19 research outputs found

    HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP ORANG TUA TENTANG PENANGANAN PERTAMA KEJANG DEMAM PADA ANAK DI KABUPATEN SIMALUNGUN

    Get PDF
    Kejang demam merupakan penyakit yang rentan dialami oleh anak-anak khususnya balita. Di Indonesia tahun 2017, kejang demam dialami oleh anak di bawah lima tahun sekitar 2,5%. Orangtua merupakan orang yang terdekat dengan anak dan dituntut untuk memiliki pengetahuan dan sikap yang baik tentang pencegahan dan penanganan penyakit pada anaknya. Penanganan yang salah pada anak yang kejang demam dapat menyebabkan timbulnya kondisi kegawatdaruratan lain seperti aspirasi, cedera atau syok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap orangtua tentang penanganan pertama kejang demam pada anak. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 40 orangtua yang memiliki balita di Desa Tanjung Pasir Kabupaten Simalungun. Analisa data menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian didapatkan mayoritas responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 17 orang (42,5%) dan sikap negatif sebanyak 24 orang (60%), serta terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap orangtua tentang penanganan pertama kejang demam pada anak (p value 0,000). Pengetahuan berhubungan dengan sikap orangtua tentang penanganan pertama kejang demam pada anak. Pengetahuan yang baik akan menimbulkan sikap yang baik dalam penanganan pertama kejang demam pada anak di rumah. Diharapkan petugas kesehatan khususnya perawat memberikan meningkatkan edukasi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap orang tua tentang penanganan pertama anak dengan kejang demam.

    HUBUNGAN ANTARA ADEKUASI HEMODIALISIS DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN DI UNIT HEMODIALISIS

    Get PDF
    Hemodialysis adequacy is an evaluation to measure hemodialysis effectiveness. Quality of life is a human perception of the life of cultural and value aspects where the individual lives in relation to goods, expectations, and standards. Haemodialysis is a therapy process by a renal substitute wearing a semi-permeable membrane that works as a nephron that can release metabolism residual and adjust fluid and electrolyte balance in patients with renal failure. This study aimed to determine the relationship between hemodialysis adequacy and quality of life in hemodialysis patients in the dialysis unit in Rumah Sakit Djasamen Saragih Pematangsiantar. This study used a cross-sectional design with 32 samples. The result shows that patients with inadequate dialysis were 28% (87,5%, and hemodialysis patients with poor quality of life 26 people (81,2%.) The analysis with the SPSS program obtained a statistical value of p <0,05, namely of 0,000 which means that there is a significant correlation between dialysis adequacy and quality of life of hemodialysis patients in Rumah Sakit dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar. This result was used to improve the quality of health services and health counseling about dialysis adequacy in Rumah Sakit Umum Daerah dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar to increase the patients’ knowledge about dialysis adequacy

    STUDI KASUS: ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ASFIKSIA NEONATORUM

    Get PDF
    Background: Neonatal asphyxia is a condition in which the baby cannot breathe spontaneously and regularly after birth, caused by fetal hypoxia in the uterus. Objective: This study aims to determine nursing care in patients with asphyxia neonatorum. Methods: this study used                 a descriptive method with an approach through the management of nursing care of By R aged 0 days. Results: this study was conducted at the Army Hospital TK IV 010701 Pematangsiantar in April 2021. Data collection was carried out through interviews with patients' families and nurses. Based on the assessment, the data obtained from the baby with a frequency of 68x/minute, apgar score 5/6, irregular breathing rhythm, chest retractions, using respiratory accessory muscles, yellowish eyes and skin, dark yellow urine, pale stools, body temperature 37.5 C, elevated bilirubin and leukocyte values. After nursing actions for 4 days all problems were resolved. Conclusion: Implementation is carried out according to the plan prepared so that the three nursing problems can be resolved.Latar Belakang; Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur setelah lahir, disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan asfiksia neonatorum. Metode: penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan melalui pengelolaan asuhan keperawatan pada By R usia 0 hari. Hasil: penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Tentara TK IV 010701 Pematangsiantar pada bulan April 2021. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan keluarga pasien dan perawat. Berdasarkan pengkajian diperoleh data bayi sesak frekuensi 68x/menit, apgar score 5/6, irama nafas irregular, adanya retraksi dada, menggunakan otot bantu pernafasan, mata dan kulit kekuningan, urin kuning pekat, feces berwarna pucat, suhu tubuh 37,5 ºC, peningkatan nilai bilirubin dan leukosit.  Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 hari seluruh masalah teratasi. Kesimpulan: Implementasi yang dilakukan sesuai dengan rencana yang disusun sehingga ketiga masalah keperawatan dapat teratasi

