangement based on the length shell is known that the F of 4.952 with the significance of 0.003. Thus significance of 0.003 < 0.05, then the inference taken is there are difference of the shells long based on four station and the long minimal of shell A. woodiana from all stations of 8,03 cm long with the long maximum of 16,54 cm

    Beberapa Aspek Biologi Udang Jerbung (Penaeus Merguiensis) Di Perairan Pantai Cilacap Jawa Tengah

    Full text link
    Eksploitasi udang P. merguiensis dengan alat tangkap jaring arad diduga terus meningkat ditandai dengan meningkatnya produksi dalam tiga tahun terakhir. Penangkapan yang berlebihan dapat mengancam kelestariannya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji aspek-aspek biologi seperti komposisi hasil tangkapan, distribusi hasil tangkapan, struktur ukuran, ukuran pertama tertangkap (L50%), panjang infinity (L∞), nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), sifat pertumbuhan, dan faktor kondisi. Selain itu, membuat konsep pengelolaan sumberdaya perikanan udang P. merguiensis. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel yaitu metode survei dengan sistematik random sampling. Sampel udang diambil secara proposional yaitu sekitar 10% dari total hasil tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran pertama tertangkap (L50%) panjang karapas 43 mm. Panjang infinity (L∞) udang P. merguiensis betina panjang karapas 63,58 mm dan udang P. merguiensis jantan 60,42 mm. Perbandingan nisbah kelamin jantan dan betina 1 : 1,61. Udang P. merguiensis didominasi oleh TKG I. Pertumbuhan udang P. merguiensis jantan bersifat allometrik negatif yaitu pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan beratnya, dikarenakan nilai b sebesar 2,626. Udang P. merguiensis betina memiliki sifat pertumbuhan isometrik yaitu pertambahan panjang selaras dengan pertambahan berat, dikarenakan nilai b sebesar 3,105. Faktor kondisi udang P. merguiensis jantan sebesar 1,152 dan betina 2,051, sehingga udang Jerbung betina lebih montok dibandingkan udang P. merguiensis jantan. Udang P. merguiensis layak ditangkap pada ukuran yang melebihi L50% yaitu panjang karapas > 43 mm

    Tingkat Kerja Osmotik Dan Perkembangan Biomassa Benih Bawal Bintang (Trachinotus Blochii) Yang Dikultivasi Pada Media Dengan Salinitas Berbeda

    Full text link
    Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii) atau yang dikenal dengan Pompano, mulai mendapat tempat di hati masyarakat, serta merupakan salah satu potensi unggulan dari perikanan. Ikan ini dapat dibudidayakan di Indonesia dan mempunyai daya adaptasi tinggi dan mudah dibudidayakan. Sebagai upaya optimalisasi budidaya bawal bintang (Trachinotus blochii), dibutuhkan kondisi yang optimum sesuai kebutuhan hidup bawal bintang. Dalam media, salinitas merupakan salah satu faktor fisiologis yang berpengaruh terhadap tingkat kerja osmotik, efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan. Tujuan penelitian adalah mengkaji respon tingkat kerja osmotik, efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan biomassa benih bawal bintang. Benih bawal bintang diperoleh di Balai Budidaya Laut Batam. Pakan yang diberikan adalah pellet sebanyak 10% bobot biomassa/hari. Metode rancangan acak lengkap diterapkan dalam penelitian ini dengan perlakuan media salinitas 15‰, 23‰, dan 31‰. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas media yang berbeda berpengaruh terhadap tingkat kerja osmotik, efisiensi pemanfaatan pakan, dan pertumbuhan biomassa. Tingkat salinitas media memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap tingkat kerja osmotik, efisiensi pemanfaatan pakan, dan pertumbuhan benih bawal bintang (Trachinotus blochii). Media salinitas 23‰ merupakan media terbaik bagi tingkat kerja osmotik, efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan benih bawal bintang. Kualitas air selama penelitian masih dalam kisaran yang layak bagi benih bawal bintang. Silver Pompano (Trachinotus blochii) known as Pompano and is one of the excellent potential of the fishery. These fish can be cultivated in Indonesia and has a high adaptability and easily cultivated. The optimum condition of the media in accordance with the necessities of life (eco physiology) Silver pompano for domestication is not been understood, therefore the present work was aimed to examine the influence of different media salinity on the level of osmotic performance, growth, survival rate and feed efficiency. Three salinity medium were applied, 15‰, 23‰, and 31‰. The result showed that salinity affected very significantly (P<0,05) on the level of osmotic work (TKO), growth, feed utilization efficiency but no effect (P>0,05) on survival rate of Silver Pompano (Trachinotus blochii). The isoosmotic media (23‰) is the best for osmotic performance, growth, survival rate, and feed utilization efficiency silver pompano (Trachinotus blochii). Water quality during the research is still in a decent range for Silver pompano seeds
    corecore