    Peningkatan pengetahuan lansia hipertensi dalam menangani kecemasan dengan latihan relaksasi nafas dalam di UPT Yayasan Sosial Tuna Runggu Wicara dan Lanjut Usia Pematangsiantar

    Get PDF
    Hipertensi merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia, terutama menyerang masyarakat dengan lanjut usia. Hipertensi menjadi salah satu faktor resiko kardiovaskular utama sebagai penyebab kematian dini pada masyarakat dunia. Hipertensi adalah suatu penyakit degeneratif dimana tekanan darah sistolik 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Hipertensi merupakan peringkat keenam penyakit tertinggi di Indonesia mencapai 34,1%. Sementara itu, penderita hipertensi pada lansia di Sumatera Utara berjumlah 14.993 jiwa. Lanjut usia yang menderita hipertensi akan lebih mungkin untuk mengalami stress atau kecemasan. sehingga perlu diberikan latihan relaksasi nafas dalam untuk menurunkan kecemasan pada lansia. Pelaksanaan pengabdian masyarakat yang dilakukan berupa pemberian edukasi. Subjek atau sasaran pada kegiatan ini adalah lansia dengan hipertensi yang tinggal di UPT Yayasan Sosial Tuna Rungu Wicara dan lanjut Usia Pematangsiantar sebanyak 12 orang. Hasil pengabdian masyarakat diperoleh bahwa sebelum edukasi mayoritas pengetahuan responden adalah kurang sebanyak 7 orang (59%) dan setelah mendapatkan edukasi tingkat pengetahuan responden meningkat menjadi 9 orang (75%). Responden juga mengungkapkan terjadi penurunan kecemasan pada diri mereka. Hal ini menunjukkan terdapat peningkatan pemahaman responden sebelum dan sesudah pemberian edukasi sehingga terjadi penurunan kecemasan responden

    Edukasi pemberian makanan tambahan pada balita sebagai upaya pencegahan stunting di UPTD PUSKESMAS Martimbang Pematangsiantar [Education on providing supplementary food to toddlers as an effort to prevent stunting at the Martimbang Pematangsiantar Community Health Center]

    Get PDF
    Abstract. Stunting is a disorder of growth and development in children due to chronic malnutrition and repeated infections, which is characterized by their length or height being below the established standard. The toddler group needs attention because they are a group that is vulnerable to malnutrition. Malnutrition is still a major problem in infants and children under five years of age (toddlers) globally. In 2025, the world of nutrition is expected to face a number of new complex issues. Not only challenges in terms of nutritional problems, such as multiple malnutrition, obesity, and stunting, but also changes in education models and nutritional intervention approaches. The incidence of stunting in North Sumatra Province in 2023 reached 19,298 people with details of toddlers with stunting as many as 18.9%, malnutrition 7.9%, undernutrition 13.2% and overnutrition 3.5%. The incidence of stunting in Pematang Siantar City was 303 people, with the number of toddlers with stunting as many as 7.7%, malnutrition 4.2%, undernutrition 7.2% and overnutrition 4.2%. The implementation of community service carried out in the form of providing education on providing additional food for toddlers. The target of this activity was mothers with toddlers in the working area of the UPTD Martimbang Pematangsiantar Health Center as many as 12 people. The results of community service obtained that before education, the majority of the knowledge of the education participants was sufficient as many as 7 people (58.3%) and after receiving education, the majority of knowledge became good as many as 10 people (83.3%). Community service activities received a good and positive response from the participants and there was an increase in the knowledge of mothers who have children and children will be healthy according to their growth and development. Abstrak. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada dibawah standar yang ditetapkan. Kelompok balita perlu mendapat perhatian karena merupakan kelompok yang rawan terhadap kekurangan gizi. Malnutrisi masih menjadi permasalahan utama pada bayi dan anak di bawah lima tahun (balita) secara global. Pada tahun 2025, dunia gizi diperkirakan akan menghadapi sejumlah isu baru yang kompleks. Tidak hanya tantangan dari sisi masalah gizi, seperti malnutrisi ganda, obesitas, dan stunting, tetapi juga perubahan dalam model pendidikan dan pendekatan intervensi gizi.  Angka kejadian stunting di Provinsi Sumatera Utara tahun 2023 mencapai 19.298 orang dengan rincian balita dengan stunting sebanyak 18,9%, gizi buruk 7,9%, gizi kurang 13,2% dan gizi lebih 3,5%. Angka kejadian stunting di Kota Pematang Siantar sebanyak 303 orang, dengan jumlah balita stunting sebanyak 7,7%, gizi buruk 4,2%, gizi kurang 7,2% dan gizi lebih 4,2%. Pelaksanaan pengabdian masyarakat yang dilakukan berupa pemberian edukasi pemberian makanan tambahan pada balita. Sasaran pada kegiatan ini adalah ibu dengan balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas Martimbang Pematangsiantar sebanyak 12 orang. Hasil pengabdian masyarakat diperoleh bahwa sebelum edukasi mayoritas pengetahuan peserta edukasi adalah cukup sebanyak 7 orang (58,3%) dan setelah memperoleh edukasi mayoritas pengetahuan menjadi baik sebanyak 10 orang (83,3%). Kegiatan pengabdian masyarakat memperoleh respon yang baik dan positif dari peserta kegiatan dan terjadinya peningkatan pengetahuan  ibu yang memiliki anak serta anak akan menjadi sehat sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya

    Anxiety in patients treated with hemodialysis

    Get PDF
    Patients with renal failure undergoing hemodialysis often experience anxiety due to various individual, socioeconomic, and environmental factors. This study aimed to analyze the factors associated with anxiety in these patients. This was a quantitative, cross-sectional study. The risk factors for anxiety investigated in this study were education, duration of hemodialysis, knowledge, and family support. The study included 50 patients with renal failure undergoing hemodialysis (total sampling). Data were collected directly by distributing questionnaires to the patients. Data were analyzed using the chi-square test and logistic regression analysis (α=0.05). The results showed that education level was not significantly associated with anxiety in these patients (p= 0.816). However, the duration of hemodialysis (p= 0.023) and patient knowledge (p= 0.048) were significantly associated with the anxiety experienced by the patients. Family support was a protective factor against anxiety in these patients (P = 1.00). The dominant variable affecting patient anxiety is the duration of hemodialysis (p=0.041; PR = 4.1; 95%CI 1.061-16.107). This means that patients undergoing hemodialysis for more than 6 months are 4.1 times more likely to experience moderate anxiety compared to patients who have been undergoing hemodialysis for 6 months or less

    Edukasi manajemen diri penderita diabetes mellitus di Huta III Tanjung Pasir Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun

    Get PDF
    Diabetes melitus (DM) adalah penyakit menahun akibat kadar gula darah yang tinggi. Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang membutuhkan pengontrolan status metabolik untuk meminimalkan terjadinya komplikasi multi organ yang seiring waktu dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf. Jumlah kasus dan prevalensi diabetes terus meningkat selama beberapa dekade terakhir. Pada tahun 2021, lebih dari lebih dari setengah miliar manusia dari seluruh dunia hidup dengan diabetes, atau tepatnya 537 juta orang, dan jumlah ini diproyeksikan akan mencapai 643 juta pada tahun 2030, dan 783 juta pada tahun 2045. Indonesia menempati peringkat kelima dari negara-negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Pelaksanaan Pengabdian masyarakat dilakukan dalam bentuk edukasi atau pemberian informasi untuk memberikan pemahaman masyarakat tentang manajemen diri penderita diabetes melitus.  Subjek atau sasaran dalam kegiatan ini adalah masayarakat yang tinggal di Huta III Tanjung Pasir Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun. Hasil pengabdian masyarakat diketahui bahwa sebelum diberikan edukasi mayoritas pengetahuan responden adalah kurang sebanyak 17 orang (48,5%), pengetahuan cukup sebanyak 10 orang (28,6%), dan pengetahuan baik 8 orang (22,9%), sedangkan setelah pemberian edukasi mayoritas pengetahuan responden adalah baik sebanyak 29 orang (82,8%), pengetahuan cukup sebanyak 6 orang (17,2%) dan pengetahuan kurang 0 orang. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa pemberian edukasi manajemen prilaku penderita diabetes memberikan dampak yang positif bagi peserta dan terdapat peningkatan pemahaman peserta dari sebelum dan sesudah pemberian edukasi.Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease caused by high blood sugar levels. Diabetes Mellitus is a disease that requires controlling metabolic status to minimize the occurrence of multi-organ complications which over time can cause serious damage to the heart, blood vessels, eyes, kidneys and nerves. The number of cases and prevalence of diabetes has continued to increase over the last few decades. In 2021, more than half a billion people from all over the world live with diabetes, or to be precise 537 million people, and this number is projected to reach 643 million in 2030, and 783 million in 2045. Indonesia is ranked fifth among the countries in the world. The country with the highest number of diabetes sufferers in the world. Implementation of community service is carried out in the form of education or providing information to provide public understanding about self-management of diabetes mellitus sufferers. The subjects or targets in this activity are the people who live in Huta III Tanjung Pasir, Tanah Jawa District, Simalungun Regency. The results of community service showed that before being given education, the majority of respondents' knowledge was 17 people (48.5%) lacking, 10 people had sufficient knowledge (28.6%), and 8 people (22.9%) had good knowledge. The majority of respondents' education knowledge was good, 29 people (82.8%), 6 people had sufficient knowledge (17.2%) and 0 people had poor knowledge. The results of this activity show that providing education on behavior management for diabetes sufferers had a positive impact on participants and there was an increase in participants' understanding before and after providing education

    Edukasi Pendampingan Minum Obat Pada Keluarga Dengan Penderita Tuberculosis Paru Di Kelurahan Bahkapul Kota Pematangsiantar (Educational Guidance In Taking Medicine For Families With Pulmonary Tuberculosis Patients In Bahkapul Village, Pematangsiantar City)

    Get PDF
    Tuberkulosis (TBC) paru merupakan suatu infeksi penyakit yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyerang saluran napas utama dan bronkus. Tuberkulosis paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, yang dapat mempengaruhi semua kelompok usia. Tuberculosis paru menjadi penyebab kematian tertinggi kedua di dunia setelah COVID-19 pada tahun 2022 dan lebih dari 10 juta orang terjangkit penyakit tuberculosis paru setiap tahunnya. Negara Indonesia berada pada posisi kedua dengan jumlah beban kasus TBC terbanyak pada tahun 2023 dengan jumlah kasus diperkirakan sebanyak 1.060.000 kasus dan 134.000 kematian per tahun. Sementara itu, jumlah kasus penderita tuberculosis paru di Provinsi Sumatera Utara tahun 2022 sebanyak 19147 kasus. Sedangkan jumlah penderita tuberculosis paru di Kota Pematangsiantar pada tahun 2021 mencapai 440 orang dan mengalami peningkatan menjadi 636 orang pada tahun 2022. Penyakit tuberkulosis paru sangat mudah resisten terhadap obat, sehingga untuk mengobatinya membutuhkan waktu yang lama. Oleh sebab itu dalam proses pengobatan, peran keluarga sangat dibutuhkan sebagai unit terdekat pasien untuk melakukan pengawasan. Pelaksanaan pengabdian masyarakat yang dilakukan berupa pemberian edukasi. Sasaran pada kegiatan ini adalah keluarga dengan penderita tuberculosis paru yang tinggal di Kelurahan Bahkapul Kota Pematangsiantar sebanyak 28 orang. Hasil pengabdian masyarakat diperoleh bahwa sebelum edukasi mayoritas pengetahuan responden adalah cukup sebanyak 13 orang (46%) dan setelah mendapatkan edukasi tingkat pengetahuan responden meningkat menjadi baik sebanyak 23 orang (82%). Kegiatan pengabdian masyarakat memperoleh respon yang positif dari peserta dan terjadinya peningkatan pengetahuan ataupun pemahaman keluarga penderita tuberculosis paru setelah mendapatkan edukasi tentang pendampingan minum obat. Abstract. Pulmonary tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis that attacks the main respiratory tract and bronchi. Pulmonary tuberculosis is still a public health problem worldwide, which can affect all age groups. Pulmonary tuberculosis is the second highest cause of death in the world after COVID-19 in 2022 and more than 10 million people are infected with pulmonary tuberculosis each year. Indonesia is in second place with the largest number of TB cases in 2023 with an estimated number of cases of 1,060,000 cases and 134,000 deaths per year. Meanwhile, the number of cases of pulmonary tuberculosis sufferers in North Sumatra Province in 2022 was 19,147 cases. Meanwhile, the number of pulmonary tuberculosis sufferers in Pematangsiantar City in 2021 reached 440 people and increased to 636 people in 2022. Pulmonary tuberculosis is very resistant to drugs, so it takes a long time to treat it. Therefore, in the treatment process, the role of the family is very much needed as the patient's closest unit to carry out supervision. The implementation of community service is carried out in the form of providing education. The target of this activity is families with pulmonary tuberculosis sufferers who live in Bahkapul Village, Pematangsiantar City, totaling 28 people. The results of community service obtained that before education, the majority of respondents' knowledge was sufficient, totaling 13 people (46%) and after receiving education, the level of respondent knowledge increased to good, totaling 23 people (82%). Community service activities received a positive response from participants and there was an increase in knowledge or understanding of families with pulmonary tuberculosis sufferers after receiving education about medication assistance

    Edukasi pentingnya melakukan perawatan diri dengan pemenuhan personal higien pada lanjut usia

    Get PDF
    Personal hygiene is personal hygiene and health which aims to prevent illness in oneself and others both physically and psychologically. The need for personal hygiene is very important and must be considered especially for the elderly because cleanliness will certainly affect health, comfort, safety and well-being. Elderly people in nursing homes (werdha homes) are a population that is vulnerable to low personal hygiene behavior. The form of community service activities carried out is by providing educational education. Educational activities are carried out for the elderly who live at UPT Yansos Deaf Speech and Elderly Pematangsiantar. The method used in this community service activity is lectures and discussions using leaflet poster media. The results of community service show that there is an increase in knowledge from before and after being given education, namely from knowledge with a less category of 7 people (46.7%) to good knowledge, namely 12 people (80%), which means that there is an increase in understanding and knowledge of the elderly after given education compared to before giving education. Abstrak: Personal higieni adalah kebersihan dan kesehatan perorangan yang bertujuan untuk mencegah timbulnya penyakit pada diri sendiri dan orang lain baik secara fisik maupun psikologis. Kebutuhan personal hygiene menjadi hal yang sangat penting dan harus diperhatikan terutama bagi usia lanjut karena kebersihan tentunya akan mempengaruhi kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan kesejahteraan. Lanjut usia di lingkungan panti jompo (panti werdha) merupakan populasi yang rentan akan rendahnya perilaku personal hygiene. Bentuk kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah dengan pemberian edukasi edukasi. Kegiatan edukasi dilakukan kepada lansia yang tinggal di UPT Yansos Tuna Rungu Wicara dan Lanjut Usia Pematangsiantar. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini yaitu ceramah dan diskusi dengan menggunakan media poster leaflet. Hasil Pengabdian kepada masyarakat menunjukkan ada peningkatan pengetahuan dari sebelum dan sesudah diberikan edukasi yaitu dari pengetahuan dengan kategori kurang sebanyak 7 orang (46,7%) menjadi pengetahuan baik yaitu 12 orang (80%), yang berarti bahwa terjadi peningkatan pemahaman dan pengetahuan lansia sesudah diberikan edukasi dibandingkan sebelum pemberian edukasi

    Association of Risk Factors with Type 2 Diabetes: A Scoping Review

    Get PDF
    The incidence of type 2 diabetes mellitus (type 2 DM) is one of the public health problems worldwide, with various factors as risk factors that can lead to high morbidity and mortality rates for people with type 2 DM. This study aims to identify, investigate, and summarize various scientific evidence related to risk factors for type 2 DM. The approach used in this study was a scoping review with the PRISMA protocol. The PICO framework was used as an early-stage strategy in conducting article searches. Databases such as Google Scholar, PubMed, Scopus, and ScienceDirect were used as literature search tools. The study inclusion criteria were journal articles published from 2016 to 2024 and English-language articles with open access. Of the 157 journal articles identified, only 11 were eligible for analysis after selection and eligibility. The data extraction stage was conducted by six people on 11 eligible articles and continued with the qualitative data analysis process. The study reported that age, education, duration of DM, gender and income, physical activity, obesity, consumption of sugary foods and beverages, and low fruit consumption are risk factors for type 2 DM
    corecore